Meluruskan Penyimpangan Manhaj Dakwah
Ditulis Oleh: Ust. Aunurrafiq bin Ghufron Lc   
Lompat Ke
Meluruskan Penyimpangan Manhaj Dakwah
Halaman 2
Halaman 3
Contoh penyimpangan dakwah

1. Mengkhususkan dakwah dengan mendatangkan qussos (tukang cerita).

        Banyak kita jumpai  para da'i  yang hanya mengobral cerita, dongeng bahkan tidak jarang menjadi senda gurau seperti melawak. Mereka menceritakan kisah kejadian masa lalu yang mungkin benar dan mungkin juga bohong.Tujuannya tidak lain kecuali menyenangkan hati orang, menarik simpati jamaah agar hadir dan mengaet massa karena cerita memang tidak akan menusuk perasaaan jamaah.
Imam Ibnu Jauzi berkata," Pada dasarnya cerita itu tidak tercela apabila memang benar, sebab mengabarkan peristiwa umat masa lampau untuk bisa diambil pelajaran, tetapi dakwah model ini dibenci oleh ulama salaf karena tidak ada contoh dari ulama salaf.".
 Abdulloh bin Umar -rodliallohu anhu- berkata," Tidak pernah terjadi dakwah dengan cerita pada zaman Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam , Abu bakar dan Umar -rodliallohu anhuma-."
Muawiyah bin Qurroh berkata," Apabila kami melihat da'i  bercerita, kami mengatakan: 'inilah cerita ahli bidah." [Lihat " Al Hujjajul Qowiyah hal 58-59].

2. Berdakwah dengan cara menampilkan seni suara, lagu/nyanyian, nasyid dan syair-syair

Sebagian kaum muslimin berdakwah dengan lagu-lagu, walanya bertujuan untuk menghentikan kemungkaran, menghilangkan ketegangan dan menghibur hati orang agar orang yang tersesat mendapat petunjuk.
Syaikhul Islam Ibny Taimiyah -rahimahullah- berkata," Dakwah dengan cara ini dalah bid'ah, peristiwa ini terjadi setelah abda generasi yag mulia, yaitu genersi para sahabat, tabi'in, dan tabiut tabi'in."
Imam Asy Syafii -rahimahullah- berkata," Dinegeri baghdad ini ada orang zindiq (munafik) yang membuat cara baru, yaitu berdakwah  dengan seni suara (nyanyian, musik-red) untuk menghalangi manusia membeca Al Qur'an."
Imam Ahmad -rahimahullah- ketika ditanya tentang berdakwah dengan seni suara, beliau menjawab," Perkara itu bid'ah dan jangan duduk bersama mereka." [lihat Al Hujajul Qowiyah hal 61].
Bagaimana sesuatu yang haram yakni nyanyian (seni suara,lagu, musik, nasyid dan semisalnya)  dijadikan sarana dakwah ?, padahal telah kami terangkan diatas dakwah adalah ibadah yang mengajak manusia ke jalan Alloh Azza wa Jalla ?!! [lihat tafsir Ibnu katsir dalam surat Luqman ayat 6].
[Dan dakwah mengunakan seni suara, musik, nasyid dan semisalnya adalah bentuk tasyabuh/meniru terhadap orang kafir, telah kita ketahui bahwa kaum kafir nasrani menjadikan lagu, musik, seni suara sebagai sarana ibadah mereka. walaupun sebagian orang-orang bodoh zaman ini mengatakan bahwa 'kami berbeda dengan musik/lagu/seni suara orang kafir tersebut, yang kami lakukan adalah seni islami.' Kami katakan' sesungguhnya perbedaaan nama/istilah tidaklah  dapat  mengubah hakekat  maknanya.' -red-]

3. Berdakwah dengan sandiwara.
Syaikh Hamud At Tuwaijiri berkata," memasukkan sandiwara sebagai sarana dakwah, bukanlah sunnah Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam dan bukan pula sunnah khulafaur Rasyidin.' [lihat hujajul Qowiyah hal 62].
Syaikh Bakr Abu Zaid berkata " apabila kamu telah menyadari bahwa sandiwara ini muncul setelah abad yang mulia, muncul pada abad ke 14 Hijriah, dan didukung oleh para penggemar seni, ditunjang pula dengan alat-alat musik. Akhirnya acara ini masuk pula di kapel-kapel ,tempat ibada nasrani, lalu disambut pula oleh kaum muslimin dengan menampilkan khusus dengan diberi label ' sandiwara islami.', qasidah-qasidah islami', akhirnya merembet ke sekolah-sekolah, perttemuan-pertemuan islam. Ketahuilah, Islam itu sudah sempurna, tidak membutuhkan metode dakwah dengan sandiwara. apalagi ada istilah sandiwara agama, jelas ini menyangkut masalah ibadah yang tidak lepas dari contoh dan tuntunan, padahal tidaklah sandiwara itu pernah dilakukan oleh Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam  dan tidak pula pada zaman sahabat." [ lebih lanjut, silahkanbaca: At tamsil, Haqiqatuhu, tarikhuhu, hukmuhu.'oleh Syaikh Bakr Abu Zaid , hal 27-28].

4. Dakwah dengan mendirikan baiat kelompok
Metode dakwah dengan baiat sudah tersebar dimana-mana., mereka beraggapan bahwa baiat akan dapat mendirikan negara Islam dan ummat Islam akan menang.
Syaikh bakr Abu Zaid berkata," Diantara sarana yang dapat memecah belah ummat ialah baiat yang dilakukan oleh sebagian kelompok sufi, yang sekarang dinamakan jamaah islam. Demikian hawa nafsu saling seret menyeret. Perlu diketahui bahwa baiat di dalam Islam hanya satu, yaitu baiat kepada imamah udhma (besar) yaitu membaiat umat dalam satu imam, dan imam itu disepakati oleh jamaah yang memiliki kekuatan, ahli halli wal aqdi." [lihat hukmul imtima' hal 162].
Syaikh Shalih bin Fauzan AluFauzan berkata," diwajibkan bagi kaum muslimin didalam satu negeri hendaknya baiat mereka satu imam (jika ada), tidak boleh ada baiat yang jumlahnya banyak sekali." [ lihat : murojaat fi fiqhil waqi' siyasi wal fikri hal 37]
Jika dibantah :'bukankah Islam mewajibkan kita berjamaah?1', jawabnya 'betul, namun bukan sembarang jamaah ahli bidah, misalnya mendirikan imam sirri (rahasia). Jika dibantah:' Bukanlah pengamalan sebagian rukun Islam harus dikerjakan dengan jamaah ? , jawabnya betul, contohnya sholat jamaah, sholat Ied, namun amalan ini dianalogikan dengan mendirikan jamaah sirri maka ini adalah qiyas/analogi yang batil. Jika dibantah lagi : Bukankah Allah memerintahkan dalam surat Ali Imron 194  adalah kalimat 'ummat' jamaah ?; jawabnya : betul, namun makna ummat menurut bahasa ada limabelas makna. Perlu diketahui pada 'minkum ummat', kata 'min' sebagian ulama memahaminya menunjukkan jenis tertentu (bukan sembarang umat). Pendapat yang lain mengatakan 'min' menunjukkan sebagian, maksudnya bukan setiap manusia dinamakan ulama." [ lihat Ad Dakwah ila Allah hal 14-15, Syaikh Ali Hasan Al Halabi ]

5. Berdakwah dengan mendirikan partai politik
Tidak sedikit kaum muslimin yang memiliki semangat kuat untuk membela Islam, namun sayang tidak dilandasi dengan ilmu agama Islam. Mereka menyangka bahwa dengan mendirikan partai politik 'Islami' akan memenangkan Islam. Inilah impian dan khayalan mereka.
Jawabnya : Pertama, partai itu sudah ada sejak zaman jahiliyah bahkan kemudian turun temurun hingga sekarang.. Jika kita kembali kepada pra ahli Ilmu, seperti para Rasul dan pengikutnya, para ahli tafsir, para ahli hadits dan fiqh dari zaman dulu sampai sekarang (merekalah yang lebih tahu bagaimana cara dan metode mendirikan masyarakat Islam), ternyata tidak seorang pun dari mereka yang mendirikan partai politik sebagai sarana pengembangan Islam dan mewujudkan masyarakat yang islami.
Telah jelas bagi kita, betapa semangat para ulama yang haq tersebut sangatlah besar untuk mewujudkan masyarakat Islami dan ilmu mereka telah mumpuni. Bisa kitab lihat di kitab-kitab mereka. Sekarang kami bertanya," Mana 'ulama partai' yang bisa menandingi keunggulan ilmu mereka, keikhlasan, kesabaran dan kesungguhan mereka dalam menerapkan ilmu, baik pada kehidupan dirinya dan masyarakat?, Ulama Sunnah tidak berambisi meraih kekuasaan, mereka tahu bahwa mencalonkan dirinya sebagai  pemimpin hukumnya haram.
Kedua : berhasilkah selama ini kelompok kaum muslimin yang getol berpartai mampu mengubah hukum menjadi negara yang berhukum Islam setelah menduduki jabatan tertentu?, ataukah sebaliknya; mereka harus meniru pola hidup mereka, menerima ketetapan mereka, berloyalitas kepada semua pemeluk agama, menyingkirkan Al Qur'an dan Assunnah untuk menikmati musyawarah mereka, mendiamkan kebenaran karena takut kehilangan kursi bahkan menghargai semua agama [bermajelis dengan ahli bidah, bahkan  orang kafir hingga atheis yang jelas rusak aqidahnya,dan jelas-jelas memusuhi Islam -red-], Mereka membuat masyarakat awam tertipu.
Ketahuilah !, dengan munculnya sekian banyak partai tidak akan pernah terwujud persatuan ummat Islam baik secara jasmani apalagi ruhani. Banyaknya partai menumbuhkan rasa dengki, sakit hati, permusuhan sesama muslim dan inilah peluang bagi musuh Islam untuk menghancurkan Islam.
Kami (penulis-red) tambahkan disini , kami pribadi telah menyaksikan sendiri adanya perpecahan dalam penentuan khatib dan imam Sholat jum'at dan Ied karena partai. Pernikahan anak digagalkan karena pelamarnya beda partai, Sumbangan tersumbat karena lain partai, akhirnya partai menduduki kedudukan Tuhan. -naudzubillah min dzalik-.
Ya Allah, sungguh benar firman-Mu yang melarang muslimin berpecah :

" Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang  memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberpa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka." [QS Ar Rum : 31-32]

Syaikh Bakr Abu Zaid berkata," Aku ingin bertanya kepada orang yang mengharuskan dirinya berpartai dengan alasan untuk membela Islam :'Apabila partai kaum muslimin ini kalah (berpecah belah dalam tubuh dan wadahnya), kemana  halaun kaum muslimin ?.' Ketahuilah, tiada tempat berlindung dari adzab Alloh Azza wa Jalla melainkan kepadaNya. Sesungguhnya fanatik terhadap partai tertentu tidaklah membuat istiqomah ; Ketahuilah bahwa kekuatan partai tidak bisa melawan dan menandingi kesempurnaan Islam yang dianut oleh ulama salaf. Ulama salaf bersatu karena kembali kepada manhaj nubuwah, kembali kepada kitab dan sunnah ash shahihah dalam mencari bekal menuju ridlo Alloh Azza wa Jalla yaitu untuk pulang ke kampung akherat.
firmanNya," berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa." [QS Al baqoroh 197]. [lihat : Hukmul Imtima' ila firoq wa ahzab wal jamaah hal 167-168].
" Adapun ummat berpecah belah menjadi beberapa golongan dan partai. Masing-masing mengatakan [dan bangga-red]  bahwa yang bnar adalah partaiku dan mengganggap yang lain sesat, mebidahkan dan membuat lari yang lain. Tidak diragukan lagi bahwa partai ini tercela an mencela kebangkitan Islam. Inilah salah satu senjata utama perusak kebangkitan Islam. Aku nasehatkan kepada kalian:' Wahai saudaraku, bersatulah kalian! cobalah pelajari apa yang menjadi perselisihan mereka, karena kembali kepada yang Haq (kepada Al Quran dan Sunnah Shahihah sesuai pemahaman salafush shalih) hukumnya wajib bagi setiap muslimin." [ lihat : As Shohwatul Islamiyyah 258-259].
Syaikh Al Albani -rahimahullah- pernah ditanya ," Wahai Syaikh, bagaimana hukum munculnya beragam kelompok, partai dan organisasi Islam, yang jelas mereka berbeda manhajnya, sarana dakwah dan aqidahnya, demikian pula dasar-dasar ketetapannya, padahal jamaah yang benar di dunia ini hanya satu sebagaimana disebutkan dalam hadits?". Syaikh Albani -rahimahullah- menjawab," Tidak diragukan lagi bahwa setiap orang yang mengerti Al Quran dan sunnah dan apa yang dilakukan oleh para ulama Salaf akan menilai bahwa partai dan golongan yang berbeda pemikirannya, manhaj, cara berdakwah bukanlah termasuk Ilsam, bahwakan tergolong dalam firman Alloh Azza wa Jalla dalam surah Ar Rum 32, surah Hud :118-119." [lihat : Fatawa Al Albani oleh Ukasyah bin Adnan hal 106-108].
Syaikh Ibnu Jibrin ketika ditanya," Bolehkan ummat Islam itu berpartai lebih dari satu?' Beliau menjawab:" Ketahuilah, sesungguhnya Islam datang untuk menyatukan ummat (dengan tauhid) dan dilarang untuk berpacah belah. Allah berfirman, yang artinya" Dan berpegang teguhlah dengan tali (agama ) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai." [QS Ali Imron 103].
Beliau juga pernah ditanya," bagaimana hukumnya ummat Islam masuk parpol ?", Bliau menjawab seperti jawaban diatas , dengan menambahkan ayat " Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai berai dan berselisih." [ QS Ali Imron 105]. [lihat : Fatwa Syaikh Ibnu Jibrin -Al Qidah juz 8 dan kitab : kaifa nu'aliju waqi'ana al alim hal 204-205].

6. Berdakwah dengan khuruj

Khuruj merupakan ciri khas Jamaah Tabligh. Mereka diwajibkan khuruj(keluar), meninggalkan anak istri dan keluarga tanpa memberi nafkah apa-apa. mereka khuruj ke masjid-masjid beberapa hari, mengajak orang beramal baik, tetapi tidak ingkarul mungkar [mengingkari adanya kemungkaran ]. Jamaah ini adalah neo-sufi  tarekat sesat, ahli kubur dan mewajibkan bai'at. telah banyak kerusakan kelompok ini yang dibongkar oleh para ulama, seperti Syaikh Hamud At Tuwaijiri dalam kitab beliau setebal 350 hal, Qoulul baligh At tahdzir min Jamaah Tabligh, dan kitab Jamaatut tabligh fi nisbatil qorotil hindiyah, ta'rifuha, aqo-iduha, oleh Ustadz Abu Usamah setebal 476 hal.

7. Mendahulukan Pemantapan Ekonomi

Cara ini banyak dilakukan kalangan harokiyyun ( pergerakan), mereka beranggapan dakwah akan diterima oleh ummat bila kita berupaya untuk membenahi perekonomiannya terlebih dulu sebelum membenahi rohaninya ( iman dan tauhidnya red). Mereka berkata," Bagaimana ummat akan mengaji ( belajar agama-red) bila kebutuhan primernya tidak terpenuhi?, inilah kemunduran ummat Islam yaitu ketika para dai-nya tidak melihat masyarakatnya yang lapar, Kita kalah dengan orang kafir karena kunci ekonomi pada mereka. Mana mungkin bisa memeiliki senjata bila tidak berduit…" dan syubhat-syubhat sejenisnya.
Kita katakan:" lantas mengapa orang kaya tidak didakwahi lebih dulu sehingga mereka menjadi dai sebelum dai miskin ?, apa kekurangan mereka untuk hadir berjamaah di masjid dan tidak mendengarkan pengajian? apakah mereka masih kurang kenyang atau tidak memiliki kendaraan.Mengapa mereka tidak membangun masjid padahal bisa jadi rumahnya lebih mahal daripada kebutuhan membangun masjid? mengapa mereka tidak naik haji padahal mobilnya lebih mahal dari ongkos naik haji?, Ketahuilah, sesungguhnya kekurangan mereka adalah imam dan tauhid. Oleh karena itu, Islam memperbaiki ummat ini lebih mendahulukan pendidikan aqidah. Kalu hati sudah bertauhid kepada Alloh Azza wa Jalla , miskin dan kurang makanpun masih tetap mau beribadah, sholat jamaah, mendengarkan pengajian, mau berdakwah walaupun peuh kesengsaraan. Tidakkah kalian mengetahui kekhawatiran Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam tentang apa yang akan menimpa ummatnya ?
Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam bersabda :
" Demi Allah !, bukanlah kemiskinan yang aku khawatirkan menimpa kepadamu, tetapi aku khawatir bila kalian dilapangkan riskimu" [HR Muslim no 5261].
Dan Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam juga menjelaskan perbaikan aqidah lebih prioritas sebelum perbaikan jasmani, Beliau bersabda"
" Ingatlah! sesungguhnya di dalam badan ini ada segumpal daging, bila baik maka akan baik semua badannya dan bila jelek akan jelek badannya, ingatah dia itu hati." [ HR Bukhori  no 50].

Dan masih banyak model penyimpangan dakwah lainnya. mudah-mudahan yang sedikit ini bisa kita ambil pelajaran darinya.

 




 
< Sebelum   Berikut >

KATEGORI PRODUK

PENERBIT/PRODUSEN