Memerangi Dakwah Hizbiyyah [2]
Ditulis Oleh: Ustadz Abdul Mu'thi   


Hakikat Dakwah Hizbiyyah

Pada uraian berikut ini akan kami jelaskan tentang hakekat dakwah hizbiyah dan perbedaannya dengan dakwah Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Ahlus Sunnah wal Jamaah yaitu mereka yang berpegang teguh pada Sunnah dan Jamaah di mana sejarah mulai disebarluaskannya nama tersebut ketika timbulnya berbagai macam perpecahan dan perselisihan. Sedangkan dakwah hizbiyah adalah dakwah yang mengajak pada kelompok atau golongan tertentu yang menyimpang dari Sunnah dan manhaj yang shahih yang ditinggalkan oleh Salaful Shalih.

Para da’i yang mengajak untuk mengikuti manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah para da’i yang mengajak umat untuk kembali kepada Al Quran dan Sunnah dengan pemahaman Salafus Shalih bukan mengajak kepada kelompok atau golongan tertentu yang menyimpang dari Sunnah dan manhaj yang shahih. Digunakannya nama Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah dalam rangka membedakan dari berbagai kelompok dan golongan sesat yang menyimpang dari Sunnah. Nama ini bukan nama yang dibuat untuk suatu kelompok atau aliran tertentu yang telah menyempal dari Sunnah.

Akan tetapi banyak dari orang-orang jahil yang menuduh dakwah Ahlus Sunnah adalah dakwah hizbiyah. Mereka menuduh para da’i Ahlus Sunnah wal Jamaah yang mengajak kepada Sunnah, mencintai Ahlus Sunnah, dan menjauhi bid’ah serta membenci ahlul bid’ah adalah para da’i yang mengajak kepada hizbiyah. Menurut orang-orang jahil tersebut, Ahlus Sunnah hanya menganjurkan kaum Muslimin untuk mengikuti dakwahnya saja dengan meninggalkan dakwah lainnya yang masih merupakan dakwah Islamiyah. Di samping itu --menurut mereka-- para da’i tersebut mengikat pengikutnya untuk belajar hanya kepadanya saja dan tidak boleh belajar kepada para da’i lain yang berbeda manhaj dengan mereka.

Tuduhan-tuduhan seperti ini sering muncul dari mulut-mulut orang yang benci kepada da’i Ahlus Sunnah wal Jamaah yang bermanhaj Salaf yang mengajak kaum Muslimin berpegang teguh pada Sunnah dan menjauhi bid’ah serta mencintai Ahlus Sunnah dan membenci ahlul bid’ah. Tuduhan ini sebenarnya timbul hanya karena semata-mata mereka merasa dirugikan baik dari segi pribadi atau dakwah dan kelompoknya. Pribadi-pribadi mereka merasa dirugikan karena ia tidak akan mendapatkan atau paling tidak akan berkurang pengikutnya yang dapat mereka gunakan untuk memenuhi ambisi hawa nafsunya yang disembunyikan di balik nama Islam. Sedangkan kelompok mereka merasa dirugikan karena banyak kaum Muslimin yang akan lari dari dakwah dan kelompok mereka disebabkan adanya para da’i Ahlus Sunnah yang memberikan peringatan agar berhati-hati dari dakwah dan kelompok yang telah menyempal dari Sunnah. Mereka yang melancarkan tuduhan seperti di atas tidak lain adalah para hizbiyyun (orang-orang yang terkena penyakit hizbiyah/fanatik golongan). Para hizbiyun tersebut terdiri dari kalangan Ikhwanul Muslimin, Jamaah Tabligh, Hizbut Tahrir, NII dan kelompok sempalan yang lainnya.

Oleh karena itu perlu kiranya diterangkan tentang bagaimana sebenarnya hakekat dakwah hizbiyah agar jelas mana dakwah hizbiyah dan mana yang tidak hizbiyah di antara sekian banyak dakwah yang ada sekarang ini. Hal ini mengingat sangat rancunya permasalan tersebut pada kebanyakan kaum Muslimin sehingga muncullah berbagai tuduhan seperti di atas terhadap dakwah Ahlus Sunnah wal Jamaah yang mengajak umat untuk berpegang teguh dengan Sunnah. Bahkan yang lebih menyedihkan lagi timbul pula tuduhan dari sebagian da’i yang mengaku bermanhaj Salaf karena banyak terpengaruh oleh pemikiran-pemikiran bid’ah Ikhwaniyyah. Mereka menuduh bahwa para da’i Ahlus Sunnah yang bermanhaj Salaf yang selalu men-tahdzir (memperingatkan) umat dari bahaya pemikiran para da’i yang tidak paham manhaj Salaf yang akan dapat menjauhkan umat dari shiratal mustaqim serta menjauhkan umat dari para da’i yang mengajak ke neraka Jahannam. sebagai da’i yang mengajak  sebagai da’i yang mengajak kepada hizbiyah (fanatik golongan) dan mengajarkan taklid. Mereka juga menuduh para pengikutnya sebagai orang-orang yang muqallid. Wallahul Musta’an.

Wahai saudaraku kaum Muslimin, --semoga Allah merahmati dan menunjuki kita semua kepada jalan yang lurus-- ketahuilah! Jalan yang selamat itu adalah dengan mengikuti Al Quran dan As Sunnah. Hal ini adalah suatu perkara yang sudah maklum di kalangan kaum Muslimin kecuali orang-orang yang Allah palingkan hatinya, baik mereka yang masih mengaku sebagai Muslim atau tidak. Di dalam Al Quran terlalu banyak dalil yang menunjukkan keharusan bagi kita mengikuti petunjuk Al Quran dan As Sunnah demikian pula dalam hadits-hadits yang shahih serta parkataan para ulama. Hanya saja kebanyakan kaum Muslimin --terlebih lagi pada masa sekarang ini-- kebingungan dalam mencari jalan yang benar dalam memahami Al Quran dan As Sunnah. Mereka akhirnya terjerumus ke dalam berbagai jalan yang sesat dalam memahami Al Quran dan As Sunnah. Namun Alhamdulillah dengan segala hidayah dan rahmat-Nya Allah senantiasa membangkitkan di kalangan umat ini pada setiap masanya orang-orang yang akan selalu membela Dien-nya, mengajak umat untuk kembali kepada jalan-Nya dan membimbing umat untuk selalu mengikuti satu jalan yang benar dalam memahami Al Quran dan As Sunnah Hal ini seperti yang dikabarkan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Muslim, Ahmad, dan yang lain-lain tentang adanya Thaifah Al Manshurah yang akan selalu membela kebenaran hingga datangnya hari kiamat]. Mereka terdiri dari para shahabat Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam di antaranya Khulafaur Rasyidin Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali radliyallahu 'anhum kemudian para tabi’in, tabi’ut tabi’in, para Aimmatul Huda (imam-imam yang mendapatkan petunjuk) dan para ulama Ahlus Sunnah pada setiap masa.

Mereka mengajarkan kepada umat ini satu jalan yang selamat dalam memahami Al Quran dan As Sunnah. Jalan itu adalah Sabilul Mukminin (jalannya kaum Mukminin) yakni jalan para shahabat dan generasi awal dari umat ini dalam memahami Al Quran dan As Sunnah. Jalan yang selamat ini yang diterima oleh Salaful Shalih tersebut dari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam. Di atas jalan inilah mereka menegakkan Al Wala’ (loyalitas) dan Al Bara’ (berlepas diri). Sedangkan orang-orang yang menyimpang dari jalan ini adalah orang-orang yang binasa, mereka menegakkan Al Wala’ dan Al Bara’-nya di atas jalan kesesatan yang mereka terjerumus di dalamnya.
Allah Ta’ala berfirman :
“Barangsiapa yang mendurhakai Rasul sesudah jelas kebenaran baginya dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang Mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam dan Jahannam itu seburuk-buruknya tempat kembali.” (QS. An Nisa’ : 115)

Pada ayat ini Allah mengancam kepada orang-orang yang mendurhakai Rasul dan yang menyimpang dari jalannya kaum Mukminin yakni para shahabat Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam. Hal itu sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albani dalam sebuah ceramahnya yang dikumpulkan dalam Muhadlarat fi Dakwah Salafiyah dengan ancaman bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala akan memalingkan mereka ke jalan yang sesat sehingga sulit baginya untuk keluar dari jalan tersebut. Kemudian Allah akan memasukkan dia ke neraka Jahannam sedangkan Jahannam itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.

Demikianlah semakin jelas betapa pentingnya mengikuti jalan kaum Mukminin tersebut sebagaimana yang telah diajarkan oleh para ulama Ahlul Hadits kepada umat ini [Para ulama Ahlul Hadits ini adalah Ath Thaifah Al Manshurah yang akan selalu membela kebenaran sebagaimana yang dikabarkan dalam hadits riwayat Imam Muslim, Ahmad, dan lainnya. Pendapat ini adalah pendapat Ibnul Mubarak, Yazid bin Harun, Ibnul Madini, Ahmad bin Hanbal, Bukhari, Khathib Al Baghdady, Ibnu Taimiyah, dan Ibnu Rajab. Lihat Manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah Fi Naqdir Rijaal karya Syaikh Rabi’ bin Hadi Al Madkhaly halaman 18]. Kaum Muslimin yang ingin terlepas dari kebingungan hendaknya memilih jalan yang tepat dalam memahami Al Quran dan As Sunnah, harus mengikuti jalan yang selamat ini yakni Sabilul Mukminin. Atas dasar ini pulalah ditegakkannya dakwah Ahlus Sunnah wal Jamaah hingga Dien ini benar-benar seluruhnya untuk Allah dengan tuntunan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam dan pemahaman para shahabatnya radliyallahu 'anhum. Jika tidak demikian berarti Dien ini tidak diserahkan seluruhnya untuk Allah Subhanahu wa Ta'ala karena mereka hanya berdien menurut akal dan hawa nafsunya masing-masing, tidak dengan syari’at yang telah Allah turunkan kepada Nabi-Nya Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam dan dengan pemahaman para shahabatnya radliyallahu 'anhu. Akhirnya masing-masing kaum (yang berpecah dan berselisih itu) memiliki sesuatu yang mana mereka membedakan dirinya dari yang lainnya seperti (pemimpin) yang diagungkan dan dikultuskan, sesembahan yang tidak Allah perintahkan untuk mengibadahi dan mentaatinya atau suatu pendapat yang mereka ada-adakan sedangkan Allah tidak mengizinkan dan tidak mensyari’atkannya. (Jami’u Ar Rasaail oleh Ibnu Taimiyah, tahqiq Muhammad Rasyad Salim 2/230)
Selanjutnya masing-masing kelompok tersebut bangga dengan apa yang ada di sisinya sebagaimana firman-Nya :
“Yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (QS. Ar Ruum : 32)

Mereka menegakkan Al Wala’ dan Al Bara’ di atas sesuatu yang ada pada kelompoknya masing-masing. Oleh karena itu mereka hanya ber-wala’ kepada orang yang simpati atau para pengikut kelompoknya dan mereka ber-bara’ dari setiap orang yang tidak mengikuti kelompoknya. Sesuatu yang mereka bangga-banggakan itu di antaranya adalah pemimpin-pemimpin yang mereka berdien dengan pendapatnya sekalipun pendapatnya itu adalah bid’ah. Masing-masing kelompok senantiasa menyandarkan berbagai macam pujian dan sanjungan kepada pemimpin kelompoknya tersebut meskipun pemimpin-pemimpin mereka adalah orang yang bodoh dan tidak kuat dalam masalah ilmu. (Tanbih Ulil Abshar karya As Suhaimiy halaman 253)

Setiap kelompok yang membanggakan pemimpinnya dan hanya berdien dengannya akan menjadikan seluruh pendapat pemimpinnya itu sebagai landasan dalam mengukur kebenaran segala sesuatu. Mereka akan menggunakan akal serta pemikirannya untuk membela pendapat (pemimpinnya) tersebut dengan cara mencarikan pendukung dari tiap-tiap kitab dan karangan yang dahulu maupun sekarang. Padahal yang wajib untuk dijadikan sebagai landasan untuk mengukur kebenaran segala sesuatu adalah Al Kitab dan As Sunnah. Kemudian mencocokkan pendapat para syaikh dan pemimpin tersebut kepadanya (Al Kitab dan As Sunnah). (Ath Thaifah fi Bara’ati Ahlis Sunnah Abdul Aziz Al Utaiby halaman 11)

Masing-masing kelompok memiliki nama-nama yang mereka jadikan ukuran untuk mengukur benar atau salah dan dasar untuk saling tolong menolong serta bela membela. Mereka juga saling panggil memanggil dengan nama-nama tersebut sehingga mereka terjatuh dalam panggilan-panggilan jahiliyah. Ibnul Qayyim berkata :
“(Panggilan-panggilan jahiliyah itu) adalah seperti panggilan (yang menunjukkan pembelaan) kepada suku-suku, fanatik kepada seseorang, fanatik terhadap madzhab-madzhab, kelompok-kelompok atau golongan-golongannya, pemimpin-pemimpin, (panggilan yang menunjukkan) pengutamaan sebagian orang dari sebagian yang lain dengan dasar hawa nafsu dan kefanatikan. Dan keadaannya (seseorang) menisbahkan diri pada sesuatu menyeru dan mengajak kepada hal yang demikian. Dia ber-wala’ atas dasar hal itu (hawa nafsu/kefanatikan) demikian pula (keadaannya) ketika dia memusuhi. Mereka juga menimbang/mengukur manusia dengannya (yakni dengan hawa nafsu dan kefanatikan). Maka seluruhnya ini termasuk panggilan-panggilan jahiliyyah(Dinukil oleh Sulaiman bin Abdullah Alu Asy Syaikh di dalam Taysirul Azizil Hamid halaman 515) [Lihat Ad Da’wah Illallah karya Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid Al Atsary halaman 20,73, dan 81 ]

Dari beberapa keterangan di atas kiranya cukup menjelaskan apakah hakikat dakwah hizbiyyah. Yang semua itu timbul akibat penyimpangan dari dakwah Ahlus Sunnah dan mengikuti Sabilul Mukminin. Jadi dapat kita simpulkan dari keterangan di atas bahwa hakikat dakwah hizbiyyah adalah :

1.Dakwah yang mengajak kepada satu kelompok atau golongan yang menyimpang dari Sabilul Mukminin.

2.Dakwah yang dipimpin oleh seorang pimpinan atau syaikh yang memiliki pendapat-pendapat bid’ah dan dengannya dakwah tersebut membedakan diri dari dakwah-dakwah yang lain.

3.Dakwah yang membanggakan para pimpinannya yang mengajak mereka menyimpang dari Sabilul Mukminin. Dakwah tersebut dalam menegakkan Al Wala’ dan Al Bara’ didasarkan cinta kepada pimpinannya. Mereka ber-wala’ kepada orang yang sepaham dengannya dalam mengikuti para pemimpin itu dan bara’ kepada orang yang tidak sepaham dengannya dalam mengikuti pemimpin itu. Akhirnya para pengikut dakwah hizbiyyah ini mengambil seluruh pendapat pemimpinnya tanpa memperhatikan benar salahnya pendapat tersebut menurut Al Quran dan As Sunnah dengan pemahaman Salaf. Apabila mereka mendapatkan pendapat bid’ah pemimpin-pemimpin mereka, mereka akan berusaha mencari berbagai macam alasan agar tetap bisa berpegang kepada pendapat tersebut. Kemudian mereka menyandarkan berbagai macam pujian kepada pimpinannnya walaupun pimpinannya adalah orang-orang yang bodoh dan tidak berilmu dengan ilmu yang shahih dan kokoh

4.Dakwah yang memiliki nama tertentu bagi kelompoknya yang dengannya memisahkan diri dari yang lainnya kemudian mereka fanatik dengan nama tersebut dan menjadikannya sebagai landasan kebenaran tolong menolong serta bela membela.

Dakwah-dakwah hizbiyyah biasanya memang memiliki nama-nama tertentu dan masing-masingnya terkenal dengan nama-nama tersebut. Mereka saling panggil memanggil dengan panggilan seperti panggilan yang dilakukan oleh orang Arab terhadap suku-suku mereka pada jaman jahiliyyah ketika terjadi perselisihan di antara mereka.

Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa seorang laki-laki yang suka bercanda dari kalangan Muhajirin memukul dubur seorang shahabat dari kalangan Anshar hingga shahabat Anshar ini menjadi sangat marah kepadanya. Akhirnya berakibat masing-masing shahabat tersebut memanggil kelompoknya. Shahabat Anshar menyeru kelompoknya dengan berkata : “Wahai (kaum) Anshar.” Sedangkan shahabat Muhajirin berkata : “Wahai (kaum) Muhajirin.” (Setelah mendengar hal ini) Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam keluar seraya bersabda : “Ada apa dengan panggilan jahiliyyah ini? Apa urusan mereka?” Kemudian diceritakanlah kepada beliau Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam kejadian seorang Muhajirin memukul pantat seorang Anshar. Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda : “Tinggalkan oleh kalian panggilan-panggilan jahiliyah itu karena sesungguhnya panggilan itu adalah (panggilan) yang jelek.” (HR. Bukhari)

Wahai saudaraku kaum Muslimin! Inilah beberapa point tentang hakekat dakwah hizbiyah. Betapa bedanya dakwah Ahlus Sunnah wal Jamaah dengan dakwah hizbiyah, ibarat putih dengan hitam.

Pada satu sisi dakwah Ahlus Sunnah wal Jamaah menyeru untuk mengikuti Sabilul Mukminun di bawah bimbingan para ulama Ahlul Hadits yang mengajarkan hujjah yang kuat dari Al Quran dan As Sunnah dengan keyakinan bahwa para ulama tersebut tidaklah makshum seperti Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam. Jika mereka mendapatkan pendapat ulama tersebut menyimpang dari Sabilul Mukminin maka mereka siap untuk meninggalkannya. Imam Malik rahimahullah berkata :
“Setiap manusia dapat diambil perkataannya dan dapat dibuang kecuali pemilik kubur ini.” Seraya memberikan isyarat ke kubur Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam [Sebenarnya perkataan ini adalah perkataan yang pernah diucapkan Ibnu Abbas sebagaimana yang disebutkan oleh Taqiyuddin As Sabky dalam Al Fataawiy 1/148. Kemudian Imam Mujahid mengambil perkataan ini dari beliau sebagaimana disebutkan Ibnul Abdil Baar dalam Jami’ul Bayaanil Ilmu wa Fadllihi 1/191 dan Al Ihkam fi Ushulil Ahkam 1/145. Lalu Imam Malik mengambilnya dari Imam Mujahid. Imam Ahmad bin Hambal juga pernah mengatakan perkataan yang semakna sebagaimana yang telah disebutkan Abu Dawud dalam Masa’il Imam Ahmad halaman 276. (Lihat Hal lil Muslimin Mulzamun Bit Tiba’i Madzhabin Mu’ayyan karya Muhammad Sulthan Al Ma’shumi, tahqiq Syaikh Salim Al Hilali halaman 42)]

Dakwah Ahlus Sunnah meletakkan dasar Al Wala’ dan Al Bara’ di atas Al Quran dan As Sunnah dengan pemahaman Salaf bukan di didasarkan pada fanatik terhadap golongan (kelompok dan pemimpinnya) masing-masing. Dakwah ini juga tidak memiliki nama-nama tertentu melainkan hanya Ahlus Sunnah wal Jamaah, Al Firqatun Najiyah, Ath Thaifah Al Manshurah, As Salaf (yakni dakwah Salafiyah), Ahlul Hadits, Ahlul Atsar, Al Jamaah, Jamaatul Muslimin. Seluruh nama-nama ini dinisbatkan oleh para ulama Ahlul Hadits dari beberapa riwayat yang shahih tentang perpecahan umat untuk menjelaskan tentang satu kelompok yang selamat dari mereka yaitu Al Jamaah yang mengikuti Sunnah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam dan para shahabatnya serta beberapa riwayat tentang keutamaan Salafus Shalih. Di antaranya adalah hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Imam Muslim. Penisbatan itu juga diambil dari penjelasan tentang adanya kelompok kecil (umat Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam) yang akan ditolong dan selalu membela kebenaran hingga hari kiamat di antaranya hadits riwayat Imam Muslim dan Imam Ahmad.

Dakwah Ahlus Sunnah wal Jamaah dinisbatkan dengan nama-nama di atas agar dapat dibedakan dari berbagai dakwah-dakwah sesat yang menyempal dari Sunnah di mana dakwah-dakwah sesat tersebut juga mempunyai nama-nama yang mereka fanatik dengan kelompok/golongan dan pemimpin mereka. Seperti syiah rafidlah, jahmiyah, mu’tazilah, sufiyah atau nama kelompok hizbiyah yang sekarang seperti ikhwanul Muslimin, jamaah tabligh, hizbut tahrir, NII, Islam jamaah dan lain-lain

Syaikh Bakr Abdullah Abu Zaid berkata dalam Kitabnya Hukmul Intima’ :

[ Nama-nama (Ahlus Sunnah) yang mulia ini berbeda dengan berbagai nama yang dimiliki oleh kelompok/golongan mana saja. Hal itu dapat ditinjau dari beberapa segi :

1.Nama-nama yang diberikan pada Ahlus Sunnah itu adalah penisbatan yang tidak pernah terpisah sedikit pun dari kaum Muslimin semenjak terbentuknya di atas Manhaj Nubuwah. Nama-nama itu mencakup seluruh kaum Muslimin yang berada di atas jalan generasi awal (yakni Salafus Shalih) dan orang-orang yang mengikuti mereka dalam mengambil ilmu, cara memahaminya dan metode dakwah kepadanya (ilmu).

2.Nama-nama tersebut tidak memiliki bentuk khusus yang menyelisihi Al Kitab dan As Sunnah, baik dalam bentuk penambahan atau pengurangan

3.Nama-nama tersebut adalah gelar yang di antaranya telah tsabit (tetap) di dalam sunnah yang shahihah. Nama-nama ini disebutkan dalam menghadapi manhaj-manhaj Ahlul Ahwa dan kelompok yang sesat untuk membantah bid’ah-bid’ah mereka, membedakan dirinya dari mereka, menjauhi pergaulan dari mereka dan menyelisihi mereka. Oleh karena itulah tatkala muncul berbagai bid’ah maka kaum Ahlus Sunnah menampakkan dirinya dengan Sunnah. Tatkala ra’yu (rasio/akal) dijadikan landasan hukum, mereka membedakan dirinya dengan berpegang pada hadits dan atsar. Dan tatkala tersebarnya bid’ah dan hawa nafsu dari para khalaf, mereka membedakan dirinya dengan berpegang pada Hadyus Salaf (bimbingan Salaf). Demikianlah seterusnya.

4.Ikatan Al Wala’ dan Al Bara’, saling mencintai dan memusuhi bagi mereka adalah berdasarkan Islam tidak dengan yang lainnya. Mereka tidak menyandarkannya pada suatu hizb dengan nama-nama tertentu dan tidak pula memiliki batasan-batasan hizb-nya masing-masing melainkan pada Al Quran dan As Sunnah dengan pemahaman Salafus Shalih

5.Nama-nama ini tidak mengajak umat untuk ber-ta’assub (fanatik) terhadap seseorang pun selain Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatawa jilid 3/346-347 berkata : “Oleh karena itulah dia mensifatkan Al Firqatu An Najiyah dengan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Mereka adalah Al Jumhurul Akbar dan As Sawadul A’zham.”

6.Nama-nama ini tidak menjerumuskan pada bid’ah, maksiat dan tidak pula ashabiyah (sifat fanatik) terhadap orang dan kelompok tertentu [Lihat Hukmul Intima’ Ilal Firaq wal Ahzab wal Jama’atil Islamiyah oleh Bakr bin Abdullah Abu Zaid halaman 41-43.]

  Demikianlah keadaan dakwah Ahlus Sunnah wal Jamaah.
Pada sisi yang lain, dakwah hizbiyah merupakan kebalikan dari dakwah Ahlus Sunnah wal Jamaah sebagaimana yang telah kami jelaskan pada point hakekat dakwah hizbiyah. Wallahu Al Musta’an.

Bagaimana cara/jalan keluar dari dakwah hizbiyyah?... simak kelanjutannya
Insya Alloh ta'ala

Majalah Salafy ‘edisi lama’ edisi ix/rabius tsani/1417 H , ditulis kembali oleh Abu Umair Abdul Ghofar Al Atsari, Dilarang mengkopi kecuali menyertakan www.al-aisar.com sebagai sumbernya

 
< Sebelum   Berikut >

KATEGORI PRODUK

CARI DI KATALOG

PENERBIT/PRODUSEN