Diantara musibah terbesar yang menimpa kaum muslimin adalah tersebarnya ilmu Kalam yang sangat dipengauhi oleh Ilmu manthiq dan Filsafat Yunani. Ilmu Manthiq dipelopori oleh Aristoteles (384 SM) artinya 800 tahun sebelum Islam ( lihat Mausu'ah Falsafah 1/98 dan Milal wa Nihal 2/117). Adapun Filsafat muncul sekitar abad ke 5 Sebelum Masehi, maka jelas bahwa ilmu ini telah hadir ratusan tahun sebelum Islam. Ketika Islam datang, Alloh Azza wa Jalla mencukupkan manusia dengan Islam ini, sehingga tidak membutuhkan semua ilmu yang berbicara tentang aqidah atau syariat. namun kenyataannya , kita dapati para ahli Kalam - sebagian orang menyebutnya dengan ilmu ushuluddin !!- berpaling dari Ilmu yang diturunkan Alloh Azza wa Jalla , mereka lebih menyukai bermain dengan akal-akal pikiran mereka dibandingkan mengimani nash yang telah jelas dari Al Quran dan as Sunnah, mereka pahami Islam tidak dari sumber Islam sendiri namun memahami Islam melalui Ilmu mantiq dan Filsafat. sebuah musibah besar
Kalau mempertahikan tarikh sejarah perkembangan ISlam akan melihat bahwasanya Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam dan para Shohabat rodliallohu anhum yang jelas-jelas memperjuangkan Islam dan paling tahu tentang Islam tidaklah pernah menggunakan filsafat sebagais arana untuk memahami ISlam, bahkan Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam dengan tegas melarang muslimin menelaah dan mengikuti ajaran diluar Islam. Suatu ketika Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam meilhat Umar -Rodliallohu anhu- memegang Taurot, maka beliau besabda " Apakah kamu masuk kedalmnya tanpa perhitungan wahai anak Khaththob ? Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya, Sungguh aku telah membawa agama yang putih bersih.. demi Dzat yang jiwaku di tanganNya, seandainya Musa masih hidup maka tidak boleh baginya kecuali mengikutiku." (HR Ahmad 3/387, Ibnu Abdil Barr dalam Jami' bayan Ilmi 2/805 , di hasankan oleh Syaikh Albani dalam Irwaul Ghalil 6/34). Demikian pula para Shohabat, para Imam begitu tegas memperingatkan umat dari menelaah ajaran dan pemikiran di luar Islam. Ketika kerajaan persia berhasil ditaklukkan, kaum muslimin mendapatkan kitab-kitab yang sangat banyak, sampai Sa'd bin Waqqosh -Rodliallohu anhu- menulis surat kepada Khalifah Umar bin Khathab -Rodliallohu anhu- meminta izin untuk memindahkan kitab-kitab tersebut kepada kaum muslimin, kemudian Umar menulis surat balsan, yaitu : " agara dibuang ke sungai, jika seandainya didalamnya ada petunjuk, maka kita telah diberi petunjuk oleh Alloh Azza wa Jalla lebih baik drinya, dan jika didalamnya ada kesesatan, maka Allah secara tidak langsung telah menjauhkannya dari kita." Kemudian Sa'ad pun membuang kitab-kitab tersebut ke Sungai ( lihat Muqodimah Ibnu Kholdun 2/603) Ketika Imam Ibnu hanifah -rahimahullah- ditanya tentang orang-orang yang membicarakan tentang sifat batin dan jisim, maka beliau menjawab," itu adalah perkataan para filosof, hendaklah engkau berpegang teguh kepada sunnah dan jalan Salaf, dan jangan sekali-kali engkau membuat sesuatu yang baru karena hal tsb merupakan bidah." (Lihat Minhajus Sunnah 3/286). Al Imam Ibnu Sholah -rahimahullah- berkata," Filsafat adalah induk kebodohan dan penghalalan terhadap semua yang diharamkan syariat, sumber kebingungan dan kesesatan, serta membuat penyelewengan dan ke-zindiq-kan.. adapun ilmu Mantiq maka itu adalah pintu menuju filsafat, dan pintu kejahatan adalah kejahatan." (Fatawa Ibnu Sholah 1/209) Simak pembahasan lebih lanjut di dalam majalah Al Furqon edisi ini . Pembahsan lainnya : Tafsir : Al Quran kalamulloh bukan makhluk hadits : " Maut" disembelih Aqidah : Ajimat budaya syirik Filsafat Islam : sebuah konspirasi keji Pembawa bendera filsafat Manhaj : Hadits dloif dalam fadhoil amal Kaidah fiqih : Adat bisa menjadi sandaran hukum Kitab : Penyelewengan tafsir Fi Dhilalil Qur'an Tarbiyatul Aulad: Berhias dengan adab Islam Suplemen Ramadhan - 10 faedah seputar ramadhan - Pembatal Puasa di zaman modern - Hukum Itikaf - Tradisi hari raya dalam sorotan - Salafuna di bulan Ramadhan - Bila Ramadhan berlalu
|