• Hotline: (+62) 819.2469.325
Kategori Buku
Rumah Ilmu Puncak ke Maha-Indah an Asmaul Husna Puncak ke Maha-Indah an Asmaul Husna Penulis:Abdullah Taslim MA Dimensi Buku:Buku ukuran sedang, Har.. Product #: RMI-0001 Regular price: Rp 0 Rp 0

Puncak ke Maha-Indah an Asmaul Husna

Brand: Rumah Ilmu

Harga: Rp 0

- +

Meraih ketakwaan yang sempurna dan keimanan yang puncak adalah keinginan dan target utama setiap orang yang beriman kepada Allah - Subhanahu Wa Ta'ala - dan hari akhir. Karena inilah sifat hamba-hamba Allah - Subhanahu Wa Ta'ala - yang disempurnakan bagi mereka semua kemuliaan dunia dan akhirat. Inilah orang-orang yang sempurna kedudukan mereka di sisi Allah - Subhanahu Wa Ta'ala - , sehingga kita diperintahkan untuk berdoa kepada Allah untuk memohon petunjuk-Nya agar bisa menempuh jalan kebaikan yang telah mereka tempuh, sebagaimana dalam surat al- Fatihah:
(Ya Alloh) Tunjukkanlah kepada kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan ( pula jalan) mereka yang sesat.” ( QS fatihah 6-7)

Mereka inilah yang dimaksud dalam firman Nya:
Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan (dikumpulkan) bersama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah temanyang sebaik-baiknya. Yang demikian itu adalah karunia dari Allah, dan cukuplah Allah yang maha mengetahui" (QS an-Nisaa': 69-70).
Gambaran kesempurnaan iman inilah yang ada pada diri para Shahabat Rasulullah - Rodliallahu Anhum - , sebagaimana yang Allah - Subhanahu Wa Ta'ala - nyatakan dalam al-Qur-an:
Tetapi Allah menjadikan kamu sekalian (wahai para sahabat) cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah (seperti perhiasan) dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan dan perbuatan maksiat. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus" (QS al-Hujuraat:7).
Rasulullah - Sholallahu Alaihi Wassalam - menggambarkan keimanan dan ketakwaan yang sempurna kepada Allah - Subhanahu Wa Ta'ala - sebagai sesuatu yang manis, nikmat dan indah dirasakan dalam hati manusia.

Dari Anas bin Malik - Rodliallahu Anhu - bahwa Rasulullah - Sholallahu Alaihi
Wassalam - bersabda: "Ada tiga sifat, barangsiapa yang memilikinya maka dia akan merasakan manisnya iman (kesempurnaan iman): menjadikan Allah dan rasul- Nya lebih dicintai daripada (siapapun) selain keduanya, mencintai orang lain semata-mata karena Allah, dan merasa benci (enggan) untuk kembali kepada kekafiran setelah diselamatkan oleh Allah sebagaimana enggan untuk dilemparkan ke dalam api [HSR al-Bukhari (no. 16 dan 21) dan Muslim (no. 43).

Arti "manisnya iman" dalam hadits ini adalah merasakan kenikmatan (ketika melaksanakan) ketaatan (kepada Allah - Subhanahu Wa Ta'ala - ), tabah menghadapi segala kesulitan dalam agama dan lebih mengutamakan semua itu di atas semua perhiasan dunia [Lihat kitab "Syarhu shahiihi Muslim" (2/13) dan "Fathul Baari" (1/61) ]

Dalam hadits lain, Rasulullah - Sholallahu Alaihi Wassalam - bersabda: "Akan merasakan kelezatan/kemanisan iman, orang yang ridha kepada Allah sebagai Rabbnya dan Islam sebagai agamanya serta (nabi) Muhammad sebagai rasulnya"
Imam an-Nawawi ketika menjelaskan makna hadits ini, beliau berkata: "Orang yang tidak menghendaki selain (ridha) Allah - Subhanahu Wa Ta'ala - dan tidak menempuh selain jalan agama Islam, serta tidak melakukan ibadah kecuali dengan apa yang sesuai dengan syariat (yang dibawa oleh) Rasulullah - Sholallahu Alaihi Wassalam - , tidak diragukan lagi bahwa barangsiapa yang memiliki sifat ini, maka niscaya kemanisan iman akan masuk ke dalam hatinya sehingga dia bisa merasakan kemanisan dan kelezatan iman tersebut (secara nyata) .[ Kitab "Syarhu shahiihi Muslim" (2/2).]Imam Ibnul Qayyim memaparkan tingginya kenikmatan dan keindahan ini dalam penuturan beliau: "Cinta kepada Allah, mengenal-Nya (dengan memahami kandungan nama-nama- Nya yang maha indah dan sifat-sifat-Nya yang maha sempurna), selalu berzikir kepada-Nya, merasa tenang dan damai (ketika mendekatkan diri) kepada-Nya, mengesakan-Nya dalam mencintai, takut, berharap, berserah diri dan mendekatkan diri (kepada- Nya), dengan menjadikan semua itu satu-satunya yang menguasai pikiran, tekad dan keinginan seorang hamba, inilah surga dunia (yang sebenarnya) dan kenikmatan yang tiada taranya (jika dibandingkan dengan) kenikmatan (dunia). Inilah penyejuk.hati hamba-hamba yang mencintai (Allah) dan (kebahagiaan) hidup orang-orang yang mengenal-Nya.
Seorang hamba akan menjadi penyejuk (penghibur) hati bagi manusia sesuai dengan bagaimana hamba tersebut merasa sejuk hatinya dengan (mendekatkan diri kepada) Allah - Subhanahu Wa Ta'ala - . Maka barangsiapa yang merasa sejuk hatinya dengan (mendekatkan diri kepada) Allah maka semua orang akan merasa sejuk hati mereka bersamanya, dan barangsiapa yang tidak merasa sejuk hatinya dengan (mendekatkan diri kepada) Allah maka jiwanya akan terputus (tercurah sepenuhnya) kepada dunia dengan penuh penyesalan dan kesedihan’. [ Kitab "al-Waabilush shayyib" hal. 70 ]Gambaran puncak keindahan dan kesempurnaan iman di atas tidak mungkin dapat diraih kecuali melalui jalur memahami kemahaindahan nama-nama Allah - Subhanahu Wa Ta'ala - dan kemahatinggian sifat- sifat-Nya. Karena semua sifat dan kedudukan mulia dalam agama, seperti mencintai Allah - Subhanahu Wa Ta'ala - , takut dan berharap kepada-Nya, Ridha kepada-Nya sebagai Rabb, tawakal (berserah diri) hanya kepada- Nya, dan lain-lain, semua ini akan dapat diwujudkan dengan sempurna dalam diri seorang hamba pemahaman yang benar tehadap ilmu yang agung ini.
Allah - Subhanahu Wa Ta'ala - berfirman:
"Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba-hamba- Nya, hanyalah orang-orang yang berilmu (mengenal Allah)" (QS Faathir:28).
Imam Ibnu Katsir berkata: «Arti (ayat di atas): Hanyalah orang-orang yang berilmu dan mengenal Allah yang memiliki rasa takut yang sebenarnya kepada Allah, karena semakin sempurna pemahaman dan penegetahuan (seorang hamba) terhadap Allah, Zat Yang Maha Mullia, Maha kuasa dan Maha Mengetahui, yang memiliki sifat-sifat yang maha sempurna dan nama-nama yang Maha Indah, maka ketakutan (hamba tersebut) kepada-Nya semakin besar pula” [6Tafsir Ibnu Katsir (3/729)]

Imam Ibnul Qayyim berkata: "Semakin bertambah pengetahuan seorang hamba terhadap (nama-nama dan sifat-sifat) Allah, maka semakin bertambah pula rasa takut dan pengagungannya kepada- Nya, yang kemudian pengetahuannya ini akan mewariskan perasaan malu, pengagungan, pemuliaaan, merasa selalu diawasi, kecintaan, bertawakal, selalu kembali, serta ridha dan tunduk kepada perintah Allah” [Kitab Raudhatul muhibbiin hal. 406 ]

Syaikh Abdurrahman as-Sa'di berkata: "Semakin banyak pengetahuan seseorang terhadap (nama-nama dan sifat-sifat) Allah, maka rasa takutnya kepada-Nya pun semakin besar, yang kemudian rasa takut ini menjadikan dirinya (selalu) menjauhkan dirinya dari perbuatan-perbuatan maksiat dan (senantiasa) mempersiapkan diri untuk berjumpa dengan Zat yang ditakutinya (Allah - Subhanahu Wa Ta'ala - )” [Kitab Taisiirul Kariimir Rahmaan hal. 502 ]Maka keimanan dan ketakwaan seorang hamba akan semakin sempurna dengan semakin dalam dia memahami dengan benar ilmu tentang kemahaindahan nama-nama Allah - Subhanahu Wa Ta'ala - dan kemahatinggian sifat-sifat-Nya. Oleh karena itu, Imam Ibnul Qayyim berkata: "Orang yang paling sempurna dalam penghambaan diri (kepada Allah it) adalah orang yang menghambakan diri (kepada-Nya) dengan (memahami kandungan) semua nama dan sifat-Nya yang (bisa) diketahui oleh manusia” [Kitab Madaarijus saalikiin 1/420]Untuk tujuan mulia ini dan dalam rangka memenuhi seruan Allah - Subhanahu Wa Ta'ala -untuk tolong menolong dan saling menasehati dalam kebaikan, kami ketengahkan kepada para pembaca tulisan sederhana ini, yang semoga menjadi sebab kabaikan bagi semua orang yang membaca dan merenungkannya