Koreksi Hadits-hadits Dhaif Populer
Ditulis Oleh: Ust. Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar As Sidawi   

 Ketika manusia sudah rusak aqidah dan moralnya, bergelut dengan perbuatan syirik dan maksiat, Allah Yang Maha Ar-Rahman (belas kasihan kepada hamba-Nya) menghendaki baiknya manusia ini dengan dua perkara;
Pertama: Diutusnya seorang utusan agar menyeru umat\ menjadi orang yang ahli ibadah kepada Allah dan berahlaq yang mulia.
Kedua: Diturunkannya wahyu agar Rasul (utusan) ini memperbaiki umat dengan wahyu Ilahi, bukan dengan hawa nafsu, akal, penemuan, perasaan, filsafat, impian atau lainnya.
Kapan saja dan dimana saja, apabila dua perkara ini tetap pada umat ini, apabila ada da'i penerus perjuangan Dakwah Rasulullah Sholallahu Alaihi Wassalam dan materi yang disampaikan adalah wahyu Allah, yaitu Al-Qur-an dan As-Sunnah dengan pemahaman para Shahabat dan pembelanya, niscaya umat akan menjadi baiklah dunia dan akhiratnya.
"Dan Kami turunkan kepadamu (Muhamad) Al-Kitab (Al-Qur-an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang Islam." (QS. An-Nahl: 89)
Dua perkara ini telah dijalankan oleh para Shahabat Tabi'in dan generasi sesudahnya, yaitu ahli hadits dan ulama As-Sunnah lainnya, sehingga Islam sebagai rahmat bagi semesta alam ini terbukti dan masuk di setiap Negara, walil-laahil hamdu (segala puji bagi Allah).
Di balik itu, sudah menjadi Sunnatulllaah al-kauniyah, setiap da'i yang menyampaikan haq pasti ada musuhnya, baik dari lain agama atau orang yang mengaku beragama Islam itu sendiri.
"Dan demikianlah Kami jadikan musuh bagi tiap-tiap Nabi itu, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain per-kataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Rabb-mu menghendaki, niscaya mereka tidak menger-jakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan." [QS. Al-An'aam: 112]
Musuh musuh As-Sunnah yang berselimut di dalam barisan kaum muslimin ini, mereka berusaha memalingkan makna Al-Qur-an yang haq kepada makna yang bathil, atau membuat hadits palsu dan memasarkan hadits yang lemah untuk menutup hadits yang shahih, dengan berbagai bahasa yang menarik bertujuan menipu orang awam. Gerakan pembuat hadits palsu ini tidaklah pernah berhenti, karena Nabi Muhammad Sholallahu Alaihi Wassalam sebelum wafat telah memberitahukannya kepada Shahabatnya bahwa nanti akan muncul produk-produk hadits palsu dari zaman ke zaman.
Dari Abu Hurairah -rodliallohu anhu- Rasulullah Sholallahu Alaihi Wassalam bersabda,
"Akan muncul pada akhir umatku ini manusia menceritakan hadits kepadamu yang kamu belum pernah mendengarnya dan juga bapak bapak kalian, maka waspadalah dirimu dari bahaya mereka." (HR. Muslim, no. 7)
Dari sinilah para ulama ahli hadits, pembela Sunnah Nabawiyyah senantiasa tanggap dan waspada ketika mendengar orang menceritakan hadits, tidak semua orang yang berkata "Nabi  bersabda " pasti diterima haditsnya, yang demikian itu karena berpegang kepada ayat:
"Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu me-nyesal atas perbuatanmu itu." [QS. Al-Hujuraat: 6]
Dan juga karena pesan Rasulullah bersumber dari Shahabat Abu Hurairah bahwa beliau bersabda:
Dan barangsiapa berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaklah dia menempati tempat tinggalnya di Neraka." (HR. Al-Bukhari, no. 107)
Ulama Sunnah yaitu para ahli hadits senantiasa meneliti setiap orang yang membawakan hadits untuk diketahui apakah hadits itu benar-benar datang dari Nabi lal, ataukah palsu dan lainnya.
Disebutkan dalam kitab Adabul Imla' wal Istimla' (1/13) bahwasanya 'Abdullah bin al-Mubarak -rahimahullah- berkata, "Al-isnad (bunga rampai para perawi/orang yang membawakan hadits) termasuk bagian dari agama, apabila tidak ada al-isnad, tentu setiap orang akan berbicara menurut kemauannya."
Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam muqaddimah kitab Shahiihnya (1/34) bahwa Ibnu Sirin -rahimahullah- berkata: "Ahli hadits tidaklah sebelumnya menanyakan tentang isnad (orang yang menceritkan hadits). Namun tatkala muncul fitnah, mereka bertanya: "Siapa nama orang yang menceritakan hadits kepadamu?" Lantas dilihat, jika ia tergolong ahli Sunnah maka diambil haditsnya, bila ia ahli bid'ah, maka ditolak haditsnya."
Perlu diketahui bahwa para ahli hadits pada zaman dahulu dan sekarang telah membukukan hadits-hasits dha'if (lemah) dan maudhu' (palsu), bukanlah bermaksud mencampur-adukkan antara yang haq dan yang bathil, dan bukan pula mengajak umat ini agar mengamalkannya, akan tetapi supaya umat ini waspada dan menjauhinya.
Penya'ir berkata:

Aku mengenal yang jelek bukan untuk dikerjakan akan tetapi untuk dijauhi,
Barangsiapa tidak mengenal yang jelek dari yang baik, maka akan jatuh di dalamnya.

Syaikh Al-Albani berkata, "Sya'ir ini diambil dari hadits yang shahih, bahwa Shahabat Hudzaifah -rodliallohu anhu- " berkata, 'Manusia banyak yang bertanya kepada Rasulullah   tentang hal yang baik sedangkan saya bertanya perkara yang jelek, karena aku takut bila yang jelek ini menjumpai diriku. Lalu Aku berkata, 'Wahai Rasulullah, dahulu kita hidup pada zaman Jahiliyyah dan diliputi dengan kejelekan lalu Allah men-datangkan kepada kita dengan kebaikan ini, lantas apakah setelah datang yang baik ini akan datang pula yang jelek?' Jawab beliau, 'Benar.' Lalu aku bertanya lagi, 'Apakah setelah datang yang jelek itu akan datang yang baik?' Beliau men-jawab, 'Benar, akan tetapi bercampur dengan asap.' Lalu aku bertanya, 'Apa itu asapnya?' Beliau menjawab, 'Kaum yang mengamalkan sunnah selain Sunnahku, dan kaum yang menunjukkan manusia selain petunjukku. Engkau akan mengetahui mereka dan engkau mengingkarinya...' (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Inilah buku yang memuat hadits-hadits Dhaif yang populer di Indonesia, denengan penjelasan sisi kelemahannya dengan menukil pendapat para Imam Ahli hadits, terkadang pula disertai bantahan kedhaifannya dengan menggunakan Al Qur'an dan hadits Shahih.

Koreksi Hadits-hadits Dhaif Populer

penulis: Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar As Sidawi
taqdim: Ust. Aunurrafiq ghufron Lc
Fisik: buku ukuran sedang, Softcover, 190 Hal
Penerbit : Media tarviyah
harga Rp 27.000


 
< Sebelum   Berikut >

KATEGORI PRODUK

CARI DI KATALOG

PENERBIT/PRODUSEN



KITAB ARAB

Tuhfatul Maudud bi Ahkamil Maulud
Tuhfatul Maudud bi Ahkamil Maulud
Rp 45.000,00
B E L I

Musnad Imam Ahmad bin Hambal
Musnad Imam Ahmad bin Hambal
Rp 1.500.000,00
B E L I


Hubungi Kami

   telp : [0274] 6634073
   sms : 0819-2469-325
   admin@al-aisar.com

  maktabah_al_aisar

Pembayaran

online saat ini

Tidak Ada Member Yang Online

BEST SELLER

 Tafisr Ibnu Katsir [Edisi Lengkap]

Tidak diragukan lagi bahwa Tafsir Ibnu Katsir adalah salah satu kitab tafsir yang kandungan isinya t...

Selengkapnya...
 
 Shifat Sholat Nabi [Edisi Lengkap]

Inilah kitab panduan yang menjelaskan detail dan tuntas bagaimana Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassa...

Selengkapnya...
 
 Ensiklopedi Adab Islam [Edisi lengkap]

Imam Muhammad bin Sirrin -rahimahullah- berkata," Para Salaf mempelajari adab sebagaimana merek...

Selengkapnya...
 

DISKON SPESIAL 25%

 Terjemah Fathul Baari Syarah Shahih Al Bukhari[27 Jilid]

Fathul Bari Syarah Shahih Al Bukhari adalah karya Al Imam Al Hafidz Abi Fal Ahmad bin Ali bin Muhamm...

Selengkapnya...
 
 Syarah Bulughul Maram [Edisi Lengkap 7 Jilid]

Bulughul Maram adalah kumpulan hadits karya Al Hafidz Ibnu Hajar Al Atsqolani -rahimahullah- yang ba...

Selengkapnya...
 
 Syarah Riyadhus Shalihin [edisi lengkap 5 jilid]

Buku Syarah Riyadhus Shalihin ini merupakan terjemahan dari kitab aslinya berjudul Bahjatun Nazdziri...

Selengkapnya...