|
Ditulis Oleh: Syaikh Dr Shalih bin Fauzan Al Fauzan, et all
|
 Suatu keniscayaan bahwa iman seorang Muslim itu tidak terwujud melainkan dengan mencintai Rasulullah -Sholallahu Alaihi Wassalam- dan mengagungkannya. Sebab, beliau adalah Rasul Allah terakhir dan penutup para nabi. Allah berfirman, "Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. " (Al-Ahzab: 40). Beliau memiliki akhlak yang luhur, dengan kesaksian Rabb semesta alam, "Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung." (Al-Qalam: 4). Lemah lembut, tidak keras lagi berhati kasar: "Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhtadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu." (AH Imran: 159). |
|
Selengkapnya...
|
|
Ditulis Oleh: Imam An Nawawi -rahimahullah-
|
 Kitab Al Majmu karya An-Nawawi merupakan referensi fikih terbesar madzhab Asy-Syafi'i secara khusus dan fikih Islam secara umum. Selain juga merupakan bagian dari kekayaan klasik Islam yang murni dan sok khazanah fikih perbandingan. Kitab yang sangat monumental ini memiliki karakter khusus yang membuatnya berbeda dari segi metodologi ilmu yang akurat, sehingga membuatnya berada di tempat teratas dibanding ensklopedi-ensiklopedi fikih lainnya, baik klasik maupun kontemporer. Tidak diragukan lagi, kitab Al Majmu' merupakan khazanah terbesar bidang fikih Islam yang isinya menjelaskan konsep-konsep dasar dari hukum Islam yang membuat para ulama setelahnya kagum. |
|
Selengkapnya...
|
|
Ditulis Oleh: /Penyusun : Ibnu Amin yain, Abu Yasmin
|
 Sepintas lalu, gerakan dalam shalat, seperti berdiri, ruku, dan sujud, bukanlah sesuatu yang sulit dilakukan, dan bacaan-bacaannya pun bukanlah sesuatu yang sulit dipahami. Shalat juga tidak membutuhkan biaya dan tenaga yang besar, bahkan tidak menyita banyak waktu dari keseharian setiap orang. Tepatnya, shalat adalah ibadah yang mudah dilakukan, dan lebih sederhana dari ritual ibadah lain seperti zakat, puasa, dan haji. Lantas, bagaimana ibadah shalat yang hampak ringan ini dinyatakan sebagai "tiang agama", yang dengan melakukannya berarti telah menegakkan agamanya, sedangkan yang lalai berarti telah menghancurkan agamanya? Mengapa shalat sangat istimewa hingga perintah shalat harus diterima langsung oleh Rasulullah tanpa melalui Jibril, tidak seperti kewajiban lain? Mengapa hukuman bagi yang meninggalkan shalat sangat berat, hingga dinyatakan kafir? Lantas, bagaimanakah shalat yang benar, yang dapat memberikan ketenteraman, meredam emosional, mendidik kesabaran, dan mencegah pelakunya dari perbuatan keji dan mungkar? Buku ini adalah hasil upaya penyusunan hal-hal yang berkaitan dengan shalat, mulai dari ulama klasik hingga kontemporer, yang merupakan perpaduan sinergis dan kuat dalam berbagai seluk-beluknya. |
|
Selengkapnya...
|
|
|
Ditulis Oleh: Syaikh Amr bin Abdul Mun'im Salim
|
 Kita melihat berbagai jama'ah yang mengaku Islam, dan berkeyakinan bahwa Islam adalah al-Qur-an dan as-Sunnah. Sayangnya, mereka tidak memahami keduanya dengan pemahaman para Sahabat yang dimuliakan dan orang-orang yang rnengikuti mereka dengan baik dari para Tabi'in serta para pengikut mereka. Padahal Rasulullah -Sholallahu Alaihi Wassalam- bersabda: "Sebaik-baik manusia adalah pada masa-ku (yakni Nabi dan para Sahabat), kemudian orang-orang yang datang sesudah mereka (Tabi'in), kemudian orang-orang yang datang sesudah mereka (Tabi'ut Tabi'in)." [Ahmad (1/378 dan 342), Ibnu Abi 'Ashim (no. 1466), al-Bukhari (IV/118), dan at-Tirmidzi (no. 3859), dari jalan: al-A'masy dari Ibrahim an-Nakhai, dari 'Ubaidah, dari Ibnu Mas'ud . Dan dalam riwayat Muslim (no. 1963) dari jalan: Ibnu 'Aun dari Ibrahim] Akibatnya, kita pun melihat perpecahan dalam agama. |
|
Selengkapnya...
|
|
|
<< Awal < Sebelum 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Berikut > Akhir >>
|
| Hasil 73 - 76 dari 977 |