Tafsir Ibnu Katsir [ edisi Lengkap 10 Jilid ]

Ditulis oleh  Imam Ibnu Katsir - rahimahullah-, peneliti : Dr. Abdullah bin Muhammad bin 'Abdurrahman bin Ishaq Alu Syaikh

PIS tafsir ibn katsir ekonomis setAllah menurunkan Al Qur’an kepada NabiNya, Muhammad -Sholallahu Alaihi Wassalam- dengan bahasa Arab yang jelas, Alloh Subhanahu Wa Ta'ala berfirman,
"Dan sesungguhnya al-Qur'an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam. Dia dibawa turun oleh ar-Ruh al-Amin (Jibril alaihissalam). Ke dalam hatimu agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan. Dengan bahasa Arab yang jelas." (Asy-Syu'ara: 192-195).
Lalu beliau -Sholallahu Alaihi Wassalam- menyampaikan al-Qur'an itu kepada manusia dengan penyampaian yang benar dan tidaklah Allah mewafatkan beliau kecuali setelah beliau telah menyampaikan dan menjelaskan segala apa yang diturunkan kepadanya dalam kitab tersebut sebagaimana firmanNya,
“ Dan Kami turunkan kepadamu ( wahai Muhammad) Al Qur’an, agar kamu menerangkan kepada ummat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan.” [ An Nahl : 44]
“ Dan Kami tidak menurunkan kepadamu Al Kitab ini, melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” [An Nahl 64]
Imam Al Mufassir Ibnu Jarir Ath Thabari -rahimahulloh- berkata dalam menafsirkan ayat ini "Allah yang tinggi penyebutan-Nya berfirman kepada NabiNya, Muhammad , dan tidaklah Kami turunkan kepadamu kitab Kami, dan Kami utus kamu sebagai Rasul kepada makhluk Kami kecuali hanya agar kamu menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan padanya dari agama Allah".
Dan telah jelas sekali sesuatu yang menunjukkan bahwasanya para sahabat -Rodliallahu Anhum- telah menerima dari Rasulullah tafsiran al-Qur'an, di mana seseorang dari mereka apabila mempelajari sepuluh ayat darinya, ia tidak akan berpindah kepada ayat lain kecuali setelah memahami maknanya dan mengamalkannya.
Abu Abdurrahman as-Sulami -rahimahulloh- berkata [ia merupakan pembesar Tabi'in], "Telah meriwayatkan kepada kami orang-orang yang telah membacakan kepada kami bahwasanya mereka meminta agar dibacakan al-Qur'an oleh Nabi dan bila mereka mempelajari sepuluh ayat mereka tidak akan meninggalkannya hingga mereka mengamalkan isinya maka kami pun mempelajari al-Qur'an dan mengamalkannya secara keseluruhan."
Dan para sahabat -Rodliallahu Anhum- itu bila ada suatu kemusykilan/ketidakfahaman yang mereka dapatkan, mereka bertanya kepada Nabi , seperti ketika turun firman Alloh Subhanahu Wa Ta'ala ,
"Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezhaliman." (Al-An'am: 82)
Maka para sahabat Rasulullah berkata, "Siapakah di antara kami yang tidak menzhalimi dirinya sendiri?" Beliau bersabda,"Tidaklah seperti apa yang kalian katakan, 'Dan mereka tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezhaliman 'maksudnya adalah dengan kesyirikan." [ Al Bukhari no 3360 dan Muslim 2462]
Kemudian yang menjelaskan dan menafsirkannya setelah Nabi -Sholallahu Alaihi Wassalam- yang merupakan sebaik-baik manusia dalam penjelasan-nya dan paling jujur keimanannya dan paling dalam keilmuannya adalah para sahabat (yaitu orang-orang yang dengan mereka tegak-lah al-Qur'an itu, dan dengannya mereka bergerak, dengan mereka al-Qur'an berbicara, dan dengannya mereka berkata, orang-orang yang dianugerahkan oleh Alloh Subhanahu Wa Ta'ala keilmuan dan hikmah yang meru¬pakan keistimewaan mereka terhadap seluruh pengikut para Nabi.
Mereka itulah para sahabatnya -Rodliallahu Anhum- , yang dipilih oleh Alloh Subhanahu Wa Ta'ala di antara seluruh makhluk agar menemani Nabi-Nya selama dua puluh tiga tahun, dan al-Qur'an turun kepada mereka dengan bahasa mereka sendiri yang mereka hidup dengannya maka mereka membelanya dan mengamalkannya.
Dan ahli tafsir yang paling terkenal di antara mereka adalah para khalifah ar-Rasyidun, Ubay bin. Ka'b, Zaid bin Tsabit, Abu Musa al-Asy'ari, Abdullah bin az-Zubair -Rodliallahu Anhum--
Dan yang paling terkenal riwayatnya dalam tafsir adalah Abdullah bin Mas'ud -Rodliallahu Anhu- yang berkata tentang dirinya, "Demi Allah yang tidak ada Ilah yang berhak disembah selain diri-Nya, tidaklah satu surat yang diturunkan dari kitabullah, kecuali saya yang paling tahu di mana ia diturunkan, dan tidaklah satu ayat diturunkan dari kitabullah, kecuali saya paling tahu tentang pembahasan yang di¬turunkan, dan apabila saya mengetahui seseorang yang lebih menge-tahui dariku tentang kitabullah di mana unta mampu sampai kepa-danya, pastilah saya akan menungganginya kepadanya."
Dan Abdullah bin Abbas -Rodliallahu Anhu- adalah ahli tafsir al-Qur'an yang telah didoakan oleh Nabi -Sholallahu Alaihi Wassalam- seraya berkata,
"Ya Allah! pahamkanlah ia dalam agama, dan ajarkanlah ia tafsir"
Ibnu Mas'ud -Rodliallahu Anhu- berkata tentangnya, "Sebaik-baik ahli tafsir al-Qur'an adalah Ibnu Abbas ."
Kemudian tafsir ini setelah para sahabat dilanjutkan oleh para Tabi'in, khususnya para sahabat Abdullah bin Abbas -Rodliallahu Anhu- di Makkah seperti Mujahid, Said bin Jabir dan semisal mereka -rahimahumulloh- . Mujahid ber¬kata, "Saya ajukan sebuah rnushaf kepada Ibnu Abbas dengan tiga kali pengajuan dari pembukaannya hingga penutupnya dan saya menghentikan pada setiap ayat darinya lalu saya menanyakan tentang ayat itu kepadanya". Oleh karena itu, ats-Tsauri berkata, 'Apabila kamu mendapatkan tafsir dari Mujahid, maka cukuplah bagimu."
Syaikh Islam Ibnu Taimiyah -rahimahulloh- berkata, "Oleh karena itulah yang bersandar kepada tafsirnya adalah asy-Syafi'i dan Bukhari serta selain mereka berdua dari para ulama, demikian juga Imam Ahmad dan lain-lainnya dari orang-orang yang mengarang tafsir selalu mengulang-ulang jalan dari Mujahid lebih banyak dari jalan selainnya."
Demikian juga para sahabat Abdullah bin Mas'ud -Rodliallahu Anhu- seperti Alqamah, Masruq dan semisal mereka -rahimahumulloh- , Ibnu Mas'ud berkata, "Tidaklah saya membaca sesuatu dan tidak pula saya mengetahui-nya kecuali Alqamah membacanya dan mengetahuinya."
Dan al-Hafizh Ibnu Hajar -rahimahulloh- memiliki perincian yang memadai yang tidak mungkin dapat ditinggalkan oleh seorang yang membaca buku-buku tafsir agar mengetahui isnad-isnad yang paling populer yang diriwayatkan dari para Tabi'in dan orang-orang setelahnya, beliau menjelaskan dalamnya kondisi orang yang meriwayatkan tafsir dari para Tabi'in dan orang-orang setelahnya.
Maksudnya adalah kita dapat mengetahui bahwasanya para sahabat dan Tabi'in telah menafsirkan al-Qur'an, mereka telah menjelaskan lafazh beserta makna-maknanya, maka kewajiban kita adalah mereferensikan perkataan mereka apabila kita tidak mendapatkan suatu tafsir dari al-Qur'an atau Sunnah. Adapun perselisihan yang terjadi di antara mereka dalam hal ini sangat sedikit sekali, bahkan jarang terjadi, dan sebagian besar perselisihan yang ada di antara mereka itu adalah perselisihan bentuk dan bukan perselisih¬an yang saling bertentangan, hal ini sebagaimana disebutkan dan dijelaskan oleh syaikh Islam Ibnu Taimiyah -rahimahulloh- pada "Muqaddimah at-Tafsir".
PIS tafsir ibnu katsirKemudian para ulama memfokuskan perhatiannya kepada kompilasi agar dapat mengumpulkan tafsir-tafsir para sahabat adapun para Tabi'in yang bersandar kepada mereka seperti Ibnu Jarir ath-Thabari, Ibnu al-Mundzir, Ibnu Abi Hatim, dan Abd bin Humad. Ibnu Hajar berkata, "Tafsir-tafsir yang empat ini sedikit sekali ada sesuatu yang menyimpang dalam tafsir yang marfu' dan mauquf pada para sahabat dan maqthu' dari para Tabi'in."
Kemudian berturut-turutlah setelah itu para ulama mengarang tafsir dengan perbedaan-perbedaan yang ada di antara mereka da¬lam madzhab-madzhab mereka, akidah-akidah mereka, dan perhatian ilmiah mereka. Dan di antara mereka yang mengarang dalam bidang itu adalah Abu Muhammad bin al-Husain al-Baghawi yang meninggal pada tahun 516 H, Abu al-Faraj Abdurrahman bin al-Jauzi yang meninggal pada tahun 596 H, Abu Abdullah Muham¬mad bin Umar ar-Razi yang meninggal pada tahun 606 H, Abu Abdullah Muhammad bin Ahmad al-Qurthubi yang meninggal pada tahun 671 H, Abu Abdullah Muhammad bin Yusuf bin Hayyan an-Nahwi al-Andalusi yang meninggal pada tahun 745 H, al-Hafizh Imaduddin Abu al-Fida' Ismail bin Umar bin Katsir yang meninggal pada tahun 774 H, dan ulama lain setelah masa tersebut.
Tafsir Ibnu Katsir adalah salah satu kitab tafsir yang kandungan isinya tidak dibaurkan dengan ilmu lain. Dengan demikian, tafsir ini diharapkan dapat mencapai tujuan yang tinggi dan mulia, yaitu menyampaikan maksud firman Allah Ta'ala melalui manhaj yang lurus dan valid serta jalan pemahaman ulama Salafush Shalih yaitu penafsiran al-Qur-an dengan al-Qur-an, penafsiran al-Qur-an dengan hadits, dengan merujuk kepada pendapat para ulama Salafush Shalih dari kalangan para Sahabat dan Tabi'in dengan konsep dan kaidah bahasa Arab. kemudian DR. 'Abdullah bin Muhammad bin 'Abdurrahman bin Ishaq Alu Syaikh meringkas kitab ini dan memberi nama "Lubaabut Tafsiir". Dalam melakukan peringkasan kitab ini, beliau meiihat cara terbaik adalah dengan membiarkan apa adanya kalimat-kalimat yang ditulis oleh Ibnu Katsir sendiri, dan menghilangkan beberapa hal yang dianggap tidak perlu, seperti cerita. hadits-hadits dha'if, dan lain sebagainya.
Setelah dilakukan peringkasan, beliau melakukan beberapa penambahan:
1. Penafsiran tiga ayal dari surat al-Maidah. Nomor ayat-ayat tersebut adalah 97,98,99, dan akhir dari ayat 96.
2. Mentakhrij lebih dari 300 hadits yang dikemukakan penulis tafsir ini (Ibnu Katsir) tanpa ada komentar darinya.
3. Menisbatkan qira'at dan riwayatnya kepada para tokohnya secara rinci dan teliti, yang oleh penulis buku ini disampaikan secara ijmal (ringkas).
4. Menafsirkan lafadz-lafadz yang ditulis dalam kitab ini yang sulit difahami maksudnya oleh para penuntut ilmu.
5. Melakukan ralat terhadap sedikit kesalahan dalam kitab berkenaan dengan qira'at atau pun yang lain.

 

Harga dari penerbit Rp 1.400.000, Harga Kami Rp 1.100.000 saja

( anda hemat Rp 300.000), blm oks kirimnya

 pemesanan : Email : Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya. sms, WA, LINE, Telegram  : 0819.2469.325 ( pastikan  tulis nama, alamat lengkap )

 

 


Info tambahan

  • Judul Asli: Lubaabut Tafsiir
  • Penulis: Imam Ibnu Katsir - rahimahullah-, peneliti : Dr. Abdullah bin Muhammad bin 'Abdurrahman bin Ishaq Alu Syaikh
  • Dimensi Buku: Buku ukuran sedang 17 x 24 cm
  • Tipe Cover: Hardcover
  • Jumlah Halaman: -
  • Bahasa: Indonesia
  • ISBN: -
  • Penerbit: Pustaka Imam Syafii
  • Harga: Rp 1.400.000 diskon jadi Rp 1.100.000
  • Cara Pemesanan: pemesanan : Email : Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya. ; sms, WA, LINE, Telegram : 0819.2469.325 ( pastikan tulis nama, alamat lengkap )

Apa Kata Mereka ?