• Hotline: (+62) 819.2469.325
Kategori Buku
Pustaka Imam Syafii Larangan Shalat di Masjid yang dibangun di Atas Kubur Penulis : Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani -rahimahulloh- ; Penerbit : Pustaka Imam Syafii .. Product #: PIS-00025 Regular price: Rp 30.000 Rp 30.000

Larangan Shalat di Masjid yang dibangun di Atas Kubur

Sesungguhnya telah menjadi fenomena yang tak asing di negeri kita yang tercinta ini, banyak saudara kita yang mengagungkan kuburan dan menjadikannya sebagai tempat ibadah. Mereka berkeyakinan bahwa beribadah di kuburan para “wali“ memiliki keutamaan tertentu. Oleh karena itu, banyak kita saksikan orang dari berbagai daerah mengunjungi kuburan untuk mendapatkan keberkahan dan keuntungan duniawi.
Mereka mendatangi kuburan para wali dikarenakan cinta mereka yang mendalam. Padahal, mencintai para wali bukanlah dengan mengagungkan kuburannya, melainkan dengan berusaha mengikuti petuahnya untuk senantiasa berpegang pada sunnah Rasulullah -Sholallahu Alaihi Wassalam-
Keadaan ini kemudian menjadi semakin parah ketika para ajengan yang dianggap kyai , ulama, tokoh, guru, orang pinter - dan sebutan lainnya - memfatwakan bahwa perbuatan ini tidak melanggar syariat. Mereka bahkan membelanya dengan berbagai macam alasan, dengan mencari-cari ayat atau hadis untuk mendukung pendapat mereka. Kemudian mereka pahami ayat dan hadis tersebut dengan pemahaman mereka sendiri untuk dijadikan tameng.
Mereka menjadikannya tameng alih-alih sandaran, karena sandaran mereka sebenarnya adalah hawa nafsu dan pemahaman yang dangkal. Lebih celaka lagi, mereka menuduh orang yang melarang mengagungkan kuburan sebagai kelompok sesat dan menyesatkan. Mereka menuduh kelompok itu tidak menghormati para wali, dan menghasut kaum awam untuk menjauhinya.

Dan sungguh sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk dari Rosululloh -Sholallahu Alaihi Wassalam- , beliau bersabda dalam banyak riwayat hadits shahih, sebagian diantaranya :

Hadits pertama :

Dari 'Aisyah -Rodliallohu Ta’ala Anha- , dia bercerita, Rasulullah -Sholallahu Alaihi Wassalam- pernah bersabda ketika beliau sakit dan dalam keadaan berbaring:
"Allah melaknat orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani. Mereka telah menjadikan kuburan Nabi-Nabi mereka sebagai tempat ibadah."
'Aisyah berkata: "Kalau bukan karena takut (laknat) itu, niscaya kuburan beliau ditempatkan di tempat terbuka, hanya saja beliau takut kuburannya itu akan dijadikan sebagai masjid.”
[hadits Shahih, Diriwayatkan oleh al-Bukhari (III/156, 198 dan VIII/114), Muslim, (II/67). Abu 'Awanah (1/399), Ahmad (VI/80, 121, dan 255), as-Siraj di dalam Musnad –nya (III/48/2) dari 'Urwah, darinya. Ahmad (VI/146 dan 252), al-Baghawi di dalam kitab Syarhus Sunnah (jilid I, halaman 415) dari Sa'id bin al-Musayyab, darinya. Dan sanad hadits ini shahih dengan syarat asy-Syaikhani (al-Bukhari dan Muslim).]

Hadis kedua :
Dari Abu Hurairah -Rodliallohu Anhu- , dia bercerita, Rasulullah -Sholallahu Alaihi Wassalam- bersabda:
"Semoga Allah mengutuk orang-orang Yahudi, karena mereka telah menjadikan makam Nabi-Nabi mereka sebagai tempat bersujud.”
[Hadits Diriwayatkan oleh al-Bukhari (II/422), Muslim, Abu 'Awanah, Abu Dawud (II/71), Ahmad (II/284, 366, 396, 453, dan 518), Abu Ya'la di dalam Musnad-nya (278/1). as-Siraj dan as-Sahmi di dalam kitab Taariikh Jurjaani (349), Ibnu 'Asakir (XIV/367/2) dari Sa'id bin al-Musayyab. Diriwayatkan pula oleh Muslim dari Yazid bin al-Asham, darinya. Juga diriwayatkan oleh ' Abdur-razzaq di dalam kitab Mushannaf -nya. (1/406/1589) dari sisi pertamanya, dari¬nya, tetapi dia mem-mauquf-kannya.]

Hadits Ketiga :
Dari 'Aisyah dan Ibnu 'Abbas -Rodliallohu Anhum- bahwasanya Rasu¬lullah -Sholallahu Alaihi Wassalam- menghadapi sakaratul maut, maka beliau menutup-kan ujung baju beliau ke wajah beliau sendiri. Dan ketika ujung baju itu telah menutupi wajahnya, maka beliau membukanya kembali seraya bersabda:
"Laknat Allah atas orang-orang Yahudi dan Nasrani, mereka telah menjadikan makam Nabi-Nabi mereka sebagai masjid." , 'Aisyah mengatakan, "Beliau memperingatkan agar tidak melakukan seperti apa yang mereka lakukan.”
[ Hadits Diriwayatkan oleh al-Bukhari (1/422, VI/386, dan VIII/116), Muslim (II/67) , Abu 'Awanah (1/399), an-Nasa-i (I/115), ad-Darimi (I/326), Ahmad (I/218 dan VI/34, 229, dan 275), Ibnu Sa'ad di dalam kitab ath-Thabaqaat (II/258), dan juga diriwayatkan oleh 'Abdurrazzaq di dalam kitab al-Mushannaf (I/406) dari Ibnu Abbas -Rodliallohu Anhu- ]

Al-Hafizh Ibnu Hajar -rahimahulloh- mengemukakan: "Seakan-akan Nabi -Sholallahu Alaihi Wassalam- telah mengetahui bahwa beliau akan pergi selama-nya melalui sakit yang beliau derita, sehingga beliau khawatir makam beliau akan diagung-agungkan seperti yang telah dilakukan orang-orang terdahulu. Oleh karena itu, beliau melaknat orang-orang Yahudi dan Nasrani, sebagai isyarat yang menunjukkan celaan bagi orang yang berbuat seperti perbuatan mereka."

Hadits keempat :

Dari 'Aisyah -Rodliallohu Anhu- , dia bercerita, ketika Nabi -Sholallahu Alaihi Wassalam- jatuh sakit, maka beberapa orang isteri beliau sempat membicarakan tentang sebuah gereja yang terdapat di negeri Habasyah (Ethiopia), yang diberi nama: Maria (Ummu Salamah dan Ummu Habibah sudah pernah mendatangi negeri Habasyah ) kemudian mereka menceritakan tentang keindahan gereja dan gambar-gambar yang terdapat di dalamnya. 'Aisyah bercerita: "(Kemudian Nabi -Sholallahu Alaihi Wassalam- mengangkat kepalanya) seraya berucap: 'Mereka itu adalah orang-orang yang jika ada orang shalih di antara mereka yang meninggal dunia, maka mereka akan membangun masjid di makamnya itu, lalu mereka memberi berbagai macam gambar di tempat tersebut. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk di sisi Allah (pada hari Kiamat kelak).” [Hadits Diriwayatkan oleh al-Bukhari, (1/416 dan 422), Muslim (II/66), an-Nasa-i (I/l 15), Ibnu Abi Syaibah di dalam kitab al-Mushannaf (VI/140, terbitan India), Ahmad (VI/51), Abu 'Awanah di dalam kitab Shahih-nya (1/400-401), redaksi di atas adalah miliknya. Juga Ibnu Sa'ad di dalam kitab ath-Thabaqaat (II/240-241), as-Siraj dalam Musnad- nya (48/2), Abu Ya'la di dalam Musnad-nya (220/2), al-Baihaqi (IV/80), dan al-Baghawi (II/415 dan 416).]

Di dalam kitab, Fathul Baari,Imam Ibnu Rajab -rahimahulloh- mengemukakan: "Hadits ini menunjukkan diharamkannya membangun masjid di atas makam/kuburan orang-orang shalih dan melukis gambar mereka di sana, sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang Nasrani. Tidak diragukan lagi, masing-masing dari kedua hal tersebut adalah haram: melukis manusia itu di-haramkan, seperti halnya membangun masjid di atas kuburan itu sendiri juga diharamkan. Sebagaimana hal tersebut telah ditunjukkan oleh nash-nash lain yang sebagian di antaranya akan kami sampaikan lebih lanjut. Dia mengatakan bahwa gambar-gambar yang terdapat di dalam gereja yang disebut-kan oleh Ummu Habibah dan Ummu Salamah itu terlukis di dinding atau yang semisalnya, dan tidak memiliki bayangan. Dengan demikian, melukis gambar, seperti gambar para Nabi dan orang-orang shalih dengan tujuan untuk mencari berkah atau digunakan untuk mendapatkan syafa'at adalah diharam¬kan dalam Islam. Yang demikian itu termasuk ke dalam penyembahan berhala. Dan Nabi -Sholallahu Alaihi Wassalam- sendiri telah memberitahu-kan bahwa pelakunya merupakan makhluk yang paling jahat di sisi Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- pada hari Kiamat kelak. Melukis gambar orang dengan tujuan untuk diteladani dengan cara melihatnya, atau sebagai tempat rekreasi dan bersenang-senang adalah haram dan termasuk dosa besar, dan pelakunya akan mendapatkan siksaan yang paling keras pada hari Kiamat kelak, karena dia termasuk orang yang zhalim yang menyerupai perbuatan Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- yang sesungguhnya tidak akan pernah mampu di¬lakukan oleh selain diri-Nya. Dan sesungguhnya Allah Maha-tinggi, tidak ada sesuatu pun yang setara denganNya, baik dalam Dzat, sifat, maupun perbuatan-Nya ."
Hal itu disebutkan di dalam kitab al-Kawaa-kibud Daraari (jilid 65/82/2).

Hadits kelima :

Dari Jundub bin 'Abdillah al-Bajali -Rodliallohu Anhu- , bahwasanya dia pernah mendengar Nabi -Sholallahu Alaihi Wassalam- bersabda tentang lima hal sebelum beliau wafat:
"Aku memiliki beberapa saudara dan teman di antara kalian. Dan sesungguhnya aku berlindung kepada Allah dari memiliki kekasih di antara kalian. Dan sesungguhnya Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- telah menjadikan diriku sebagai kekasih sebagaimana Dia telah menjadikan Ibrahim sebagai kekasih. Seandainya aku boleh mengambil kekasih, niscaya aku akan menjadikan Abu Bakar se¬bagai kekasih. Dan ketahuilah, (sesungguhnya) orang-orang sebelum kalian telah menjadikan makam Nabi-Nabi mereka dan orang-orang shalih di antara mereka sebagai masjid. Janganlah kalian menjadikan kuburan sebagai masjid, karena sesungguhnya aku melarang kalian melakukan hal tersebut. “
[ Diriwayatkan oleh Muslim (11/67-68), Abu 'Awanah (1/401) dan redaksi di atas adalah miliknya. Juga ath-Thabrani di dalam kitab al-Kabiir (1/84/2), Pada Ibnu Sa'ad (11/241), hadits ini memiliki satu syahid dari hadits Abu Umamah. Hadits ini juga memiliki syahid kedua yang diriwayatkan oleh ath-Thabrani dari Ka'ab bin Malik dengan sanad: "Laa ba'-sa bihi", sebagaimana yang dikemukakan oleh Ibnu Hajar al-Haitami di dalam kitab az-Zawaajir (1/120) dan dinilai dha'if oleh al-Hafizh Nuruddin al-Haitsami di dalam kitab Majma'uz Zawaa-id (IX/45).]

Hadits keenam :
7. Dari al-Harits an-Najrani -Rodliallohu Anhu- , dia bercerita, aku pernah mendengar Nabi -Sholallahu Alaihi Wassalam- menyampaikan lima hal sebelum wafat. Beliau ber-sabda:
"Ketahuilah, sesungguhnya orang-orang sebelum kalian telah menjadikan makam Nabi-Nabi mereka dan orang-orang shalih di antara mereka sebagai masjid. Maka, janganlah kalian men¬jadikan kuburan sebagai masjid. Sesungguhnya aku melarang kalian melakukan hal tersebut.”
[Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah (II/83/2 dan 11/376), dan sanadnya shahih dengan syarat Muslim.]

Hadits ketujuh :
Dari Abu Hurairah -Rodliallohu Anhu- , dia bercerita, Rosululloh -Sholallahu Alaihi Wassalam- , bersabda :
“ Ya Alloh, janganlah Engkau jadikan kuburan-ku sebagai berhala. Alloh Azza Wa Jalla melaknat kaum yang menjadikan makam nabi-Nabi mereka sebagai masjid.”
[ hadits diriwayatkan oleh Ahmad ( no. 7352), Ibnu Sa’ad ( II/241-242), Al Mufadhadhal Al Jundi dalam kitab Fadhaailul Madinah (66/I), Abu Ya’la di dalam Musnad-nya (312/I), Al Humaidi (1025), Abu Nuaim di dalam Kitab Al Hilyah ( VI/141) dan (VII/317), dengan sanad yang shahih)
{mospagebreak}
Dalam kitab Al-Umm (1/246) Imam Asy-Syafii – -rahimahulloh- berkata, "Saya membenci masjid yang dibangun di atas kuburan atau shalat di atas kuburan atau shalat menghadap kuburan."
Di sini, Imam Asy-Syafi'I -rahimahulloh- menyebutkan tiga makna menjadikan kuburan sebagai masjid, yaitu:
Pertama, membangun masjid di atas kuburan. Dasarnya adalah hadits yang telah sebutkan sebelumnya. Kedua, shalat di atas kuburan. Ketiga, shalat menghadap kuburan.
Dua poin yang disebut terakhir ini berdasarkan sabda Rasulullah -Sholallahu Alaihi Wassalam- :
"Janganlah kamu shalat menghadap kuburan dan jangan shalat di atas kuburan"
(HR. Ath-Thabrani, Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Albani, lihat Silsilah Shahihah no. 1016.)

Empat madzhab yaitu Asy-Syafiii, Hanafi, Maliki, dan Hambali bersepakat bahwa menjadikan kuburan sebagai masjid adalah dosa besar. Berikut ini akan dipaparkan pendapat setiap madzhab tersebut.

a. Madzhab Asy-Syaf'i
Ibnu Hajar Al-Haitami berkata dalam kitabnya Az-Zawajir (1/120): "Dosa besar yang ke-93, 94, 95, 96, 97, dan 98, yaitu mengambil kuburan sebagai masjid, menyalakan lampu di kuburan, menjadikannya sebagai berhala, tawaf di sekelilingnya, memegang kuburan (untuk mendapat berkahnya), dan shalat menghadapnya."
Pendapat Asy-Syaf'i dikuatkan oleh Al-'Allamah Al-Alusy dalam Ruhul Maany (5/31), dan ini adalah pendapat madzhab Syafi'iyah sebagaimana dikatakan oleh Imam Nawawi dalam kitabnya Al-Majmu'.

b. Madzhab Hanafi
Imam Muhammad murid Abu Hanifah berkata dalam kitabnya Al-Atsar (hal .45): "Kami membenci kuburan itu dikapur atau diberi tanah liat (di semen) atau sesuatu dibangun di sisi kuburan."
Pendapat ini dikuatkan pula oleh Ibnu Al-Malik dari madzhab Hanafiyyah.

c. Madzhab Maliki
Imam Al-Qurthuby berkata dalam tafsirnya (10/38): "Berkata ulama kami (Malikiyah), "Haram atas kaum muslim untuk menjadikan kuburan nabi dan ulama sebagai masjid."

d. Madzhab Hambali
Mereka berpendapat haram sebagaimana dalam kitab Syarah Muntaha (1/353), bahkan mereka berpendapat batal shalat di masjid yang di dalamnya terdapat kuburan.

Larangan Shalat di masjid ya ng Dibangun di Atas Kubur
Judul asli : tahdziirus saajid min Ittikhaadzil qubuur Masaajid
Penulis : Muhammad Nashiruddin Al Albani -rahimahulloh-
Fisik : buku ukuran sedang, softcover, 170 hlm
Penerbit : Pustaka Imam Syafii

Detail Info Buku
Bahasa Indonesia
Format Cover Softcover
ISBN 979-3536-43-8
Judul Asli tahdziirus saajid min Ittikhaadzil qubuur Masaajid
Judul Buku Larangan Shalat di Masjid yang dibangun di Atas Kubur
Jumlah Halaman 170 hlm
Penerbit / Publisher Pustaka Imam Syafii
Penulis Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani
Ukuran Fisik Buku buku ukuran sedang 15.50x 23.5 cm