|
Halaman 1 dari 3
Dakwah yang berarti menyeru, memang dikagumi ummat. Rasanya tidak ada seorapun yang tidak punya keinginan berdakwah. bahkan orang kafir baik Yahudi dan Nashrani, mereka gotol sekali mengerahkan tenaga dan harta untuk mengajak manusia kepada kekufuran. Tidak ketinggalan pula orang-orang musyrik, ahli bid'ah dan munafik, mereka pun sangat giat berdakwah untuk menghancurkan Islam dan ummatnya dari dalam. Para Dai pemecah belah ummat bermunculan di tengah masyarakat, masing-masing membela misi, ada yang bertujuan untuk membela organisasi, partai, kebid'ahan dan kesyirikan. Ada pula yang bertujuan membela Islam, ikut meyebarkan ajaran Islam, namun dainya bodoh dari ilmu agama, bukan orang berilmu (modalnya hanya semangat saja-red), mereka berdakwah dengan tujuan berbeda, dengan cara dan Manhaj (metode) berbeda pula sebagai contoh berdakwah dengan hiburan, nyanyian/musik, olah raga , seni agar orang mau berkumpul (dengan ditambahi embel-embel islami: musik islami, lagu islami, seni islami, dll-red-). Adapula model dakwah dengan cara gulingkan dulu pemimpin thagut untuk meraih kejayaan, menegakkan khilafah, baru kemudian mengajarkan tauhid dan ibadah. Ada lagi dengan beramar ma'ruf saja namun tidak mengingkari kemungkaran, supaya ummat tidak lari. Adapula dengan cara memantapkan ekonomi dulu baru memantapkan aqidah. Mereka menyeru," mari kita masuk ke parlemen kafir untuk mempengaruhi mereka, mari wujudkan imamah sirri (rahasia)dulu untuk mengumpulkan jamaah dan seterusnya." Apakah tujuan dan sarana tersebut benar menurut Islam ? simak bahasannya.
Apakah setiap dakwah itu pasti baik ? Dakwah diambil dari kalimat ' da'aa " yang berarti seruan atau panggilan, sedang pelakunya disebut Da'i atau da'iyyah yakni orang yang menyeru kepada agama atau pemikiran ( lihat : al mu'jamul wasith 1/286). Penggunaan istilah dakwah maupun da'i tidaklah secara mutlak memiliki nilai yang baik atau sebaliknya, namun tergantung apa yang didakwahkan dan siapa pelaku dakwahnya. Ayat Al Qur'an menyebutkan da'i dan dua macam pertama Da'i yang menyeru kepada al haq (kebenaran) dan kedua da'I yang menyeru kepada kesesatan/kebatilan. Alloh Azza wa Jalla berfirman, yang artinya, " (orang mukmin berkata: Hai kaumku, bagaimanakah kamu, aku menyeru kamu kepda keselamatan, namun kamu menyeru aku ke neraka? (kenapa) kamu menyeru supaya kafir kepada Allah dan mempersekutukan-Nya dengan apa yang tidak kuketahui, padahal aku menyeru kamu (beriman) kepada Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun." {QS Ghafir : 41-42). Alloh Azza wa Jalla juga berfirman, yang artinya: "Mereka (orang musyrik) mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya."[QS Al Baqoroh:221]. Inilah sebagian dari ayat yang menunjukkan bahwa ada da'i yang menyeru kepada kebaikan dan adapula da'i jelek (suu') yang menyeru kepada kesesatan.Secara Lahir, da'i yang menyebarkan kesesatan mereka memposisikan diri sebagai pembela Islam, pendakwah Islam, namun pada hakekatnya perusak agama dan pengacau ummat. Mereka mempermainkan ayat Alloh Azza wa Jalla dan sunnah Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam untuk menghancurkan aqidah muslimin sebagaimana diriwayatkan dalam hadits dari jalan Hudhaifah -rodliallohu anhu- yaitu ketika para sahabat lainnya -rodliallohu anhuma- bertanya kepada Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam tentang kebaikan, maka Hudhaifah bin Yaman -rodliallohu anhu- bertanya kepada Nabi tentang kejelekan., diantara pertanyaan beliau adalah : " Apakah setelah kebaikan ini akan datang kejelekan?', Rosululloh menjawab: 'Ya, yaitu para da'i yang menyeru (mengajak) ke pintu-pintu neraka Jahannam, siapa yang menerima ajakannya akan dicampakkan ke Neraka Jahannam.'. Lalu aku bertanya:'Wahai Rosululloh jelaskanlah kepadaku siapa mereka?'. Beliau menjawab:'Mereka itu dari ummat kami dan berkata dengan dalil-dalil kami." [HR Bukhori no 3339]. Dengan hadits diatas, maka waspadalah,jangan tertipu dan jeratan para penyeru kesesatan, da'i penjahat, bukan karena mereka merampok harta, namun merusak aqidah ummat. Tiada yang bisa mengetahui dan melawan para da'i suu' ini melainkan orang yang benar-benar mendalami Islam sesuai pemahaman salafush shalih. Dakwah: Ibadah atau seni ? Pertanyaan ini perlu dijawab, mengingat sebagian kaum muslimin ada yang menilai bahwa dakwah boleh dengan seni dan hiburan. Buktinya tidak sedikit orang muslim yang kagum dengan dakwah penyanyi dangdut yang menampilkan ayat-ayat Al Qur'an disertai joget dan musik-naudzubillah min dzalik-. Padahal dakwah adalah ibadah yang agung karena dakwah berarti mengajak manusia beribadah kepada Alloh Azza wa Jalla saja dan tidak menyekutukan sesuatu dengan-Nya, sedang hukumnya adalah fardlu kifayah, yaitu diwajibkan bagi orang yang berilmu dien dan memiliki kemampuan. Adapun dalil yang menerangkan bahwa dakwah adalah ibadah
1. Dakwah adalah tugas setiap nabi dan utusan Alloh Azza wa Jalla . Alloh Azza wa Jalla berfirman, yang artinya," Manusia itu ummat yang satu, (setelah timbul perselisihan) Allah mengutus para Nabi sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan." [QS Al Baqoroh 213]. Mustahil bila perintah Alloh Azza wa Jalla kepada para utusanNya sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan bukan termasuk ibadah. 2. Alloh Azza wa Jalla mengaitkan dakwah dengan ibadah lainnya :seperti sholat, zakat dan ketaan kepada Alloh Azza wa Jalla dan Rosul-Nya. Alloh Azza wa Jalla berfirman, yang artinya," Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagia sebagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah yang munkar, mendirikan sholat, menunaikan zakat dan mereka taat kepada Allah dan RosulNya." [QS At taubah 71]. 3. Dakwah termasuk ibadah yang mulia, karena manfaatnya bukan untuk perorangan/individu, seperti sholat, haji, puasa. Tapi untuk kemaslahatan (kebaikan) dan perbaikan ummat di dunia dan akherat. Maka mustahil bila dien yang dibangun diatas maslahah ini, lalu dakwah yang menyeru kepada kemaslahatan tersebut bukan termasuk ibadah. Alloh Azza wa Jalla berfirman, yang artinya"Siapakah yang lebih baik perkataanya daripada orang yang menyeru kepada Allah. mengerjakan amal shalih dan berkata:'Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri." [QSFussilat :33]. Imam hasan Al basri -rahimahullah- berkata," mereka (para da'i ) yang disebut dalam ayat ini termasuk pilihan Alloh Azza wa Jalla , kekasihNya, waliNya. sebaik-baik makhluk dipermukaan bumi dan kholifatulloh." [Lihat : Tafsir Ibnu katsir 4/129]. 4. Pahala dakwah sangatlah besar. Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam berkata kepada Ali -Rodliallohu anhu- , yang artinya" Demi Allah, sungguh bila Allah memberi petunjuk satu orang disebabkan dakwahmu, itu lebi baik bagimu daripada unta merah."[HR Bukhori 2787]. Beliau juga bersabda," Barangsiapa menunjukkan kepada kebaikan, maka dia akan mendapat pahala semisal [pahala yang diterima] pelakunya."[HR Tirmidzi 2595]. Syaikh Abdusalam bin Barjas -rahimahullah- mengomentari hadits ini," Hendaklah orang muslim segera berlomba-lomba untuk mengejar keutamaan pahala ini." {lihat : al hujjajul qowiyyah 'ala anna wasaail d'wah taufiqiyah, hal 9]. Maka mustahil jika amalan da'i yang cukup besar pahalanya ini bukanlah ibadah. 5. Meninggalkan dakwah dan nahi munkar bagi yang mampu akan diancam dengan adzab yang amat pedih. Dari Hudzaifah bin Yaman -rodliallohu anhu- Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam bersabda,yang artinya," Demi Dzat yang jiwaku ditangan-Nya, sungguh kalian harus memrintah yang baik dan menghentikan kemungkaran atau (bila tidak mau) hampir saja Allah akan mengirim kepadamu berupa adzab dari-Nya, kemudian engkau berdoa lalu Allah tidak mengabulkan doamu." [HR Tirmidzi no 2095, ABu daud 3774, Ahmad no 22212, dan dishahihkan oleh Al Albani no 7070]. Tidaklah terjadi ancaman yang sangat keras melainkan karena melakukan pelanggaran ibadah, yaitu tidak berdakwah.
|