Nasehat bagi Penuntut Ilmu : ?Ulama Salaf Bersabar dari Lapar dan Dahaga Ketika Menuntut Ilmu?
Ditulis Oleh: Administrator   

             Apabila makanan dan minuman merupakan konsumsi jasad, maka ilmu syar’I yang menjadikan pemiliknya takut kepada Alloh Azza wa Jalla adalah konsumsi ruh dan hati. Tidak disangsikan lagi bahwa konsumsi ruh lebih agung dan lebih bermanfaat dari konsumsi jasad. Untuk itulah, para ulama Salaf lebih mengutamakan konsumsi ilmu dan pengetahuan daripada makanan dan minuman. Mereka bertahand ari lapar dan dahaga sepanjang hari, demi mencari ilmu syar’I, untuk menghidupi ruh dan meraih kebaikan. Seandainya mereka mau, nuscaya mereka bisa menjadi orang yang paling mewah dalam makanan dan minuman. Mereka bisa makan pagi dan sore dalam berbagai bejana tempat beragam makanan, Namun mana konsumsi untuk hati dan ruh mereka ?
              Maka, beuntunglah jiwa-jiwa yang rela lapar dan dahaga demi keridlaan Alloh Azza wa Jalla . Nadhr bin Syumail -rahimahullah-  berkata,” Seseorang tidak akan mendapatkan kelezatan ilmu, hingga ia merasakan lapar (ketika menuntut ilmu), namun melupakan laparnya.” [ lihat: At Tadzkiratul Huffadzh, Imam Adz DZahabi -rahimahullah- ,1/314].


 

Baqi bin Mikhlad Al Andalusy -rahimahullah- yang pernah berkeliling ke berbagai negara di dunia dengan hanya berjalan kaki !!!, Beliau berkata,”Sungguh , saya mengetahui seseorang yang ketika menuntut ilmu lewat berhari-hari tidak memiliki makanan, kecuali daun kubis yang sudah terbuang.” [ lihat Tadzkiratul Huffadzh, Imam Adz Dzahabi -rahimahullah- 2/630]

Ibnu Kharras -rahimahullah- berkata,” Saya minum kencing saya sendiri ketika saya dalam perjalanan menuntut ilmu, hal ini terjadi lima kali !! (seseorang tidak akan meminum kencingnya sendiri kecuali dalam keadaan sangat haus yang haus ini dapat mengakibatkan kematian)”. [lihat Al Ibar Khoiri Man Ghabar, Imam Adz Dzahabi -rahimahullah- 2/70].

Semoga Alloh Azza wa Jalla merahmati mereka yang bersabar demi meraih ilmu dalam keadaan yang tidak menyenangkan, kecuali keyakinan mereka bahwa ilmu adalah karunia yang paling berharga.

Abu Ali Al Hasan bin Ali Al Balkhi -rahimahullah- berkata,” Aku pernah tinggal di Asqolan untuk belajar dari Ibnu Mushahhih -rahimahullah- dan lainnya. Bekal nafkah saya semakin menipis hingga beberapa hari saya tidak bisa makan. Saya ingin menulis pelajaran, namun tidak bisa (karena perut sangat lapar). Saya kemudian pergi ke toko roti dan duduk di dekat roti tersebut hingga mencium aromanya agar saya punya tenaga. Kemudian Alloh Azza wa Jalla membantu saya.” [lihat Tadzkiratul Huffadzh, Imam Adz Dzahabi -rahimahullah- 4/1173]

Imam Abu Hatim Ar Razi -rahimahullah- (Imam dan ulama besar dalam bidang Jarh Wa Ta’dil) pernah bercerita,”Saya tinggal di bashrah delapan bulan dan kehabisan bekal nafkah. Saya menjual baju saya satu demi satu, hingga tidak punya apa-apa. Saya bersama teman pergi ke rumah Masyayikh (guru) untuk belajar hingga sore hari, kemudian saya pulang kerumah yang sepi untuk minum air karena lapar tidak punya makanan. Saya lakukan hal ini selama dua hari, Pada hari ketiga seorang teman berkata, ” Mari kita pergi ke rumah guru!”, Saya menjawab” Saya lemah dan tidak bisa (berdiri)”, Dia berkata lagi” Kenapa kamu lemah?”, Saya katakan kepadanya” Saya tidak akan merahasiakannya, sudah dua hari saya tidak makan.” Dia berkata,” Saya masih memiliki satu Dinar dan saya berikan kepadamu setengahnya.” [lihat  Al Jarh Wat Ta’dil, Imam Abu Hatim Ar Razi -rahimahullah- ]

Simaklah wahai saudaraku, penuturan dari Imam Muhammad bin Thahir Al Maqdisi -rahimahullah- , yang menceritakan tentang perjalanan menuntut ilu dan kesulitan yang beliau alami, belia berkata,” Saya tinggal di Tunis bersama Abu Muhammad bin Al Haddad -rahimahullah- , bekal saya semakin menipis hingga tersisa hanya satu dirham. Saat itu saya butuh roti dan kertas untuk menulis pelajaran. Jika dipakai beli kertas maka saya tidak akan makan roti. Kebingungan ini berlanjut hingga tiga hari (beli roti atau beli kertas –red), selama itu pula Saya tidak merasakan makanan sama sekali. Pada hari keempat, dalam hati saya berkata,”Kalau saya punya kertas, maka saya tidak akan bisa menulis karena sangat lapar. Saya taruh uang satu dirham tersebut di mulut dan saya putuskan untuk keluar dan membeli roti.Tiba-tiba tanpa terasa uang satu dirham tersebut tertelan oleh mulut ke dalam perut, kemudian saya tertawa. Abu Thahir -rahimahullah- mendatangi saya dan bertanya,”Apa yang membuatmu tertawa ? Saya menjawab,”Khoir (sesuatu yang baik).” Beliau meminta saya untuk menceritakannya , namun saya tolak. Ia terus memaksa sehingga saya ceritakan kejadiannya, lalu Beliau mengajak saya ke rumahnya dan memberi saya makanan.” [lihat Tadzkiratul Huffadh, Imam Adz Dzahabi -rahimahullah- 4/1246]

Imam Al Bukhori -rahimahullah- berkata,”Saya menemui Adam bin Abi Iyyas di Asqolan untuk belajar darinya. Bekal saya semakin berkurang hingga saya makan rerumputan.”

 Lihatlah Ya Ikhwah, Betapa semangatnya para Salaf dalam menuntut ilmu, dan Alloh Azza wa Jalla tinggikan derajat mereka karena ilmu mereka, sehingga nama mereka selalu disebut oleh Muslimin sampai Kiamat kelak dan selalu didoakan kebaikan untuk mereka , Bagaimana dengan antum yaa Ikhwah ???


sumber :

 Kaifa Tatahammas fi Thalabul Ilmu Syar’I

 Abul Qo’qo Muhammad bin Shalih AluAbdillah




 


Administrator
About the author:


 
< Sebelum   Berikut >

KATEGORI PRODUK

CARI DI KATALOG

PENERBIT/PRODUSEN