| Nasehat Bagi Penuntut Ilmu |
| Ditulis Oleh: Asy Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin-rahimahulloh- | |
|
Bagian pertama: Bagaimana engkau bermuamalah dengan kitab/buku? Bermualah dengan kitab dapat dilakukan dengan beberapa cara : 1. mengetahui Isi materinya Sehingga seorang dapat mengambil faedah darinya karena hal ini membutuhkan spesialisasi, sebab mungkin saja itu adalah kitab sihir, kitab yang berisi kebatilan dan semisalnya. Maka kita harus mengetahui terlebih dahulu isi materi kitab sehingga faedah darinya bisa diambil. 2. mengetahui istilah-istilahnya Karena mengetahui istilah akan lebih mengefektifkan waktu, dan inilah yang dilakukan para ulama didalam pendahuluan kitab-kitab mereka. Misalnya kita mengetaui bahwa pengarang kitab Bulughul Maram, jika dia mengatakan muttafaq ‘alaih, artinya diriwayatkan oleh Al Bukhori dan Muslim, namun pengarang kitab Al Muntaqaa berbeda, jika dia mengatakan muttafaq ‘alaih artinya diriwayatkan dari Ahmad, Al Bukhori dan Muslim. Demikian pula kitab-kitab fiqih, harus dibedakan antara dua (pendapat), dua pandangan, dua riwayat dan dua kemungkinan. maka jika dikatakan dua riwayat artinya dari Ahmad, jika dua pandangan artinya dari para imam Madzab besar, sedangkan dua kemungkinan maksudnya adlah keraguan antara dua qaul (pendapat), dan dua qaul lebih umum dari itu semua. Demikan pula engkau perlu mengetahui –misalnya- jika pengarang kitab mengatakan “ ijma’ “ artinya antara umat, jika dikatakan sepakat artinya antara tiga imam sebagaimana pengarang kitab Al Furu’ dalam fiqih Hanabilah, Demikian pula imam madzab lainnya, masing-masing memiliki istilah, maka engkau harus mengetahui istilah pengarang.
3. Mengetahui uslub (metode) dan ibarah (ungkapan/gaya bahasa)Oleh karena itu engkau sering mengalami –jika sedang membaca kitab- ketika pertama kali membacanya, apalagi kitab-kitab ilmiyah yang penuh dengan ilmu, engkau pertama kali menemukan ungkapan yang memerlukan perhatian dan pemikiran tentang maknanya karena engkau belum terbiasa. Ada hal lain di luar mu’amalah dengan kitab yaitu ta’liq (komentar) yang terdapat dalam catatan kaki atau catatan pinggir sebuah kitab. Ini pun wajib dimanfaatkan oleh penuntut ilmu. Bila membutuhkan satu masalah yang butuh penjelasan, dalil atau alasan yang khawatir akan lupa, maka dia harus memberi komentar, penulis akan memberikan komentar di catatan kaki atau catatan tepi. Kebanyakan manusia meluputkan faedah seperti ini, yang apabila dia memebrikan komentar, hal ini tidak akan memakan waktu kecuali satu dua menit sja. Kemudian jika dia kembali untuk membaca ulang setelah jangka waktu yang lama, terkadang dia tidak menemukannya. maka penuntut ilmu wajib memperhatikan hal ini, terutama di kitab-kitab fiqih. Satu masalah beserta hukumnya yang engkau temukan di bebraepa kitab yang membuatmu ragu dan tawaquf. Jika engkau menelaah kitab-kitab yang lebih luas dari kitab-kitab yang sedang engkau telaah akan engkau jumpai pendapat yang menjelaskan masalah tersebut. Maka engkau mesti memberi komentar atas pendapat itu sebagai rujukan bagimu di lain waktu jika engkau membutuhkannya tanpa harus merujuk kepada kitab-kitab asal yang dinukil tadi, ini akan menghemat waktu. Kaedah kedua: Menelaah kitab Hal ini terbagi menjadi dua :
Kaedah ketiga : Mengoleksi/mengumpulkan Kitab Penuntut ilmu harus bersemangat dalam mengumpukan /mengoleksi buku atau kitab. tetapi dia harus memulai dari kitab yang terpenting kemudian yang penting. Jika kemampuan seseorang sedikit, maka tidaklah termasuk kebaikan dan tidak pula termasuk sikap yang hikmah apabila dia membeli banyak kitab yang memaksakan diri dengan berhutang untuk membelinya, karena perbuatan ini termasukcara pengeluaran yang jelek. Jika tidak memungkinkan bagimu untuk membeli dari hartamu, maka mungkin bisa meminjam dari saudara lainnya atau perpustakaan. Kaedah keempat : Berminat terhadap kitab-kitab penting Penuntut ilmu harus memiliki minat terhadap kitab-kitab induk yang pokok selain kitab-kitab kontenporer. karena, segaian penulis kontenporer tidak memilki ilmu yang mendalam. Oleh karena itu, jika engkau membaca apa yang mereka tulis akan didapati bahwa tulisan itu dangkal. Terkadang penulis tersebut mengutip sesuatu dengan redaksinya, terkdang dia mengubah dengan ungkapan yang panjang akan tetapi kosong dari isi atau maknanya. Maka engkau harus memperhatikan kitab induk yaitu kitab-kitab salaf. karena dia lebih baik dan lebih barakah dibanding kitab kontenporer. Kitab-kitab mutaakhirin dan kontenporer pad umumnya memiliki makna yang sedikit tetapi (menggunakan) banyak ungkapan, engkau baca satu halaman mungkin bisa engkau ringkas menjadi satu atau dua baris. Namun jika engkau dapati kita-kita induk pada ulama salaf begitu lembut, lunak, mudah, mantap, tidak akan engkau dapati satu katapun yang tidak memiliki makna. Diantara kitab-kitab yang agung yang wajib diminati oleh penuntut ilmu adalah kitab-kitab Syaikhul Islam Ibnu taimiyah dan muridnya Ibnul Qoyyim Al jauziyah -rahimakumullah- . Sudah kita maklumi bahwa kitab-kitab karya Ibnul Qoyyim lebih mudah dan lebih lembut. Sedangkan kitab Syaikhul Islam Ibnu taimiyah gaya bahasanya amat kuat dengan sebab kedalaman ilmu dan kecemerlangan otaknya. Kadang Ibnul Qoyyim pun berbeda pendapat dengan gurunya tersebut, ketika Syaikhul Islam berpendapat wajibnya mengubah haji ke umroh dan Ibnu Abbas -Rodliallohu anhu- berpendapat bagi jamaah haji yang tidak membawa hadyu (sembelihan) jika hendak ihram untuk melaksanankan haji atau qirah, maka wajib untuk mengubahnya ke Umroh. Syaikhul Islam berpendapat banhwa kewajiban itu khusus bagi shohabat. tentang hal ini Ibnul Qoyyim berkata,” Aku lebih cenderung kepada pendapat Ibnu Abbas -Rodliallohu anhu- daripada pendapat guru kami.” Ucapan ini menjelaskan sikapnya yang menyelisihi pendapat gurunya, beliau -rahimahullah- bebas berpendapat, tapi kadang beliaupun mengukuti pendapat gurunya dalam beberapa masalah. Tidak diragukan lagi jika engkau memperhatikan umumnya pendapat yang dipilih Syaikhul Islam, maka akan engkau dapati bahwa keumuman pendapatnya benar. Ini adalah masalah. yang pasti diketahui oleh setiap orang yang menelaah kitab-kitab kedua ulama ini. Kaedah Kelima : Mendata Kitab-kitab Kitab terbagi menjadi tiga macam : Kitab yang baik, Kitab yang jelek dan kitab yang tidak baik ataupun tidak jelek. Bersungguh-sunggulah wahai para penuntut ilmu agar koleksi buku atau perpustakaan pribadimu kosong dari kitab/buku yang tidak mengandung kebaikan didalamnya atau bahkan terkandung kejelekan. Ada lagi kitab yang disebut dengan kitab sastra tetapi bisa menyita dan menghabiskan waktu tanpa faedah. Ada lagi kitab berbahaya yang mengandung pemikiran-pemikiran dan tujuan tertentu. Kitab ini pun jangan engkau masukkan ke dalam koleksi pribadimu,baik yang menyangkut manhaj ataupun aqidah. Seperti kitab-kitab ahli bid’ah yang membahayakan aqidah dan kitab-kitab revolusioner yang membahayakan manhaj. Secara umum, setiap kitab yang membahayakan maka jangan engkau masukkan ke dalam perpustakaan koleksi pribadimu karena kitab adalah ibarat nutrisi bagi ruh/jiwa seperti makanan dan minuman bagi badan, maka jika engkau mengkonsumsi kitab-kitab seperti itu, engkau akan mendapat mudharat yang besar dan akan mempunyai pandangan yang menyimpang dari manhaj penuntut ilmu yang benar. Kitab-kitab bagi Penuntut Ilmu. Kitab Aqidah
Semuanya adalah tulisan dari Imam Muhammad bin Abdul Wahab -rahimahullah- .
Pembahasan didalam kedua kitab ini lebih luas dibanding Al Aqidah Al Washitiyah. Ketiga kitab ini ditulis oleh Syaikhul islam Ibnu taimiyah -rahimahullah-
Kitab Hadits
Jika engakau mengulang-ulang nama perawi, hampir tidak pernah dalam sanad manapun yang tidak bertemu dengan salah seorang rawi Al Bukhori –misalnya- maka akan lebih dikenal babhwa dia adalah rawi Al bukhori, dan dia bisa mengambil faedah dalam ilmu hadits ini. Kitab Fiqih
Kitab Faraaidh
Kitab Tafsir
Kitab Umum dan beberapa disiplin Ilmu
Sumber : Panduan Lengkap Menuntut Ilmu (judul asli : Kitab Al Ilmu) Penerbit Pustaka Ibnu Katsir 2006 (dapatkan koleksinya di www.al-aisar.com) Dilarang mengkopi seluruh atau sebagian artikel ini kecuali menyertakan www.al-aisar.com sebagai sumbernya. |
| < Sebelum | Berikut > |
|---|