| Memerangi Dakwah Hizbiyyah [3] |
| Ditulis Oleh: Ustadz Abdul Mu'thi | |
|
Jalan Keluar Dari Dakwah Hizbiyah Timbulnya berbagai macam dakwah hizbiyah adalah akibat menyimpang dari Sunnah dan terjatuhnya mereka ke dalam bid’ah. Hal ini terlihat ketika munculnya golongan sesat yang membawa pemikiran bid’ah dimulai dari syiah rafidlah, khawarij, qadariyah, jabariyah dan yang lainnya. Pada saat itu muncul dakwah yang mengajak untuk mengikuti golongan sesat yang memiliki pemikiran bid’ah tadi dan menyimpang dari Sunnah. Keadaan ini terus berlanjut hingga masa kita sekarang ini. Oleh karena itu tidak ada jalan keluar dari dakwah hizbiyah melainkan mengembalikannya pada Sabilul Mukminin yaitu Al Quran dan As Sunnah dengan pemahaman Salaf. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda : “Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertaqwa kepada Allah, mendengar dan taat walaupun (yang memimpin kalian) seorang budak Habsyi. Barangsiapa di antara kalian hidup (setelahku) maka ia akan melihat perselisihan yang banyak. Jauhilah oleh kalian mengada-adakan perkara baru (dalam agama) karena sesungguhnya hal itu adalah sesat. Barangsiapa yang mendapatkan keadaan demikian di antara kamu maka wajib atasnya berpegang teguh dengan Sunnahku dan Sunnah Khulafaur Rasyidin, gigitlah oleh kamu sekalian (Sunnah-Sunnah) tersebut dengan gigi gerahammu.” (HR. Turmudzi, Abu Dawud, Ibnu Majah dan yang selain mereka, lihat Shahih Turmudzi 2/341-342) Ibnu Qudamah setelah menyebutkan beberapa dalil dalam masalah kewajiban mengikuti Salafus Shalih mengatakan dalam kitabnya : “Telah tetap kewajiban mengikuti para Salaf rahimahullah dengan (dalil) Al Quran, Sunnah, dan ijma” [ Lihat Dzammut Ta’wil oleh Ibnu Qudamah halaman 35]. Selanjutnya beliau berkata : “Jadi sesungguhnya satu-satunya jalan untuk terlepas dari bid’ah dan atsar-atsar yang jelek adalah dengan berpegang teguh pada Al Quran dan As Sunnah, baik dalam bentuk keyakinan, ilmu ataupun amal” [Lihat Hurmatul Ibtida’ Fid Dien oleh Abu Bakr Al Jazairy halaman 44] Semua itu dengan bimbingan Salaf, pemahaman dan manhaj serta praktek mereka terhadap dua wahyu yang mulia (Al Quran dan As Sunnah). Dengan demikian mereka adalah orang yang paling besar kecintaannya pada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam, paling kuat mengikuti beliau, paling banyak keinginannya (untuk itu) dan paling dalam ilmu dan luas pengetahuannya [ Lihat Ilmu Ushulil Bida’ Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid halaman 314] Jalan keluar dari hizbiyah seperti yang disebutkan di sini sebenarnya adalah jalan yang mudah dan gampang bagi orang yang Allah mudahkan baginya untuk mengikuti Al Haq. Akan tetapi hal ini membutuhkan kesungguhan untuk berilmu dan berdakwah kepadanya. Saling bahu membahu dan tolong-menolong dengan landasan rasa cinta dan persaudaraan di atas Sunnah untuk menjalaninya dan menjauhkan diri dari berbagai macam penyakit hizbiyah (fanatik terhadap golongan/kelompok yang menyempal dari Sunnah) di dalam mengikutinya. Hal itu sesuai dengan firman Allah : “Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.” (QS. Al Maidah : 2) Penutup dan kesimpulan Kami sebagai Muslim Sunny Salafy [Seorang yang menisbatkan pemahamannya kepada para Salaf dengan menyebutkan dirinya sebagai Salafy tidak dapat dikatakan hizbiyah bahkan semestinya seorang Ahlus Sunnah yang mengaku mengikuti Salaf harus menyebutkan dirinya salafy. Karena penisbatan ini adalah penisbatan yang dituntut ketika munculnya berbagai macam kelompok bid’ah. Hal ini serupa dengan orang yang menamakan dirinya Ahlus Sunnah. (Al Ashalah nomor 9 tahun 1414 halaman 86, dinukil dari tulisan Syaikh Al Albany rahimahullah. Lihat Salafy edisi perdana rubrik Mabhats halaman 8-10)] mengajak kepada saudara-saudaraku sesama Muslim dalam rangka memberikan nasehat kepada mereka untuk senantiasa kembali kepada yang hak, dakwah Ahlus Sunnah wal Jamaah dan meninggalkan dakwah-dakwah hizbiyyah yang akan membuat kita semua menyimpang dari jalan yang lurus yang telah digariskan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam dan Salafus Shalih radliyallahu 'anhum. Ketahuilah! Dakwah-dakwah hizbiyyah itu adalah jalan-jalan setan yang akan menjauhkan kita dari Sabilul Mukminin [Hal ini semakna dengan hadits Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam ketika menggariskan satu garis lurus lalu mengatakan hal ini jalan Allah yang lurus dan menggariskan garis-garis lain di sebelah kanan dan kini garis lurus tersebut. Lalu mengatakan, ini jalan-jalan yang tidak ada satu jalan pun melainkan ada setan yang menyeru kepadanya. (HR. Ahmad 1/453 dan 465, Ath Thayalisi 244, dan An Nasa’i dalam Al Kubra sebagaimana dalam At Tuhfah 7/49, sanadnya lihat Al Hawadits wal Bida’ Imam Ath Thurthusy tahqiq Syaikh Ali Hasan Al Atsary halaman 32)] dan menjerumuskan kita ke dalam lubang perpecahan dan perselisihan karena setiap dakwah yang menyimpang dari Sabilul Mukminin merupakan penyebab perpecahan dan perselisihan walaupun yang mengikuti dakwah tersebut banyak dan berkumpul dalam satu organisasi, satu perkumpulan, satu tandhim (peraturan) atau satu negeri dan selalu mendengungkan persatuan. Akan tetapi sebaliknya dakwah Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah jalan yang lurus karena ditegakkan di atas hujjah yang kokoh yang datang dari Allah yakni Al Quran dan As Sunnah dengan pemahaman Salaf. Dakwah Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah dakwah yang mengajak kepada Al Jamaah (persatuan) lawan dari Al Firqah (perpecahan) atas dasar berpegang teguh dengan tali Allah sekalipun orang yang mengikutinya hanya satu atau beberapa orang dan tidak berada dalam satu organisasi, kumpulan, tempat, tandhim atau satu negeri. Sebagaimana perkataan Ibnu Mas’ud : “Al Jamaah adalah apa-apa yang mencocoki Al Haq walaupun kamu sendirian.” (Dikeluarkan oleh Baihaqi dalam Al Madkhal) Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman : “Jikalau Rabbmu menghendaki tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat. Kecuali orang-orang yang dirahmati oleh Rabb-mu.” (QS. Huud : 118-119) Berkata Imam Qatadah : “Orang-orang yang dirahmati Allah adalah Ahlul Jamaah meskipun terpisah negeri-negeri dan badan-badan mereka. Sedangkan ahlul maksiat (orang-orang yang bermaksiat) kepada-Nya adalah ahlul firqah walaupun berkumpul negeri-negeri dan badan-badan mereka” [Lihat Tafsir Ibnu Katsir cetakan Darul Faiha (Damsyiq) dan Darus Salam (Riyadl) jilid 2 halaman 611]. Jadi dakwah Ahlus Sunnah wal Jamaah sebenarnya mengajak kepada Al Jamaah (persatuan) atas dasar Al Haq dan menjauhi perpecahan. Dengan ini pula berarti menunjukan kedustaan dakwah-dakwah hizbiyyah seperti ikhwanul Muslimin, jamaah tabligh dan lain-lain dalam ajakan mereka untuk bersatu. Kalaupun seandainya mereka dapat mengumpulkan massa kemudian mereka menamakannya dengan persatuan pada hakekatnya itu hanyalah merupakan perpecahan dari Sabilul Mukminin dan merupakan persatuan dalam subul (jalan jalan syaithan). Dengan penjelasan di atas telah terbantah seluruh tuduhan yang menyatakan bahwa dakwah Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah dakwah hizbiyyah karena Ahlus Sunnah mengajak kembali kepada Sunnah dan bahkan memerangi hizbiyyah. Terbantah pula seluruh tuduhan terhadap para da’i Salafy yang mengajak untuk mengikuti manhaj Salaf, memperingatkan umat agar berhati-hati dari pemikiran-pemikiran ahlul bid’ah yang menyimpang dari manhaj Salaf dan dari para da’i yang tidak memahami manhaj Salaf dengan benar karena seruan itu bukanlah menyeru kepada hizbiyyah. Padahal mereka (para da’i Salafy) bermaksud dengan dakwah mereka yang demikian adalah agar umat terlepas dari belenggu-belenggu hizbiyyah yang telah dipasang oleh dakwah hizbiyyah. Adapun tuduhan kepada para pengikut da’i-da’i Salafy tadi bahwa mereka adalah para muqallid adalah tuduhan yang keliru dan batil. Karena para pengikut da’i-da’i Salafy tadi mengikuti mereka bukan semata-mata fanatik tetapi karena mereka berada di atas manhaj Salaf dan jauh dari hizbiyyah. Justru orang-orang yang menuduh mereka muqallid itulah sebenarnya para muqallid, fanatik buta terhadap para pemimpin mereka yang menyimpang dari Sunnah. Para pengikut da’i-da’i Salafy tersebut tidak belajar selain kepada mereka adalah untuk menjaga akal dan pikiran mereka agar tidak dimasuki pemikiran bid’ah yang dilontarkan para ahlul bid’ah dan para da’i yang tidak paham manhaj Salaf, bukan ingin menjadi muqallid. Wallahul Musta’an. Para Salafus Shalih telah mengajarkan kepada kaum Muslimin cara pengambilan ilmu sebagaimana telah diriwayatkan di dalam Sunan Ad Darimi dari Abul Aliyah dia berkata : [ Kami apabila mendatangi seorang laki-laki untuk mengambil (ilmu) daripadanya maka kami melihat apabila dia shalat. Maka apabila dia baik dalam shalatnya, kami duduk bersamanya (untuk mengambil ilmu). Kami katakan : “Dia untuk amal yang selainnya lebih baik.” Dan apabila dia buruk dalam shalatnya, kami meninggalkannya (untuk tidak mengambil ilmu). Kami katakan : “Dia untuk amalan yang selainnya lebih buruk lagi.” ] (Sunan Ad Darimi 1/93-94) Ibrahim An Nakha’i rahimahullah berkata : “Mereka (Salafus Shalih) apabila mendatangi seseorang untuk mengambil ilmu darinya maka mereka melihat shalatnya, ittiba’-nya terhadap Sunnah dan keadaannya. Kemudian mereka mengambil ilmu darinya.” (Dharuratul Ihtimam Abdus Salam bin Barjas halaman 12) Inilah manhaj Salafus Shalih dalam pengambilan ilmu. Hal ini juga telah mereka terapkan di dalam pengambilan hadits. Ibnu Abbas radliyallahu 'anhu berkata : [ Sesungguhnya kami dahulu apabila mendengar seseorang berkata : “Bersabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam.” Maka pandangan-pandangan kami segera tertuju kepadanya dan kami hadapkan telinga-telinga kami kepadanya. (Akan tetapi) tatkala manusia dalam keadaan yang rusak dan hina maka kami tidak menerima dari mereka kecuali apa yang kami ketahui. ] Ibnu Sirin rahimahullah berkata : [ Mereka dulunya tidak bertanya tentang isnad (ketika menerima hadits). Maka tatkala terjadi fitnah, mereka berkata (ketika menerima hadits) : “Sebutkan rijal (perawi-perawi)nya pada kami.” Maka dilihat jika Ahlus Sunnah diambil hadits mereka dan jika ahlul bid’ah tidak diambil hadits mereka. ] (Muqadimah Shahih Muslim 1/13-15. Lihat Manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah Fi Naqdi Ar Rijal DR. Rabi’ Al Madkhaly halaman 37) Perkataan Ibnu Abbas dan Ibnu Sirin ini memberitahukan kepada kita bahwasanya hal ini adalah madzhab keumuman para Salaf di masa terakhir para shahabat dan orang-orang sesudah mereka dari kalangan tabi’in. Karena adanya beberapa keterangan di atas inilah orang-orang yang mengikuti dakwah Ahlus Sunnah wal Jamaah tidak belajar kepada para ahlul bid’ah dan para da’i yang telah menampakkan penyimpangan mereka dari manhaj Salaf. Wallahu A’lam. Maka dengan adanya tuduhan-tuduhan di atas, saya menegaskan kembali bahwa seluruh tuduhan tersebut adalah tuduhan yang muncul dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Mereka hanya ingin merongrong dakwah Salafiyah dengan cara membuat keraguan bagi umat terhadap kebenaran dakwah Salafiyah dan menjatuhkan kepercayaan umat terhadap para da’inya dengan tuduhan yang batil untuk menjelek-jelekkan mereka. Hal ini mereka lakukan untuk mengumbar hawa nafsu hizbiyyah mereka. Mereka lupa dengan prinsip persatuan umat yang ada pada mereka yang melarang untuk saling menjelek-jelekkan di antara kaum Muslimin yang berakibat timbulnya perpecahan serta mengajak untuk saling mengakui keutamaan masing-masing dan saling memaafkan kesalahan masing-masing walaupun kesalahan itu terdapat pada dasar-dasar dien. Akhirnya karena lupa terhadap prinsip mereka ini, mereka menuduh para da’i Salafy dengan tuduhan yang jelek karena dirasa bahwa para da’i itu merugikan hawa nafsu mereka. Akan tetapi anehnya mereka tidak melakukan hal yang sama terhadap ahlul bid’ah bahkan mereka justru mengajak untuk inshaf (adil menurut mereka) terhadapnya dengan menutup mata dari kesesatan-kesesatannya dan menonjolkan kebaikan-kebaikannya serta mencari beribu alasan untuk membelanya. Karena ahlul bid’ah tersebut menguntungkan hawa nafsu mereka. Bertaubatlah kepada Allah wahai para penuduh-penuduh, pengumbar hawa nafsu yang tidak bertanggung jawab sebelum datang ajal kalian dalam keadaan kalian berada di tepi jurang-jurang neraka Jahannam. Kembalilah kepada dakwah Salafiyah! Dan tinggalkan seluruh penyakit hizbiyyah! Apa yang memberatkan kalian untuk meninggalkan para pemimpin kalian yang sesat itu? Apakah kalian tergiur dengan berbagai macam kesenangan dunia yang mereka tawarkan? Maka jangan kalian ganti Dien ini dengan kesenangan dunia yang menipu dan harga dirinya yang sedikit. Apalah artinya dana yang berbentuk uang atau kesenangan dunia yang menipu dan harga dunia yang sedikit jika dibandingkan dengan pahala yang Allah janjikan bagi kaum Mukminin yang teguh di atas kebenaran di akhirat nanti? Pahala yang berbentuk Surga yang penuh dengan kesenangan dan kenikmatan yang tidak pernah dilihat dengan mata, tidak terdengar dengan telinga, dan tidak pernah terbetik sedikitpun dalam hati manusia selama di dunia. Maka kalau kalian masih memiliki akal yang sehat dan fitrah yang suci, bersegeralah untuk menyelamatkan diri kalian dari adzab Allah yang pedih yang kalian tidak akan sanggup menahannya sedikitpun. Tinggalkanlah para pemimpin kalian terombang-ambing dalam kesesatan mereka karena kalian tidak akan ditanya pada hari kiamat tentang kesesatan mereka. Ya Allah Yang Maha Hidup dan senantiasa mengurus para makhluk-Nya, Maha Pengampun lagi Penyayang, ampunilah dosa-dosa kami dan perbaikilah amal-amal kami. Serta tunjukilah kami kepada jalan yang Engkau ridlai. Amien ya Rabbal Alamien. Wallahu A’lamu bis Shawab. Majalah Salafy ‘edisi lama’ edisi ix/rabius tsani/1417 H , ditulis kembali oleh Abu Umair Abdul Ghofar Al Atsari, Dilarang mengkopi kecuali menyertakan www.al-aisar.com sebagai sumbernya. |
| < Sebelum | Berikut > |
|---|