• Hotline: (+62) 819.2469.325
Kategori Buku
Pustaka Imam Syafii Intisari Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jamaah Penulis : Abdulloh bin Abdul Aziz Al Atsari; Penerbit : Pustaka Imam Asy Syafii .. Product #: PIS-00020 Regular price: Rp 40.000 Rp 40.000

Intisari Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jamaah

Sebelum diutus Muhammad - Sholallahu Alaihi Wassalam - , manusia berada dalam keadaan Jahiliyyah (yang sangat parah). Mereka hidup dalam kegelapan baik berupa kesyirikan maupun kebodohan. Khurafat telah melanda mereka, perselisihan dan pertengkaran kesukuan telah menyebabkan sebagian suku menjadikan budak sebagian yang lain, bahkan sebagiannya tega membunuh sebagian yang lain. Mereka hidup dalam keterbelakangan, kebiadaban, dan perselisihan.
Kemudian tatkala Allah mengizinkan agar cahaya Islam muncul, Dia pun mengutus Muhammad untuk menyerukan kepada manusia bahwa "Tidak ada ilah yang berhak diibadahi kecuali Allah." Beliau telah membawa tauhid yang merupakan hak Allah atas para hamba-Nya. Tauhid juga merupakan tujuan yang paling agung dari penciptaan makhluk, sebagaimana dalam firman-Nya:
"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka menyembah-Ku." (QS. Adz-Dzaariyaat: 56)

Oleh karena itu, diutuslah para Rasul, diturunkannya Kitab-Kitab, dan disyari'atkan jihad. Selama tiga belas tahun di Makkah Nabi menyeru kepada tauhid, menanamkannya dalam jiwa orang-orang, membangun dasar-dasar keimanan dalam lubuk hati mereka, dan meneguhkan pilar-pilar keimanan dalam sanubari mereka sehingga menjadi jelas dan terang jalannya, baik bagi orang yang berjalan di atasnya maupun orang yang berkeinginan menempuh jalannya. Setelah itu, Allah menampakkan kebenaran dan menumpas kebathilan. Sungguh, cahaya tauhid yang murni itu dapat menerangi hati. Dengan cahaya itu pula tampaklah bahaya kemusyrikan dan hilanglah nodanya.

Sesungguhnya ketika Nabi Muhammad - Sholallahu Alaihi Wassalam - datang, keadaan hati manusia bagaikan tanah yang sangat tandus. Kemudian beliau mengairinya dengan siraman tauhid, mengalirinya dengan mata air ikhlas, dan membimbingnya agar beribadah kepada Allah dengan dasar mutaba'ah (mengikuti petunjuk Rasulullah ). Maka dari itu tumbuh dan bersemilah bumi itu sehingga dapat menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah. Ummat pun mendapatkan kemuliaan setelah mengalami kehinaan, mencapai persatuan setelah sebelumnya dalam perselisihan, dan menjadi menang setelah sebelumnya menderita kekalahan.

'Aqidah ini tetap dalam keadaan jernih, bersih, dan suci sampai apabila Allah - Subhanahu Wa Ta'ala - menetapkan suatu perintah yang pasti akan terlaksana. Maka masuklah orang yang tidak pernah hatinya tersentuh oleh tauhid yang murni ke dalam agama Allah. Kemudian, terjadilah pada manusia kerancuan, timbullah banyak perselisihan, aliran-aliran sesat dan pemahaman-pemahaman yang bathil menjadi marak berkembang, fitnah muncul di mana-mana, dan berbagai macam bid'ah merajalela. Akibatnya ketika pandangan manusia sudah cenderung kepada yang bathil, hatinya pun naik menyesak sampai ke tenggorokan, sehingga kaum Muslimin mendapat bencana serta diguncangkan (hatinya) dengan guncangan yang keras. Maka Allah akan mentakdirkan munculnya pemimpin-t'tnimpin yang dapat memberikan petunjuk dan pelita liidup, yang dapat mengembalikan manusia kepada pelita kcnabian dan benteng keimanan, serta mampu membuka tabir kebathilan dan membantah syubhat para pendusta lalu mengembalikan mereka kepada manhaj Salafush Shalih.

Sesungguhnya orang yang memperhatikan dengan teliti tentang sejarah ummat Islam, pasti akan melihat bahwa kemuliaan ummat Islam, ketinggian derajatnya, kemenangan-nya, dan ketundukan ummat-ummat lain kepadanya berhubungan erat dengan kejernihan 'aqidahnya, keikhlasannya mengikuti syari'at Allah dan mengikuti sunnah Nabi berjalannya di atas manhaj Salafush Shalih, berkumpulnya dalam majelis ilmu untuk mempelajari al-Qur-an dan as-Suiinah dengan para ahli ilmu agama (ulama) dan tidak ada perselisihan di antara mereka dalam hal tersebut. Adapun kehinaan ummat ini, kelemahannya, keterbelakangannya, dan penindasan ummat-ummat lain atas mereka terkait dengan tersebarnya bid'ah dalam agama, perbuatan syirik dengan menjadikan (Rabb) tandingan maupun sekutu selain Allah, dan banyaknya golongan sesat yang muncul, serta sikap ketidaktaatan kepada para Imam (pemimpin).

Sesungguhnya faktor yang memecah belah ummat dan melemahkan serta mematahkan kekuatannya adalah penyelewengan 'aqidah, penyimpangan dari manhaj Salafush Shalih, dan penipuan dengan ucapan manis dari para tokoh madzhab yang menyimpang. Fakta telah membuktikan hal tersebut. Maka tidak ada solusi lain, kecuali dengan kembali kepada apa yang telah ditempuh oleh Nabi para Sahabatnya, Dan para ulama Ahlus Sunnah wal Jama'ah. Generasi terakhir dari ummat ini tidak akan mengalami kejayaan, kecuali dengan mencontoh generasi yang pertama. Keengganan terhadap jalan tauhid dan kebencian terhadap manhaj Salafush Shalih menyalahi prinsip keadilan dan bertentangan dengan akal.
Allah Ta'ala berfirman:
"Sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul-Rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka al-Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan ...." (QS. Al-Hadiid: 25)

Keadilan yang paling agung adalah tauhid, ia merupakan pokok dan sendi keadilan, sedangkan kezhaliman yang paling besar adalah syirik. Allah Ta'ala berfirman tentang nasihat Luqman kepada anaknya:
... Hai anakku janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezhaliman yang besar." (QS. Luqman: 13)

Kebohongan yang paling besar adalah syirik (memper-sekutukan Allah), padahal Dialah yang menciptakanmu.
Allah - Subhanahu Wa Ta'ala - telah memerintahkan manusia untuk berbuat kebaikan dan melarang berbuat kerusakan, sesuai dengan firman-Nya:
"Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdo'alah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada onmg-orangyang berbuat baik.33 (QS. Al-A'raaf: 56)

Merupakan tindakan perusakan yang sangat keji adalah merusak 'aqidah, ideologi, dan pemikiran manusia. Termasuk didalamnya juga memutuskan jalan bagi mereka menuju Allah dan menyelewengkan mereka dari fitrah yang telah diciptakan-Nya, seperti dalam hadits:
"Setiap bayi dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua orangtua-nya lah yang menjadikan dia beragama Yahudi, Nasrani, atau Majusi." (HR. Muslim)

Hal itu dikuatkan lagi oleh sabda Nabi - Sholallahu Alaihi Wassalam - ,
"Ingatlah, sesungguhnya Rabbku telah memerintahkanku untuk mengajari kalian apa yang tidak kalian ketahui dari apa yang Dia ajarkan kepadaku pada hari ini, yakni semua yang telah aku berikan kepada seorang hamba adalah halal. Sesungguhnya Aku (Allah) telah menciptakan hamba-hamba-Ku dalam keadaan lurus (tauhid). Kemudian, mereka didatangi syaitan yang mengalihkan mereka dari agamanya. Syaitan itu mengharamkan apa yang telah Aku halalkan bagi mereka dan menyuruh mereka agar mempersekutukan-Ku, padahal tidak pernah Aku menurunkan bukti apa pun tentang hal ini ..." (HR. Muslim)

Tidak diragukan bahwa hal ini merupakan kezhaliman yang sangat besar lagi keji. Bagaimana tidak, karena akibatnya akan menjadikan pelakunya orang yang merugi di dunia dan akhirat.

Akhir-akhir ini, ketika terjadi banyak perubahan, dunia dihiasi oleh para ahli pidato, ahli bid'ah telah membuka kedok jati dirinya sendiri; sehingga tersebarlah bid'ah mereka, dihidupkan kembali madzhab nenek moyang mereka (yang menyimpang dari syari'at) setelah pudar ditelan zaman dan digali lagi buku-buku mereka setelah dilupakan, muncul pcmikiran-pemikiran yang baru lagi menyimpang, dan timbulnya jamaah-jamaah modern yang berbeda dalam maksud dan orientasinya yang sekaligus memiliki kontradiksi dalam tujuan dan sarana perjuangannya. Setiap muncul jamaah atau kclompok baru pasti dicela dan dilaknat oleh yang lainnya. Scmentara ada sekelompok orang yang dengan angkuh melampaui batas terhadap tegaknya at-Tauhid dan as-Sunnah. Mereka meracuni pikiran manusia, merusak 'aqidahnya, mrremehkan perkara syirik, menghembus-hembuskan brrbagai fitnah, membangkang terhadap orang-orang yang bcrkuasa dalam wilayahnya dan menyelisihi Rasulullah setelah jelas petunjuk beliau bagi mereka serta mengikuti jalan sehin jalan kaum Mukminin (para Sahabat).

Merupakan suatu kewajiban bagi orang-orang yang mcmpunyai semangat dari kalangan para ulama ummat dan penyeru sunnah yang selalu mengikuti petunjuk Nabi Unluk melaksanakan kewajiban menerangkan pokok-pokok agama, menjelaskan prinsip-prinsip manhaj Salafush Slulih, menampakkan jalannya, melakukan pendekatan terhadap buku-buku yang ditulis oleh para aimmatul huda (para imam yang mendapatkan petunjuk), menerbitkannya dengan teliti, dan menjelaskan makna maupun maksud gaya bahasa yang digunakan para imam dalam tulisannya, serta mengutamakan pembahasan masalah tauhid dan manhaj, baik dalam pelajaran, khutbah, kajian ceramah, maupun karangan Ilmiyah. Membimbing dan menjelaskan kepada orang-orang agar mengikuti keteladanan tingkah laku Nabi Muhammad - Sholallahu Alaihi Wassalam - dan kewajiban untuk mengikuti sunnahnya dan para Shahabatnya. Hal itu berdasarkan firman Allah Ta'ala:
"Katakanlah: 'Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikuti-lah aku niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosa-mu, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Ali 'Imran: 31)

Sabda Nabi - Sholallahu Alaihi Wassalam -
"Aku mewasiatkan kepada kalian supaya tetap bertakwa kepada Allah, tetaplah mendengar dan taat walaupun yang memerintah kalian adalah seorang budak dari Habasyah. Sungguh, orang yang masih hidup di antara kalian setelahku akan melihat perselisihan yang banyak, maka wajib atas kalian berpegang teguh kepada sunnahku dan sunnah Khulafa-ur Rasyidin yang mendapat petunjuk. Peganglah erat-erat dan gigitlah dia dengan gigi gerahammu. Jauhilah oleh kalian perkara-perkara yang baru (dalam agama), karena sesungguhnya setiap perkara yang baru itu adalah bid'ah, sedang setiap bid'ah adalah sesat." (HR. Ahmad (IV/126-127), Abu Dawud (no. 4607), at-Tirmidzi (no. 2676), dan al-Hakim (1/95). Dishahihkan dan disepakati oleh Imam adz-Dzahabi. Lihat keterangan hadits selengkapnya di dalam Irwaa-ul Ghaliil (no. 2455) oleh Syaikh al-Albani]

Maka inilah jalan yang lurus itu, yang menuju kepada kcridhaan Rabb semesta alam.

Allah Ta'ala berfirman:
"Dan sesungguhnya ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain) karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan Nya.. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa." (QS. Al-An'aam: 153)

Dialah jalan yang diserukan oleh Rasul-Nya Muhammad ,
Allah Ta'ala berfirman:
“Katakanlah: 'Inilah jalan (agama)ku. Aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Mahasuci Allah dan aku tiada termasuk orang-orang musyrik" (QS. Yusuf: 108)

Itulah yang disebut 'Aqiidatul Firqatin Naajiyah yang telah dikabartkan oleh Rosulullah - Sholallahu Alaihi Wassalam - dalam sabdanya:
"Senantiasa ada segolongan dari ummatku yang selalu dalam kebenaran untuk melaksanakan perintah Allah, tidak merasa rugi dengan orang yang menghinakan mereka sampai datang perintah Allah dan mereka tetap konsisten dalam hal demikian." (HR. Al-Bukhari (no. 3641), dan Muslim (no. 1037 (174)) dari Sahabat Mu'awiyah.)

Golongan tersebut adalah mereka yang tetap berada pada apa yang diamalkan oleh Nabi dan para Sahabatnya. Dalam sebuah hadits, beliau - Sholallahu Alaihi Wassalam - bersabda:
"Sesungguhnya Bani Israil terpecah menjadi 72 golongan, sedangkan ummatku akan terpecah menjadi 73 golongan, semuanya di dalam Neraka kecuali satu golongan." Para Sahabat pun bertanya: 'Wahai, Rasulullah, siapa dia?' Beliau menjawab: 'Yaitu, mereka yang berada pada apa yang telah ditempuh olehku dan Sahabatku.'" [HR. At-Tirmidzi (no. 2641) dan al-Hakim (1/129) dari Sahabat 'Abdullah bin 'Amr. Dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahiihul jaami’ (no. 5343)]

Dengan demikian, tampaklah urgensi untuk memperhatikan perkara 'aqidah manhaj Salafush Shalih, mendidik generasi muda pada jalan ini, serta meluruskan arah kebangkitan ummat sehingga tidak tercerai berai lalu tersesat dalam lembah hawa nafsu dan berbagai fitnah.

Allah - Subhanahu Wa Ta'ala - telah memberikan taufik kepada beberapa guru dan ulama kita serta penuntut ilmu yang tulus untuk memperhatikan tentang pentingnya 'aqidah ini, baik dari segi pengajaran, penelitian, maupun karangan ilmiah. Di antara nya adalah Syaikh Abdulloh bin Abdul Aziz Al Atsari yang menulis kitab : Al Wajiiz fii Aqidatis Salafish Shaalih

Intisari Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah
Judul asli : Al Wajiiz fii Aqidatis Salafish Shaalih
Penulis : Abdulloh bin Abdul Aziz Al Atsari
Fisik : Buku ukuran sedang, hardcover, 291 hlm
Penerbit : Pustaka Imam Asy Syafii
ISBN : 979-3536-60-8

Detail Info Buku
Bahasa Indonesia
ISBN 979-3536-60-8
Judul Asli Al Wajiiz fii Aqidatis Salafish Shaalih
Judul Buku Intisari Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jamaah
Jumlah Halaman 291 hlm
Kata Pengantar Syaikh Abdullah Al Jibrin, Shalih bin abudl aziz AluSyaikh, Ibrahim Shuraim, Jamil Zainu
Penerbit / Publisher Pustaka Imam Syafii
Penulis Abdullah bin Abdul Hamid Al Atsari
Ukuran Fisik Buku buku sedang 15.5x23.5cm