|
Ditulis Oleh: Abu Mus'ab Thal'at bin Fuad Al Hulwani
|
|
Diantara keyakinan Ahli Sunnah, bahwa jin benar adanya dan tetap ada hingga Hari Kebangkitan. Di antara mereka ada yang Mukmin dan ada pula yang kafir; yang Mukmin dari mereka akan masuk surga, dan yang kafir dari mereka akan masuk neraka. Hukum mereka dalam hal itu sama seperti hukum manusia. Mereka dibebani (dengan kewajiban-kewajiban), diperintah, dan dilarang. Mereka adalah jasad yang tersusun, berbentuk, dan bertubuh. Mereka dapat dilihat dalam bentuk jelmaan dan rupa yang kepadanya mereka dirubah (dijelma-kan) oleh Allah, tanpa mereka mampu melakukannya sendiri. Sebagian mereka dapat melihat sebagian yang lain dalam bentuknya yang asli. Di antara mereka adalah setan, yaitu yang durhaka, mereka dapat masuk dan merasuk ke dalam manusia serta menjadikannya kesurupan. Mereka makan dan minum, merasakan nikmat dan merasakan sakit,serta saling menikahi, sama seperti manusia, sebagaimana yang dijelaskan oleh hadits-yang shahih dan atsar-atsar yang tsabit serta nash-nash Al Quran. |
|
Selengkapnya...
|
|
Ditulis Oleh: Syaikh Al Imam Imaduddin Ahmad bin Ibrahim Al Wasithy ( w 711 H)
|
|
Ketahuilah, Alloh Azza wa Jalla berfirman : "Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam".(QS. al-Faatihah: 2) "Rabb al-'Aalamiin" (Tuhan semesta alam). 'Rabb' bukan 'alam semesta' dan 'alam semesta' bukan 'Rabb'. Rabb tidak menempati alam semesta dan alam semesta tidak diciptakan di dalam diri Rabb. Tiada sesuatupun dari alam semesta ini ada pada diri Rabb, dan tiada sesuatu pun dari diri Rabb ada pada alam semesta ini. Dia Maha Suci dari apa yang disifatkan oleh kaum zindiq yang mengatakan bahwa Dia menyatu dengan alam semesta ini. Setelah menciptakan para hamba-Nya, Dia memperkenalkan diri-Nya kepada mereka dengan menyebut sifat-sifat-Nya yang Maha Sempurna. Tiada kekurangan pada diri-Nya, tiada pula cacat dan aib menimpa-Nya. Melalui para Rasul utusan-Nya Dia memperkenalkan diri dan sifat-sifat-Nya agar mereka mengimani-Nya dengan semua sifat kesempurnaan-Nya. Untuk memperkenalkan diri-Nya Dia memilih para hamba-Nya yang terpercaya; Ruhul Amiin - Jibril alaihissalam dari kalangan Malaikat, dan para Rasul alaihi sholatu wasslam dari kalangan manusia. Jibril menyampaikan wahyu Allah kepada para Nabi dan Rasul pilihan-Nya untuk disampaikan kepada kaum mereka sebagai misi Allah yang berisikan berita gembira dan peringatan bagi mereka. |
|
Selengkapnya...
|
|
Ditulis Oleh: Abu Ubaidah Yusuf As Sidawi & Abu Abdillah Syahrul Fatwa
|
|
Makanan merupakan kebutuhan primer bagi manusia. Hubungan antara keduanya dalam kehidupan sehari-hari sangat erat, tak bisa dipisahkan. Sebagai agama . sempurna dan paripurna, Islam telah menata undang-undang makanan dengan begitu rapi. Tentu semua itu demi ke-maslahatan umatnya. Sebagaimana dimaklumi bersama bahwa makanan mempunyai pengaruh yang dominan bagi orang yang memakannya. Artinya, makanan yang halal, bersih, dan baik akan membentuk jiwa yang suci dan jasmani yang sehat. Sebaliknya, makanan yang haram akan membentuk jiwa yang keji dan hewani. Oleh karena itulah, Islam memerintahkan kepada pemeluknya untuk memilih makanan yang halal serta menjauhi makanan yang haram. Dari Abu Huroiroh -rodliallohu anhu- berkata, Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam bersabda: "Sesungguhnya Alloh itu Thoyyib (baik), Dia tidak menerima kecuali hal-hal yang baik, dan sesungguhnya Alloh memerintahkan kepada orang-orang mukmin sebagaimana yang diperintahkan kepada para Rosul. Alloh berfirman: 'Hai Rosul-rosul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang sholeh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. ' Dan firman-Nya yang lain: 'Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu. " Kemudian seorang laki-laki berdo'a, yang telah melaksanakan perjalanan jauh, rambutnya kusut serta berdebu, ia menengadahkan kedua tangannya ke langit: 'Yaa Robbi! Yaa Robbi!' Sedangkan makanannya haram, pakaiannya haram, minumannya haram, dan tumbuh dari hal-hal yang haram, lantas bagaimana mungkin akan diterima do'anya. " [HR. Muslim no. 1015] |
|
Selengkapnya...
|
|
|
Ditulis Oleh: Ust. Arif Fathul Ulum
|
 Sesungguhnya Alloh telah memerintahkan kita agar menetapi jalan petunjuk yang lurus dengan firman-Nya: Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah ia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), kdrena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya, yang demikian itu diperintahkan Alloh agar kamu bertakwa. (QS. al-An'am [6]: 153) Alloh melarang kita menyelisihi ajaran Nabi-Nya dengan firman-Nya: .... Hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rosui takut akan ditimpa cobaan atau di-timpa azab yang pedih. (QS. an-Nur [24]: 63) Nabi Sholallahu Alaihi Wassalam memperingatkan kita melalui sabdanya "Sungguh, siapa saja di antara kalian yang hidup setelahku pasti akan menjumpai perselisihan yang banyak, maka wajib atas kalian untuk berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah al-Khulafa' ar-Rosyidin yang telah diberi petunjuk sepeninggalku." (Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnad-nya: 4/126, ad-Darimi dalam Sunan-nya: 1/57, at-Tirmidzi dalam Jami'-nya: 5/44, dan Ibnu Majah dalarn Sunan-nya: 1/15 dan dishohihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Zhilalul-Jannah: 26, 34) Rosululloh memberitakan bahwa siapa saja yang mencari-cari perkara-perkara yang samar, pasti dia akan tergelincir, yaitu ketika beliau bersabda: 'jika kalian melihat orang-orang yang mencari-cari dalil-dalil yang samar, maka merekalah orang-orang telah disebut oleh Allah, sehingga hcndaklah kalian berhati-hati terhadap mereka. " (Diriwayatkan oleh al-Imam Muslim didalam Shohih-nya: 4/2053) |
|
Selengkapnya...
|
|
|
<< Awal < Sebelum 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Berikut > Akhir >>
|
| Hasil 1 - 4 dari 633 |