Syarah Ushul Itiqod Ahlus Sunnah Wal Jamaah

Ditulis oleh  Imam Al Lalika'i -rahimahullah-

PA syarah ushul itiqad 1Masa jahiliyyah sebelum diutusnya Rosulullah - Sholallahu Alaihi Wassalam – , manusia ketika itu hidup dalam kegelapan yang berupa syirik, kebodohan, dikuasai oleh khurafat, berkutat dalam persengketaan dan perseteruan antar kabilah, satu sama lain saling menyandera, satu sama lain saling membunuh, mereka hidup dalam keterbelakangan, kebiadaban dan perpecahan. Hingga ketika Allah mengizinkan matahari Islam terbit, Dia mengutus Muhammad - Sholallahu Alaihi Wassalam - untuk mengumumkan kepada manusia bahwa tidak ada ilah selain Allah (laa ilaaha illallaah), tidak ada yang patut diibadahi dengan benar selain-Nya. Beliau - Sholallahu Alaihi Wassalam - membawa tauhid yang merupakan hak Allah atas hamba, dan tujuan utama penciptaan manusia.
"Dan tidaklahAku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku. " (QS. Adz-Dzaariyaat: 56)

Dengan tauhid ini para Rasul diutus dan Kitab-Kitab diturun-kan, serta karenanya pula panji jihad dikibarkan.

Selama kurun waktu 13 tahun di Makkah, Nabi - Sholallahu Alaihi Wassalam - menyerukan (mengajak) kepadanya, menanamkan akar-akarnya dalam jiwa yang paling dalam, membangun asas-asas dan pilar-pilarnya dalam lubuk hati serta mengukuhkan rukun-rukunnya dalam hati; sehingga jalannya menjadi jelas bagi orang-orang yang menitinya, dan rambu-rambunya jelas bagi orang-orang yang menginginkannya.
Lalu Allah - Subhanahu Wa Ta'ala - memenangkan kebenaran dan menumbangkan kebathilan, serta cahaya tauhid yang murni menerangi hati, sehingga hati menjadi bersih dan cemerlang dari noda-noda syirik.

Nabi - Sholallahu Alaihi Wassalam - datang dan (ketika itu) hati manusia tidak ubahnya (seperti) tanah yang tandus, lalu beliau menyiraminya dengan Tauhid yang bersih, menyiraminya dengan mata air ikhlas, dan menuntunnya kepada Allah - Subhanahu Wa Ta'ala - dengan penuntun mutaba'ah (mengikuti petunjuk sunnah Nabi), lalu hati tersebut menjadi hidup dan subur serta mcnumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah. Sehingga umat menjadi mulia setelah sebelumnya hina, menjadi bersatu setelah sebelumnya bercerai berai, dan menjadi menang setelah sebelumnya terkalahkan.

Orang yang mencermati sejarah umat Islam pasti mengetahui kejayaan, kemuliaan, kemenangan, dan ketundukan umat-umat lainnya pada mereka berkaitan erat dengan kemurnian 'aqidah mereka , erjujuran tawajjuh (peribadahan) mereka kepada Allah - Subhanahu Wa Ta'ala - mengikuti jejak dan sirah Nabi berdasarkan manhaj Salafush Shalih, menyepakati para imamnya, dan tidak menyelisihi mereka dalam hal itu. Sebaliknya, bahwa kelemahan dan kehinaan mereka serta mereka dikuasai oleh umat-umat lain berkaitan dengan tersebarnya bid'ah dan hal-hal yang diada-adakan dalam urusan agama, menjadikan tandingan-tandingan dan sekutu-sekutu bersama Allah - Subhanahu Wa Ta'ala - . munculnya golongan-golongan sesat, ditariknya tangan kepatuhan (kepada penguasa), dan memerangi para pemimpin.

Sesungguhnya penyimpangan-penyimpangan 'aqidah, penyimpangan dari manhaj/cara beragama nya para Salafush Shalih, dan tertipu dengan kata-kata indah para pengusung aliran-aliran yang menyimpang, itulah yang memecah belah umat, mencerai-beraikan kekuatannya dan mencabik-cabik kewibawaannya. Fakta menunjukkan hal itu. Tidak ada solusi untuknya dari hal itu kecuali dengan kembali kepada apa yang dianut oleh Nabi - Sholallahu Alaihi Wassalam - , para Sahabatnya, dan para imam yang mendapat petunjuk. Akhir umat ini tidak akan menjadi baik kecuali dengan mengikuti apa yang dengannya awal umat ini menjadi baik. Berpaling dari tauhid yang benar dan membenci manhaj Salafush Shalih adalah menafikan keadilan dan meremehkan akal.

Allah berfirman:
"Sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul-Rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka al-Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan..." (QS. Al-Hadiid: 25)

Keadilan terbesar adalah tauhid, karena ia merupakan pokok keadilan dan dengannya keadilan menjadi tegak. Sebaliknya, kezhaliman terbesar adalah syirik. Allah berfirman, menceritakan tentang Luqman dalam wasiatnya kepada anaknya:
“ Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezhaliman yang besar.'" (QS. Luqman: 13)

Dari Abud Darda' , dari Nabi - Sholallahu Alaihi Wassalam - , beliau bersabda, "Allah - Subhanahu Wa Ta'ala - berfirman:
'Sesungguhnya Aku, manusia, dan jin dalam berita yang besar. Aku yang menciptakan, sedangkan selain-Ku yang diibadahi. Aku yang memberi rizki, sedangkan selain-Ku yang diberi ucapan syukur.'"
(HR. Ath-Thabrani dalam Musnadasy-Syaamiyyiin,al Baihaqi dalam Syu'abul iman, dan ad-Dailami dalam Musnad al Firdaus)

Dan sesungguhnya kedustaan terbesar adalah engkau menyekutukan Allah - Subhanahu Wa Ta'ala - padahal Dia-lah yang telah menciptakanmu.

Jika Allah telah memerintahkan untuk mengadakan perbaikan dan melarang kerusakan serta berbuat kerusakan dengan firman-Nya:
"Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orangyang berbuat baik.33 (QS. Al-A'raaf: 56)

Maka, pengrusakan terbesar adalah dirusaknya 'aqidah, pandangan dan pemikiran-pemikiran manusia, perjalanan mereka menuju Allah - Subhanahu Wa Ta'ala - dihadang, dan mereka disimpangkan dari fitrah yang pada-nya Allah menciptakan mereka.
Dalam hadits disebutkan:
"Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (Islam), maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya sebagai Yahudi, Nasrani, atau Majusi." (HR. Al-Bukhari)

Hal ini dikuatkan oleh sabda Nabi - Sholallahu Alaihi Wassalam -
"Ketahuilah, sesungguhnya Rabb-ku memerintahkan kepada-ku agar aku mengajarkan kepada kalian apa yang tidak kalian ketahui dari hal-hal yang diajarkan-Nya kepadaku pada hariku ini: Semua yang Aku perintahkan kepada seorang hamba adalah halal, dan Aku menciptakan hamba-hamba-Ku semuanya dalam keadaan lurus (hunafaa). Tapi para syaitan datang kepada mereka untuk menyimpangkan mereka dari agama mereka, mmgharamkan kepada mereka apa yang Aku halalkan untuk mereka, serta memerintahkan kepada mereka agar menyekutu-kan dengan-Ku apa yang aku tidak menurunkan kekuasaan kepadanya." (Shahih: Diriwayatkan oleh Muslim (no. 2765). Lihat Silsilah al-Ahaadiits ,Ash-Shahiihah (no. 3599), karya Syaikh al-Albani ]


Tidak diragukan lagi bahwa ini adalah kezhaliman paling besar dan paling keji. Bagaimana tidak, padahal akibat hal itu adalah kerugian dunia dan akhirat.

Pada masa-masa belakangan ini, di dalamnya telah terjadi berbagai perubahan dan dunia menghiasi para peminangnya, para peng-ikut hawa nafsu menyingkap 'kedok' mereka, bid'ah-bid'ah mereka tersebar, madzhab-madzhab para pendahulu mereka dihidupkan kembali setelah sebelumnya mati, dan buku-buku mereka yang sudah terlupakan diterbitkan kembali. Muncullah pemikiran-pemikiran baru, jama'ah-jama'ah kontemporer yang niat dan arahan-irahannya berbeda-beda, saling bersebarangan dalam hal tujuan dan sarana yang digunakannya. Setiap kali muncul suatu jama'ah atau golongan, ia mengutuk saudaranya. Sejumlah kalangan menolak tauhid yang lurus dan Sunnah yang shahih.
Mereka meracuni fikiran-fikiran manusia, merusak 'aqidah mereka, menjadikan mereka menganggap remeh perkara syirik, mengibarkan panji-panji fitnah, mengadakan kudeta terhadap para penguasa dari kekuasaannya, dan menentang Rasul setelah datangnya petunjuk yang terang bagi mereka, serta mengikuti jalan selain jalan kaum mukminin.

Di antara kewajiban bagi orang-orang yang memiliki ghirah (semangat/kecemburuan) dari kalangan ulama umat dan para penyeru Sunnah yang meniti atsar adalah melakukan kewajiban untuk menjelaskan pokok-pokok agama (Ushuulud Diyaanah), menjelaskan rambu-rambu manhaj Salaf, menjelaskan jalannya, mendekatkan kitab-kitab para imam dan memperjelasnya dengan tahqiq (penelitian) serta menjelaskan ungkapan-ungkapan para imam, menjelaskan tujuan-tujuan mereka, memperhatikan perkara tauhid dan manhaj (atau metode) dalam pelajaran-pelajaran, khutbah, ceramah dan karangan-karangan mereka, serta membimbing para hamba untuk mengikuti langkah Nabi , menetapi Sunnahnya, dan meniti jejak para Sahabatnya dalam rangka mengamalkan firman-Nya
"Katakanlah, ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu’ . Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS. Ali 'Imran: 31)
Dan Sabda Rosulullah - Sholallahu Alaihi Wassalam -
"Aku berwasiat kepada kalian agar bertakwa kepada Allah, mendengar dan taat, meskipun ia (orang yang memimpin kalian) adalah seorang hamba sahaya Habasyah (Ethiopia). Sesungguh-nya barangsiapa yang masih hidup di antara kalian sepeninggalku, maka ia akan melihat perselisihan yang banyak. Maka, bcrpegang dengan Sunnahku dan Sunnah Khulafa-ur Rasyidin al-Mahdiyyin. Berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah ia dengan gigi-gigi geraham. Dan hati-hatilah terhadap perkara-perkara yang diada-adakan (dalam agama), karena setiap perkara yang diada-adakan adalah bid'ah, dan setiap bid'ah adalah kesesatan." (Shahih: Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 4607), at-Tirmidzi (no. 2676), Ibnu Majah (no. 43, 44), Ahmad (IV/46-47), dari Sahabat 'Irbadh bin Sariyah . Lihat kitab Irwaa-ul Ghaliil (no. 2455) dan Silsilah al-Ahaadiits ash-Sha-hiihah (no. 2735), keduanya karya Syaikh al-Albani ]

Itulah jalan lurus yang akan mengantarkan kepada keridhaan Rabb semesta alam.

Allah berfirman:
"Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikanmu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa. " (QS. Al-An'aam: 153)

Ia adalah jalan yang diserukan oleh Rasul-Nya, Muhammad - Sholallahu Alaihi Wassalam –
Allah - Subhanahu Wa Ta'ala - berfirman:

"Katakanlah, Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orangyang mengikutiku mengajak(mu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata., Mahasuci Allah, dan aku tidak termasuk orgng-orangyang musyrik.(QS. Yusuf: 108)

lni adalah 'aqidah golongan yang selamat (al-Firqah an-Naajiyah) yang dikabarkan oleh Nabi - Sholallahu Alaihi Wassalam - dengan sabdanya:

"Akan senantiasa ada dari umatku ini satu umat yang menegak-kan perintah Allah, tidak membahayakan mereka orang-orang yang menghinakan mereka, hingga datang perintah Allah kepada mereka dan mereka tetap dalam keadaan demikian.' ( HR. Al-Bukhari, bab 28, hadits no. 3641)

Itulah golongan yang tetap meniti jalan yang ditempuh oleh Nabi - Sholallahu Alaihi Wassalam - dan para Sahabat beliau - Rodliallahu Anhum - .

Dalam hadits disebutkan bahwa Nabi bersabda:
Dan sesungguhnya Bani Israil telah terpecah menjadi 72 golongan, dan umatku akan terpecah menjadi 73 golongan, semuanya berada dalam Neraka, kecuali satu golongan saja." Ia -yaitu 'Abdullah bin Amr, perawi hadits ini- bertanya, "Siapakah dia, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Apa yang aku dan para Sahabatku berada di atasnya (yang mengikuti jejakku dan jejak para Sahabatku)." (Shahih, HR. At-Tirmidzi 2641, Abu Dawud no. 4597, Ahmada (IV/102) dan lain nya )

Dari sinilah terlihat betapa pentingnya perkara ini, mendidik Generasi di atas perkara tersebut, dan memperbaiki jalan kebangkitan kepadanya; sehingga jalannya tidak bercabang-cabang, lalu tersesat di padang hawa nafsu dan berbagai fitnah.

Inilah Serial terjemah Kitab Syarah Ushul Itiqod Ahlus Sunnah Wal Jamaah, tulisan Al Imam Al hafidh Abul Qosim Hibatullah bin Hasan Al Lalika'i Asy Syafii, lebih dikenal dengan nama Imam Al Lalika'i -rahimahullah-.
Salah satu Kitab yang menjadi Rujukan para Ulama Sunnah dari Dulu sampai Sekarang, sebuah kitab yang membahas ushul pokok Aqidah, keyakinan, keimanan yang dipegang kalangan Ahlus Sunnah Wal Jamaah yang bersumber dari Al quran dan Sunnah Rosulullah yang difahami para Shahabat nabi, Tabiin dan tabiut tabiin serta ulama sunnah masa-masa setelah nya yang mengikuti mereka dengan benar tanpa penyimpangan.

telah cetak sampai Jilid 6


Jilid 1 Rp 189.000 ,
Pembahasan : Sejarah kemunculan Bidah, faktor penyebab Munculnya Bidah

Jilid 2 Rp 183.000 ,
Pembahasan : Tauhid terhadap Allah , Dalil-dalil dari Al Quran Dan As Sunnah dan penafsiran dari ayat-ayat dan Al Quran

Jilid 3 Rp 151.000 ,
Pembahasan : Riwayat dari nabi, Shahabat dan Tabiin tentang melihatnya orang-orang yang beriman kepada Rabb - riwayat dan nukilan Ijma' mengenai ayat-ayat Taqdir

Jilid 4 Rp 155.000,
Pembahasan : Taqdir dan Keimanan

Jilid 5 Rp 163.000 ,
Pembahasan Tentang Iman

Jilid 6 Rp 159.000 ,
Pembahasan Tentang Iman dan keutamaan Sahabat Nabi


Info tambahan

  • Judul Asli: Syarah Ushul Itiqod Ahlus Sunnah Wal Jamaah
  • Penulis: Al Imam Al hafidh Abul Qosim Hibatullah bin Hasan Al Lalika'i Asy Syafii
  • Dimensi Buku: buku Ukuran Sedang 16 x 23 cm
  • Tipe Cover: Hardcover
  • Jumlah Halaman: -
  • Bahasa: Indonesia
  • ISBN: -
  • Penerbit: Pustaka Azzam
  • Harga: lihat keterangan diatas.
  • Cara Pemesanan: Email : Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya. / sms,WA,Telegram : 0819.2469.325 , BBM : 5B0FE340 (kami hanya menjawab pesan singkat yang dlengkapi nama dan alamat lengkap)

Apa Kata Mereka ?