• Hotline: (+62) 819.2469.325
Kategori Buku
Darul Haq Keyakinan, Ucapan dan Perbuatan Pembatal Keislaman Penulis ; Syaikh Dr Abdul Aziz bin Muhammad bin Ali Abdul Lathif, Penerbit : Darul Haq .. Product #: DHQ-0104 Regular price: Rp 140.000 Rp 140.000

Keyakinan, Ucapan dan Perbuatan Pembatal Keislaman

Harga: Rp 140.000  Rp 112.000

- +

Semua kaum Muslimin insya Allah paham dengan apa-apa yang membatalkan wudhu, Shalat dan Puasa. Tentu ini adalah suatu yang menggembirakan, karena mengetahui apa-apa yang membatalkan suatu ibadah adalah suatu kewajiban. Akan tetapi yang lebih wajib dari itu adalah mengetahui apa-apa yang membatalkan Iman dan Islam yang menyebabkan pelakunya keluar dari Islam, atau terjatuh ke dalam kekufuran. Yang membatalkan Iman bisa berupa keyakinan, ucapan dan perbuatan, dan bentuknya banyak, yaitu syirik, mencaci Allah, mengingkari sesuatu dari Syariat, menghina Nabi, mengingkari kebangkitan kembali di akhirat, mengaku sebagai nabi, dan sebagainya.
Kewajiban setiap muslim untuk mengenal Pembatal-pembatal keimanan dan keislaman, sama pentingnya dengan kewajiban seorang muslim mengenal dan memahami rukun Iman dan islam, hal ini dapat dilihat dari beberapa segi, di antaranya:
Pertama: Hal-hal yang membatalkan Iman adalab dosa yang paling besar secara mutlak.
Seorang Muslim yang melakukan salah satu darinya, maka dia keluar dari Agama, tidak tersisa lagi Iman bersama keberadaan salah satu dari hal-hal yang membatalkan tersebut. la menghancurkan seluruh (nilai) ketaatan, dan di samping itu Alloh Subhanahu Wa Ta'ala tidak mengampuni orang yang mati dalam kondisi terperosok di dalamnya, dan pelakunya kekal di neraka sebagaimana hal ini ditetapkan di dalam kitabulloh,
Alloh Subhanahu Wa Ta'ala berfirman,
" Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan mati sedang mereka tetap dalam kekafirannya, maka tidaklah akan diterima dari seseorang di antara mereka emas sepenuh bumi, walaupun dia menebus diri dengan emas (yang sebanyak) itu. Bagi mereka itulah siksa yang pedih dan sekali-kali mereka tidak memperoleh penolong." (Ali Imran: 91).
Allah juga berfirman,
Barangsiapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima hukum-hukum Islam), maka terhapuslah amalannya dan ia di Hari Kiamat termasuk orang-oramng yang merugi" (Al-Ma'idah: 5).
Juga firman-Nya.
Orang-orang kafir bagi mereka Neraka Jahannam. Mereka tidak dibinasakan sehingga mereka mati dan tidak (pula) diringankan dari mereka adzab-nya Demikianlah Kami membalas setiap orang yang sangat kafir. " (Fathir:36).
Dan Allah berfirman,
"Sesungguhnya orung-orang yang kafir dan menghalangi manusia dari jalan Allah kemudian mereka mati dalam keadaan kafir, maka sekali-kali Allah tidak akan memberi ampun kepada mereka." (Muhammad: 34).
Ketika Imam Ibnu Taimiyah -rahimahulloh- - menyinggung masalali takfir, dengan (segala keburukan yang dapat ditimbulkan) berupa akibat dan ekses negatif-nya di antara yang beliau katakan adalah, "Ketahuilah, bahwa masalah 'takfir dan tafsiq (mengkafirkan dan memfasikkan) termasuk masalah nama-nama dan hukum-hukum yang berkaitan dengan janji pahala dan ancaman siksa di akhirat, juga berkaitan dengan loyalitas (al-Muwaalah) dan permusuhan (al-Mu'adah), pembunuhan dan Ismah (terjaganya darah) dan lain-lain di alam dunia. Alloh Subhanahu Wa Ta'ala mewajibkan surga bagi orang-orang beriman dan mengharamkan-nya bagi orang-orang kafir. Ini termasuk hukum global yang berlaku di setiap waktu dan tempat. [lihat : majmu' 'Al-Fatawa. 12/468 , Lihat pula : Jamial-Ulum wa al-Hikam, 1/114].

Kedua: Menyadari besarnya bahaya dari hal-hal yang membatalkan Iman tersebut
Melihat besarnya bahaya hal-hal yang membatalkan Iman ini, maka kita harus mengetahuinya secara individual/detail , dan mengetahui macam-macamnya. Maka menjelaskan jalan orang-orang kafir adalah keharusan demi menghindarinya.
Allah berfirman,
"Dan demikianlah Kami terangkan ayat-ayat al-Qur'an (supaya jelas jalan orang-orang yang shalih), dan supaya jelas (pula) jalan orang-orang yang berdosa." (Al-An'am: 55).
Dalam kaitan ini Imam Ibnul Qayyim -rahimahulloh- berkata, "Alloh Subhanahu Wa Ta'ala telah menjelaskan di dalam Kitab-Nya jalan orang-orang yang beriman secara terperinci dan jalan para pelaku dosa secara terperinci serta akibat masing-masing dengan terperinci pula.
Orang-orang yang berilmu tentang Allah, Kitab dan Agama-Nya, mengetahui jalan orang-orang yang beriman secara terperinci dan jalan para pelaku dosa secara terperinci pula. Dua jalan tersebut adalah jelas, sejelas jalan bagi orang yang menitinya yang menyampaikan kepada tujuannya dan jalan yang menyampaikan kepada kebinasaan. Mereka itu (orang-orang yang berilmu tentang Allah) adalah orang-orang yang paling mengetahui, paling bermanfaat dan paling tulus bagi manusia. Dengan inilah para sahabat mengungguli orang-orang yang datang sesudah mereka sampai Hari Kiamat, karena sebelumnya mereka tumbuh di jalan kesesatan, kekufuran dan kesyirikan, mereka mengenalnya dengan detil, kemudian Rasulullah -Sholallahu Alaihi Wassalam- hadir, beliau mengeluarkan mereka dari kegelapan yang pekat menuju cahaya yang sempurna, dari kesyirikan kepada tauhid. Mereka mengetahui nilai dari apa yang mereka dapatkan dan nilai dari keadaan mereka sebelumnya, kebaikan dari sesuatu ditampakkan oleh lawannya, dan segala sesuatu menjadi jelas dengan kebalikannya.

Kerancuan hanya terjadi pada saat melemahnya ilmu tentang kedua jalan tersebut atau salah satunya sebagaimana Umar -Rodliallahu Anhu- berkata,
"Tali simpul Islam akan putus (rontok) simpul demi simpul, apabila dalam Islam tumbuh orang-orang yang tidak mengenal jahiliyah."
Ini termasuk kesempurnaan ilmu Umar -Rodliallahu Anhu- . Barangsiapa tidak mengenal jalan orang-orang yang durjana, maka jalan tersebut tidak akan jelas baginya. Bisa jadi dia mengira sebagian dari jalan mereka adalah jalan orang-orang yang beriman sebagaimana hal tersebut terjadi pada umat ini dalam banyak perkara.
Hudzaifah bin Yaman -Rodliallahu Anhu- berkata,
"Orang-orang bertanya kepada Rasulullah -Sholallahu Alaihi Wassalam- tentang kebaikan, sedangkan aku bertanya kepada beliau tentang kcburukan, karena aku takut keburukan itu menimpaku …"
Syaikh Abdullah Alu Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab -rahimahulloh- berkata menjelaskan pentingnya tema ini, "Ketahuilah, bahwa masalah-masalah ini termasuk masalah di mana seorang Mukmin patut memberi perhatian kepadanya agar dia tidak terjerumus ke dalam Salah satu di antaranya tanpa dia sadari, agar Islam dan kekufuran menjadi jelas baginya, sehingga kesalahan dan kebenaran menjadi jelas baginya dan dia berpijak di atas bashirah dalam agama Alloh Subhanahu Wa Ta'ala. Jangan-lah seseorang tertipu dengan pengikut kejahiliahan dan kebimbangan meskipun mereka berjumlah lebih banyak, karena sebenarnya mereka adalah orang-orang yang bermartabat paling rendah di sisi Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman. [ lihat : ad durar as Saniyyah fi al ajwibah an Najdiyah 8/118]

Ketiga: Wajibnya berhati-hati terhadap hal-hal yang membatalkan Iman.
Meskipun hal-hal yang membatalkan Iman ini bermunculan dan ia harus diwaspadai, akan tetapi orang yang memperhatikan negeri-negeri kaum Muslimin pada umumnya, akan mendapatkan bahwa hal-hal yang membatalkan Iman ini telah menyebar dan mewabah di banyak negeri-negeri tersebut, dia akan menyaksikan, mendengar dan membaca fenomena-fenomena yang beragam dengan bentuk yang berbeda-beda dari berbagai hal yang membatalkan Iman. Bahkan hal-hal yang membatalkan Iman ini telah menjadi masalah yang lumrah, bahkan perkaranya lebih dari itu, hal-hal yang membatalkan Iman tersebut dinamakan dengan nama-nama yang disukai jiwa, sebagai promosi dan penyesatan bagi manusia. [ lihat : I'lamul Muwaqiin 3/117-118 dan Tathhir al itiqod as-Shan'ani hal 19-20]

Keempat: Sikap tengah Ahlus Sunnah dalam menyikapi hal-hal yang membatalkan Iman.
Di antara yang memperkuat akan pentingnya kajian terhadap tema ini: adalah, bahwasanya sikap kebanyakan kaum Muslimin terhadap hal-hal yang membatalkan Iman ini, tidak terlepas antara sikap ekstrim/ berlebihan dan sikap tak peduli /meremehkan. Ada yang berlebih-lebihan dan keras, sampai dia memasukkan sesuatu yang bukan pembatal sebagai pembatal. Sebaliknya di antara mereka ada orang-orang yang meremehkan (acuh tak acuh) pembatal-pembatal ini, menjadikan-nya sebagai sekedar perkara-perkara haram saja yang tidak mengeluarkan dari Islam.
Dan Alloh Subhanahu Wa Ta'ala membimbing Ahlus Sunnah kepada kebenaran dari apa yang mereka perselisihkan dengan izin-Nya, sehingga mereka menetapkan masalah ini dengan dasar ilmu dan keadilan.
Mereka bersikap tengah di antara orang-orang yang ekstrim (ghuluw) dan orang-orang Murji'ah (orang-orang yang meremehkan). '
Salah satu aib ahli bid'ah adalah bahwa sebagian mereka mengkafirkan sebagian yang lain, dan di antara sikap terpuji ahli ilmu adalah menyalahkan dan tidak mengkafirkan [ lihat : Minhajus sunnah an nawabiyyah, Ibn taimiyyah 5/251]
Peletak Syariat telah memperingatkan bahaya mengkafirkan seorang Muslim padahal dia tidak demikian.
Alloh Subhanahu Wa Ta'ala berfirman,
"hai orang-orang yang beriman, apabila kanm pergi (berperang) di jalan Allah, maka teliti-lah dan janganlah kamu mengatakan kepada orang yang mengucapkan 'salam' kepadamu, 'Kamu bukan scorang mukmin ,(lalu kamu membunuhnya), dengan maksud mencari harta benda kehidupan di dunia, karena di sisi Allah ada harta yang banyak. Begitu jugalah kamu dahulu, lalu Allah menganugerahkan nikmat-Nya atas kamu, msks teliti-lah, Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan (An-Nisa': 94).
Dari Abu Dzar -Rodliallahu Anhu- bahwa dia mendengar Rosullulloh Sholallahu Alaihi Wassalam bersabda,
"Tidaklah seseorang menuding seseorang lainnya dengan kefasikan dan kekafiran kecuali hal itu kembali kepada dirinya jika rekannya tidak demikian adanya."[diriwayatkan Al bukhari 10/464 no 6045 dan Muslim no 61, 1/79].
Dari Abdullah bin Umar -Rodliallahu Anhu- Rasulullah -Sholallahu Alaihi Wassalam- bersabda,
"Siapa- pun yang berkata kepada saudaranya, 'Wahai kafir', maka (hukum kafir itu) pasti kembali kepada salah seorang dari mereka berdua, " [lihat : al bukhari no.6104 10/514 dan Muslim no.60 1/79]

Imam Ibnu Daqiq al-Id -rahimahulloh- menjelaskan makna hadits ini dengan me-ngatakan, "Ini adalah ancaman yang berat bagi siapa yang mengkafirkan kaum Muslimin padahal tidak demikian. Dan ini adalah kekeliruan besar, yang mana banyak ahli kalam terjerumus ke dalamnya, bahkan sebagian orang-orang yang menisbatkan diri kepada sunnah dan ahli hadits, ketika mereka berselisih dalam masalah-masalah akidah. Mereka bersikap keras terhadap orang-orang yang menyelisihi mereka dan memvonis mereka kafir." [ lihat : Ihkamul Ahkam syarah Umdatul Ahkam 4/76]
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah -rahimahulloh- menegaskan hal itu dengan mengatakan, "Sesungguhnya aku termasuk orang yang paling keras melarang menisbatkan orang tertentu kepada kekafiran, kefasikan dan kemaksiatan, kecuali jika diketahui bahwa hujjah risalah telah tegak atasnya, di mana barangsiapa menyelisihinya maka dia bisa kafir, atau fasik, atau sebagai pelaku maksiat. Sesungguhnya aku menetapkan bahwa Allah mengampuni kesalahan umat ini, dan itu mencakup kesalahan dalam masalah-masalah khabariyah qauliyah dan masalah-masalah amaliyah." [ majmu Al Fatawa 3/229]
Ketika Ibnul Wazir menetapkan mutawatir-nya hadits-hadits tentang larangan mengkafirkan seorang Muslim dia '-rahimahulloh- berkata, "Semua itu mengandung kesaksian terhadap ancaman keras dalam masalah mengkafirkan seorang Mukmin dan mengeluarkannya dari Islam, padahal Mukmin tersebut mengakui tauhid dan kenabian, lebih-lebih dia melaksanakan rukun-rukun Islam, menjauhi dosa-dosa besar, dan terlihatnya bukti-bukti kebenaran pada dirinya dalam pembenarannya, dan hanya karena kekeliruan dalam bid'ah bersangkutan, bisa jadi orang yang menjadi sebab dia dikafirkan tersebut, jarang orang yang terhindar darinya, atau bahkan yang lebih ringan darinya, karena predikat ma'shum (terpelihara dari kesalahan dan dosa) adalah derajat yang tinggi, dan dugaan baik seseorang terhadap dirinya tidak mengotomatiskannya selamat dari itu, baik secara akal maupun syara' [ lihat : itsar al haq ala al khalq, Ibnu Wazir hal 425-426].
Lanjut Ibnul Wazir -rahimahulloh- , "Khawarij telah dihukum dengan hukuman paling berat dan dicela dengan celaan paling buruk karena mereka mengkafirkan orang-orang yang melakukan dosa (besar) dari kaum Muslimin, meskipun mereka memandang beratnya kemaksiatan kepada Allah dan pengagungan mereka kepada Allah dengan mengkafirkan orang yang mendurhakai-Nya, karena orang yang mengkafirkan tidak dijamin tidak terjerumus ke dalam dosa seperti dosa mereka ( mukmin yang mereka kafirkan). Ini adalah bahaya besar dalam Agama, hendaknya orang yang bijak dan mulia berhati-hati"
Imam asy-Syaukani -rahimahulloh- juga memperingatkan ketergesa-gesaan dalam mengkafirkan. Kata beliau, "Ketahuilah, bahwa memvonis seorang Muslim keluar dari Agama dan masuk ke dalam kekufuran, tidak patut dilakukan oleh seorang Mukmin yang beriman kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala dan hari Akhir, kecuali dengan bukti yang lebih jelas daripada matahari di siang bolong, karena telah diriwayatkan di dalam hadits-hadits yang shahih dari sejumlah sahabat bahwa barangsiapa berkata kepada saudaranya ( sesama Muslim) , ' Hai kafir ', maka (hukum kafir itu) kembali kepada salah satu di antara keduanya." [ lihat ; Sailul jarar Al Mutadaffiq ala hadaiq al Azhar, Asy Syaukani 4/578]
Pada saat para ulama besar tersebut menetapkan bahayanya masalah ini dan peringatan terhadap mengkafirkan orang yang bukan kafir, tidak berarti masalah ini kemudian dapat diremehkan dan menutup pintu pintu riddah sama sekali dengan memvonis Islam ( Muslim) kepada orang yang jelas-jelas pelaku kekufurannya dengan dalil dan bukti. Jalan kedua ini tidak kalah bahaya dan penyimpangannya daripada jalan pertama diatas karena hal ini termasuk dalam meremehkan. Pelaku Ghuluw/berlebihdan dan meremehkan dalam masalah pengkafiran ,keduanya tercela.
Sebagian orang telah keliru, mereka hendak membantah orang-orang yang berlebih-lebihan tersebut dengan mengambil metode golongan Murji'ah, padahal yang wajib adalah menghindari cara membantah ahli bid'ah dengan bid'ah, kebatilan tidak dihadapi dengan kebatilan. Masalah ini harus dijelaskan dengan dasar ilmu dan keadilan. Dan Ahlus Sunnah (adalah orang-orang yang) mengetahui kebenaran dan mengasihi manusia.
Syaikh Abdullah bin Muhammad bin Abdul Wahhab -rahimahulloh- berkata, "Prinsipnya adalah, wajib atas orang yang menasihati dirinya agar tidak berbicara dalam masalah ini kecuali dengan dasar ilmu dan bukti dari Allah. Hendaknya dia berhati-hati dari mengeluarkan seseorang dari Islam hanya dengan pijakan pemahamannya dan anggapan baik oleh akalnya, karena mengeluarkan seseorang dari Islam atau sebaliknya, termasuk di antara masalah paling besar dalam Agama. Setan telah menipu banyak orang dalam masalah ini, sebagian kalangan bersikap meremehkan, mereka memvonis Islam orang-orang di mana nash-nash al-Qur~an, sunnah dan ijma' menunjukkan kekufurannya, sementara kalangan yang lain bersikap melampaui batas, mereka mengkafirkan orang-orang di mana nash-nash al-Qur'an, sunnah dan ijma1 menetapkan keislamannya." [lihat : ad Durar As Saniyyah 8/218]

Kelima: Bid'ah yang pertama kali muncul ditubuh umat Islam adalah berkaitan dengan hal yang membatalkan Iman
Masalah lain yang menegaskan pentingnya tema ini, bahwa perselisihan pertama yang terjadi pada umat ini adalah perselisihan dalam masalah takfir.
Bid'ah pertama yang terjadi dalam tubuh umat adalah bid'ah Khawarij yang mengkafirkan pelaku dosa, di samping itu bid'ah mereka adalah bid'ah yang paling jelas dicela oleh sunnah dan atsar-atsar Persoalan mengkafirkan dan tidak mengkafirkan adalah persoalan diana fitnah dan malapetaka besar telah terjadi, perpecahan padanya banyak bermunculan, hawa nafsu dan pemikiran rusak."
[ lihat ; Syarh aqidah Thahawiyyah 2/432-433]

Inilah buku yang membahas tentang hal-hal yang berupa keyakinan, ucapan, amalan yang menjadi penyebab pembatal keislaman yang benar sesuai yang difahami para Salafush Shalih dan para Ulama Sunnah yang mengikuti mereka dengan benar.

Detail Info Buku
Bahasa Indonesia
Format Cover Hardcover
Judul Asli Nawaqidul Iman Al Qouliyah wal Amaliyah
Judul Buku Keyakinan, Ucapan dan Perbuatan Pembatal Keislaman
Jumlah Halaman 792 hlm
Penerbit / Publisher Darul Haq
Penulis Syaikh Dr Abdul Aziz bin Muhammad bin Ali Al Abdul Lathif
Ukuran Fisik Buku Buku Ukuran Sedang 16 x 24.5 cm