The Mystery Quran
Ditulis Oleh: Dr Khalid Abdul karim Al Laahim   

 Sesungguhnya wasilah yang utama untuk memperbaiki jiwa, mensucikan hati dan menjaganya dari berbagai kemelut dan terapinya adalah ilmu. Sedangkan wasilah yang pertama untuk mendapatkan ilmu adalah dengan membaca dan tersedianya kitab. Oleh karenanya, kita akan mendapati bahwa ketika Allah menghendaki hidayah bagi makhluk-Nya dan mengeluarkannya dari kegelapan menuju cahaya, maka Dia menurunkan kitab kepada mereka untuk dibaca. Dan surat yang pertama kali diturunkan dimulai dengan kalimat yang sangat agung. Kalimat yang mengandung kunci perbaikan bagi segenap manusia walaupun berbeda masa dan berlainan tempatnya.
Kalimat tersebut adalah "Iqra' (bacalah)". Maka barangsiapa yang menghendaki kesuksesan,kesucian dan perbaikan, maka tiada jalan lain kecuali
dengan dua wahyu, yakni Al-Qur'an dan As-Sunnah, baik secara bacaan, hafalan maupun pembelajaran.
Sesungguhnya dengan kembali pada kitab yang mcngharuskan dibaca, dipahami dan diamalkan ini mrrupakan langkah nyata untuk melakukan perubahan dan pengembangan.
Seandainya kita mencermati kondisi para salafush shiilih sejak zaman Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam  hingga orang-orang yang hidup sekarang ini dari kalangan orang-orang shalih, niscaya kita temukan titik kesamaan mereka ada pada pelaksanaan Al-Qur'an, terutama ketika shalat malam. Dan amalan yang sudah menjadi konsensus mereka yang menunjukkan bahwa mereka tidak melalaikan Al-Qur'an dalam kondisi apapun, yaitu membaca satu bagian tertentu (hizb) dari Al-Qur'an setiap hari.
Dari Umar bin Khaththab -rodliallohu anhu- , ia berkata, "Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam  bersabda:
"Barangsiapa yang tertidur dan lupa tidak membaca satu hizb Al-Qur'an atau sebagian darinya, lantasia membacanya antara shalat Fajar dan shalat Zhuhur, maka ditulis baginya seakan-akan ia membacanya semalam penuh." [Shahih Muslim (1/747 hal. 515), Shahih Ibnu Hibban (VI/2643 hal. 369), Shahih IbnuKhuzaimah (11/1171 hal. 195), SunanAn-Nasaa'iAl-Kubra (1/1464 hal.458), Sunan Abu Dawud (11/1313 hal. 34), Sunan Ibnu Majah (1/1343 hal. 426) dan Sunan At-Tirmidzi (11/581 hal. 474).

Hadits ini menekankan agar tidak melewatkan membacanya (Hizb Al-Qur'an) meski banyak aral yang melintang. Sebab mereka mengetahui seyakin-yakinnya bahwa hal tersebut merupakan konsumsi hati dimana ia tidak akan dapat hidup tanpanya. Mereka selalu ber-usaha untuk mendahulukan makanan hati tersebut sebe-lum makanan jasad. Mereka merasakan ada kekurangan apabila tidak mendapatkan sesuatu darinya. Berbeda halnya dengan orang-orang yang meremehkannya yang tidak pernah merasakan kecuali rasa lapar, haus, sakit dan pedihnya tubuh mereka. Adapun rasa sakit, lapar dan hausnya hati, tidak pernah mereka rasakan.
Sesungguhnya membaca Al-Qur'an pada waktu shalat malam merupakan wasilah yang paling kuat untuk mempertahankan keberadaan tauhid dan iman supaya tetap segar, lunak, dan basah di dalam hati.
Bacaan Al-Qur'an adalah pijakan bagi setiap amal shalih yang lain seperti puasa, shadaqah, jihad dan menyambung tali silaturrahim.
Ketika Alloh Azza wa Jalla  menugaskan Nabi-Nya, Muhammad Sholallahu Alaihi Wassalam  dengan kewajiban dakwah sebagai tugas yang amat berat, maka Allah mengarahkannya kepada sesuatu yang dapat membantunya, yaitu membaca Al-Qur'an:

Alloh Azza wa Jalla berfrman ,"
hai orang yang berselimut (muhammad), bangunlah (untuk sholat) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), (yaitu) seperduanya dan kurangilah dari seperdua itu seidikit, atau lebih dari seperdua itu. Dan Bacalah Al Qur'an dengan perlahan-lahan. Sesungguhnya Kami akan menurunkan untukmu perkataan yang berat. Sesungguhnya bagun di waktu malam dalah lebih tepat (untuk khusyu) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan. Sesungguhnya kamu pada siang hari memiliki urusan yang panjang (banyak)." [QS Al Muzammil 1-7]
Tulisan ini mengupas tentang wasilah-wasilah berupa amalan yang dapat membantu mengambil manfaat dari Al-Qur'an -dengan pertolongan Allah Ta'ala-. Kaidah inilah yang telah ditempuh oleh para salafush shalih ketika berinteraksi dengan Al-Qur'an Al-Karim. Namun ketika sebagian atau bahkan kebanyakan manusia melalaikan kaidah ini (wasilah yang berupa amalan) maka mereka tidak bisa terpengaruh dan tidak mampu mengambil faedah dari kandungan isinya yang berupa tanda-tanda, peringatan, contoh ataupun hikmah-hikmah.
 
Barangsiapa yang mau mengambil wasilah-wasilah ini, maka dengan seijin Allah Ta'ala ia akan mengetahui bahwa makna-makna Al-Qur'an akan terus mengalir. Bahkan mungkin seseorang telah berlama-lama membacanya namun ia tidak mampu melampaui satu ayatpun karena banyaknya makna yang dibukakan
baginya. Hal ini telah dialami oleh salafush shalih dan kisah-kisah tentang merekapun sangat banyak dan masyhur.
Sahl   bin   Abdullah   At-Tastari   -rahimahullah-     berkata, "Seandainya seorang hamba diberikan pemahaman setiap huruf dari Al-Qur'an dengan seribu pemahaman, niscaya ia tidak akan pernah sampai pada (makna) akhir ayat yang tersimpan dalam kitab-Nya. Sebab ia adalah Kalamullah, sedangkan kalam-Nya adalah sifat bagi-Nya. Sebagaimana Allah tidak berakhir, maka demikian halnya tidak ada batas akhir untuk memahami kalam-Nya.... Namun setiap orang memahami menurut ukuran apa yang telah Allah buka bagi hatinya. Kalamullah bukanlah makhluk, dan pemahaman makhluk tidak akan mencapai akhir dari pemahaman kalam-Nya."
Ungkapan ini benar adanya, pengalaman dan realita telah menjadi saksi akan hal tersebut. Setiap manusia bertingkat-tingkat dalam memahami dan menjangkau makna ayat-ayat Al-Qur'an begitu pula dalam penerapan-nya di semua sendi kehidupan mereka. Seseorang terkadang dibukakan baginya pemahaman beberapa ayat dan terpengaruh olehnya, dan di waktu yang lain ia berhenti di ayat yang sama namun ia tidak mampu memahaminya. la berhenti pada ayat tersebut dan mengatakan, "Sungguh suatu hari saya telah terpengaruh oleh ayat ini, namun dimanakah pengaruh itu sekarang? Dimanakah pemahaman tersebut sekarang ini?"

Sesungguhnya memahami dan mentadabburi Al-Qur'an merupakan karunia dari Yang Maha Mulia lagi Maha Pemberi Karunia. Dia memberikannya kepada orang-orang yang jujur dalam mencarinya dan mau menempuh berbagai sebab untuk bisa mendapatkannya dengan penuh kesungguhan dan usaha. Adapun orang yang hanya duduk bersandar pada dipan-dipan yang indah, sibuk dengan syahwat dunia lalu ia ingin memahami Al-Qur'an, maka hal tersebut amat tidak mungkin meski ia banyak berangan-angan kepada Allah Ta'ala.

"Kalau sekiranya Kami menurunkan Al-Qur'an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami bua tuntuk manusia supaya mereka berfikir. "(QS. Al-Hasyr: 21).

Kunci dalam memahami Al Qur'an diantanya :
Kunci pertama : bahwa hati adalah alat untuk memahami, memikirkan dan mengetahui. hati berada di tangan Alloh Azza wa Jalla yang dibolak-balikan menurut kehendakNya. ditutup dibuka kapanpun Dia brkehendak. terbukanya hati memlalui dua hal :
Pertama: Senantiasa tunduk patuh kepada Allah Ta'ala dan memohon kepada-Nya untuk dibukakan hatinya. Kedua: Bacaan yang intensif tentang keagungan dan peran penting Al-Qur'an, serta kondisi para salafush shalih ketika berinteraksi dengannya.

Kunci kedua: Kandungannya, bahwa hendaklah diketahui nilai Al-Qur'an dan keagungannya. Dan hendaklah selalu menghadirkan tujuan dan maksud dari membaca Al-Qur'an. Maka sering-seringlah bertanya kepada dirimu sendiri: Kenapa saya ingin membaca Al-Qur'an? Dan hendaklah dijawab dengan jelas dan terperinci. ih baik. Tujuan pokok membaca Al-Qur'an ada lima: Ilmu, amal, bermunajat, pahala dan penyembuhan.

Kunci ketiga sampai kesepuluh: Pembahasannya mengacu pada jawaban pertanyaan yang sangat penting: Bagaimana kita membaca Al-Qur'an Al-Karim? 'Bagaimana' di sini mengarah pada kondisi dan metode yang mampu merealisasikan pemusatan dan pendalaman (makna) secara maksimal ketika memahami Al-Qur'an Al-Karim. Setiap kunci memberikan tingkat pemfokusan dan pemahaman tersendiri. Kunci-kunci tersebut adalah hendaklah Al-Qur'an dibaca ketika shalat, di malam hari, melalui hafalan, membacanya dengan tartil, dengan suara nyaring, mengulang-ulang, pengaitan ayat dengan realitas dan mengkhatamkan setiap pekan sesuai dengan kadar yang hendak dibaca dan ditadabburi.
SImak pembahsan detauinya dalam buku ini.

The Mystery of The Quran
judul asli : mafaatihu Al Quran wa An najakh fii Al hayah
                  Mafaatihu tadabbur As Sunnah Wa Al Quwwah fii Al hayah
penulis : Dr Khalid Abdul karim Al Laahim
fisik : buku ukuran sedang, Softcover lux, 312 hal
penerbit: Daar An Naba'
harga Rp 47.000


 
< Sebelum   Berikut >

KATEGORI PRODUK

CARI DI KATALOG

PENERBIT/PRODUSEN



KITAB ARAB

Riyadhul Jannah
Riyadhul Jannah
Rp 91.000,00
B E L I

Al Mulakhas fi Kitabut Tauhid
Al Mulakhas fi Kitabut Tauhid
Rp 94.000,00
B E L I


Hubungi Kami

   telp : [0274] 6634073
   sms : 0819-2469-325
   admin@al-aisar.com

  maktabah_al_aisar

Pembayaran

online saat ini

1 Member Online
  • agusriyanto49

BEST SELLER

 Tafisr Ibnu Katsir [Edisi Lengkap]

Tidak diragukan lagi bahwa Tafsir Ibnu Katsir adalah salah satu kitab tafsir yang kandungan isinya t...

Selengkapnya...
 
 Shifat Sholat Nabi [Edisi Lengkap]

Inilah kitab panduan yang menjelaskan detail dan tuntas bagaimana Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassa...

Selengkapnya...
 
 Ensiklopedi Adab Islam [Edisi lengkap]

Imam Muhammad bin Sirrin -rahimahullah- berkata," Para Salaf mempelajari adab sebagaimana merek...

Selengkapnya...
 

DISKON SPESIAL 25%

 Terjemah Fathul Baari Syarah Shahih Al Bukhari[27 Jilid]

Fathul Bari Syarah Shahih Al Bukhari adalah karya Al Imam Al Hafidz Abi Fal Ahmad bin Ali bin Muhamm...

Selengkapnya...
 
 Syarah Bulughul Maram [Edisi Lengkap 7 Jilid]

Bulughul Maram adalah kumpulan hadits karya Al Hafidz Ibnu Hajar Al Atsqolani -rahimahullah- yang ba...

Selengkapnya...
 
 Syarah Riyadhus Shalihin [edisi lengkap 5 jilid]

Buku Syarah Riyadhus Shalihin ini merupakan terjemahan dari kitab aslinya berjudul Bahjatun Nazdziri...

Selengkapnya...