Serial Akidah & Rukun Iman [ Edisi Lengkap 7 Jilid ]

Ditulis oleh  Syaikh Dr. Umar Sulaiman al-Asyqar rahimahullah

PIS serial rukun Iman 1Aqidah Islamiyah adalah aqidah atau keyakinan yang dibawa para rasul yang diutus Alloh Subhanahu Wa Ta'ala dan yang termaktub dalam kitab-kitab-Nya. Seluruh ciptaan-Nya, baik dari kalangan jin maupun manusia, harus berkeyakinan dengan aqidah ini. Alloh Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. Aku tidak menghendaki rezki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi Aku makan." (Qs. Adz Dzariyaat: 56-57).
Di ayat lain Allah berfirman:
"Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia."(Qs.Al Isra':23).
"Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah taghut itu." (Qs. An Nahl: 36).
Setiap Rasul berdakwah dengan membawa aqidah ini. Semua Kitab Alloh Subhanahu Wa Ta'ala turun guna menjelaskan aqidah ini serta menerangkan segala hal bertentangan atau dapat mengurangi keabsahannya. Semua orang telah sampai umur taklif (dibebani kewajiban) diperintahkan meyakini dan mengamalkannya. Karena pentingnya aqidah ini, dibutuhkan perhatian ekstra sebelum melangkah menuju hal-hal lain, Apalagi aqidah merupakan penentu bahagia tidaknya seseorang di dunia dan akhirat nanti.
Alloh Subhanahu Wa Ta'ala berfirman: "Karena itu barangsiapa ingkar kepada taghut dan kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul/ikatan tali amat kuat yang tidak akan putus." (Qs. Al Baqarah: 256).
Maknanya, barangsiapa melepaskan tangannya dari tali aqidah ini, berarti ia berpegang kepada kebatilan. Hanya kesesatanlah yang didapatkan jika tidak mengikuti kebenaran ini.
“.... Yang demikian itu karena sesungguhnya Allah, Dia-lah (Rabb) Yang Haq, dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain Allah itulah yang batil." (Qs. Al Hajj: 62). Yang pada akhirnya akan berujung kepada Neraka, seburuk-buruk tempat kembali.
Aqidah artinya sesuatu yang dibenarkan dan dijadikan tuntunan (pedoman) oleh seseorang. Apabila pedoman itu sesuai dengan apa yang dibawa oleh para rasul yang diutus Allah dan yang terkandung dalam Al Quran berarti itulah aqidah yang benar (shahih) yang dapat memberikan kebahagiaan dunia-akhirat sekaligus menyelamatkannya dari azab Alloh Subhanahu Wa Ta'ala.
        Apabila pedomannya itu menyelisihi apa yang dibawa oleh para rasul yang diutus Allah dan yang terkandung dalam Al Quran, berarti itulah aqidah batil (salah) yang dapat mengantarkan kepada kesengsaraan dunia-akhirat dan siksaan pedih di akhirat nanti.
Aqidah yang benar dapat membentengi dan menjaga darah dan harta seseorang dari gangguan orang lain kecuali ada alasan yang dapat dibenarkan (oleh syariat).
Nabi -Sholallahu Alaihi Wassalam- bersabda, "Aku diperintah untuk memerangi manusia hingga mereka mengucapkan, Laa ilaaha illallah (tiada Rabb yang berhak disembah selain Allah). Apabila mereka mengatakannya, maka telah terpeliharalah dariku darah mereka dan harta mereka kecuali karena (ada alasan yang) hak, dan perhitungannya diserahkan kepada Allah ta'ala.” [diriwayatkan oleh Bukhari (25), Muslim (33)]
"Barangsiapa mengucapkan, Laa ilaaha illallah serta mengingkari segala yang disembah selain Allah, maka haramlah harta dan darahnya, dan perhitungan (tentang perbuatannya) diserahkan kepada Allah Azza Wajalla. “[Shahih Muslim (24), Ahmad (15313)]
       PIS seri rukun iman set3 Aqidah yang seperti ini pula dapat menyelamatkan penganutnya dari azab Alloh Subhanahu Wa Ta'ala pada hari kiamat.
Telah diriwayatkan oleh Imam Muslim -rahimahulloh- dari Jabir -Rodliallahu Anhu- , bahwasanya Rasulullah -Sholallahu Alaihi Wassalam- bersabda, "Barangsiapa berjumpa dengan Allah dalam keadaan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun, maka ia masuk Surga. Barangsiapa berjumpa dengan-Nya dalam keadaan menyekutukanNya dengan sesuatu maka ia akan masuk Neraka [Shahih, diriwayatkan oleh Muslim (136), Ahmad dalam AI-Musnad (13963)]
         Di dalam kitab Shahih Bukhari dan Muslim dari hadits Itban bin Malik -Rodliallahu Anhu- diriwayatkan bahwasanya Rasulullah -Sholallahu Alaihi Wassalam- bersabda, "Sesungguhnya Allah mengharamkan Neraka bagi orang yang mengatakan Laa ilaaha illallah, dia mengharapkan dengan hal itu wajah Allah."[ Shahih, muttafaqun 'alaihi, diriwayatkan oleh Bukhari (407), Muslim (48), Abu Dawud (1202), Ibnu Majah (652),dan Ahmad (22513)]
Aqidah yang benar akan menghapus kesalahan-kesalahan yang pemah dikerjakan. Telah diriwayatkan oleh Imam Tirmudzi -rahimahulloh- disertai pemyataannya bahwa hadits ini adalah hasan, dari Anas bin Malik -Rodliallahu Anhu- ia berkata, "Aku mendengar Rasulullah -Sholallahu Alaihi Wassalam- bersabda, "Alloh Subhanahu Wa Ta'ala berfirman, "Wahai anak keturunan Adam, andai engkau mendatangi-Ku dengan membawa kesalahan sepenuh bumi, kemudian engkau menjumpai-Ku dalam keadaan tidak, menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun, niscaya Aku mendatangkan kepadamu ampunan yang seperti itu pula.”[ Hasan. diriwayatkan olehTirmidzi (3463)]
Syarat untuk mendapatkan ampunan tersebut adalah selamatnya aqidah dari kesyirikan, baik sedikit maupun banyak, kecil maupun besar. Barangsiapa keadaannya demikian, maka dialah pemilik hati yang bersih seperti disebutkan oleh Alloh Subhanahu Wa Ta'ala dalam firman-Nya, "Pada hari ketika harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih." (Qs. Asy Syu'ara: 88-89).
Al Allamah Ibnul Qayyim -rahimahulloh- berkata sehubungan dengan makna hadits Itban di atas: "Orang-orang yang bertauhid akan diberi ampunan -yang tidak diberikan kepada selain mereka- karena mereka tidak mencampuri tauhidnya dengan kesyirikan." Jika mereka meninggal dengan membawa dosa selain syirik sepenuh bumi, Allah akan memberikan ampunan kepadanya sebanyak kesalahannya itu. Ampunan ini tidak akan diperoleh bagi mereka yang tauhidnya tidak sempurna. Tauhid khalish (murni) yang tidak dicampuri oleh kesyirikan sedikit pun tidak akan tercampuri satu dosa pun. Mengapa? Karena tauhid yang murni mencakup kecintaan kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala , pemuliaan dan pengagungan-Nya, serta rasa takut dan harapan kepada-Nya semata.
Semua ini memberikan konsekuensi dibersihkannya segala dosa meskipun jumlahnya memenuhi bumi. Kotoran (akibat dosa) hanyalah bersifat sedangkan yang menghilangkan kotoran tersebut pengaruhnya lebih kuat."
      Aqidah yang selamat adalah salah satu syarat diterimanya amalan. Alloh Subhanahu Wa Ta'ala berfirman, "Barangsiapa mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan seesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan." (Qs. An Nahl: 97).
Kebalikan dari hal itu, aqidah yang rusak dapat menggugurkan (pahala) semua amalan. Alloh Subhanahu Wa Ta'ala berfirman, "Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu, "]ika engkau mempersekutukan (Rabb), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentu-lah engkau termasuk orang-orang yang merugi." (Qs. Az Zumar: 65).
"Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan." (Qs. Al An'am: 88).
Aqidah yang rusak oleh kesyirikan menghalangi seseorang mendapatkan surga serta ampunan. Bahkan, mengantarkan seseorang kepada azab yang kekal di dalam Neraka.
Alloh Subhanahu Wa Ta'ala berfirman,
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan Dia mengampuni segala dosa selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya." (Qs. An Nisaa': 48).
"Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya Surga dan tempatnya adalah neraka. Tidaklah ada bagi orang-orang zhalim itu seorang penolong pun." (Qs. Al Maidah: 72).
Aqidah yang rusak juga menghalalkan darah pemiliknya untuk ditumpahkan serta menjadikan harta yang dimilikinya halal untuk diambil. Alloh Subhanahu Wa Ta'ala berfirman, "Dan perangilah mereka supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah." (Qs. Al Anfaal: 39).
"Apabila sudah habis bulan-bulan haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu di mana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah di tempat pengintaian" (Qs. At-Taubah: 5).
Selanjutnya, aqidah yang selamat memberi pengaruh yang baik terhadap hati dan tingkah laku dalam bermasyarakat serta peradaban.
           Pada zaman Nabi ada dua kelompok yang membangun masjid. Satu kelompok membangun masjidnya dengan niat yang benar dan berada di atas aqidah yang murni kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala . Adapun kelompok yang satunya membangun masjidnya untuk tujuan yang tidak baik serta di atas aqidah yang rusak. Maka Allah memerintah Nabi-Nya untuk shalat di masjid yang dibangun di atas asas ketakwaan, dan Allah melarangnya untuk shalat di masjid yang dibangun di atas asas kekafiran serta untuk tujuan-tujuan yang buruk.
Allah berfirman,
"(Dan di antara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudharatan (pada orang-orang mukmin), untuk kekafiran, dan untuk memecah belah orang-orang mukmin serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu. Mereka sesungguhnya bersumpah, "Kami tidak menghendaki selain kebaikan." Dan Allah menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah pendusta (dalam sumpahnya). Janganlah engkau shalat di dalam masjid itu selama-lamanya. Sesungguhnya masjid yang didirikan di atas dasar takwa (masjid Quba) sejak hari pertama adalah lebih patut engkau shalat di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan, Allah menyukai orang-orang yang bersih. Maka, apakah orang-orang yang mendirikan masjidnya di atas dasar takwa kepada Allah dan keridhaan-(Nya) itu yang baik ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh. Lain bangunannya itu jatuh bersama-sama dengan dia ke dalam Neraka Jahannam? Sungguh, Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang zhalim." (Qs. At Taubah: 107-109).

PIS serial rukun ImanBuku ini  yang membahas secara detail Aqidah dan Rukun Iman dalam Islam. Kedudukan akidah dan rukun iman amat penting dalam ajaran Islam. Ibarat sebuah bangunan, akidah adalah fondasi dan rukun iman adalah tiangnya. Adapun ibadah, akhlak, dan ajaran lainnya sebagai pelengkap serta penghias bagian atas bangunan tersebut.
Bayangkan jika rumah dibangun tanpa fondasi dan tiang! Pasti bangunan seperti itu sangat rapuh dan mudah runtuh meski hanya tertiup angin, apalagi bila dihantam badai dan gempa bumi. Bahkan ia tidak akan mampu untuk sekadar mempertahankan atapnya.
Demikian pula bangunan Islam. Ia mudah runtuh tanpa ditopang akidah dan rukun iman yang kokoh dan benar!
Sedemikian pentingnya kedudukan akidah dalam Islam membuat Nabi Muhammad mendakwahkannya lebih dari setengah masa kenabian beliau di Makkah, selama 13 tahun.

Rosululloh Shalollohu’alihi Wasalam bersabda:

”Barang siapa bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang haq kecuali Alloh semata, tiada sekutu bagi-Nya, bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan rosul-Nya, dan bersaksi bahwa ‘Isa adalah hamba Alloh, rosul-Nya, dan kalimat-Nya yang dia letakkan pada Maryam dan bahwa beliau adalah salah satu ruh dari ruh-ruh yang diciptakan oleh Alloh, serta bersaksi bahwa jannah dan neraka adalah haq, Alloh pasti akan memasukkan dia kedalam jannah sesuai dengan amalannya” (HR Al-Bukhori, Muslim, dan Ahmad)

 Inilah bukunya yang akan menjawab pertanyaan tersebut, sebuah panduan wajib bagi setiap muslim untuk mengenal pokok-pokok agamanya.

Buku ini diberi judul Serial Akidah dan Rukun Iman Berdasarkan al-Qur-an dan as-Sunnah di dalamnya tersaji pembahasan tema-tema dasar dalam ajaran Islam yang harus diketahui dan diyakini setiap muslim.

Di antara kelebihan buku ini, sepengetahuan kami:

1.    Penulisnya ulama yang ulung dan berkompeten.
Penulisnya, Doktor Umar Sulaiman al-Asyqar, adalah salah seorang ulama yang produktif dan berwawasan luas. Beliau manamatkan studi SI di Universitas Islam Madinah. Setelah itu beliau melanjutkan program studi magister (S2) di Universitas al-Azhar, dan beliau pun meraih gelar doktor (S3) di universitas yang sama dengan judul disertasi tersidang: “ an-Niyyat wa Maqashidul Mukallafin ".

Karya beliau di bidang akidah cukup banyak, dan buku serial inilah yang terbaik. Di antara guru beliau yang terkenal adalah Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani, serta Syaikh Abdul Jalil al-Qurqusyawi dari Universitas al-Azhar.

2.    Buku serial akidah paling lengkap dan mudah difahami

Buku ini menyajikan hampir semua permasalahan akidah dan rukun iman. Penulis mencurahkan tenaga dan pikiran, serta waktu yang panjang, kurang lebih 10 tahun, untuk itu. Isinya terdiri atas 7 buku serial, yaitu:

Seri 1 membahas perihal Allah - Subhanahu Wa Ta'ala -

Seri 2 tentang alam Malaikat-jin-syaitan,

Seri 3 seputar Kitab dan Rasul,

Seri 4 mengenai tanda Kiamat kecil dan besar,

Seri 5 ihwal peristiwa penting yang terjadi pada hari Kiamat,

Seri 6 tentang Surga dan Neraka, dan

Seri 7 perihal qadha'-qadar atau takdir Allah.


3. Manhaj akidah penulisnya yang lurus.

Yaitu selalu berpedoman kepada al-Qur-an dan as-Sunnah serta  mengacu kepada pemahaman ulama Salaf, Ahlus Sunnah wal Jamaah. Karena itu, penulis tidak berbuat takwil, tasybih,takyif, maupun ta'thil. Ini dapat dibuktikan dalam tulisannya  sini saat membahas masalah asma dan sifat Allah di jilid 1.


     Bahasan buku ini diperkaya dengan wawasan-wawasan keilmuan dengan mengemukakan perbedaan pendapat di kalangan umat Islam sendiri tentang berbagai permasalahan akidah dan hujjah (dalil) masing-masing beserta bantahannya. Penulis pun melakukan studi banding dengan keyakinan lain di Iuar Islam di dalam masalah tertentu untuk menunjukkan kclcbihan ajaran Islam, hingga komparasinya bermanfaat.

Adapun isi dari serial buku ini adalah  


seri 1: Allah Subhanahu wa Ta'ala. Dalam buku ini di antaranya dibahas mengenai hakikat akidah; syarat akidah; akidah yang benar dan yang salah; hubungan akidah dengan keimanan dan syariat; keimanan dan kekafiran; perbedaan antara akidah Islam, filsafat Yunani, dan ilmu kalam; metode para ulama dalam menetapkan akidah; seluk-beluk iman; dalil keberadaan Allah; keajaiban alam semesta sebagai bukti keberadaan-Nya; menambatkan hati kepada Allah; mengenai nama dan sifat Allah; mentauhidkan Allah; hakikat tauhid; serta sejarah Tauhid uluhiyah.

Pada bahasan iman kepada Allah ini, juga diuraikan berbagai dalil yang menunjukkan keberadaan Allah ; juga disebutkan bantahan terhadap orang-orang penganut paham evolusi yang beranggapan bahwa alam semesta ini diciptakan secara kebetulan. Serta diskusi atas berbagai syubhat yang dilontarkan kalangan ateis.

seri 2: Malaikat, Jin dan Syaitan. antaranya membahas: Sifat fisik dan akhlak Malaikat, ibadah Malaikat; hubungan Malaikat dengan manusia, dengan keturunan Adam, dengan orang-orang mukmin dan dengan orang-orang kafir; Malaikat dengan makhluk-Nya selain manusia; perbandingan keutamaan Malaikat dan manusia; definisi jin dan syaitan; kemampuan dan kclemahan jin; jin dibebani hukum syariat; permusuhan manusia dan syaitan; senjata mukmin dalam memerangi syaitan; terapi kesurupan; hikmah diciptakannya syaitan

seri 3: Rasul dan Risalah. Di antaranya membahas: Definisi dan penjelasan Nabi dan Rasul; urgensi beriman kepada Rasul; iumlah Nabi; kedudukan akal terhadap wahyu; manusia membutuhkan Rasul dan risalah; tugas dan misi Rasul; perihal wahyu; cara wahyu turun kepada Nabi; sifat Rasul; perihal kenabian wanita; sifat maksum; apakah selain Nabi bersifat maksum; bukti-bukti kenabian; mukjizat para Nabi; kabar gembira umat-umat terdahulu; keutamaan dan perbedaan tingkatan para Nabi; Risalah samawi: beriman kepada seluruh risalah; kewajiban beriman kepada seluruh risalah; bentuk keimanan kepada seluruh risalah; perbandingan risalah; serta sumber dan tujuan risalah.

seri 4: Tanda-tanda Kiamat. Di antaranya membahas: Kiamat kecil yaitu kematian; sakaratul maut; kehadiran syaitan menjelang kematian; sebab-sebab su'ul khatimah; alam kubur dan pertanyaan di alam kubur; nikmat dan siksa kubur; perihal roh dan jiwa; serta waktu Kiamat.

Selain itu juga diuraikan tentang tanda kecil Kiamat yang sudah terjadi dan sudah berakhir; tanda kecil Kiamat yang sudah terjadi dan masih berlangsung: terjadinya berbagai peperangan dan fitnah, banyak nabi palsu, rusaknya kaum muslimin, terjadinya al-khasaf, al-qadzaf dan al-maskh, berlimpahnya harta dan rusaknya tatanan nilai di masyarakat; tanda kecil Kiamat yang belum terjadi: jazirah arab kembali menjadi kebun-kebun dan sungai-sungai, bumi mengeluarkan harta simpanannya, keluarnya al-Mahdi; tanda-tanda besar Kiamat: kabut, fitnah Dajjal, turunnya Isa, keluarnya Ya'juz Ma'juj, sirnanya Islam, kembalinya manusia menyembah berhala, matahari terbit dari Barat, keluarnya binatang melata.

seri 5: Peristiwa Kiamat. Di antaranya membahas: Nama-nama hari Kiamat; hari peniupan sangkakala; hari kebangkitan umat manusia; hakikat padang Mahsyar di akhirat; hujjah bagi pendusta hari Kebangkitan; dalil tentang hari Kebangkitan; hari Kiamat menurut para Nabi dan Ahlul Kitab; fenomena hari Kiamat yang maha dahsyat; bukti kedahsyatan Kiamat;keadaan kaum kafir, kaum muslimin yang bermaksiat, dan kaum mukminin pada hari Kiamat; syafa'at di akhirat; hisab dan balasan di padang Mahsyar; hikmah pengadilan di akhirat; pertanyaan bagi para hamba; fenomena hisab; pelaksanaan qishash di antara mahkluk; besarnya perkara pembunuhan; mizan: timbangan amal di akhirat; amal yang memberatkan mizan; haudh: telaga Nabi di Surga; menuju negeri abadi: Surga atau Neraka.

seri 6: Surga dan Neraka. Di antaranya membahas tentang: Surga dan Neraka sudah diciptakan; para penjaga Neraka; sifat Neraka; luas, kedalaman, dan tingkatan Neraka; keabadian Neraka; penghuni Neraka dan kejahatannya; kekalnya penghuni Neraka dan Surga; dosa-dosa yang menjurumuskan manusia ke Neraka; siapa sajakah yang tidak kekal di Neraka; makanan, minuman, dan pakaian penghuni Neraka; macam dan tingkatan azab; cara membentengi diri dari Neraka; perihal syafaat dan masuk Surga tanpa hisab; yang pertama dan terakhir masuk Surga; kekekalan Surga dan penghuninya; sifat dan tingkatan Surga; perihal penghuni Surga; amalan yang memasukan ke Surga; sifat penduduk Surga; berbagai kenikmatan Surga; perdebatan Surga dan Neraka.

seri 7: Qadha dan Qadar. Di antaranya membahas: Iman kepada takdir; takdir dalam tinjauan al-Qur-an dan as-Sunnah serta menurut Ahlus Sunnah wal Jama'ah; sejarah takdir; paham takdir pada masa Rasulullah, Khulafa'ur Rasyidin, Tabi'in dan Tabi'ut Tabi'in, serta pada masa ashrul muluk.
Diuraikan pula mengenai hakikat takdir; rukun iman kepada takdir; seluruh perbuatan hamba adalah makhluk; keterbatasan akal dalam memahami takdir; kaidah menyikapi takdir; hikmah tunduk kepada ketetapan ilahi; takdir menurut berbagai aliran; kelompok yang mendustakan takdir; kelompok jabariyah; kelompok yang mengimani takdir; sebab kesesatan dalam memahami takdir; serta buah iman kepada takdir.

 

Harga Penerbit Rp 650.000 , Harga Kami Rp 500.000 saja

(belum termasuk ongkos kirim sesuai nama dan alamat lengkap)

pemesanan : Email : Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya., sms, WA, LINE, Telegram  : 0819.2469.325 ( pastikan  tulis nama, alamat lengkap )

 


Info tambahan

  • Judul Asli: Syaikh Dr. Umar Sulaiman al-Asyqar rahimahullah
  • Penulis: Syaikh Dr. Umar Sulaiman al-Asyqar rahimahullah
  • Dimensi Buku: buku ukuran sedang 17 x 24 cm
  • Tipe Cover: Hardcover
  • Jumlah Halaman: -
  • Bahasa: Indonesia
  • ISBN: -
  • Penerbit: Pustaka Imam Syafii
  • Harga: Rp 650.000
  • Cara Pemesanan: Email : Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya., sms, WA, LINE, Telegram : 0819.2469.325 ( harap tulis nama, lokasi)

Apa Kata Mereka ?