|
Ditulis Oleh: Syaikh Hasan al-Husaini
|
 Suatu malam, setelah shalat Isya, Hudzaifah -Rodliallohu Anhu- berjalan mengikuti Nabi -Sholallahu Alaihi Wassalam- yang hendak kembali ke rumahnya. Hudzaifah mengisahkan: Di tengah perjalanan, tampak seseorang menghampiri Nabi -Sholallahu Alaihi Wassalam- dan berbisik-bisik kepada beliau, lalu orang itu pergi berlalu. Setelah itu, aku kembali mengikuti beliau. Mendengar suaraku, beliau bertanya: Siapa itu?" "Hudzaifah," jawabku. "Mengapa kamu mengikutiku?" tanya beliau. Maka aku menyampaikan keperluanku. Setelah menyimaknya, beliau berkata: "Semoga Allah mengampunimu, juga ibumu ... Apakah kamu melihat sosok laki-laki yang menemuiku tadi?" "Ya, aku melihatnya," sergahku. "Itu adalah Malaikat. Dia belum pernah turun ke bumi sebelum malam ini. la meminta izin kepada Rabbnya untuk mengucapkan salam kepadaku, sekaligus menyampaikan kabar gembira untukku bahwa al-Hasan dan al-Husain akan menjadi pemimpin para pemuda penghuni Surga. Sedangkan Fathimah, ia akan menjadi pemimpin kaum wanita penghuni Surga” [HR. Ahmad. Lihat Shahihul Jami no. 1328 ] Sungguh, itu merupakan kesaksian dan pengakuan yang sangat mulia dan berasal dari manusia terbaik yang pernah ada, Muhammad -Sholallahu Alaihi Wassalam- , utusan Allah Yang Mahatinggi. Dia tidak pernah memberi kesaksian berdasarkan hawa nafsunya, melainkan berdasarkan wahyu yang diturunkan kepadanya. Sementara, figur yang kedudukannya diakui sedemikian agung itu adalah dua cucu beliau, al-Hasan dan al-Husain –-Rodliallohu Anhuma- dua pemuda terbaik yang akan menorehkan sejarah di muka bumi dan kelak menjadi pemimpin para pemuda penghuni Surga. |
|
Selengkapnya...
|
|
Ditulis Oleh: Ustadz Dr. Erwandi Tarmizi, MA
|
|
STOK BARU, Buku yang masih diburu para pecinta Ilmu STOK SANGAT TERBATAS !! Edisi TERBARU [REVISI KETIGA] , Dilengkapi tambahan materi, Buku lebih Tebal dan yang pasti harga lebih murah Rp 110.000 Diskon 20% sampai dengan 10 JUNI 2013, BURUAN !! Makna harta haram yaitu setiap harta yang didapatkan dari jalan yang dilarang syariat Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- [ lihat : Dr. Khalid Al Mushlih, At taubah minal makasib al muharramah wa ahkamuha fil fiqh al Islami, Journal kementrian keadilan, Arab Saudi, edisi 38, Rabiul akhir 1429H, hal 13] Adapun yang dimaksud dengan muamalat adalah hukum syariat yang berkaitan dengan hubungan manusia satu dengan lainnya. Dan untuk hal yang berkenaan dengan harta (jual-beli, sewa menyewa, warisan dan lain sebagainya) biasanya ditambahkan kata 'maaliyyah" yang berarti harta. Akan tetapi, belakangan kata muamalat konotasinya adalah muamalat maaliyyah. Dan sungguh, Semakin jauh zaman manusia dengan zaman masa kehidupan Rosululloh , akan semakin banyak penyimpangannya. Apalagi Seorang manusia yang hidup di abad modern zaman kita hidup ini, dltuntut untuk mengumpulkan dan menumpuk harta sebanyak-banyaknya agar bisa hidup layak dan tenang menghadapi masa depan diri dan anak cucunya. Betapa banyak Pada saat itu orang-orang tidak peduli lagi dari mana harta dia dapatkan. Rasulullah shallallahu alaihiwa sallam bersabda: "Akan datang suatu masa, orang-orang tidak perduli dari mana harta dihasilkannya, apakah dari jalan yang halal atau dari jalan yang haram". (HR. Bukhari). Orang-orang tersebut dapat dikelompokkan menjadi 2: 1. Sebagian manusia tidak pernah peduli akan kaidah rabbani dalam mencapai tujuan mencari harta, kelompok ini dianjurkan untuk memeriksa kembali akidah mereka, dimana mereka telah menjadikan dinar dan dirham sebagai tuhannya dan sama sekali tidak mengindahkan peraturan Allah. Merekalah yang disabdakan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam: Celakalah hamba dinar, celakalah hamba dirham, celakalah hamba pakaian... (HR. Bukhari). 2. Sebagian lagi, orang-orang yang masih memillki dhamir (hati) yang peka, akan tetapi karena mereka sejak awal jahil / bodoh , tidak pernah mengerti dan mempelajari ketentuan Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- tentang hukum-hukum muamalat, kelompok ini -mau tidak mau- akan melanggar syariat Allah saat mengumpulkan harta karena ketidaktahuannya ini.
|
|
Selengkapnya...
|
|
Ditulis Oleh: Al Imam Al Muhadits Syaikh Shiddiq Hasan Khan -rahimahulloh-
|
Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- telah memberikan kenikmatan kepada umat Islam dengan agama yang diridhai-Nya, yaitu Islam, dan menjadikannya sebagai agama yang sempurna. Tidak ada satu perkara pun yang ditinggalkan oleh Islam, kecuali telah diterangkan dengan jelas pengetahuan tentangnya, baik itu menyangkut akidah, ibadah maupun muamalah. Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- telah memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya untuk menuntut ilmu, agar dapat memahami agama ini dengan sebaik-baik-nya. Bahkan di saat jihad pun Allah memerintahkan kepada kaum muslimin agar ada di antara mereka yang tetap tinggal dan tidak ikut serta pergi berjihad, agar dapat menuntut ilmu dan mengajarkannya kepada saudara-saudaranya saat mereka pulang dari jihad. Ini semua menunjukkan pentingnya mempelajari agama ini dengan sebaik-baiknya. Rasulullah -Sholallahu Alaihi Wassalam- juga telah mengabarkan pada kita, bahwa di antara tanda kebaikan pada diri seseorang adalah ketika orang tersebut me¬mahami agama ini secara mendalam. Beliau juga mengabarkan bahwa seseorang akan menjadi mulia di sisi Allah dan di hadapan manusia, ketika ia memiliki ilmu dan mengamalkannya dengan sebaik-baiknya, demi meraih ridha Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- . |
|
Selengkapnya...
|
|
Ditulis Oleh: Sa’id bin Shabir Abduh
|
 Perjalanan panjang umat Islam telah menghadirkan beragam pe¬ristiwa yang terekam dalam file zaman. Di antara peristiwa tersebut adalah munculnya beragam kelompok dan sekte di tubuh Dinul Islam, dimana satu sama lain saling mengklaim bahwa kelompok-nyalah yang benar, sedangkan kelompok yang tidak sepaham dengannya salah. Bahkan, lebih ironis lagi, kenyataan yang terjadi sampai pada skala saling mengkafirkan. Pada era kita saat ini, klaim dan tuduhan seperti itu semakin tumbuh dengan suburnya. Sering, kita mendengar seseorang dengan entengnya melontarkan perkataan, "Si Fulan Kafir", "Si Fulan Ahli Bid'ah", "Si Fulan Munafik", dan label-label lainnya. Di lain pihak, telinga kita juga sering mendengar orang yang dengan gampangnya berkata, "Al-Qur’an adalah makhluk", "Allah ada di mana-mana." Bahkan pada zaman mutakhir ini, kuping kita dikejutkan oleh orang yang dengan lantang berkata, "Al Quran sudah tidak sesuai dengan zaman sekarang alias kadaluarsa" Sangat menyedihkan. Tapi, memang seperrti itulah yang terjadi. Setiap kelompok merasa bangga dengan apa yang ada pada mereka. Fanatisme buta, kurangnya pengetahuan tentang Al-Quran dan As-Sunnah, salah paham dalam memaknai dalil, serta memperturutkan hawa nafsu, adalah di antara faktor-faktor yang menjerumuskan mereka dalam jurang tuduhan dan klaim tersebut, sehingga terjadilah perpecahan dan muncullah berbagai macam kelompok dan aliran. |
|
Selengkapnya...
|
|