• Hotline: (+62) 819.2469.325
Kategori Buku

toko buku islam muslim jual buku Asmaul Husna : Dilengkap dengan cara bertawassul dengan asmaul husna saat berdoa dan berdzikir

Harga: Rp 75.000  Rp 60.000

- +

Sesungguhnya sarana yang paling mulia, paling tinggi dan paling kuat bagi seorang hamba dalam mendekatkan dirinya ke-pada Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- ialah dengan melalui Asmaa-ul Husnaa (Nama-Nama-Nya yang baik). Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- telah memerintahkan kita untuk berdo'a dengan menggunakannya, sebagaimana firman-Nya:
"Hanya milik Allah Asmaa-ul Husnaa, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asmaa-ul Husna itu, dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Kelak mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan." (QS. Al-A'raaf: 180)
Dalam ash-Shahiihain diriwayatkan dari Abu Hurairah -Rodliallohu Anhu- bahwa Rasulullah -Sholallahu Alaihi Wassalam- bersabda:
"Sesungguhnya Allah memiliki 99 nama, seratus kurang satu. Barangsiapa menguasainya (Yakni hafal dan mengerti maksudnya, serta berusaha mengamalkannya) maka ia akan masuk Surga.” [HR. Al-Bukhari (no. 7392) kitab at-Tauhid, bab 12, dan Muslim (no. 2677) kitab adz-Dzikri wad Du'a, bab 2, dari Abu Hurairah -Rodliallohu Anhu- ] Imam Ibnul Qayyim -rahimahulloh- berkata, "Ilmu tentang Nama-Nama Allah serta memahaminya merupakan pangkal atau pokok dari ilmu-ilmu lainnya. Barangsiapa memahami Nama-Nama Allah ini sebagaimana yang dikehendaki Allah, maka ia telah menguasai seluruh ilmu. Hal ini karena pemahaman terhadap Nama-Nama Allah ini merupakan dasar untuk mcmahami seluruh ilmu. Sebab seluruh ilmu itu meru¬pakan hasil akhir yang ditunjukkan oleh Nama-Nama Allah, dan sangat erat kaitannya dengan Asmaa-ul Husna.” [Badaa-i'ul Fawaa-id (I/171).
Imam Ibnul Qayyim -rahimahulloh- dalam kitab yang sama beliau menyebutkan tiga tingkatan dalam memahami Asmaa-ul Husna, yang dengan sebab pemahaman terhadap ketiga tingkatan inilah seseorang dijamin masuk Surga:
1. Menghafal lafazh-lafazhnya serta hitungannya.
2. Memahami makna-maknanya serta arahan-arahannya.
3. Berdo'a dengannya.
Telah kita pahami bersama bahwa para ulama meskipun mereka berbeda pendapat dalam beberapa hal, namun mereka sepakat bahwa tidak boleh menamai Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- atau mengabarkan tentang sifat-sifat-Nya, kecuali dengan nama atau sifat yang diberitakan Allah dalam Kitab-Nya, atau melalui lisan Rasul-Nya , tanpa penambahan, pengurangan, atau melebihi apa yang dinyatakan dalam al-Quran atau al-Hadits. Untuk menentukan Nama-Nama Alloh ini, kita wajib menggunakan nash dari al-Qur-an dan hadits-hadits yang shahih, karena masalah Nama-Nama Allah ini merupakan masalah tauqiifiyyah, di mana akal manusia tidak berkompeten untuk menentukannya. Akal manusia semata tidak akan mampu un¬tuk mengenal Nama-Nama Alloh yang sesuai dengan keagungan-Nya. Akal pun tidak akan mampu untuk menggapai apa yang menjadi hak Rabbul 'Alamin yang berupa sifat-sifat-Nya yang serba sempurna dan serba indah. Maka menamai Alloh Yang Mahamulia dan Mahaagung dengan suatu nama yang tidak difirmankan oleh-Nya merupakan suatu ucapan mengenai Allah tanpa landasan ilmu. Dan tindakan seperti ini diharamkan oleh Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- atas hamba-hamba-Nya.
Imam Ibnu Hazm -rahimahulloh- berkata; "Tidak diperbolehkan menamai Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- atau mengabarkan tentang Nama-Nama-Nya, kecuali dengan apa yang Allah namakan bagi Diri-Nya sendiri dan apa yang Dia kabarkan tentang diri-Nya di dalam Kitab-Nya, atau melalui lisan Rasul-Nya . Atau paling tidak, melalui kesepakatan yang sah dari semua ulama Islam yang berkompeten dalam hal ini, tidak lebih dari itu. Bahkan, hal ini tetap tidak boleh, meskipun makna lafazh dari nama yang disandarkan kepada Allah itu benar. Jika tidak memenuhi ketentuan di atas, maka lafazh tersebut tidak boleh dimutlakkan sebagai nama Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- .
Sebagai contoh, kita telah mengetahui dengan yakin bahwa Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- telah membangun langit. Lalu Dia berfirman:
“Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami)..."(QS. Adz-Dzaariyat: 47)
Namun kita tidak boleh menamai-Nya dengan Banna’u (Yang Maha Membangun). Demikian pula, kita mengetahui dengan yakin bahwa Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- telah menciptakan beraneka warna tumbuhan dan hewan. Dan Allah Ta'ala telah berfirman:
"Shibghah (celupan) Allah. Dan siapakah yang lebih baik shibghah-nya daripada Alloh Azza Wa Jalla ?..." (QS. Al-Baqarah: 138)
Namun kita tidak boleh menamai-Nya dengan Shobaagh (Yang Maha Pencelup).
Kita pun mengetahui bahwa Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- menurunkan hujan dari langit dan mengeluarkan air dari bumi untuk minum kita. Namun kita tidak boleh menamai-Nya' dengan Saqqo atau Saqii (Yang Maha Pemberi Minum).
Dan demikian pula, kita tidak boleh menamai-Nya dengan sesuatu nama yang Allah Ta'ala sendiri tidak menamai Diri-Nya dengan nama tersebut. [lihat : Al-Fashlu fil Milal wal Ahwaa wan Nihal (11/108)] Imam Nawawi -rahimahulloh- berkata, "Nama-Nama Allah itu bersifat tauqiifiyyah, tidak boleh ditetapkan kecuali dengan dalil yang sha¬hih.” [Syarh an-Nawawi (VII/188) ] al-Ghazali -rahimahulloh- pun berargumen bahwa Asmaa-ul Husnaa mi telah disepakati bersifat tauqiifiyyah. Kita tidak boleh menamai Rasulullah -Sholallahu Alaihi Wassalam- kecuali dengan nama yang telah diberikan oleh ayah-nya, atau dengan nama yang beliau sendiri telah menamakan dirinya dengan nama itu, dan demikian pula halnya terhadap orang-orang besar lainnya. la berkata, "Jika yang demikian itu terlarang bagi hak makhluk, maka bagi hak Allah hal tersebut lebih terlarang lagi.” [lihat : FathulBaari (XL/223) ] Imam as-Suyuthi -rahimahulloh- berkata, "Ketahuilah bahwa Nama-Nama Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- itu bersifat tauqiifiyyah, dengan pengertian bahwa tidak diperkenankan untuk memutlakkan suatu nama (bagi Allah), selama tidak ada izin Syara', meskipun makna yang dimaksudkan-nya telah dijelaskan.” [Syarh Sunan Ibni Majah (1/275)] Abul Qasim al-Qusyairi -rahimahulloh- , berkata, "Nama-Nama Allah itu diambil secara tauqiifiy dari al-Kitab, as-Sunnah dan Ijma'. Maka setiap nama yang bersumber dari al-Kitab, as-Sunnah dan Ijma', yang menerangkan Nama-Nama Allah, wajib memutlakkannya di dalam mensifati-Nya. Selain dari yang demikian, maka tidak boleh dimutlak-kan untuk mensifati-Nya, sekalipun maknanya benar.”[ lihat : Subulus Salaam (IV/ 109)] Ibnul Wazir al-Murtadha -rahimahulloh- berkata, "Nama-Nama Allah dan sifat-sifat-Nya bersifat tauqiifiyyah syar'iyyah. Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- terlalu Mulia untuk digambarkan atau ditentukan (tentang nama dan sifat-Nya) oleh hamba-hamba-Nya yang jahil menurut apa yang mereka pahami. Maka tidak boleh menamai Allah , misalnya dengan Rabbul Kilaab wal Khanaazir (artinya: Rabb bagi anjing-anjing dan babi-babi) atau dengan yang seumpamanya yang tidak diizinkan syara'. Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- hanya boleh dinamai dengan nama yang Dia sendiri telah menamai Diri-Nya dengan nama tersebut.” [lihat : Iitsaarul Haqq(I/314].
Penegasan para ulama tentang kaidah Asmaa-ul Husnaa seperti yang telah disebutkan sebagiannya di atas sangatlah banyak, Semuanya menunjukkan pemahaman 'aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah yang menyatakan bahwa Asmaa-ul Husnaa itu bersifat tauqiifiyyah, dan bahwa penetapannya harus berdasarkan nash yang shahih, yang dengan tegas menyebutkan lafazh Nama Allah tersebut di dalamnya.
Maka berdasarkan kenyataan ini, pembahasan tentang As-maa-ul Husnaa dalam buku ini bertujuan untuk menghimpun, memahami makna-maknanya, menghafalkan, dan berdo'a dengannya. Jadi tujuannya bukan untuk membuat-buat Nama-Nama Allah yang baru berdasarkan lafazh ayat atau hadits.
Dan tujuan pokok buku ini bukan untuk memperdalam masalah-masalah seputar Asmaa-ul Husnaa, seperti apakah yang dimaksud dengan Asmaa-ul Husnaa yang dianjurkan bagi kita untuk berdo'a kepada Allah dengannya.

KETETAPAN YANG DISEPAKATI MENUNJUKKAN KEPADA JUMLAH 99
Sesungguhnya yang telah disepakati ketetapannya, dan telah dishahihkan dari hadits Rasulullah -Sholallahu Alaihi Wassalam- tentang hal ini, menunjukkan bahwa jumlah Asmaa-ul Husnaa ini adalah 99. Inilah yang diriwayatkan dalam Shahiihain dari Abu Hurairah -Rodliallohu Anhu- . Akan tetapi tidak diketahui dari Nabi bahwa beliau pernah menentukan Nama-Nama-Nya tersebut (yang 99) dalam satu nash saja.
Dan hal ini tidak samar di kalangan para ulama yang dalam ilmu-nya, baik ulama-ulama dahulu, maupun ulama-ulama muta-akhkhirin sekarang ini, dan terutama lagi di kalangan para ahli hadits.
Jika demikian kenyataannya, kenapa muncul Nama-Nama Allah, yang selanjutnya diklaim sebagai Asmaa-ul Husnaa yang telah dihafal oleh kaum muslimin sejak berabad-abad yang lalu hingga sekarang ?

ADA TIGA PERAWI HADITS YANG BERIJTIHAD DALAM MENGHIMPUN ASMAA-UL HUSNAA
Di penghujung abad kedua dan di awal abad ketiga Hijriyah, tiga orang perawi hadits telah berusaha untuk menghimpun Asmaa-ulHusnaa. Mereka melakukannya dengan dua hal; (pertama) beristinbath dari al-Qur-an dan as-Sunnah, atau (kedua) mereka mengambilnya dari pendapat ulama-ulama lain yang sezaman dengan mereka.
Perawi pertama, yang paling terkenal dan menjadi pionir dalam pengumpulan Asmaa-ul Husnaa ini adalah al-Walid bin Muslim maula (mantan budak) Bani Umayyah (wafat tahun 195 H). Menurut ulama-ulama ahli al-Jarh dan at-Ta'diil ia adalah seorang yang sering melakukan tadliis dalam meriwayatkan hadits [lihat : Imam Ibnu Hajar dalam Taqriibut tahdziib (II/336)]Perawi kedua adalah 'Abdul Malik ash-Shan'ani. Menurut para ulama ahli al-Jarh dan at-Ta'diil, ia adalah salah seorang perawi hadits, di mana hadits-hadits yang diriwayatkannya tidak boleh dijadikan hujjah, karena ia sendiri termasuk pembuat hadits-hadits palsu. [Lihat : Imam Adz Dzahabi dalam Al Kaasyif (II/214]Adapun perawi ketiga adalah 'Abdul 'Aziz bin al-Hushain.
la pun dinilai lemah, karena hafalannya banyak yang hilang, sebagaimana disebutkan oleh Imam Muslim [ Lihat : Adh Dhu’afa wal Matruukiin (II/109]Masing-masing dari ketiga orang ( dinilai lemah oleh Ulama Ahli hadits) ini telah bersusah payah (berijtihad sendiri) mengumpulkan Nama-Nama Allah hingga mendekati angka 99.
Kemudian mereka menafsirkan hadits Abu Hurairahyang mengisyaratkan angka 99 tersebut dengan Nama-Nama Allah yang mereka kumpulkan tersebut.
Nama-nama Asmaul Husna versi mereka inilah yang tersebar dan banyak dihafal oleh sebagian besar muslimin sampai saat ini. ( Apa saja nama Asma Al Husna versi mereka ini?, anda bisa lihat dalam buku ini).

ASMAA-UL HUSNAA YANG DIHIMPUN AL-WALID INI TIDAK KONSISTEN, AKAN TETAPI TERKADANG BERUBAH-UBAH DALAM PENYAMPAIANNYA
Kita akan melihat mengapa Asmaa-ulHusnaa yang diriwayatkan al-Walid ini begitu terkenal?!
Al-Walid sering kali mengungkapkan hadits Abu Hurairah -Rodliallohu Anhu- yang muttafaq 'alaih [Hadits yang diriwayatkan secara bersama-sama oleh al-Bukhari dan Muslim ] yang secara umum memerintahkan untuk menguasai 99 Nama-Nama Allah. Kemudian dalam pengungkapan-nya kepada manusia, ia selalu melanjutkan pembicaraannya dengan menyebutkan hasil ijtihadnya dalam menghimpun Nama-Nama Allah tersebut. Jadi Nama-Nama Allah yang ia sebutkan adalah bukan kelanjutan hadits Rasulullah -Sholallahu Alaihi Wassalam- , akan tetapi hanya semacam penafsiran seseorang terhadap hadits tersebut.
Oleh karena itulah, uraian Nama-Nama Allah ini diriwayatkan darinya langsung setelah sabda Rasulullah -Sholallahu Alaihi Wassalam- , tersebut (dalam hadits dari Abu Hurairah). Dengan kata lain, untaian Nama-Nama Allah hasil ijtihad al-Walid ini dilekatkan dan disambungkan dengan hadiits an-Nabawi (sabda Nabi). Dan setelah itu kebanyakan manusia mengira bahwa untaian Nama-Nama Allah itu adalah nash dari sabda Nabi -Sholallahu Alaihi Wassalam- , sehingga mereka menghafalnya, dan tersebar di kalangan orang-orang awam maupun di kalangan terpelajar, sampai sekarang.
Dan ketika Imam at-Tirmidzi mencantumkan untaian Nama-Nama Allah tersebut setelah menyebutkan hadits Nabi (riwayat Abu Hurairah tersebut) dalam kitab Sunan-nya, maka beliau pun memperingatkan manusia tentang keganjilan untaian Nama-Nama Allah tersebut. Keganjilan yang beliau maksudkan adalah ke-dha'if-annya, yakni ketidakbenaran akan adanya untaian tersebut dari lisan Nabi -Sholallahu Alaihi Wassalam- Sebagaimana hal itu ditegaskan oleh Syaikh al-Albani -rahimahulloh- .
Bahkan di antara hal yang mengherankan yang tidak diketahui oleh banyak orang bahwa serangkaian Nama-Nama Allah yang disampaikan oleh al-Walid itu tidak konsisten, selalu berubah-ubah pada setiap kesempatan penyampaiannya, (tidak selalu persis dari satu periwayatan dengan periwayatan lainnya). Akan tetapi apa yang ia sampaikan kepada manusia dari hasil ijtihadnya beragam, dari suatu pertemuan ke pertemuan berikutnya.
Dalam untaian 99 Nama-Nama Allah yang diriwayatkan oleh ath-Thabrani darinya, terdapat Nama Al Qooim (Yang Maha Berdiri/ Mengurus makhluk), dan Ad Daaim(Yang Kekal Abadi), sebagai peng-ganti urutan Nama Al Qoobidl (Yang Maha Menahan) dan Al Baasith (Yang Maha Melapangkan), yang terdapat di dalam riwayat at-Tirmidzi yang masyhur. Demikian pula Ar Rasyiid (Yang Maha Membimbing) diganti dengan Asy Syadiid (Yang Mahakeras). Demikian pula Al A’la (Yang Mahatinggi), AL Muhiith (Yang Maha Meliputi), dan Al Maalik (Yang Maha Merajai) menggantikan posisi Nama Al Waduud (Yang Mahapengasih), Al Majiid (Yang Mahamulia), dan Al Hakiim (Yang Mahabijaksana).
Selain itu, dalam urutan 99 Nama-Nama Allah yang diriwayat¬kan Imam Ibnu Hibban, al-Walid menempatkan Nama Ar Raafi’(Yang Maha Meninggikan) di posisi Nama Al Mani’ (Yang Maha Menahan), yang ter-dapat dalam riwayat at-Tirmidzi.
Sedangkan dalam Riwayat Imam Ibnu Khuzaimah, lafazh Al Haakiim (Yang Mahabijaksana) menggantikan posisi Nama Al Hakiim(Yang Mahabijaksana), dan juga lafazh Al Qoriib (Yang Mahadekat) menggantikan lafazh Ar Raqqib (Yang Maha Mengawasi). Juga lalazh Al Maula (Yang Maha Pelindung), menggantikan posisi Nama Al Waalii(Yang Maha Pelindung), dan lafazh Al Ahad (Yang Mahatunggal) menggantikan Nama Al Ghonii (Yang Mahakaya).
Pada hadits yang diriwayatkan oleh al-Baihaqi, al-Walid mengganti posisi Nama Al Muqiit (Yang Maha Memberi rizki kepada semua makhluk) dengan lafazh Al Maghiits (Yang Maha Menolong). Dan diri-wayatkan pula dari al-Walid beberapa riwayat yang redaksinya berbeda dengan apa yang diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, pada 23 Nama-Nama Alloh Azza Wa Jalla[ lihat : Fathul Baari (XI/216)]Dan yang sangat mengherankan adalah bahwa urutan Nama-Nama Allah yang diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi-lah yang terkenal dikalangan manusia (sampai sekarang).

PARA IMAM AHLI HADITS TELAH BERSEPAKAT BAHWA TIDAK ADA HADITS SHAHIH YANG MERINCI 99 NAMA-NAMA ALLAH YANG TERKENAL ITU
Maksudnya, Nama-Nama Allah yang dihafalkan oleh orang banyak bukanlah bersumber dari nash yang merupakan sabda Nabi -Sholallahu Alaihi Wassalam- . Nama-Nama Allah tersebut sebenarnya hanya sesuatu yang di¬lekatkan dan disatukan kepada hadits Nabi. Dalam istilah ahli-ahli hadits, hal seperti itu dinamakan mudrajah (sesuatu di luar hadits Nabi yang dimasukkan ke dalam sabda beliau ). Sedangkan hadits Nabi sendiri sebatas kalimat:
"Sesungguhnya Allah memiliki 99 Nama, seratus kurang satu, barangsiapa menguasainya (hafal dan mengerti maksudnya, serta berusaha mengamalkannya), maka ia akan masuk Surga.” [HR. Al-Bukhari (no. 7392) kitab at-Tauhid, bab 12, dan Muslim (no. 2677) kitab adz-Dzikri wad Du'a, bab 2, dari Abu Hurairah -Rodliallohu Anhu- ] Kenyataan ini akan terasa asing bagi umumnya manusia. Namun tidak demikian bagi para ulama, khususnya ulama ahli hadits.
Imam Ibnu Hajar -rahimahulloh- berkata, "Yang jelas, urutan 99 Nama-Nama Allah itu adalah tambahan yang dimasukkan oleh para perawi ke dalam hadits Nabi .” [ lihat : Buluughul Maraam, hal. 346] Al-Amir Imam ash-Shan'ani -rahimahulloh- (penulis kitab Subulus Salaam] ber¬kata, "Ulama ahli hadits telah bersepakat bahwa urutan 99 Nama-Nama Allah itu adalah sesuatu (yang bukan hadits) yang dimasukkan oleh sebagian perawi ke dalam hadits Nabi” [ Lihat : Subulus Salaam (IV/108) ] Tentang urutan 99 Nama Allah yang terdapat dalam riwayat at-Tirmidzi dan Ibnu Majah, Imam Ibnu Taimiyyah -rahimahulloh- berkata, "Parapakar di bidang hadits telah sepakat bahwa kedua riwayat ini bukanlah sabda Nabi, melainkan hanya perkataan sebagian kaum Salaf” . [lihat : Daqaa-iqut Tafsiir (11/473) ]Ibnu Taimiyyah -rahimahulloh- berkata pula, "Tidak ada hadits shahih yang menerangkan urutan 99 Nama-Nama Allah ini. Adapun yang masyhur di kalangan manusia tentang urutan ini adalah hadits ri¬wayat at-Tirmidzi, di mana perawinya, yakni al-Walid bin Muslim, meriwayatkan dari Syu'aib dari Abu Hamzah. Ulama ahli hadits mengatakan bahwa tambahan (yang berupa urutan 99 Nama Allah tersebut) adalah hasil pengumpulan al-Walid bin Muslim dari guru-gurunya yang ahli hadits. Dan dalam hal ini ada hadits kedua, yakni riwayat Ibnu Majah, yang lebih dha'if dari hadits yang pertama. Dan mengenai urutan 99 Nama Allah ini, telah diriwayatkan hadits-hadits selain dua riwayat ini (at-Tirmidzi dan Ibnu Majah), semuanya merupakan hasil himpunan dari sebagian Salaf.” [ lihat : 'Al-Fataawal Kubraa (1/217)] Beliau juga menyatakan bahwa jika 99 Nama Narria Allah itu harus di urutkan, dan pengurutannya berdasarkan riwayat at-Tirmidzi misalkan, maka dalam kenyataannya banyak ditemukan di dalam al-Quran dan as-Sunnah, Nama-Nama Allah yang tidak tercantum dalam hadits at-Tirmidzi tersebut.
Contohnya Nama Ar Rabb (Ialah Yang Mencipta, Mengurus, Menunjuki, Memiliki semua makhluk), Nama ini tidak terdapat dalam hadits at-Tirmidzi, padahal do'a-do'a yang ma'tsur banyak menggunakan Nama ini.
Demikian pula Nama Al Mannan (Yang Maha Menganugerahi kenikmatan), Al Witr (Yang Satu, Yang Tunggal), Ath Thayyb (Yang Mahabaik), As Subbuh (YangMahasuci), Asy Syaafii (Yang Maha Menyembuhkan). Semuanya terdapat dalam hadits-hadits yang shahih.
Pembahasan yang berkaitan dengan masalah ini cukup panjang [ Lihat : Al fatawa Al Kubro I/217] Lebih dari seribu tahun Asmaa-ul Husnaa dengan urutan seperti ini dihafal manusia, disenandungkan oleh setiap orang yang melantunkannya, dan ditulis di dinding-dinding setiap masjid.
Ketika keadaannya seperti ini, maka tidak boleh tidak, harus ada suatu peringatan terhadap berjuta-juta kaum muslimin, untuk menerangkan mana saja Nama-Nama Allah yang tsabit (ditetapkan dengan dalil Shaih yang diterima ), dan mana saja yang tidak tsabit.
Tujuan lain agar mereka mengetahui Nama-Nama Allah yang Shahih yang terdapat di dalam al-Kitab dan as-Sunnah. Dan juga agar mereka dapat mengetahuinya dengan mudah.
Dalam buku ini akan disebutkan dalil-dalil dan makna-maknanya, serta bagaimana kita berdo'a kepada Allah dengan menggunakan Asmaa-ul Husna (yang Shahih) ini.

Detail Info Buku
Bahasa Indonesia
Format Cover hardcover
Judul Asli Ad Du’aa bil Asmaa il Husnaa
Judul Buku Asmaul Husna : Dilengkap dengan cara bertawassul dengan asmaul husna saat berdoa dan berdzikir
Jumlah Halaman 450 hlm
Penerbit / Publisher Pustaka Ibnu katsir
Penulis Dr. Mahmud Abdurraziq Ar Ridhwani
Ukuran Fisik Buku Buku ukuran sedang 15.5 x 23.5 cm