DH tafsir muyassarAllah menurunkan Al Qur’an  kepada NabiNya, Muhammad -Sholallahu Alaihi Wassalam-  dengan bahasa Arab yang jelas, Alloh Subhanahu Wa Ta'ala berfirman"Dan sesungguhnya al-Qur'an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam. Dia dibawa turun oleh ar-Ruh al-Amin (Jibril alaihissalam). Ke dalam hatimu agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan. Dengan bahasa Arab yang jelas." (Asy-Syu'ara: 192-195).
Lalu beliau -Sholallahu Alaihi Wassalam-  menyampaikan al-Qur'an itu kepada manusia dengan penyampaian yang benar dan tidaklah Allah mewafatkan beliau kecuali setelah beliau telah menyampaikan dan menjelaskan segala apa yang diturunkan kepadanya dalam kitab tersebut sebagaimana firmanNya,
“ Dan Kami turunkan kepadamu ( wahai Muhammad) Al Qur’an, agar kamu menerangkan kepada ummat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan.” [ An Nahl : 44]
“ Dan Kami tidak menurunkan kepadamu Al Kitab ini, melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” [An Nahl 64]
 Imam Al Mufassir Ibnu Jarir Ath Thabari -rahimahulloh-  berkata dalam menafsirkan ayat ini "Allah yang tinggi penyebutan-Nya berfirman kepada NabiNya, Muhammad , dan tidaklah Kami turunkan kepadamu kitab Kami, dan Kami utus kamu sebagai Rasul kepada makhluk Kami kecuali hanya agar kamu menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan padanya dari agama Allah".
       Dan telah jelas sekali sesuatu yang menunjukkan bahwasanya para sahabat -Rodliallahu Anhum-  telah menerima dari Rasulullah tafsiran al-Qur'an, di mana seseorang dari mereka apabila mempelajari sepuluh ayat darinya, ia tidak akan berpindah kepada ayat lain kecuali setelah memahami maknanya dan mengamalkannya.
Abu Abdurrahman as-Sulami -rahimahulloh- berkata [ia merupakan pembesar Tabi'in], "Telah meriwayatkan kepada kami orang-orang yang telah membacakan kepada kami bahwasanya mereka meminta agar dibacakan al-Qur'an oleh Nabi dan bila mereka mempelajari sepuluh ayat mereka tidak akan meninggalkannya hingga mereka mengamalkan isinya maka kami pun mempelajari al-Qur'an dan mengamalkannya secara keseluruhan."
      Dan para sahabat -Rodliallahu Anhum-  itu bila ada suatu kemusykilan/ketidakfahaman yang mereka dapatkan, mereka bertanya kepada Nabi , seperti ketika turun firman Alloh Subhanahu Wa Ta'ala  ,
"Orang-orang yang  beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezhaliman."   (Al-An'am: 82)
Maka para sahabat Rasulullah berkata, "Siapakah di antara kami yang tidak menzhalimi dirinya sendiri?" Beliau bersabda,"Tidaklah seperti apa yang kalian katakan, 'Dan mereka tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezhaliman 'maksudnya adalah dengan kesyirikan." [ Al Bukhari no 3360 dan Muslim 2462]
      Kemudian yang menjelaskan dan menafsirkannya setelah Nabi -Sholallahu Alaihi Wassalam- yang merupakan sebaik-baik manusia dalam penjelasan-nya dan paling jujur keimanannya dan paling dalam keilmuannya adalah para sahabat (yaitu orang-orang yang dengan mereka tegak-lah al-Qur'an itu, dan dengannya mereka bergerak, dengan mereka al-Qur'an berbicara, dan dengannya mereka berkata, orang-orang yang dianugerahkan oleh Alloh Subhanahu Wa Ta'ala  keilmuan dan hikmah yang meru¬pakan keistimewaan mereka terhadap seluruh pengikut para Nabi.
Mereka itulah para sahabatnya -Rodliallahu Anhum- , yang dipilih oleh Alloh Subhanahu Wa Ta'ala  di antara seluruh makhluk agar menemani Nabi-Nya  selama dua puluh tiga tahun, dan al-Qur'an turun kepada mereka dengan bahasa mereka sendiri yang mereka hidup dengannya maka mereka membelanya dan mengamalkannya.
      Dan ahli tafsir yang paling terkenal di antara mereka adalah para khalifah ar-Rasyidun, Ubay bin. Ka'b, Zaid bin Tsabit, Abu Musa al-Asy'ari, Abdullah bin az-Zubair -Rodliallahu Anhum--
      Dan yang paling terkenal riwayatnya dalam tafsir adalah Abdullah bin Mas'ud -Rodliallahu Anhu-  yang berkata tentang dirinya, "Demi Allah yang tidak ada Ilah yang berhak disembah selain diri-Nya, tidaklah satu surat yang diturunkan dari kitabullah, kecuali saya yang paling tahu di mana ia diturunkan, dan tidaklah satu ayat diturunkan dari kitabullah, kecuali saya paling tahu tentang pembahasan yang di¬turunkan, dan apabila saya mengetahui seseorang yang lebih menge-tahui dariku tentang kitabullah di mana unta mampu sampai kepa-danya, pastilah saya akan menungganginya kepadanya."
Dan Abdullah bin Abbas -Rodliallahu Anhu- adalah ahli tafsir al-Qur'an yang telah didoakan oleh Nabi -Sholallahu Alaihi Wassalam-  seraya berkata,
"Ya Allah! pahamkanlah ia dalam agama, dan ajarkanlah ia tafsir"
Ibnu Mas'ud -Rodliallahu Anhu- berkata tentangnya, "Sebaik-baik ahli tafsir al-Qur'an adalah Ibnu Abbas ."
        Kemudian tafsir ini setelah para sahabat dilanjutkan oleh para Tabi'in, khususnya para sahabat Abdullah bin Abbas -Rodliallahu Anhu-  di Makkah seperti Mujahid, Said bin Jabir dan semisal mereka -rahimahumulloh- . Mujahid berkata, "Saya ajukan sebuah rnushaf kepada Ibnu Abbas  dengan tiga kali pengajuan dari pembukaannya hingga penutupnya dan saya menghentikan pada setiap ayat darinya lalu saya menanyakan tentang ayat itu kepadanya". Oleh karena itu, ats-Tsauri berkata, 'Apabila kamu mendapatkan tafsir dari Mujahid, maka cukuplah bagimu."
Syaikh Islam Ibnu Taimiyah -rahimahulloh- berkata, "Oleh karena itulah yang bersandar kepada tafsirnya adalah asy-Syafi'i dan Bukhari serta selain mereka berdua dari para ulama, demikian juga Imam Ahmad dan lain-lainnya dari orang-orang yang mengarang tafsir selalu mengulang-ulang jalan dari Mujahid lebih banyak dari jalan selainnya."
      Demikian juga para sahabat Abdullah bin Mas'ud  -Rodliallahu Anhu- seperti Alqamah, Masruq dan semisal mereka -rahimahumulloh- , Ibnu Mas'ud  berkata, "Tidaklah saya membaca sesuatu dan tidak pula saya mengetahui-nya kecuali Alqamah membacanya dan mengetahuinya."
Dan al-Hafizh Ibnu Hajar -rahimahulloh- memiliki perincian yang memadai yang tidak mungkin dapat ditinggalkan oleh seorang yang membaca buku-buku tafsir agar mengetahui isnad-isnad yang paling populer yang diriwayatkan dari para Tabi'in dan orang-orang setelahnya, beliau menjelaskan dalamnya kondisi orang yang meriwayatkan tafsir dari para Tabi'in dan orang-orang setelahnya.
Maksudnya adalah kita dapat mengetahui bahwasanya para sahabat  dan Tabi'in telah menafsirkan al-Qur'an, mereka telah menjelaskan lafazh beserta makna-maknanya, maka kewajiban kita adalah mereferensikan perkataan mereka apabila kita tidak mendapatkan suatu tafsir dari al-Qur'an atau Sunnah. Adapun perselisihan yang terjadi di antara mereka dalam hal ini sangat sedikit sekali, bahkan jarang terjadi, dan sebagian besar perselisihan yang ada di antara mereka itu adalah perselisihan bentuk dan bukan perselisih¬an yang saling bertentangan, hal ini sebagaimana disebutkan dan dijelaskan oleh syaikh Islam Ibnu Taimiyah -rahimahulloh-  pada "Muqaddimah at-Tafsir".
Kemudian para ulama memfokuskan perhatiannya kepada kompilasi agar dapat mengumpulkan tafsir-tafsir para sahabat  adapun para Tabi'in yang bersandar kepada mereka seperti Ibnu Jarir ath-Thabari, Ibnu al-Mundzir, Ibnu Abi Hatim, dan Abd bin Humad. Ibnu Hajar berkata, "Tafsir-tafsir yang empat ini sedikit sekali ada sesuatu yang menyimpang dalam tafsir yang marfu' dan mauquf pada para sahabat  dan maqthu' dari para Tabi'in."
      Kemudian berturut-turutlah setelah itu para ulama mengarang tafsir dengan perbedaan-perbedaan yang ada di antara mereka da¬lam madzhab-madzhab mereka, akidah-akidah mereka, dan perhatian ilmiah mereka. Dan di antara mereka yang mengarang dalam bidang itu adalah Abu Muhammad bin al-Husain al-Baghawi yang meninggal pada tahun 516 H, Abu al-Faraj Abdurrahman bin al-Jauzi yang meninggal pada tahun 596 H, Abu Abdullah Muham¬mad bin Umar ar-Razi yang meninggal pada tahun 606 H, Abu Abdullah Muhammad bin Ahmad al-Qurthubi yang meninggal pada tahun 671 H, Abu Abdullah Muhammad bin Yusuf bin Hayyan an-Nahwi al-Andalusi yang meninggal pada tahun 745 H, al-Hafizh Imaduddin Abu al-Fida' Ismail bin Umar bin Katsir yang meninggal pada tahun 774 H, Abdurrahman ats-Tsa'alabi yang meninggal pada tahun 876 H, Jalaluddin Abdurrahman as-Suyuthi yang meninggal pada tahun 911 H, Muhammad bin Ali asy-Syaukani yang meninggal pada tahun 1250 H, Mahmud Syihabuddin al-Alusi yang meninggal pada tahun 1270 H, Muhammad Jamaluddin al-Qasimi yang meninggal pada tahun 1332 H, Muhammad al-Amin bin Muhammad al-Mukhtar al-Jakni asy-Syinqithi yang meninggal pada tahun 1393 H, dan lain sebagainya dari para ulama kaum muslimin yang telah menulis dalam ilmu tafsir.
      Inilah salah satu tafsir kontenporer, Tafsitr Al Quran Al Muyassar yang hadir pada abad 14 Hijriah memperbanyak khazanah pustaka tafsir Al Quran yang tetap merujuk pada tafsir yang difahami generasi Salaf, sebuah tafsir Al Quran yang ringkas, mudah difahami orang awam sekalipun.
       Tafsir Muyassar ini merupakan salah satu tafsir yang paling simpel, mudah, dan jelas. Di antara keistimewaan Tafsir Muyassar ini:
1. Menafsirkan ayat-ayat sesuai dengan manhaj as-Salaf ash-Shalih dalam masalah akidah.
2. Mengedepankan tafsir berdasarkan riwayat ma`tsur yang shahih.
3. Menggunakan kalimat-kalimat yang ringkas dan mudah disertai dengan menjelaskan makna-makna dari kata-kata yang asing di tengah-tengah penafsiran.
4. Hanya menafsirkan sesuai dengan ayat bersangkutan, dan menghindari penambahan yang ada di ayat lain, agar ditafsirkan di tempatnya masing-masing.
5. Penafsiran dilakukan sesuai dengan riwayat qira`ah Hafsh dari Ashim, dan ini adalah yang dianut di Indonesia dan sebagian besar negeri-negeri Muslim.
       Tafsir ini disusun oleh satu tim ahli tafsir yang telah diseleksi para ulama yang berwenang di Mujamma’ Raja Fahd untuk penerbitan al-Qur`an, dan juga di bawah pengawasan dan arahan seorang ulama yang mumpuni, Syaikh Dr. Shalih Alu asy-Syaikh yang menjadi pembimbing utama di lembaga tersebut. Bersama itu, penyusunan tafsir ini telah melalui berbagai proses dan langkah yang sangat hati-hati serta pengkajian yang mendalam.

 

==============================================================================

Tafsir Muyassar : Memahami Al Quran dengan Terjemahan dan Penafsiran paling Mudah

Judul asli :  At Tafsir Al Muyassar
Penyusun : Dr. Hikmat basyir, Dr. Hazim haidar, Dr. Musthafa Muslim, Dr. Abdul Aziz ismail
Dikaji ulang oleh sejumlah Ulama dibawah arahan : Syaikh Dr. Shalih bin Muhammad Alu-syaikh.
Fisik : Buku ukuran sedang 16 x 24.5 cm, hardcover 2 Jilid lengkap
Penerbit : Pustaka darulhaq
Harga Rp 300.000 diskon jadi Rp 240.000

Pemesanan :

Email : Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya. / sms,WA,Telegram  : 0819.2469.325 ,  BBM : 5B0FE340

(kami hanya menjawab pesan singkat yang dlengkapi nama dan alamat lengkap)

==============================================================================


Info tambahan

  • Judul Asli -
  • Penulis -
  • Dimensi Buku -
  • Tipe Cover Hardcover
  • Jumlah Halaman -
  • Bahasa Indonesia
  • ISBN -
  • Penerbit -
  • Harga Rp
  • Cara Pemesanan Email : Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya. / sms,WA,Telegram : 0819.2469.325 , BBM : 5B0FE340 (kami hanya menjawab pesan singkat yang dlengkapi nama dan alamat lengkap)

FAWA zuhudSesungguhnya ilmu tentang pensucian diri dan kelembutan hati dan bersikap zuhud menjadi sebuah keharusan bagi para penuntut ilmu dibandingkan dengan hamba-hamba lain nya seperti butuhnya ikan terhadap air dan butuhnya seluruh makhluk terhadap udara.
      Hal tersebut diperlukan untuk memperbaiki hati mereka terlebih dahulu, sebagiamana ungkapan :
” memperbaiki hati untuk ilmu, seperti memperbagus tanah untuk tanaman.”
Sehingga para penuntut ilmu senantiasa memperbaharui taubat mereka kepada Allah - Subhanahu Wa Ta'ala -  setiap pagi dan petang. Seperti diungkapkan sebagian ara Salafush Shalih “ barangsiapa tidak bertaubat pada setiap pagi dan petang maka dia termasuk golongan orang-orang yang dzalim.”
Sehingga seorang penuntut ilmu tidak berhenti di tengah jalan hanya karena sebab penyakit yang menimpanya dalam medan pertempuran selama menutut ilmu. Penyakit sombong, angkuh, riya terkadang menjangkiti diri seorang penuntut ilmu yang memiliki kecerdasan dan semangat kesungguhan dalam mencari ilmu syariah. Sungguh sangat berbahaya.
Dikhawatirkan dia akan dibinasakan seperti dalam kisah tiga orang yang pertama di hisab dan dilahap Api neraka.

   Sedangkan bersikap zuhud juga sangat diperintahkan oleh Rosulullah - Sholallahu Alaihi Wassalam - , dan sepatutnya seorang penuntut ilmu  mempelajari tentang zuhud para Salaf.

Zuhud secara bahasa adalah meninggalkan atau tidak berkeinginan terhadap sesuatu, sedangkan Zuhud menurut pengertian Syar’i dan bermanfaat lagi dicintai oleh Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- dan Rosululloh -Sholallahu Alaihi Wassalam- adalah Zuhud (yakni meninggalkan atau tidak berkeinginan) terhadap sesuatu yang tidak bermanfa'at di akherat atau terhadap sesuatu yang tidak dapat membantunya dalam rangka menta'ati Allah dan Rasul-Nya atau terhadap sesuatu yang memudharatkannya.
 Inilah zuhudnya kaum Salaf dari para Shahabat, Taabi'in, Taabi'ut Taabi'in dan seterusnya dari para Imam dan para Ulama Ahlus Sunnah wal Jama'ah.

Para Imam Sunnah telah menulis tentang masalah zuhud ini dalam kitab tersendiri seperti Abdullah bin Mubarak, Ahmad bin Hambal, Waki' bin Jarraah, Ibnu Abi 'Ashim, Abu Dawud, Hannad dan lain-lain banyak sekali –-rahimakumulloh- . Atau mereka memasukannya ke dalam kitab hadits mereka seperti Bukhari -rahimahulloh- di shahihnya, Muslim -rahimahulloh-  di shahihnya, Tir-midzi -rahimahulloh-  di sunannya, Nasaa-i -rahimahulloh-  di sunan kubra, Darimiy -rahimahulloh-  di sunannya, Ibnu Majah -rahimahulloh- di sunannya, Hakim -rahimahulloh-  di kitabnya al mustadrak dan lain-lain
        Adapun bersifat dan bersikap zuhud (yakni meninggalkan atau tidak berkeinginan) terhadap sesuatu yang bermanfa'at di akherat atau yang dapat membantunya dalam rangka menta'ati Allah dan Rasul-Nya adalah merupakan kebodohan dan kesesatan dan tidak termasuk kedalam bagian agama.
Inilah penting nya mempelajari makna zuhud, zuhud yang diajarkan oleh Rosulullah - Sholallahu Alaihi Wassalam – dan para Salafush Shalih, yang tercantum dalam kitab-kitab hadits shahih.
 Supaya tidak terjatuh kepada zuhud yang menyimpang, seperti zuhud nya kaum shufiyyah yang meninggalkan harta dan keluarga, melaparkan dan menyiksa diri dan seterusnya dari apa yang mereka sangka dengan persangkaan yang batil sebagai suatu kezuhudan, padahal pada hakikatnya adalah bid'ah yang mereka telah buat dan masukkan ke dalam Islam.

Zuhud dan Kelembutan Hati
Judul asli : bahrur Ra’iq fi Zuhdi wa  Raqa’iq
Penulis : Syaikh Dr, Ahmad Farid
Fisik : Buku Ukuran Sedang 17 x24 cm, hardcover, 592 hlm
Penerbit : Pustaka Khazanah Fawaid
Harga Rp 140.000 diskon jadi Rp 112.000


Info tambahan

  • Judul Asli -
  • Penulis -
  • Dimensi Buku -
  • Tipe Cover Hardcover
  • Jumlah Halaman -
  • Bahasa Indonesia
  • ISBN -
  • Penerbit -
  • Harga Rp
  • Cara Pemesanan Email : Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya. / sms,WA,Telegram : 0819.2469.325 , BBM : 5B0FE340 (kami hanya menjawab pesan singkat yang dlengkapi nama dan alamat lengkap)

PA anjuran menhafalMenuntut ilmu merupakan kewajiban setiap muslim. Dengan ilmu, seseorang dapat meraih cita-cita yang diinginkan dan segala sesuatu yang sulit menjadi mudah. Begitu pentingnya ilmu, sampai-sampai Allah ^ dan Rasulullah memerintahkan umat Islam untuk belajar dan menuntut ilmu. Tidak hanya sebatas menuntut ilmu, kita juga dianjurkan untuk menghafal, menjaga, dan mengaplikasikan ilmu yang telah dipelajari. Sebab, ilmu tanpa amal laksana pohon tanpa buah.

Buku yang berjudul asli Al Jami' fi Al Hatstsi ala Hifzhil Ilmu ini merupakan buah karya beberapa ulama terkemuka di bidangnya, yaitu Abu Hilal Al Askari, Al Khathib Al Baghdadi, Ibnu Asakir, dan Ibnul Jauzi. Muatannya pun sarat dengan ragam anjuran menuntut ilmu, tips menghafal dan menjaga hafalan, serta etika menuntut ilmu. Tak lupa pula penulis menyebutkan beberapa tokoh yang menonjol dari sisi keiimuannya, seperti Ahmad bin Hanbal, An-Nasai, Abu Ath-Thayyib Al Mutanabbi, Ishaq bin Rahawaih, dan lain sebagainya, sebagai teladan dan contoh agar kita bisa mengikuti jejak mereka.

Dengan buku ini, kita memiliki banyak informasi tentang keutamaan ilmu, cara menjaga ilmu, dan etika orang berilmu.

Anjuran menghafal dan Menjaga Ilmu
Judul asli : Al Jami' fi Al Hatstsi ala Hifzhil Ilmu
Penulis : Imam Al Khatib Al baghdadi, Imam Ibnu Asakir, Imam Ibnul jauzi & Abu Hilal Al Askari
Fisik : Buku ukuran sedang 15.5 x 23 cm, hardcover
Penerbit : Pustaka Azzam
harga Rp 123.000 diskon jadi Rp 98.000

 

 

 

 

========================================================================

Pemesanan :

Email : Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya. / sms,WA,Telegram  : 0819.2469.325 ,  BBM : 5B0FE340

(kami hanya menjawab pesan singkat yang dlengkapi nama dan alamat lengkap)

=====================================================================


Info tambahan

  • Judul Asli -
  • Penulis -
  • Dimensi Buku -
  • Tipe Cover Hardcover
  • Jumlah Halaman -
  • Bahasa Indonesia
  • ISBN -
  • Penerbit -
  • Harga Rp
  • Cara Pemesanan Email : Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya. / sms,WA,Telegram : 0819.2469.325 , BBM : 5B0FE340 (kami hanya menjawab pesan singkat yang dlengkapi nama dan alamat lengkap)

PA perbandingan pendapat imam syafiiSesungguhnya Allah Ta'ala dengan segala hikmah-Nya telah memutuskan untuk mengutus para rasul kepada manusia, agar para Rasul ini menjadi suri tauladan bagi kaumnya masing-masing. Sehingga manusia dapat mengikuti petunjuk para rasul, mereka beramal seperti amal para rasul. Untuk itu, Allah telah menurunkan kitab kepada para Rosul agar diajarkan kepada manusia. Maka jadilah manusia beramal berdasarkan amalan para rasul 'alaihimus salam.
Akan tetapi sebagian orang telah merubah risalah-risalah Allah, dimana mereka diperintahkan untuk menjaga risalah tersebut. Alloh Subhanahu Wa Ta'ala berfirman
"Maka datanglah  sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka kelak mereka akan menemui kesesatan." (QS. Maryam: 69)
      Ketika Allah -dengan hikmah-Nya hendak menutup risalah dan mengakhiri nubuwwat/wahyu-Nya, Dia mengutus seorang rasul terakhir , kepadanya Dia turunkan kitab yang berisi hukum-hukum syariat Lalu rasul terakhir itu, Muhammad -Sholallahu Alaihi Wassalam- mengamalkan isi tersebut dan menyampaikannya kepada umat. Sebagian  umatnya mengikuti isi kitab itu.
      Dengan hikmah, ilmu, dan kuasa-Nya pula, Alloh Subhanahu Wa Ta'ala menjaga risalah ini, Allah menjadikan nash al-Qur'an tetap terpelihara, dan nash  as-Sunnah terpraktikkan. Maka manusia saat ini mendapati adanya nash (tulisan) dan praktik sekaligus. Dan para ulama-lah yang mentransfer ajaran al-Qur'an, as-Sunnah, dan pemahaman -sebagaimana telah dijelaskan oleh Rasulullah - kepada orang lain. Para shahabat telah memberikan pemahaman yang baik tentang agama kepada para tabi'in. Manusia mewarisi ilmu dari orang besar yang disampaikan melalui orang besar pula, dari satu generasi ke generasi berikutnya, sedangkan para ulama berjasa karena mereka berusaha agar ilmu mudah untuk dipahami. Dengan itu, maka berkembanglah berbagai macam disiplin ilim syari'at seperti ilmu fiqih dan ilmu ushul fiqih. Dan ilmu mereka tentang al-Qur'an, cara penulisan huruf dan makhrajnya pun berkembang, demikian pula halnya dengan hadits, karena keduanya merupakan sumber hukum.
Karena itu pula bermunculan-lah ilmu fiqih dan madzhab-madzhab fiqhiyah yang berbeda-beda, dan para ulama' berlomba untuk beristhinbath (mengeksplorasi al-Qur'an dan as-Sunnah untuk menentukan suatu hukum) yang benar berdasarkan nash nash al-Qur'an dan as-Sunnah tersebut, dan membatasi pemahaman mereka dengan apa yang telah diamalkan para salafus shalih.
     Para ulama pula yang mengumpulkan nash-nash atau naskah-naskah perkataan, perbuatan, dan taqrir Nabi -Sholallahu Alaihi Wassalam- , sehingga ia menjadi rujukan bagi para ulama -di samping al-Quran- untuk menentukan dan memahami suatu hukum.
      Karena itu dapat Anda jumpai setiap masa dari masa-masa keemasan Islam, orang yang mengingatkan agar kembali kepada fiqih Islam dan ushulnya, kembali kepada nash-nashnya, sehingga perpustakaan-perpustakaan islam penuh dengan nash-nash fiqih yang terkumpul disana, disamping banyak juga kitab-kitab yang telah disyarah.       

Perkembangan ilmu fikih selalu saja memunculkan ketetapan hukum baru dan karya tulis yang menarik untuk dihaca dan dikaji. Ketetapan hukum dan karya tulis tersebut tentunya sangat berperan dalam memperkaya khazanah ilmu syariah yang tidak hanya terbatas pada satu madzhab fikih semata, tetapi mencakup seluruh madzhab fikih yang ada, seperti Maliki, Hanafi, Hanbali, dan Syafi'i.

Sebagian diantara kitab fikih madzab Syafii :

Kitab :  Fathul Mu'in bi Syarh Qurratul Ain hi Muhimmatiddm, karya Zainuddin bin Abdul Aziz Al Ma'bari Al Malibari - rahimahullah-  (W. 1310 H.),
Kitab : berjudul Fathul Qarib Al Mujibfi Syarhi Ghayatul Ikhtishar, karya Muhammad bin Al Qasim Al Ghazzi - rahimahullah-  (W. 918 H),
Dan Kitab Kifayatul Akhyar, karya Imam Taqiyuddin Abu bakar Muhammad Al Husni Al Husaini Ad Dimasqi - rahimahullah-

merupakan diantara kitab-kitab fikih yang sangat populer di kalangan santri Indonesia yang mayoritas bermadzhab Syafi'i. Layaknya kitab-kitab fikih yang lain, fikih ibadah menjadi prioritas utama pembahasan kitab-kitab ini, seperti thaharah, shalat, zakat, puasa, dan haji. Kemudian dilanjutkan dengan fikih mualamat, yaitu jual beli, faraidh, nikah, jinayah, hudud, jihad, makanan, dll. Penggunaan metode yang sistematis dan apik dalam menjelaskan setiap kata dan kalimat, membuat pemaparan kitab ini sangat menarik untuk dibaca, dikaji, dan dipahami.

Demikian pula fikih yang berkaitan dengan pembahasan fikih madzab asy syafii yang cukup menarik dipelajari:
Seperti kitab :
seperti kitab : Al Qodim wa Jadid min Aqwal AL Imam Asy Syafii, berisi Perbandingan Pendapat lama dan Pendapat baru Imam Asy Syafii karya Muhammad Sumai'i Sayyid Abdurrahman Ar Rastaqi


Salah satu kitab fikih madzab Hambali :
Al Kafi fii Fiqhi Al Imam Ahmad bin hanbal, Karya Al Imam Ibnu Qudamah - rahimahullah-
Juga Kitab Masaail Imam Ahmad, karya Al Imam Abu daud As Sijistani, Penulis kitab sunan abu daud.

Adapula kitab fikih yang membahas fikih perbandingan madzab, seperti kitab :Uyunul Majalis, karya Al Qodhi Abdul Wahhab Al Maliki - rahimahullah-  


Dengan kitab-kitab  ini, kita memperoleh banyak informasi tentang ketetapan hukum syariat yang berkaitan dengan disiplin ilmu fikih, yang dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari, sebagai panduan amal ibadah kita kepada Allah - Subhanahu Wa Ta'ala - .

 

 

PA fathul qorib

Fathul Qorib
judul asli : Fathu Al Qorib Al Majib Fi Syarhi Al Fazh At taqrib
Penulis : Syaikh Ibnu Al Ghazi -rahimahullah-
Fisik : Buku Ukuran sedang 15.5 x 23 cm, hardcover, 568 hlm
Penerbit : Pustaka Azzam
harga Rp 139.000 diskon jadi Rp 111.000

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PA fathul muinFathul Mu’in
judul asli : Fathul Mu'in
Penulis : Syaikh Ibnu Abdul Aziz Al Malibari -rahimahullah-
Fisik : Buku Ukuran Sedang 15.5 x 23 cm, hardcover, 1.144 hlm
Penerbit : Pustaka Azzam
harga Rp 263.000 diskon jadi Rp  210.000

 

 

 

 

 

 

 

 PA kifayatul ahyar 1Kifayatul Akhyar [ Jilid 1]
judul asli : Kifayatul Akhyar
Penulis : Imam Taqiyuddin Abu bakar Muhammad Al Husni Al Husaini Ad Dimasqi - rahimahullah-
Fisik : Buku Ukuran Sedang 15.5 x 23 cm, hardcover,
Penerbit : Pustaka Azzam
harga Rp 179.000 diskon jadi Rp 143.000

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PA perbandingan pendapat imam syafiiPerbandingan Pendapat Lama dan Pendapat Baru Imam Asy Syafii
Judul asli : Al Qodim wa Jadid min Aqwal AL Imam Asy Syafii
Penulis : Muhammad Sumai'i Sayyid Abdurrahman Ar Rastaqi
Fisik : Buku Ukuran sedang 15.5 x 23 cm, hardcover, 804 hlm
Penerbit : Pustaka Azzam
harga Rp CALL

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 PA alkafi1&2Al Kafi : Fikih Imam Ahmad Al Hanbali
judul asli : Al kafi fii Fiqhi Al Imam Ahmad bin hanbal
Penulis : Imam Ibnu Qudamah - rahimahullah-
Fisik : Buku ukuran sedang 15.5 x 23 cm, hardcover
Penerbit : Pustaka Azzam
harga jilid 1 Rp 179.000 , diskon jadi Rp 143.000
harga jilid 2  Rp 179.000, diskon jadi Rp 143.000

 

 

 

 

 

 

PA tanyajawab fikih imamahmadTanya Jawab Fikih Imam Ahmad bin Hanbal : Abu Daud bertanya Imam Ahmad menjawab
Judul asli : masaail Imam Ahmad
Penulis : Imam Abu Daud As Sijistani -rahimahullah-
Fisik : Buku Ukuran sedang 15.5 x 23 cm, hardcover, 762 hlm
Penerbit : Pustaka Azzam
harga Rp 185.000 diskon jadi Rp 148.000

 

 

 

 

 

 

 

 

 


PA fikih perbandingan 1&2Fikih Perbandingan [ 2 Jilid ]
judul asli : Uyunul Majalis
Penulis ; Al Qodhi Abdul Wahhab Al Maliki -rahimahullah-
Fisik : Buku Ukuran sedang 15.5 x 23 cm, hardcover,
Penerbit ; Pustaka Azzam
harga Rp 378.000 diskon jadi Rp 302.000

 

 

 

 

 

 

==================================================================================

Pemesanan :

Email : Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya. / sms,WA,Telegram  : 0819.2469.325 ,  BBM : 5B0FE340

(kami hanya menjawab pesan singkat yang dlengkapi nama dan alamat lengkap)

==================================================================================


Info tambahan

  • Judul Asli -
  • Penulis -
  • Dimensi Buku -
  • Tipe Cover Hardcover
  • Jumlah Halaman -
  • Bahasa Indonesia
  • ISBN -
  • Penerbit -
  • Harga Rp
  • Cara Pemesanan Email : Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya. / sms,WA,Telegram : 0819.2469.325 , BBM : 5B0FE340 (kami hanya menjawab pesan singkat yang dlengkapi nama dan alamat lengkap)

PA rahasia asmaul-husnaSesungguhnya sarana yang paling mulia, paling tinggi dan paling kuat bagi seorang hamba dalam mendekatkan dirinya ke-pada Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala-  ialah dengan melalui Asmaa-ul Husnaa (Nama-Nama-Nya yang baik). Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala-  telah memerintahkan kita untuk berdo'a dengan menggunakannya, sebagaimana firman-Nya:
"Hanya milik Allah Asmaa-ul  Husnaa, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asmaa-ul Husna itu, dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Kelak  mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan." (QS. Al-A'raaf: 180)
Dalam ash-Shahiihain diriwayatkan dari Abu Hurairah -Rodliallohu Anhu-  bahwa Rasulullah -Sholallahu Alaihi Wassalam- bersabda:
"Sesungguhnya Allah memiliki 99 nama, seratus kurang satu. Barangsiapa menguasainya (Yakni hafal dan mengerti maksudnya, serta berusaha mengamalkannya)  maka ia akan masuk Surga.” [HR. Al-Bukhari (no. 7392) kitab at-Tauhid, bab 12, dan Muslim  (no. 2677) kitab adz-Dzikri wad Du'a, bab 2, dari Abu Hurairah -Rodliallohu Anhu- ]
     Imam Ibnul Qayyim -rahimahulloh-  berkata, "Ilmu tentang Nama-Nama Allah serta memahaminya merupakan pangkal atau pokok dari ilmu-ilmu lainnya. Barangsiapa memahami Nama-Nama Allah ini sebagaimana yang dikehendaki Allah, maka ia telah menguasai seluruh ilmu. Hal ini karena pemahaman  terhadap Nama-Nama Allah ini merupakan dasar untuk mcmahami seluruh ilmu. Sebab seluruh ilmu itu meru¬pakan hasil akhir yang ditunjukkan oleh Nama-Nama Allah, dan sangat erat kaitannya dengan Asmaa-ul Husna.” [Badaa-i'ul Fawaa-id (I/171).
 Imam Ibnul Qayyim -rahimahulloh-   dalam kitab yang sama  beliau menyebutkan tiga tingkatan dalam memahami Asmaa-ul Husna, yang dengan sebab pemahaman terhadap ketiga tingkatan inilah seseorang dijamin masuk Surga:
1.    Menghafal lafazh-lafazhnya serta hitungannya.
2.    Memahami makna-maknanya serta arahan-arahannya.
3.    Berdo'a dengannya.
          Telah kita pahami bersama bahwa para ulama meskipun mereka berbeda pendapat dalam beberapa hal, namun mereka sepakat bahwa tidak boleh menamai Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala-  atau mengabarkan tentang sifat-sifat-Nya, kecuali dengan nama atau sifat yang diberitakan Allah dalam Kitab-Nya, atau melalui lisan Rasul-Nya , tanpa penambahan, pengurangan, atau melebihi apa yang dinyatakan dalam al-Quran atau al-Hadits. Untuk menentukan Nama-Nama Alloh ini, kita wajib menggunakan nash dari al-Qur-an dan hadits-hadits yang shahih, karena masalah Nama-Nama Allah ini merupakan masalah tauqiifiyyah, di mana akal manusia tidak berkompeten untuk menentukannya. Akal manusia semata tidak akan mampu un¬tuk mengenal Nama-Nama Alloh yang sesuai dengan keagungan-Nya. Akal pun tidak akan mampu untuk menggapai apa yang menjadi hak Rabbul 'Alamin yang berupa sifat-sifat-Nya yang serba sempurna dan serba indah. Maka menamai Alloh Yang Mahamulia dan Mahaagung dengan suatu nama yang tidak difirmankan oleh-Nya merupakan suatu ucapan mengenai Allah tanpa landasan ilmu. Dan tindakan seperti ini diharamkan oleh Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala-  atas hamba-hamba-Nya.
    Imam Ibnu Hazm -rahimahulloh-  berkata; "Tidak diperbolehkan menamai Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- atau mengabarkan tentang Nama-Nama-Nya, kecuali dengan apa yang Allah namakan bagi Diri-Nya sendiri dan apa yang Dia kabarkan tentang diri-Nya di dalam Kitab-Nya, atau melalui lisan Rasul-Nya . Atau paling tidak, melalui kesepakatan yang sah dari semua ulama Islam yang berkompeten dalam hal ini, tidak lebih dari itu. Bahkan, hal ini tetap tidak boleh, meskipun makna lafazh dari nama yang disandarkan kepada Allah itu benar. Jika tidak memenuhi ketentuan di atas, maka lafazh tersebut tidak boleh dimutlakkan sebagai nama Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- .
      Sebagai contoh, kita telah mengetahui dengan yakin bahwa Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala-  telah membangun langit. Lalu Dia berfirman:
“Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami)..."(QS. Adz-Dzaariyat: 47)
Namun kita tidak boleh menamai-Nya dengan Banna’u  (Yang Maha Membangun). Demikian pula, kita mengetahui dengan yakin bahwa Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala-  telah menciptakan beraneka warna tumbuhan dan hewan. Dan Allah Ta'ala telah berfirman:
"Shibghah (celupan) Allah. Dan siapakah yang lebih baik shibghah-nya daripada Alloh Azza Wa Jalla ?..." (QS. Al-Baqarah: 138)
Namun kita tidak boleh menamai-Nya dengan Shobaagh (Yang Maha Pencelup).
        Kita pun mengetahui bahwa Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- menurunkan hujan dari langit dan mengeluarkan air dari bumi untuk minum kita. Namun kita tidak boleh menamai-Nya' dengan Saqqo  atau Saqii (Yang Maha Pemberi Minum).
Dan demikian pula, kita tidak boleh menamai-Nya dengan sesuatu nama yang Allah Ta'ala sendiri tidak menamai Diri-Nya dengan nama tersebut. [lihat : Al-Fashlu fil Milal wal Ahwaa wan Nihal (11/108)]
      Imam Nawawi -rahimahulloh-  berkata, "Nama-Nama Allah itu bersifat tauqiifiyyah, tidak boleh ditetapkan kecuali dengan dalil yang sha¬hih.” [Syarh an-Nawawi (VII/188) ]
     al-Ghazali -rahimahulloh- pun berargumen bahwa Asmaa-ul Husnaa mi telah disepakati bersifat tauqiifiyyah. Kita tidak boleh menamai Rasulullah -Sholallahu Alaihi Wassalam- kecuali dengan nama yang telah diberikan oleh ayah-nya, atau dengan nama yang beliau sendiri telah menamakan dirinya dengan nama itu, dan demikian pula halnya terhadap orang-orang besar lainnya. la berkata, "Jika yang demikian itu terlarang bagi hak makhluk, maka bagi hak Allah hal tersebut lebih terlarang lagi.” [lihat : FathulBaari (XL/223) ]
       Imam as-Suyuthi -rahimahulloh- berkata, "Ketahuilah bahwa Nama-Nama Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- itu bersifat tauqiifiyyah, dengan pengertian bahwa tidak diperkenankan untuk memutlakkan suatu nama (bagi Allah), selama tidak ada izin Syara', meskipun makna yang dimaksudkan-nya telah dijelaskan.” [Syarh Sunan Ibni Majah (1/275)]
      Abul Qasim al-Qusyairi -rahimahulloh- , berkata, "Nama-Nama Allah itu diambil secara tauqiifiy dari al-Kitab, as-Sunnah dan Ijma'. Maka setiap nama yang bersumber dari al-Kitab, as-Sunnah dan Ijma', yang menerangkan Nama-Nama Allah, wajib memutlakkannya di dalam mensifati-Nya. Selain dari yang demikian, maka tidak boleh dimutlak-kan untuk mensifati-Nya, sekalipun maknanya benar.”[ lihat : Subulus Salaam (IV/ 109)]
      Ibnul Wazir al-Murtadha -rahimahulloh-  berkata, "Nama-Nama Allah dan sifat-sifat-Nya bersifat tauqiifiyyah  syar'iyyah. Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala-  terlalu Mulia untuk digambarkan atau ditentukan (tentang nama dan sifat-Nya) oleh hamba-hamba-Nya yang jahil menurut apa yang mereka pahami. Maka tidak boleh menamai Allah , misalnya dengan Rabbul Kilaab wal Khanaazir (artinya: Rabb  bagi anjing-anjing dan babi-babi) atau dengan yang seumpamanya yang tidak diizinkan syara'. Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala-  hanya boleh dinamai dengan nama yang Dia sendiri telah menamai Diri-Nya dengan nama tersebut.” [lihat : Iitsaarul Haqq(I/314].
           Penegasan para ulama tentang kaidah Asmaa-ul Husnaa seperti yang telah disebutkan sebagiannya di atas sangatlah banyak, Semuanya menunjukkan pemahaman 'aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah yang menyatakan bahwa Asmaa-ul Husnaa itu bersifat tauqiifiyyah, dan bahwa penetapannya harus berdasarkan nash yang shahih, yang dengan tegas menyebutkan lafazh Nama Allah tersebut di dalamnya.
      Maka berdasarkan kenyataan ini, pembahasan  tentang As-maa-ul Husnaa dalam buku ini bertujuan untuk menghimpun, memahami makna-maknanya, menghafalkan, dan berdo'a dengannya. Jadi tujuannya bukan untuk membuat-buat Nama-Nama Allah yang baru berdasarkan lafazh ayat atau hadits.
Dan tujuan pokok buku ini  bukan untuk memperdalam masalah-masalah seputar Asmaa-ul Husnaa, seperti apakah yang dimaksud dengan Asmaa-ul Husnaa yang dianjurkan bagi kita untuk berdo'a kepada Allah dengannya.

inilah buku karya Al Imam Al Qurthubi, membahas tentang rahasia Asma al Husna.

========================================================================
Rahasia Asmaul Husna
Penulis : Imam Al Qurthubi - rahimahullah-
Fisik: Buku ukuran sedang, hardcover
Penerbit : Pustaka Azzam
Harga Rp 263.000 diskon jadi Rp 210.000

Pemesanan :

Email : Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya. / sms,WA,Telegram  : 0819.2469.325 ,  BBM : 5B0FE340

(kami hanya menjawab pesan singkat yang dlengkapi nama dan alamat lengkap)

=====================================================================

 


Info tambahan

  • Judul Asli -
  • Penulis -
  • Dimensi Buku -
  • Tipe Cover Hardcover
  • Jumlah Halaman -
  • Bahasa Indonesia
  • ISBN -
  • Penerbit -
  • Harga Rp
  • Cara Pemesanan Email : Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya. / sms,WA,Telegram : 0819.2469.325 , BBM : 5B0FE340 (kami hanya menjawab pesan singkat yang dlengkapi nama dan alamat lengkap)

PA arasyAqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah adalah aqidah golongan yang mendapat pertolongan, sebagaimana dikabarkan Rosulullah - Sholallahu Alaihi Wassalam – dalam sabdanya :

"Akan tetap ada segolongan dari umatku yang tetap teguh di atas kebenaran hingga Hari Kiamat.” ( lihat Shahih Muslim bi syarah An Nawawi 13/66]


Yaitu golongan yang selamat, yang mengenainya Rasulullah  - Sholallahu Alaihi Wassalam -  bersabda,
"Kaum Yahudi terpecah menjadi tujuh puluh satu golongan, kaum Nashrani terpecah  menjadi tujuh puluh dua golongan, dan umat ini akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan yang semuanya di neraka kecuali satu Ditanyakan kepada beliau "Siapa itu, wahai Rasulullah?”, Beliau menjawab,” Mereka adalah  seperti apa yang aku dan para sahabatku sekarang berada di atasnya. "

[ Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Daud (5/4 (no. 4596 (4597); At-Tirmidzi (5/25-26 (no. 2640 (2641); Ibnu Majah (2/132 (no. 3991-3993); Ahmad (2/332 (3/120), 145 (4/120); Al Hakim di dalam Al Mustadrak (1/128, dan ia berkata. "Shahih menurut syarat Muslim." dan 2/480), dan ia berkata "Sanadnva shahih")-, Ad-Darimi (2/158 (no. 2521); Ath-Thabarani di dalam Al Kabir (8/321, no. 8035 (8/327 (no. 8051); (8/178 (no. 759, 10/271-272 (no 211) (212) , dan diriwayatkan dalam kitab hadits lain nya ]

Ciri mereka sebagaimana yang dikabarkan oleh Rosulullah - Sholallahu Alaihi Wassalam - : Mereka diatas apa yang nabi dan para Shahabatnya berada diatasnya.
Inilah  ciri yang membedakan akidah Ahlussunnah wal Jama'ah yang tidak terdapat pada selain mereka. Jadi akidah mereka diwamai oleh pokok-pokoknya yang menjadi sandaran segala masalah dalam ilmu ini.

AI Quranul Karim yang merupakan tali Allah - Subhanahu Wa Ta'ala -  yang kokoh, yang tidak didatangi kebathilan bagi dari depan maupun dari belakangnya, adalah pokok/dasar pertama dari pokok-pokok Ahlussunnah wal Jama'ah.

Pokok kedua adalah As-Sunnah An-Nabawiyyah Ash-Shahihah yang valid dari Rasulullah - Sholallahu Alaihi Wassalam -  Karena Allah telah mewajibkan atas manusia untuk mengikuti Rasul-Nya dan meniru sunnahnya. Allah - Subhanahu Wa Ta'ala -  berfirman,

"Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah." (Qs. A1 Hasyr [59]: 7)

Allah - Subhanahu Wa Ta'ala - juga berfirman,

" Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu" (Qs. A1 Ahzaab [331: 21).

    Ahlussunah wal Jama'ah, pedoman mereka adalah Al Kitab dan As-Sunnah. "Berbeda dengan ahli bid'ah dan perpecahan, karena sandaran mereka secara batin bukan Al Qur an dan As-Sunnah, tapi di atas dasar-dasar yang diada-adakan oleh para guru mereka yang dijadikan sandaran dalam tauhid, sifat-sifat, takdir, iman kepada Rasul dan sebagainya.  
    Kemudian apa yang mereka kira disepakati Al Quran, maka mereka berhujjah dengannya, dan apa yang menyelisihinya maka mereka menakwilkannya.
Karena itu anda dapati mereka ketika berhujjah dengan Al Quran dan Al Hadits, tidak memperdulikan konotasi pendalilannya, dan tidak meneliti apa yang terdapat di dalam Al Quran dari makna itu, dan ayat-ayat serta hadits-hadits yang menyelisihi mereka, maka mereka langsung menakwilkannya sebagaimana kecepatan orang yang bermaksud menolaknya dengan cara apa pun yang memungkinkan. Jadi maksud mereka bukan memahami maksud Allah - Subhanahu Wa Ta'ala – dan rasul Nya, tapi mendebat yang berseberangan dengan keyakinan mereka.

Ahlussunnah wal Jamaah, pokok-pokok mereka yang menjadi sandaran mereka adalah Al Kitab dan As-Sunnah, dan maksud mereka adalah mengikuti syariat Allah yang disyariatkan-Nya melalui lisan Rasul-Nya, Muhammad  - Sholallahu Alaihi Wassalam - .

Imam Asy-Syafi'I - rahimahullah-  berkata, "Aku beriman kepada apa-apa yang datang dari Allah, dan apa-apa yang datang dari Rasulullah sesuai maksud Rasulullah."

Karena itu, pemahaman mereka tidak berdiri sendiri, akan tetapi dalam memahami pokok-pokok itu mereka bersandar kepada apa yang dipahami oleh para sahabat Nabi yang hidup di masa turunnya wahyu, dan mengetahui maksud Allah dan maksud Rasul-Nya. Ini ciri kedua.
Karena pokok-pokok Ahlussunnah adalah sama, yaitu Al Kitab dan As-Sunnah, maka demikian juga para imam Ahlussunnah, yaitu para salaf shalih dari kalangan sahabat, tabiin dan tabi'ut tabiin, maka ilmu dan pemahaman mereka itulah yang mereka anut, dan dari perkataan mereka itulah mereka berpendapat.

Imam Ahmad - rahimahullah- berkata, "Pokok-pokok As-Sunnah menurut kami adalah berpegang teguh dengan apa yang dianut oleh para sahabat Rasulullah dan mengikuti mereka dalam masalah agama.”

    As-Sunnah menurut kami adalah atsar-atsar Rosulullah - Sholallahu Alaihi Wassalam - . As-Sunnah adalah tafsir Al Quran dan As-Sunnah adalah dalil dalil Al Qur an.
    Di dalam As-Sunnah tidak ada qiyas, dan tidak disandingkan dengan perumpamaan-perumpamaan, serta tidak dapat dijangkau dengan akal dan kecenderungan, akan tetapi As-Sunnah adalah mengikuti dan meninggalkan kecenderungan." [ lihat : Syarah ushul Itiqod Ahlus Sunnah, Imam Al Lalikai asy syafii 1/156]

Jadi perkara-perkara agama ini dikembalikan kepada sandaran yang bersambung kepada Nabi.  Karena itu, Ahlussunnah memiliki sandaran yang bersambung.
Dan karena itu dikatakan kepada para ahli bid'ah, "Inilah pokok-pokok kami, dan sanad-sanad kami merujuk kepada Nabi Lalu merujuk kepada apa pokok-pokok mereka para ahli bid'ah ?.

Dari logika ini, maka memperhatikan riwayat yang matsur dari pada pendahulu umat adalah salah satu ciri yang menonjol di kalangan Ahlussunnah wal Jama'ah. Karena itu, karangan-karangan mereka dipenuhi dengan riwayat-riwayat ma'tsur dari perkataan Allah, perkataan Rasul-Nya dan ucapan para salaf dari kalangan sahabat, tabiin serta orang-orang yang berjalan di atas manhaj mereka, mengikuti jalan mereka dan menempuh cara mereka.

Adalah hak bagi setiap Ahlussunnah untuk bangga dengan apa yang diwariskan oleh para ulama sunnah yang berupa warisan peninggalan agung yang berisi manhaj Ahlul Haq, dan mengandung ucapan para ulama dan para imam yang menjelaskan jalan petunjuk, melindungi dan membela akidah yang benar, agar tetap bersih lagi jernih sebagaimana ketika Nabi meninggalkannya untuk kita.

Maka dari itu, sudah selayaknya peninggalan itu dirawat dikeluarkan dari lemari-lemari perpustakaan dan tempat-tempat penyimpanan manuskrip-manuskrip

    Di antara peninggalan salaf untuk kata yarvg layak diperhatikan adalah kitab yang masih tersimpan di dalam manuskrip dalam masa yang cukup lama, yaitu kitab Al Arsy karya Imam Adz-Dzahabi Asy Syafii - rahimahullah- . Sebuah kitab berharga pada masalah ini, di dalamnya pengarang menghimpun puluhan nash dan atsar yang menjelaskan akidah Ahlussunnah wal Jama'ah mengenai suatu masalah di antara masalah-masalah besar dalam mentauhidkan asma wa sifat (nama-nama dan sifat-sifat Allah), yaitu masalah penetapan tingginya Allah di atas para makhluk-Nya, dan istiwa -nya Allah di atas Arsy-Nya.

 

Diantara pembahasan dalam kitab ini :

Bab Pertama : Pendapat-pendapat manusia mengenai nama-nama dan sifat-sifat Allah - Subhanahu Wa Ta'ala - .
   Pasal pertama : Keyakinan Ahlus Sunnah mengenai nama dan sifat Allah - Subhanahu Wa Ta'ala –
1.    Definisi Ahlus Sunnah Wal Jamaah
2.    Keyakinan Ahlus Sunnah mengenai nama dan shifat Allah - Subhanahu Wa Ta'ala –
 Pasal kedua : Pendapat-pendapat Muathilah (golongan sesat yang meniadakan, mengingkari nama-nama dan shifat Allah)
1.    Pengertian Muathilah
a.    Para pemikir filsafat/ Filosof
b.    Para Teolog ( ahli kalam)
2.    Tingkatan-tingkatan Ta’thil (peniadaan, pengingkaran) kaum Muathilah
a.    Tingkatan Ta’thil mereka dalam masalah nama dan shifat secara umum
b.    Tingkatan Ta’thil mereka  masalah Asma Al Husna
c.    Taingkatan Ta’thil mereka dalam masalah Shifat-shifat Allah - Subhanahu Wa Ta'ala –
Pasal ketiga : Musyabihah ( Golongan yang menyerupakan Allah dengan Makhluk Nya)
1.    Definisi Tamtsil dan Tasybih
2.    Definisi Musyabihah


Bab Kedua : Pendapat-pendapat mengenai sifat Tinggi dan Istiwa’
Pasal pertama: pendapat-pendapat mengenai sifat linggi
1.    Pendapat Ahlussurwah wal Jama'ah dan yang menyepakati mereka.
2.    Pendapat-pendapat yang menyelisihi mereka.

Pasal kedua: Pendapat-pendapat mengenai sifat istiwa’
1.    Madzhab salaf mengenai istiwa’
2.    Pendapat-pendapat yang menyelisihi mereka.
          Golongan pertama: Menafikan istiwa ‘
          Golongan kedua: Pendapat tafwidh (menyerahkan kepada Allah).
          Golongan ketiga: Pendapat musyabbihah.

Pasal ketiga: Masalah-masalah yang terkait dengan ketinggian dan istiwa’
1.    Apakah Arsy kosong dari-Nya ketika turun-Nya.
2.    Masalah-masalah batas dan persentuhan.
a.    Hukum lafazh-lafazh global
b.    Masalah batas.
c.    masalah persentuhan


Bab ketiga: Definisi Arsy
Pembahasan Pertama : Makna bahasa untuk kata Arsy
Pembahasan kodua: madzab-madzhab dalam mendefinisikan Arasy

Pasal kedua : Dalil-dalil yag menetapkan Arasy dari Kitabullah dan Sunnah Rosulullah - Sholallahu Alaihi Wassalam - .
1.    dalil Al Quran
2.    2. Dalil dari hadits Rosulullah - Sholallahu Alaihi Wassalam –
3.    
Pasal ketiga:  Sifat Arsy dan kekhususan-kekhususannya.
1.    Penciptaan Arsy dan keadaannya
2.    Tempat Arsy.
3.    Kekhususan-kekhususan Arsy.

Pasal keempat: Pembicaraan mengenai para pemangku 'Arasy dan Kursi.
1.    Pembicaraan mengenai para pemangku Arsy.
2.    Pembicaraan mengenai Kursi.

Dan detail pembahasan lain nya

 


Info tambahan

  • Judul Asli Kitab Al Arasy
  • Penulis Imam Adz Dzahabi - rahimahullah-
  • Dimensi Buku Buku ukuran sedang 15.5 x 23 cm
  • Tipe Cover Hardcover
  • Jumlah Halaman 908 hlm
  • Bahasa Indonesia
  • ISBN -
  • Penerbit Pustaka Azzam
  • Harga Rp 215.000 diskon 20% = Rp 172.000 ( belum ongkos kirim)
  • Cara Pemesanan Email : Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya. / sms,WA,Telegram : 0819.2469.325 , BBM : 5B0FE340 (kami hanya menjawab pesan singkat yang dlengkapi nama dan alamat lengkap)

PA alMuqniSesungguhnya fikih merupakan bagian yang tak terpisahkan  dari khazanah intelektual Islam. Ada ribuan buku fikih yang telah ditulis oleh ulama Ahlussunnah wal Jamaah dari berbagai madzhab, baik Maliki, Hanbali, Asy-Syafi'i maupun Hanafi. sehingga referensi fikih untuk setiap madzhab pun terbilang banyak. Tentunya. kekayaan ilmu ini patut kita miliki dan dilestarikan, terutama generasi penerus Islam.

   Buku yang berjudul asli Al Muqni 'fi Fiqh Al Imam Ahmad Inn Hanbal ini merupakan salah satu karya monumental ulama terkemuka Ibnu Qudamah Al Maqdisi dalam disiplin ilmu fikih madzhab Hanbali.
Kitab ini sangat ringkas dan rujukan ulama madzhab Hambali sejak zaman penyusunnya hingga saat ini secara turun-temurun.
    Al Muqni' menjadi objek kajian dan studi para ulama dan penuntut ilmu. Dari kajian kitab ini lahirlah para penuntut iimu dalarn jumlah banyak di Syam, Mesir dan lainnya. Dari tangan mereka muncul salinan Al Muqni dalam bentuk manuskrip yang tersebar di berbagai negeri.
     Pembahasan dalam kitab Al Muqni ini layaknya buku-buku fikih lainnya yang disusun sesuai urutan pembahasan fikih yang lazim, dimulai dari Thaharah (bersuci) hingga Iqrar (pengakuan).
    Penyajiannya yang cukup ringkas dan tidak bertele-tele dari satu pembahasan ke pembahasan lainnya membuat buku ini mudah dipahami dan layak dimiliki.


Info tambahan

  • Judul Asli Al Muqni fi Fiqh Al Imam Ahmad bin Hanbal
  • Penulis Imam Ibnu Qudamah Al Maqdisi - rahimahullah-
  • Dimensi Buku Buku ukuran sedang 15,5 x 23 cm
  • Tipe Cover Hardcover
  • Jumlah Halaman 936 hlm
  • Bahasa Indonesia
  • ISBN -
  • Penerbit Pustaka Azzam
  • Harga Rp 219.000 diskon 20% = Rp 175.000
  • Cara Pemesanan Email : Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya. / sms,WA,Telegram : 0819.2469.325 , BBM : 5B0FE340 (kami hanya menjawab pesan singkat yang dlengkapi nama dan alamat lengkap)

PIS ensiklopedi sahabat setDiantara Hikmah diutusnya para nabi dan Rosul ditengah-tengah ummat manusia yaitu sebagai pembawa kabar gembira dan juga pembawa peringatan, Agar tidak ada lagi alasan bagi manusia untuk membantah Alloh Azza wa Jalla sesudah diutusnya para Nabi dan Rosul -sholawatulloh wassalamuhu-.diawali dengan diutusnya Nabi Nuh-alaihissalam- dan terakhir Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam .
Bersungguh-sungguhlah untuk mengetahui apa yang terjadi pada bapakmu Adam -alaihissalam-, dan musuhmu Iblis, apa pula yang menimpa pada Nuh dan kaumnya, Hud dan kaumnya, Shalih dan kaumnya, Musa dan kaumnya, Isa dan kaumnya serta Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam dan kaumnya.
Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab -rahimahullah- berkata dalam mukadimah kitab beliau Mukhtashar Sirah ,"Pelajarilah apa yang telah dikisahkan oleh para ulama, para shahabat, keadaan dan amalan mereka,niscaya engkau akan mengenal Islam dan kekufuran, sebab Islam pada hari ini sangatlah asing, Mayoritas ummat tidak bisa membedakan antara Islam dan kekufuran, inilah musibah kehancuran yang tidak diharapkan lagi adanya kebahagiaan…".
nah-al jannah yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar." (At-Taubah: 100)

"(Juga) bagi para fakir yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan (Nya) dan mereka menolong Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang loenar." (Al Hasyr: 8)

Al Imam Al Hafidz Abu Nu'aim Al Ashbahani -rahimahulloh- berkata tentang sifat-sifat para shahabat Muhajirin :
"Jiwa mereka lapang untuk mengorbankan jiwa mereka sendiri, harta benda, anak, keluarga dan rumah. Mereka tinggalkan negeri-negeri mereka, berpisah dengan saudara-saudara, membunuh bapak dan saudara-saudara mereka sendiri, mereka mengorbankan jiwa-jiwa mereka dengan kesabaran,menginfakkan harta-harta mereka dengan penuh keikhlasan, melawan orang yang menentang mereka dengan bertawakkal kepada Allah, mereka mengutamakan keridhaan-Nya dari pada kekayaan, kerendahan dari pada kemuliaan dan keterasingan dari negeri mereka sendiri. Merekalah para Muhajirin yang telah diusir dari kampung halaman dan harta benda mereka karena mereka mencari karunia dan keridhaan dari Allah, mereka menolong Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang jujur dengan sebenar-benarnya."
Beliau -rahimahulloh- berkata dalam mensifati kaum Anshar,
"Kemudian saudara-saudara mereka dari kalangan Anshar, orang-orang yang mempunyai solidaritas dan mengutamakan orang lain, tetangga yang paling mulia di antara kabilah-kabilah Arab, Rasulullah -Sholallahu Alaihi Wassalam- telah menjadikan rumah-rumah mereka sebagai tempat aman dan menetap, orang-orang yang menjaga kehormatan dengan kesabaran, shahabat-shahabat yang bersih.

Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- berfirman :
“ orang-orang yang telah menempati Kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung." (Al Hasyr: 9)

Kemudian Al Ashbahani -rahimahulloh- berkata: "Maka barangsiapa yang benar-benar mencintai mereka dari lubuk hatinya, dan beragama kepada Allah dengan mengetahui keutamaan-keutamaan mereka, dan kecintaan kepada mereka, berlepas diri dari orang-orang yang menyembunyikan kebencian terhadap mereka, maka dialah orang yang berhasil dengan mendapat pujian yang Allah telah memuji mereka dengan firman-Nya:
“ orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Ansar), mereka berdoa: "Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang." (Al-Hasyr: 10)

Maka para shahabat -Rodliallohu Anhum- merekalah yang Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- sendiri telah melapangkan dada-dada mereka, menurunkan ketenangan dalam hati-hati mereka, dan memberikan kabar gembira kepada mereka dengan keridhaan dan rahmat-Nya dengan firman-Nya:

"Rabb mereka menggembirakan mereka dengan memberikan rahmat daripada-Nya, keridhaan dan al jannah, mereka memperoleh di dalamnya kesenangan yang kekal." (At-Taubah: 21)

Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- menjadikan mereka umat terbaik yang dikeluarkan untuk manusia, mereka memerintahkan yang ma'ruf dan melarang dari yang munkar dan selalu taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Bahkan Allah menjadikan mereka sebagai contoh bagi orang-orang Ahli Kitab yang turun kepada mereka kitab Taurat dan Injil, sebaik-baik umat adalah umat Rasulullah dan sebaik-baik generasi adalah pada masanya. Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- mengangkat kedudukan mereka dimana Rasulullah -Sholallahu Alaihi Wassalam- diperintahkan untuk bermusyawarah dengan mereka karena mengetahui kejujuran mereka, kebenaran iman mereka, murninya kecintaan mereka, cerdasnya akal mereka, mulianya pendapat mereka, terangnya amanah mereka, semoga Allah meridhai mereka seluruhnya."
[Lihat Al Washaya min Al Kitab wa As Sunnah, Dr. Ali bin Muhammad Nashir Al Faqihi]

Demikianlah sifat mulia dan utama para shahabat -Rodliallohu Anhum- maka termasuk dari tanda benar dan tidaknya keislaman dan keimanan seseorang adalah sikap mereka terhadap para shahabat ,apakah mereka mencintainya, mendoakan kebaikan bagi mereka dan memuliakannya sebagaimana yang Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- perintahkan dan yang dituntunkan oleh Rasulullah -Sholallahu Alaihi Wassalam- ataukah justru sebailknya, mereka membenci, mencaci dan memaki para shahabat ?

Padahal Rasulullah -Sholallahu Alaihi Wassalam- telah mewasiatkan kepada umatnya untuk menjaga hak-hak mereka, mengenal keutamaan mereka dan melarang dari mencela mereka, mencaci maki, dan menjelek-jelekkan mereka.
Al Imam Al Bukhari dan al Imam Muslim -rahimahumulloh- telah meriwayatkan dalam kitab shahihnya dalam bab: Keutamaan-keutamaan para sahabat, dari Abu Hurairah -Rodliallohu Anhu- dia berkata, Rasulullah -Sholallahu Alaihi Wassalam- bersabda:

"Janganlah kalian mencela para sahabatku, demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, seandainya salah seorang dari kalian menginfakkan emas sebesar Gunung Uhud, tidaklah sampai (menyamai) satu mudd (satu cakupan dua tangan-pent) infaq mereka, tidak pula setengahnya." [Al Bukhari: Fadha'ilush Shahabah, Fathul Bari 7/21 hadits nomor 3673 dan Muslim: Fadha'ilush Shahabah 4/1967 hadits nomor 221 dan 222.]

Cukuplah bagi kita satu hadits ini sebagai peringatan dan ancaman agar kita berhati-hati dari sikap meremehkan dan menodai kedudukan para shahabat,

Berikut perkataan para ulama terkait dengan orang-orang yang mencela para shahabat rosul -Rodliallohu Anhum- dan apa sejatinya yang mereka inginkan dari perbuatan hina tersebut.

Al Laalika'i -rahimahulloh- telah meriwayatkan hadits dari Ibnu Abbas -Rodliallohu Anhu- bahwa dia berkata: "Janganlah kalian mencela sahabat Muhammad, sesungguhnya Allah telah memerintahkan untuk memintakan ampun bagi mereka ..” [Ash Sharimui Maslul 'ala Syatimir Rasul hal. 570]

Abdullah bin Umar -Rodliallohu Anhu- berkata: "Janganlah kalian mencela sahabat Muhammad . Sesungguhnya kedudukan salah seorang di antara mereka lebih baik dari amal kalian seluruhnya.” [Ash Sharimul Maslul 'ala Syatimir Rasul hal. 570]

Imam Dar ul Hijr ah al Imam Malik bin Anas -rahimahulloh- berkata, "Sesungguhnya mereka itu hanyalah orang-orang yang ingin mencela Nabi , karena hal itu belum memungkinkan bagi mereka, maka mereka mencela para shahabatnya sehingga akan dikatakan: orang yang jelek, karena seandainya orang yang shalih tentu shahabatnya juga shalih." [Ash Sharimul Masluf 'ala Syatimir Rasul hal. 580]

Al Imam Ahmad -rahimahulloh- berkata, " Apabila kamu melihat seorang yang menyebut sahabat Rasulullah dengan kejelekan, maka curigailah keislamannya."

Al Imam Abu Zur'ah Ar Razi -rahimahulloh- berkata dalam kitabnya Al Kifayah hal. 97, "Apabila engkau melihat seseorang meremehkan salah seorang shahabat Rasulullah maka ketahuilah bahwasanya dia adalah orang zindiq."
jelaslah bahwa sikap meremehkan shahabat seluruhnya atau sebagiannya termasuk penyelisihan dari bimbingan Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- dan Rasul-Nya -Sholallahu Alaihi Wassalam- .

Maka, Hati-hatilah dari kelompok-kelompok sesat yang telah dengan sengaja menodai kehormatan seorang shahabat Rosul atau seluruh sahabat Rosul , diantara kelompok tersebut adalah Rafidhah yang dengan terang-terangan mencela para shahabat.



Info tambahan

  • Judul Asli Ashabur Rasul Sholallahu Alaihi Wassalam
  • Penulis Syaikh DR Mahmud Al Misri
  • Dimensi Buku Buku ukuran sedang 17 x 24 cm
  • Tipe Cover Hardcover
  • Jumlah Halaman -
  • Bahasa Indonesia
  • ISBN -
  • Penerbit Pustaka Imam Syafii
  • Harga Rp 390.000 diskon 25% = Rp 292.000
  • Cara Pemesanan Email : Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya. / sms,WA,Telegram : 0819.2469.325 , BBM : 5B0FE340 (kami hanya menjawab pesan singkat yang dlengkapi nama dan alamat lengkap)
Halaman 1 dari 15

Apa Kata Mereka ?