|
Ditulis Oleh: Abu Anas Ali bin Husein Abu Luz
|
 Sesungguhnya telah ditetapkan dalam syariat Islam, bahwa perbuatan apa pun yang dilakukan oleh manusia harus memenuhi dua syarat hingga diterima di sisi Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- , kedua syarat tersebut adalah; Pertama, perbuatan itu dilakukan dengan ikhlas hanya mengharap Wajah Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- , tidak karena sum'ah (popularitas), riya (dilihat orang lain) apalagi karena mengharap harta dunia yang fana ini, Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- berfirman, "Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadat kepada Rabbnya." (Al-Kahfi: 110) Kedua, perbuatan itu harus sesuai dengan Sunnah Nabi -Sholallahu Alaihi Wassalam- , artinya harus benar, karena bila menyalahi petunjuk Nabi maka perbuatannya tidaklah diterima. Di antara perkara yang susah dipahami oleh sebagian orang, baik orang-orang dahulu maupun sekarang adalah masalah tawassul. Itulah sebabnya banyak di antara mereka yang tergelincir ke dalam berbagai jenis tawassul yang dilarang dan bid'ah yang bersinggungan dengan prinsip-prinsip dasar Islam dan petunjuk Nabi , di mana perbuatan mereka itu menghilangkan syarat yang kedua dari syarat diterimanya amal perbuatan. |
|
Selengkapnya...
|
|
Ditulis Oleh: Ulama Sunnah
|
|
Sesungguhnya Allah ta'ala telah mengutus Muhammad -Sholallahu Alaihi Wassalam- dengan membawa petunjuk dan agama yang benar untuk memenangkan agama ini diatas seluruh agama yang ada. Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- menurunkan Al-Qur'an dan As Sunnah (hadits) kepada beliau untuk menjelaskan kepada umat manusia, ajaran yang telah diturunkan kepada mereka agar mereka mau berfikir sehingga bisa mendapat petunjuk dan keberuntungan. Dengan demikian, Al Qur'an dan hadits merupakan dua pondasi pokok yang menjadi dasar tegaknya hujjah Allah atas seluruh hamba-Nya [ Maksudnya: Dengan adanya kedua hal tersebut, hujjah telah tegak atas setiap manusia, sehingga mereka tidak memiliki alasan di hadapan Allah kelak dalam meninggalkan berbagai kemaksiatan dan melaksanakan perintah-Nya.] Al Quran dan hadits Rosululloh menjadi asas ber¬bagai hukum akidah dan amaliah, baik yang diwajibkan maupun yang dilarang. Seorang yang berdalil dengan ayat Al Qur'an cukup melakukan satu kali penelitian (untuk menjamin keabsahan pendalilannya). la cukup meneliti indikasi yangditunjukkan oleh suatu nash (dalil) terhadap suatu hukum tertentu. la tidak perlu meneliti sanad Al Quran, karena keabsahan Al Qur'an telah pasti secara qath'i (tanpa ragu) serta lafadz dan maknanya telah dinukil secara mutawatir. Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- berfirman, yang artinya, "Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur'an dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya." (QS. Al Hijr: 9) |
|
Selengkapnya...
|
|
Ditulis Oleh: Ulama Sunnah
|
Umat Islam adalah umat yang mulia. Ciri khas syariatnya adalah penghambaan diri umat tersebut hanya kepada Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- dalam menjalankan segala macam aktivitas di muka bumi. Motor utama penggeraknya adalah semangat dakwah mengajak manusia kepada tauhid, serta menyebarluaskan ajaran tauhid itu dengan perkataan dan perbuatan. Di saat kata-kata bisa memberikan pengaruh mendalam dalam hati dan menghadirkan kesan positif pada pendengaran seseorang, dan di saat dakwah memerlukan lidah-lidah yang lihai dari dai-dai muslim guna menguatkannya —sehingga ajaran-ajaran Islam tersebar dan prinsip-prinsipnya tersampaikan dengan metode yang sebaik mungkin—, maka justru di saat itulah kesempatan berbicara di hadapan orang banyak sangat jarang terjadi kecuali dalam shalat Jumat dan Id. |
|
Selengkapnya...
|
|
Ditulis Oleh: Syaikh Abdur Razzaq bin Abdul Muhsin Al Badr
|
 Tidak diragukan bahwa dzikrullah (mengingat Allah) dan berdoa kepada-Nya merupakan hal terbaik yang waktu manusia dihabiskan padanya dan jiwa diarahkan kepadanya. Dzikrullah dan berdoa kepada-Nya juga merupakan hal paling utama yang dengannya seorang hamba mendekatkan diri kepada Rabbnya. la adalah kunci bagi setiap kebaikan yang akan dicapai seorang hamba di dunia dan akhirat. "Ketika Allah memberikan kunci ini kepada seorang hamba, maka sungguh Dia menghendaki untuk membukakan pintu kebaikan baginya. Dan ketika Dia hilangkan darinya, maka pintu kebaikan itu tetap tertutup baginya. “ [ imam Ibnul Qoyyim dalam Al fawaaid ] Sehingga hatinya goncang dan kacau. Pikirannya bercabang-cabang. Sering gelisah, lemah cita-cita dan kehendak. Namun bila dia selalu melakukan dzikrullah dan berdoa kepada-Nya serta memperbanyak berlindung kepada-Nya, hatinya tenang karena mengingat Rabbnya. "Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram."(Ar-Ra'd: 28) |
|
Selengkapnya...
|
|
|
Ditulis Oleh: Imam An-Nawawi -rahimahullah-
|
 Kitab Al Majmu karya An-Nawawi merupakan referensi fikih terbesar madzhab Asy-Syafi'i secara khusus dan fikih Islam secara umum. Selain juga merupakan bagian dari kekayaan klasik Islam yang murni dan sok khazanah fikih perbandingan. Kitab yang sangat monumental ini memiliki karakter khusus yang membuatnya berbeda dari segi metodologi ilmu yang akurat, sehingga membuatnya berada di tempat teratas dibanding ensklopedi-ensiklopedi fikih lainnya, baik klasik maupun kontemporer. Tidak diragukan lagi, kitab Al Majmu' merupakan khazanah terbesar bidang fikih Islam yang isinya menjelaskan konsep-konsep dasar dari hukum Islam yang membuat para ulama setelahnya kagum. Orang yang pernah mengkaji kitab-kitab induk terbesar dalam fikih Islam di berbagai madzhab, seperti Al Muhalla karya Ibnu Hazm, Al Umm karya Asy-Syafi 'i, AlMughni karya Ibnu Qudamah dalam fikih madzhab Hanbali dan kitab AlMabsuth karya As-Sarkhasi, akan menemukan bahwa kitab Al Majmu' karya An-Nawawi merupakan salah satu referensi terbesar yang penuh dengan pendapat-pendapat fikih keempat imam madzhab dan lain-lainnya, sekalipun fokus pembahasannya di tingkat pertama khusus tentang fikih Asy-Syafi'i. |
|
Selengkapnya...
|
|
|
<< Awal < Sebelum 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Berikut > Akhir >>
|
| Hasil 1 - 5 dari 1168 |