| Kewajiban Mengikuti Islam Sesuai Pemahaman Salafush Shalih |
| Ditulis Oleh: Ustadz Muslim Al Atsari | |
|
Salaf, artinya adalah orang-orang terdahulu. Adapun yang dimaksud dengan Salafush Shalih dalam istilah ulama adalah orang-orang terdahulu yang Shalih dari generasi Shohabat rodliallohu anhum dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, dari generasi tabi’in, Tabi’iut Tabi’in dan para ulama Ahlus Sunnah Wal Jam’ah setelah mereka. Salafush Shalih adalah generasi terbaik umat Islam. Oleh karenanya, merupakan kewajiban bagi kita untuk mengikuti pemahaman mereka dalam ber-islam. Sehingga berbagai macam bid’ah, perpecahan dan kesesatan dapat dijauhi. Karena adanya berbagai bid’ah, perpecahan, dan kesesatan tersebut, berawal dari menyelisihi/menyimpang dari pemahaman Salafush Shalih. Menjadi keniscayaan, jika seluruh umat Islam, dari yayasan, atau organisasi atau lembaga apapun, wajib mengikuti pemahaman Salafush Shalih dalam beragama. Sekian banyak dalil-dalil dari Al Qur’an dan Assunnah yang menunjukkan kewajiban mengikuti pemahaman Salafush Shalih. Para ulama telah banyak menulis maslah besar ini di dalam karya-karya mereka. Imam Ibnu Qoyyim Al Jauziyah di dalam kitab beliau, I’lamul Muwaqqi’in, menyebutkan 46 Dalil !!! tentang kewajiban mengikuti Shohabat rodliallohu anhum [ [Lihat I’lamul Muwaqqi’in 2/388-409, Penerbit Darul Hadits 1422 H – dapatkan di www.al-aisar.com] Syaikh Salil bin Ied Al Hilali menulis kitab yang sangat bernilai tentang kewajiban mengikuti manhaj salaf ini di dalam kitab beliau; Limadza Ikhtartu Manhaj As Salafi? [ Dapatkan di www.al-aisar.com kitab asli bahasa Arabnya dan buku terjemahannya ‘Mengapa memilih Manhaj Salaf’ Penerbit Imam Bukhori]. Untuk memudahkan pemahaman bagai kita, secara ringkas dapat kami tunjukkan dalil-dalil kewajiban mengikuti Shohabat rodliallohu anhum dalam beragama. Dalil Dari Al Quran Dalil Pertama Alloh Azza wa Jalla berfirtman dalam Al Quran,” Maka jika mereka beriman kepada semisal apa yang kamu telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk, dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (dengan kamu). Maka Alloh akan memelihara kamu dari mereka. Dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui [QS Al Baqoroh:137]. Nadhir bin Sa’id Alu Mubarak berkata,” Alloh yang Maha Suci telah menjadikan keimanan, sebagaimana keimanan sahabat dari seluruh sisi, sebagai tempat bergantung petunjuk dan keselamatan dari maksiat dan memusuhi Alloh Azza wa Jalla , maka jika manusia beriman dengan sifat ini dan mengikuti teladan jalan sahabat, berarti dia mendapat petunjuk menetapi kebenaran. Jika mereka berpaling dari jalan dan pemahaman sahabat, maka mereka berada di dalam perpecahan, permusuhan dan kemaksiatan kepada Alloh Azza wa Jalla dan Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam . Dan Alloh Maha Mendengar terhadap pengakuan manusia, bahwa mereka beraqidah dan bermanhaj salafi. Dia mengetahui hakikat urusan mereka. Dan Alloh Azza wa Jalla lebih mengetahui [lihat kitab Al Mirqoh Fii Nahjis Salaf Sabilin najah hal 35-36] Dalil Kedua Dan firman Alloh Azza wa Jalla ,” Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” [QS Ali Imran 110]. Syaikh Salim bin Ied Al Hilali berkata,” Alloh Azza wa Jalla telah menetapkan keutamaan untuk para Sahabat diatas seluruh umat. Artinya mereka istiqomah berada di jalan yang lurus dlam segala keadaan, karena mereka tidak pernah menyimpang ari jalan yang terang. Alloh Azza wa Jalla telah menjadi saksi untuk mereka, bahwa mereka menyuruh kepada selluruh perbuatan ma’ruf dan mencegah dari seluruh perbuatan munkar. Hal ini menunjukkan bahwa pemahaman Islam menurut pemahaman mereka merupakan argumen terhadap orang-orang setelah mereka [ lihat Limadza Ikhtartu manhajas Salafi hal 86] Dalil Ketiga Firman Alloh Azza wa Jalla ,”Dan barangsiapa menentang Rosul sesudah jelas kebenaran baginya dan mengikuti jalan yang bukan jalannya orang-orang mu’min, Kami biarkan dia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruknya tempat kembali [QS An Nisa 115]. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah-rahimulloh- berkata,” Sesungguhnya, keduanya itu [yakni menentang rasul sesudah jelas kebenaran baginya dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin-pent] saling berkaitan. Semua orang yang menentang Rosul sesudah jelas kebenaran baginya, berarti dia mengikuti jalan yang bukan jalannya orang-orang yang mukmin. Dan semua orang yang mengikuti jalan yang bukan jalnnya orang-orang mu’min, berarti dia telah menentang Rosul sesudah jelas kebenaran baginya.” [lihat Majmu Fatawa 7/38]. Pada saat ayat ini turun, belum ada umat Islam selain mereka, kecuali para Shohabat rodliallohu anhum . merekalah orang-orang mu’min yang pertama-tama dimaksudkan oleh ayat ini, sehingga wajib bagi generasi umat Islam berikutnya untuk mengikuti generasi awal umat islam tersebut. Dalil ke Empat Alloh Azza wa Jalla berfirman,” Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) diantara orang-orang Muhajirin dan Anshor dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Alloh Ridho kepada mereka dan Alloh menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.”[Qs At Taubah 100]. Lihatlah, Alloh menyediakan surga-surga bagi dua golongan, Pertama: Golongan Shohabat rodliallohu anhum yaitu orang-orang Muhajirin dan Anshor. Mereka adalah Salafush Shalihdari generasi Shohabat. Kedua: Orang-orang yang mengikuti golongan pertama dengan baik. Jika demikian, maka seluruh umat Islam, generasi setelah Shohabat rodliallohu anhum wajib mengikuti para shohabat dalam beragama, sehingga mereka meraih Alloh diatas. Jika orang-orang yang dating setelah para shohabat tidak mau atau enggan mengikuti jalan mereka , lalu siapayang akan mereka ikuti? Jika bukan para shohabat, tentunya yang mereka ikuti adalah jalan ahli bid’ah!!!. Imam Ibnul Qoyyim –rahimulloh- berkata,” Sisi pendalilan wajib mengikuti sahabat, karena sesungguhnya Alloh Azza wa Jalla memuji orang yang mengikuti mereka. Jika seseorang mengatakan satu perkataan, lalu ada yang mengikutinya sebelum mengetahui dalilnya, dia adalah orang yang mengikuti shohabat. Dia menjadi terpuji dengan itu, dan berhak mendapatkan ridha Alloh, walaupun dia mengikuti shohabat dengan taqlid.” [ lihat I’lamul Muwaqi’in 2/388] Dalil Dari As Sunnah Dalil Pertama Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam bersabda,” Sebaik-baiknya manusia adalah generasiku [yakni generasi shohabat], kemudian orang-orang yang mengikutinya [yakni generasi Tabi’in], kemudian orang orang yang mengikutinya [yakni generasi Tabiut Tabi’in].” [HR Bukhori dan lainnya, hadits Mutawatir]. Imam Ibnul Qoyyim Al jauziyah-rahimulloh- berkata,” Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam memberitakan, sesungguhnya sebaik-baik generasi adalah generasi beliau secara mutlak. Itu mengharuskan untuk mendahulukan mereka dalam seluruh maslah yang berkaitan dengan masalah-masalah kebaikan.” [lihat I’lamul Muwaqi’in 2/398]. Para Shohabat rodliallohu anhum adalah manusia terbaik, karena merupakan murid-murid Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam dibandingkan dengan generasi-generasi sesudahnya, mereka lebih memahami Al Quran, mengapa? Karena mereka menghadiri turunnya Al Qur’an, mengetahui sebab-sebab ayat dalam Al Quran turun, dan mereka juga bertanya kepada Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam tentang ayat yang sulit mereka pahami.Al Qur’an juga turun untuk menjawab pertanyaan mereka, memberikan jalan keluar problem yang mereka hadapi, dan mengikuti kehidupan mereka yang umum maupun yang khusus, Mereka juga sebagai sebagai orang-orang yang paling faham bahasa Al Qur’an karena Al Qur’an turun dengan bahasa mereka, dengan demikian mengikuti faham salaf [menjadi Salafiyyin] merupakan hujjah terhadap generasi umat Islam setelah tiga generasi Salafush Shalih tersebut. Dalil Ke Dua Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam bersabda,” Aku wasiatkan kepada kamu untuk bertaqwa kepada Alloh, mendengar dan taat (kepada penguasa kaum muslimin), walaupun (dia penguasa tersebut)seorang budak habsyi. Karena sesungguhnya, barangsiapa hidup setelahku, dia akan banyak melihat perselisihan. Maka wajib bagi kamu untuk berpegang kepada Sunnahku dan Sunnah para khalifah yang mendapatkan petunjuk dan lurus. Peganglah dan gigitlah degan gigi geraham kalian. Jauhilah semua perkara baru (dalam agama), akena semua perkara baru (dalam agama) adalah bid’ah, dan semua bid’ah adalah sesat.” [HR Abu Dawud no 4607, Tirmidzi 2676, Ad-Darimi, Ahmad dan lainnya dari Al Irbadh bin Sariyah) Imam Ibnul Qoyyim –rahimulloh-berkata,” Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam menggabungkan sunnah (jalan,ajaran) beliau dengan sunnah khalifah. Beliau perintahkan untuk mengikuti sunnah para khalifah rasyidin, sebagai mana beliau perintahkan untuk mengikuti sunnahnya. Bahkan beliau perintahkan supaya mengikuti sunnah tersebut secara sungguh-sungguh (gigit dengan gigi geraham). Dan ini berkaitan dengan yang para khalifah fatwakan dan mereka sunnahkan bagi umat, walaupun tidak ada keterangan dari Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam , namun itu dianggap sebagai sunnah beliau. Denikian juga dengan yang difatwakan oleh keseluruhan mereka atau mayoritas mereka, atau sebagian mereka. Karena Beliau mensyaratkan hal itu dengan yang menjadi ketetapan para Khulafaur rashidin. Dan telah diketahui, bahwa mereka tidaklah mensunnahkan ketika mereka menjadi khalifah pada saat yang sama, dengan demikian tiap-tiap dari mereka pada waktunya, maka itu termasuk sunnah Khulafaur Rashidin.” [ lihat I’lamul Muwaqi’in 2/400-401] Dalil ke Tiga Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam bersabda,” Susungguhnya Bani Irail elah berpecah belah menjadi 72 kelompok, dan Seungguhnya umatku akan berpecah menjadi 73 kelompok, mereka semua didalam neraka, kecuali satu kelompok,” Mereka bertanya,” Siapakah mereka wahai rosululloh?,” beliau menjawab,” Siapa saja yang mengikutiku dan (mengikuti) sahabatku.” [HR tirmidzi 2565, Al Hakim , Ibnu Wadhdhah dai jalan Abdulloh bin Amr, dihasnkan oleh Syaikh Salim Al Hilali] Ketika menjelaskan hubungan dalil kedua dan dalil ketiga ini, Syaikh Salim bin Ied Al hilali berkata,”barangsiapa yang memperhatikan dua hadits ini, ia pasti mendapatkan keduanya bicara tentang satu masalah, dan solusinya sama yakni jalan keselamatan, kekuatan hidup, ketika umat Islam mencari jalan yang berbeda-beda, maka pemahaman yang haq adalah apa yang Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam dan Shohabat rodliallohu anhum berada diatasnya.”[lihat Limadza hal 76] Diantara Perkataan Sahabat , Tabi’in, Tabiut Tabi’in dan Imam Ahlus Sunnah Abdulloh bin Mas’ud -Radliallohu anhu-Beliau membantah orang-orang tang sedang menanti sholat dengan membuat halaqoh-halaqoh (kumpulan orang yang duduk melingkar) untuk berdzikir bersama-sama ( dzikir berjama’ah) dengan menggunakan kerikil (untuk menghitung jumlah dzikirnya) dan dipimpin salah satu dari mereka. Kemudian beliau berkata,” Celaka kamu, wahai umat Muhammad !! Alangkah cepatnya kebinasaaan kamu ! mereka ini, (yakni) para Sahabat Rosululloh masih banyak (hidup), pakaian-pakaian Beliau belum juga usang dan bejana-bejana Beliau belum pecah. Demi Alloh yang jiwaku berada di tanganNya, sesungguhnya kamu berada diatas suatu agama yang lebih benar daripada agama Muhammad, atau kamu adalah orang-orang yang membuka pintu ksesatan [ HR Ad-darimi dengan derajad shahih]. Syaikh Salim Al Hilali berkata,” Abdulloh bin mas’ud-rodliallohu anhu- telah berhujjah terhadap calon-calon khawarij dengan adanya para shohabat diantara mereka, dan sesungguhnya para shohabat tidak melakukan perbuatan mereka tersebut. Maka seandainya perbuatan para calon-calon khawarij ini baik-sebagaimaan anggapan mereka- maka pastilah para shohabat telah mendahului melakukannya. Maka kalau para shohabat tidak melakukannya itu adalah suatu amalan kesesatan –walaupun dianggap baik oleh orang lain-.”[ lihat Limadza hal 100] Abdulloh bin Mas’ud juga berkata,” sesungguhnya kami meneladani, kami tidak memulai. Kami mengikuti (ittiba’) kami tidak membuat bid’ah. Kami tidak akan sesat selalma kami berpegang pada atsar (riwayatd ari Nabi dan Sahabatnya).”[lihat Al Muntaqo Min Syarh Ushulil I’tiqod Ahlus Sunnah Wal Jama’ah hal 42 no 35] Abdulloh bin Abbas-Rodliallohu anhu- Belia berkata kepada orang-orang khawarij,” Aku dating kepada kami dari sisi sahabat-sahabat Nabi, orang-orang Muhajirin dan Anshor, dan dari anak paman nabi dan menantu Beliau (yakni Ali bin Abi Tahlib). AL Quran turun kepada mereka, maka mereka lebih mengetahui tafsirnya daripada engkau. Sedangkan diantara kalian tidak ada seorangpun (yang termasuk) dari sahabat Nabi. [ Riwayat Abdurrazaq dalam Al Mushannaf no 18678 dan lainnya. Lihat Limadza hal 101-102; Munazharat Aimmatis Salaf hal 95-100 karya Syaikh Salim Al Hilali] Abu ‘Aliyah-rahimulloh- Beliau berkata,” Pelajarilah Islam ! Jika engkau mempelajarinya, janganlah kamu membencinya. Hendaklah engakau meniti shirothal Mustaqim (jalan yang lurus), yaitu Islam. Janganlah engkau belokkan Islam ke kanan atau ke kiri. Dan hendaklah engkau mengikuti Sunnah nabimu dan yang dilakukan oleh para sahabatnya. Dan jauhilah Hawa Nafsu-Hawa Nafsu ini (yakni bid’ah-bid’ah) yang menimbulkan permusuhan dan kebencian antar manusisa (muslimin) [ lihat Al Muntaqo Min Syarh Ushulil I’tiqod Ahlus Sunnah Wal Jama’ah hal 34 no 5] Muhammad bin Sirrin –rahimulloh- Beliau berkata,” Orang-orang dahulu mengatakan, sesungguhnya mereka (berada) diatas jalan (yang lurus) selalam mereka mengikuti astar (riwayat salafush shalih) [Lihat Al Muntaqo Min Syarh Ushulil I’tiqod Ahlus Sunnah Wal Jama’ah hal 42 no 36] Imam Al Auza’I –rahimulloh- Beliau berkata,”Sabarlah dirimu berada di atas Sunnah. Berhentilah di tempat orang-orang itu ( yakni Salafush Shalih) berhenti. Katakanlah apa yang mereka katakana. Diamlah apa yang mereka diam. Dan tempuhlah jalan salaf (para pendahulumu) yang shalih, karena akan melonggarkanmu apa yang melonggarkan mereka.”{lihat Al Muntaqo Min Syarh Ushulil I’tiqod Ahlus Sunnah Wal Jama’ah hal 56, Imam Al Ajuri dalam Asy Syariah hal 58 dan Limadza hal 104] Dalam membantah bid’ah, Imam Al Auzai juga menyatakan,” Seandainya bid’ah itu baik, pasti tidak dikhususkan kepada engkau tanpa didahului orang-orang sebelummu. Karena sesungguhnya, tidaklah ada kebaikan apapun yang disimpan untukmu karena keutamaan mereka (salafush shalih). Karena mereka adalah sahabat-sahabat NabiNya, yang Alloh telah pilih mereka untuk menemani NabiNya. Dia mengutuh NabiNya di kalangan mereka. Dan Dia mensifati mereka dengan firmanNya,” Muhamamd itu adalah utusan Alloh dan orang-orang yang bersama dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih saying sesama mereka, kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Alloh dan Keridhoan Nya .” [QS Al Fath 29]. Imam Abu Hanifah-rahimulloh- Aku berpegang kepada Kitabulloh. Kemudian apa yang tidak aku dapati (didalam kitabulloh, maka aku berpegang) kepada Sunnah Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam . Jika aku tidak dapati di dalam Kitabulloh dan Sunnah Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam aku berpegang pada perkataan-perkataan para sahabat beliau, Aku akan berpegang pada perkataan-perkataan orang yang aku kehendaki. Dan aku tinggalkan perkataan orang yang aku kehendaki diantara mereka. Dan aku tidak akan keluar dari perkataan mereka kepada perkataan selain mereka [Riwayat Ibnu Mai’in dalam tarikh-nya no 4219] Imam Malik bin Anas –rahimulloh- Imam Ibnul Qoyyim berkata bahwa Imama malik –rahimulloh- berdalil dengan surat At Taubah ayat 100 tentang kewajiban mengikuti sahabat.” [lihat I’lamul Muwaqqi’in 2/388] Imam Syafi’I –rahimulloh- Beliau berkata,” Selama ada Al Kitab dan As Sunnah, maka alas an terputus atas siapa saja yang telah mendengarnya, kecuali dengan mengikuti keduannya. Jika hal itu tidak ada, kita kembali kepada perkataan-perkataan para sahabat nabi, atau salah satu dari mereka.” [Riwayat Imam Baihaqi dalam Al madkhal Ilas Sunan Al Kubro no 35 , lihat manhaj Asy Syafi’I fi Itsbatil Aqidah (1/129) karya Syiakh Dr Muhamamd Abdul Wahhab Al Aqil, sudah diterjemahkan ‘ Manhaj dan Aqidah Imam Syafii’ lihat di www.al-aisar.com] Imam Ahmad bin Hambal-rahimulloh- Beliau berkata,” Popok-pokok sunnah menurut kami adalah; berpegang kepada apa yang para sahabat Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam berada diatasnya, meneladani mereka, emninggalkan seluruh bid’ah dan seluruh bid’ah adalah kesesatan. [ riwayat Al Lalikai; Al Muntaqo Min Syarh Ushulil I’tiqod Ahlus Sunnah Wal Jama’ah hal 57-58] Demikian penjelasan singkat mengenai kewajiban yang harus ditempuh seorang muslim, bahwa meniti jalan Salafush shalih merupakan kebenaran. Sehigga jalan-jalan lain merupakan kesesatan. Barakallohu ta’ala feekum [Sumber: majalah As Sunnah 06/tahunVIII/1425 H ditulis kembali oleh Abu Umair, Dilarang mengkopi kecuali menyertakan www.al-aisar.com sebagai sumbernya] |
| < Sebelum |
|---|