| Mahkota Diatas Sajadah: Kisah Legendaris Perjuangan para Ulama Dalam Menegakkan Kebenaran |
| Ditulis Oleh: Abdulloh Humaid Al falasi & Wahid Abdussalam Bali | |
Sungguh sangat memprihatinkan. saat ini masiha da sja sebagian orang yang tidak mengetahui tuntunan-tuntunan yang telah disyariatkan oelh Alloh Azza wa Jalla danlam berintraksi dengan penguasa (terutama penguasa yang berbuat dzalim). Sebagian besar dari mereka terlalu berlebihan dalam bersikap. mereka mengobarkan semangat orang-orang agar bangkit dan bergerak melawan penguasa, baik dalam skala demonstrasi sampai dengan aktifitas sabotase, pemboman, memberontak dan lainnya. Padahal Alloh Azza wa Jalla berfirman, yang artinya,"Hai orang-orang yang beriman, Taatilah Allah dan taatilah Rosul(Nya), dan ulil amri diantara kamu. kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rosul (Sunnah), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya" [QS An Nisa 59] Abdullah bin Umar -rodliallohu anhu- datang menemuiAbdullah bin Muthi' --rodliallohu anhu- atas siksaan yang dialaminya saat pemerintahan Yazid bin Muawiyah. Abdullah bin Muthi' berkata, "Siapkan untuk Abu Abdurrahman -Abdullah bin Umar- sebuah bantal -untuk duduk-!" Abdullah bin Umar menjawab, "Aku tidak mendatangimu untuk duduk tapi aku mendatangimu untuk menyam-paikan kepadam usebuah hadits yang aku dengar dari Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam bahwa aku telah mendengar Rasulullah bersabda, 'Barang siapa yang melepas ketaatan dari tangannya,ia akan bertemu Allah pada hari Kiamat dengan tanpa hujjah -alasan-. barang siapa yang mati dengan tanpa bai'at dipundaknya, ia mati dalam kematian jahiliyah'. "(HR. Muslim no. 1851). "Dari lbn Abbas -rodliallohu anhu- dari Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam beliau bersabda, "Barangsiapa yangmembenci satu hal dari diri amir-penguasa-nya hendaklah ia bersabar menghadapinya karena tiada seorang pun yang memberontak kepada sultan -penguasa-sejengka lsaja dan ia mati dalam keadaan seperti itu kecuali ia mati dalam kematian jahiliyah." (HR. Muslim no. 1849). "Dari Abu Hurairah -rodliallohu anhu- dari Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam bersabda, "Barang siapa yang keluar dari ketaatan dan memisahkan diri dari jama 'ah lalu ia mati maka ia mati dalam kematian jahiliyah. Dan barang siapa berperang dibawah panji yang tidak jelas ,marah, menyeru dan menolong karena fanatik golongan -mengikuti hawa nafsu, lalu ia terbunuh maka ia terbunuh dalam keadaan jahiliyah. Dan barang siapa yang memerangi ummatku, membunuh orang yang baik dan yang fajir dari mereka serta tidak taku takan akibat perbuatannya karena orang mukmin dari mereka dan tidak memenuhi janji kepada orang yang mempunyai janji maka bukan dari golonganku dan aku bukan bagian darinya." (HR. Muslim no. 1848) "Arfajah -rodliallohu anhu- berkata, "Aku mendengar Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam bersabda, 'Sesungguhnya akan terjadi prahara dan huru-hara. Dan barang siapa yang hendak memecah urusan ummat ini sedang mereka berkelompok perangilah mereka siapapun mereka'." (HR. Muslim, bab:Hukum Siapa Saja yang Memecah Urusan Kaum Muslimin dengan Berkelompok). Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam bersabda, "Janganlah kalian memaki pemimpin-pemimpin kalian, janganlah menantang mereka, memusuhi mereka dan ber-takwalah kepada AJlah serta bersabarlah karena urusan itu sudah dekat." (HR. Ibnu Abi Ashim, hadits ini shahih dan di-shahihkan oleh Al-Albani). Dari lyadh bin Ghunaim -rodliallohu anhu- ia berkata, "Bersabda Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam , "Barangsiapa yang hendak memberikan nasihat kepada penguasa janganlah menampakkan nasihat dengan terang-terangan dan hendaklah menahan tangannya. Bila ia -penguasa- mendengar darinya -nasihat- demikianlah adanya dan bila tidak mendengar ia telah melakukan apa yangdibeban-kan kepadanya. "(HR. Ahmad, Ibnu Abi Ashim, Hakim dan Al-Baihaqi. Dishahihkan oleh Al-Albani). Sungguh sangat mengherankan keadaan sebagian pemuda pada zaman sekarang ini, hadits-hadits di atas telah disebutkan kepada mereka namun mereka tidak mengindahkannya bahkan sebagian dari mereka ada yang melecehkannya. Betapa tidak, mereka menuntut para penguasa untuk menerapkan hukum dengan syari'at Allah sedang mereka belum menghukumi diri mereka sendiri dengan syari'at Allah. Telah jelas nash-nash baik dari Al-Qur'an maupun Sunnah Nabawiyah yang menyeru agar mendengar dan taat kepada penguasa serta sabar dan memohon pahala atas kelaliman mereka juga melarang melawan, mencaci-maki dan mencela mereka. Wahai pemuda Islam, Alloh Azza wa Jalla berfirman, "Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan,kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. "(QS. An-Nisa': 65] "Dan taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kamu kepada Rosul-(Nya) dan berhati-hatilah. Jika kamu berpaling,maka ketahuilah bahwa sesungguhnya kewajiban Rasul Kami, hanyalah menyampaikan (amanatAllah) dengan terang."(QS. Al-Maidah: 92). Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah -rahimahullah- menyebutkan dalam bukunya Minhaju As-Sunnah saat memaparkan tentang perkara ini, "Karenanya telah masyhur menurut madzhab Ahlus Sunnah, bahwa mereka tidak berpendapat bolehnya melakukan pemberontakan terhadap pemimpin dan memerangi mereka dengan senjata sekalipun mereka berbuat zhalim, sebagaimana yang ditunjukkan dalam hadits-hadits yang shahih dari Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam, karena timbulnya kerusakan dalam peperangan dan fitnah lebih besar dari pada kerusakan yang diakibatkan kezhaliman mereka -penguasa- tanpa peperangan dan fitnah. Maka kerusakan yang lebih besar tidak dapat dicegah dengan kerusakan yang lebih kecil dan semoga kelompok orang yang memberontak terhadap penguasa mengetahui bahwa pemberontakan mereka berakibat terjadinya kerusakan yang lebih besar dari kerusakan yang mereka basmi. (Minhaju As-Sunnah An-Nabawiyah, 3/390). Inilah penggalan kisah para Salaf kita dalam bersikap dan berhadapan dengan pengausa yang zalim, sebagai pelajaran bai kita. Mahkota Diatas Sajadah: Kisah Legendaris Perjuangan para Ulama Dalam Menegakkan Kebenaran judul asli : Hukmu At ta'amul ma'a Al Hukkam & Shuwar min Ibtilaa'il Ulama penulis : Abdulloh Humaid Al falasi & Wahid Abdussalam Bali Fisik : buku ukuran sedang, Softcover, 128 hal penerbit : Pustaka At tibyan harga Rp 22.500 |
| < Sebelum | Berikut > |
|---|

Tafisr Ibnu Katsir [Edisi Lengkap]
Tidak diragukan lagi bahwa Tafsir Ibnu Katsir adalah salah satu kitab tafsir yang kandungan isinya t...
Selengkapnya...
Shifat Sholat Nabi [Edisi Lengkap]
Inilah kitab panduan yang menjelaskan detail dan tuntas bagaimana Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassa...
Selengkapnya...
Ensiklopedi Adab Islam [Edisi lengkap]
Imam Muhammad bin Sirrin -rahimahullah- berkata," Para Salaf mempelajari adab sebagaimana merek...
Selengkapnya...
Terjemah Fathul Baari Syarah Shahih Al Bukhari[27 Jilid]
Fathul Bari Syarah Shahih Al Bukhari adalah karya Al Imam Al Hafidz Abi Fal Ahmad bin Ali bin Muhamm...
Selengkapnya...
Syarah Bulughul Maram [Edisi Lengkap 7 Jilid]
Bulughul Maram adalah kumpulan hadits karya Al Hafidz Ibnu Hajar Al Atsqolani -rahimahullah- yang ba...
Selengkapnya...
Syarah Riyadhus Shalihin [edisi lengkap 5 jilid]
Buku Syarah Riyadhus Shalihin ini merupakan terjemahan dari kitab aslinya berjudul Bahjatun Nazdziri...
Selengkapnya...