• Hotline: (+62) 819.2469.325
Kategori Buku
Al Qowam Syarah Aqidah Wasithiyah (2 Jilid / Set) Penulis : Syaikh  Muhammad bin Shalih Al Utsaimin , Penerbit ; Al Qowam .. Product #: AQM-0051 Regular price: Rp 145.000 Rp 145.000

Penjelasan Akidah Islam yang benar

Harga: Rp 145.000  Rp 116.000

- +

       Aqidah Islamiyah adalah aqidah atau keyakinan yang dibawa para rasul yang diutus Alloh Subhanahu Wa Ta'ala dan yang termaktub dalam kitab-kitab-Nya. Seluruh ciptaan-Nya, baik dari kalangan jin maupun manusia, harus berkeyakinan dengan aqidah ini. Alloh Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. Aku tidak menghendaki rezki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi Aku makan." (Qs. Adz Dzariyaat: 56-57).

Di ayat lain Allah berfirman:
"Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia."(Qs.Al Isra':23).
"Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah taghut itu." (Qs. An Nahl: 36).
Setiap Rasul berdakwah dengan membawa aqidah ini. Semua Kitab Alloh Subhanahu Wa Ta'ala turun guna menjelaskan aqidah ini serta menerangkan segala hal bertentangan atau dapat mengurangi keabsahannya. Semua orang telah sampai umur taklif (dibebani kewajiban) diperintahkan meyakini dan mengamalkannya. Karena pentingnya aqidah ini, dibutuhkan perhatian ekstra sebelum melangkah menuju hal-hal lain, Apalagi aqidah merupakan penentu bahagia tidaknya seseorang di dunia dan akhirat nanti.

Alloh Subhanahu Wa Ta'ala berfirman: "Karena itu barangsiapa ingkar kepada taghut dan kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul/ikatan tali amat kuat yang tidak akan putus." (Qs. Al Baqarah: 256).
Maknanya, barangsiapa melepaskan tangannya dari tali aqidah ini, berarti ia berpegang kepada kebatilan. Hanya kesesatanlah yang didapatkan jika tidak mengikuti kebenaran ini.

“.... Yang demikian itu karena sesungguhnya Allah, Dia-lah (Rabb) Yang Haq, dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain Allah itulah yang batil." (Qs. Al Hajj: 62). Yang pada akhirnya akan berujung kepada Neraka, seburuk-buruk tempat kembali.

Aqidah artinya sesuatu yang dibenarkan dan dijadikan tuntunan (pedoman) oleh seseorang. Apabila pedoman itu sesuai dengan apa yang dibawa oleh para rasul yang diutus Allah dan yang terkandung dalam Al Quran berarti itulah aqidah yang benar (shahih) yang dapat memberikan kebahagiaan dunia-akhirat sekaligus menyelamatkannya dari azab Alloh Subhanahu Wa Ta'ala.
Apabila pedomannya itu menyelisihi apa yang dibawa oleh para rasul yang diutus Allah dan yang terkandung dalam Al Quran, berarti itulah aqidah batil (salah) yang dapat mengantarkan kepada kesengsaraan dunia-akhirat dan siksaan pedih di akhirat nanti.
Aqidah yang benar dapat membentengi dan menjaga darah dan harta seseorang dari gangguan orang lain kecuali ada alasan yang dapat dibenarkan (oleh syariat).
Nabi -Sholallahu Alaihi Wassalam- bersabda, "Aku diperintah untuk memerangi manusia hingga mereka mengucapkan, Laa ilaaha illallah (tiada Rabb yang berhak disembah selain Allah). Apabila mereka mengatakannya, maka telah terpeliharalah dariku darah mereka dan harta mereka kecuali karena (ada alasan yang) hak, dan perhitungannya diserahkan kepada Allah ta'ala.” [diriwayatkan oleh Bukhari (25), Muslim (33)]
"Barangsiapa mengucapkan, Laa ilaaha illallah serta mengingkari segala yang disembah selain Allah, maka haramlah harta dan darahnya, dan perhitungan (tentang perbuatannya) diserahkan kepada Allah Azza Wajalla. “[Shahih Muslim (24), Ahmad (15313)]
Aqidah yang seperti ini pula dapat menyelamatkan penganutnya dari azab Alloh Subhanahu Wa Ta'ala pada hari kiamat.
Telah diriwayatkan oleh Imam Muslim -rahimahulloh- dari Jabir -Rodliallahu Anhu- , bahwasanya Rasulullah -Sholallahu Alaihi Wassalam- bersabda, "Barangsiapa berjumpa dengan Allah dalam keadaan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun, maka ia masuk Surga. Barangsiapa berjumpa dengan-Nya dalam keadaan menyekutukanNya dengan sesuatu maka ia akan masuk Neraka [Shahih, diriwayatkan oleh Muslim (136), Ahmad dalam AI-Musnad (13963)]
Di dalam kitab Shahih Bukhari dan Muslim dari hadits Itban bin Malik -Rodliallahu Anhu- diriwayatkan bahwasanya Rasulullah -Sholallahu Alaihi Wassalam- bersabda, "Sesungguhnya Allah mengharamkan Neraka bagi orang yang mengatakan Laa ilaaha illallah, dia mengharapkan dengan hal itu wajah Allah."[ Shahih, muttafaqun 'alaihi, diriwayatkan oleh Bukhari (407), Muslim (48), Abu Dawud (1202), Ibnu Majah (652),dan Ahmad (22513)]
Aqidah yang benar akan menghapus kesalahan-kesalahan yang pemah dikerjakan. Telah diriwayatkan oleh Imam Tirmudzi -rahimahulloh- disertai pemyataannya bahwa hadits ini adalah hasan, dari Anas bin Malik -Rodliallahu Anhu- ia berkata, "Aku mendengar Rasulullah -Sholallahu Alaihi Wassalam- bersabda, "Alloh Subhanahu Wa Ta'ala berfirman, "Wahai anak keturunan Adam, andai engkau mendatangi-Ku dengan membawa kesalahan sepenuh bumi, kemudian engkau menjumpai-Ku dalam keadaan tidak, menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun, niscaya Aku mendatangkan kepadamu ampunan yang seperti itu pula.”[ Hasan. diriwayatkan olehTirmidzi (3463)]
Syarat untuk mendapatkan ampunan tersebut adalah selamatnya aqidah dari kesyirikan, baik sedikit maupun banyak, kecil maupun besar. Barangsiapa keadaannya demikian, maka dialah pemilik hati yang bersih seperti disebutkan oleh Alloh Subhanahu Wa Ta'ala dalam firman-Nya, "Pada hari ketika harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih." (Qs. Asy Syu'ara: 88-89).
Al Allamah Ibnul Qayyim -rahimahulloh- berkata sehubungan dengan makna hadits Itban di atas: "Orang-orang yang bertauhid akan diberi ampunan -yang tidak diberikan kepada selain mereka- karena mereka tidak mencampuri tauhidnya dengan kesyirikan." Jika mereka meninggal dengan membawa dosa selain syirik sepenuh bumi, Allah akan memberikan ampunan kepadanya sebanyak kesalahannya itu. Ampunan ini tidak akan diperoleh bagi mereka yang tauhidnya tidak sempurna. Tauhid khalish (murni) yang tidak dicampuri oleh kesyirikan sedikit pun tidak akan tercampuri satu dosa pun. Mengapa? Karena tauhid yang murni mencakup kecintaan kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala , pemuliaan dan pengagungan-Nya, serta rasa takut dan harapan kepada-Nya semata.
Semua ini memberikan konsekuensi dibersihkannya segala dosa meskipun jumlahnya memenuhi bumi. Kotoran (akibat dosa) hanyalah bersifat sedangkan yang menghilangkan kotoran tersebut pengaruhnya lebih kuat."
Aqidah yang selamat adalah salah satu syarat diterimanya amalan. Alloh Subhanahu Wa Ta'ala berfirman, "Barangsiapa mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan seesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan." (Qs. An Nahl: 97).
Kebalikan dari hal itu, aqidah yang rusak dapat menggugurkan (pahala) semua amalan. Alloh Subhanahu Wa Ta'ala berfirman, "Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu, "]ika engkau mempersekutukan (Rabb), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentu-lah engkau termasuk orang-orang yang merugi." (Qs. Az Zumar: 65).
"Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan." (Qs. Al An'am: 88).
Aqidah yang rusak oleh kesyirikan menghalangi seseorang mendapatkan surga serta ampunan. Bahkan, mengantarkan seseorang kepada azab yang kekal di dalam Neraka.
Alloh Subhanahu Wa Ta'ala berfirman,
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan Dia mengampuni segala dosa selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya." (Qs. An Nisaa': 48).
"Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya Surga dan tempatnya adalah neraka. Tidaklah ada bagi orang-orang zhalim itu seorang penolong pun." (Qs. Al Maidah: 72).
Aqidah yang rusak juga menghalalkan darah pemiliknya untuk ditumpahkan serta menjadikan harta yang dimilikinya halal untuk diambil. Alloh Subhanahu Wa Ta'ala berfirman, "Dan perangilah mereka supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah." (Qs. Al Anfaal: 39).
"Apabila sudah habis bulan-bulan haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu di mana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah di tempat pengintaian" (Qs. At-Taubah: 5).
Selanjutnya, aqidah yang selamat memberi pengaruh yang baik terhadap hati dan tingkah laku dalam bermasyarakat serta peradaban.
Pada zaman Nabi ada dua kelompok yang membangun masjid. Satu kelompok membangun masjidnya dengan niat yang benar dan berada di atas aqidah yang murni kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala . Adapun kelompok yang satunya membangun masjidnya untuk tujuan yang tidak baik serta di atas aqidah yang rusak. Maka Allah memerintah Nabi-Nya untuk shalat di masjid yang dibangun di atas asas ketakwaan, dan Allah melarangnya untuk shalat di masjid yang dibangun di atas asas kekafiran serta untuk tujuan-tujuan yang buruk.
Allah berfirman,
"(Dan di antara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudharatan (pada orang-orang mukmin), untuk kekafiran, dan untuk memecah belah orang-orang mukmin serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu. Mereka sesungguhnya bersumpah, "Kami tidak menghendaki selain kebaikan." Dan Allah menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah pendusta (dalam sumpahnya). Janganlah engkau shalat di dalam masjid itu selama-lamanya. Sesungguhnya masjid yang didirikan di atas dasar takwa (masjid Quba) sejak hari pertama adalah lebih patut engkau shalat di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan, Allah menyukai orang-orang yang bersih. Maka, apakah orang-orang yang mendirikan masjidnya di atas dasar takwa kepada Allah dan keridhaan-(Nya) itu yang baik ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh. Lain bangunannya itu jatuh bersama-sama dengan dia ke dalam Neraka Jahannam? Sungguh, Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang zhalim." (Qs. At Taubah: 107-109).
Inilah terjemah dari kitab : Syarah Aqidah Al Washithiyyah Li Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, disyarah oleh Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin -rahimahulloh- . yang membahas Aqidah semua para Rosul Alloh, Aqaidah yang diwariskan Rosullulloh Sholallahu Alaihi Wassalam kepada para murid-nya (yakni Shohabat - Rodliallahu Anhum-), diwariskan lagi kepada para murid Shohabat - Rodliallahu Anhum- ( yakni Tabi’in -rahimahumulloh-), diwariskan lagi kepada murid Tabi’in ( yakni Tabiut Tabiin -rahimahumulloh-), dan sampai kepada kita ilmu Aqidah islam yang Shahih ini, melalui warisan para imam, ulama yang mengikuti para pendahulunya dengan benar.
Sebuah buku induk yang membahas secara detail Aqidah Islam, terutama dalam masalah:
Tauhid Asma’ dan Shifat Alloh Subhanahu Wa Ta'ala, Syafaat Rosullulloh Sholallahu Alaihi Wassalam ,Qodha dan Qodar, Ahlul bait Rosululloh, Shahabat nabi -Rodliallahu Anhum- ,Karamah Wali, Bid’ah, Dan lainnya. Betapa banyak Firqoh dalam Islam, mereka terjatuh dalam kesesatan karena salah dalam memahami Aqidah Asma dan Shifat Alloh ini.
Pastikan !!, anda pelajari dan faham betul Aqidah Asma dan Shifat Alloh yang Shahih ini, yang bisa menjadi tuntutan bagi anda utk selamat dunia dan akherat.

Detail Info Buku
Bahasa Indonesia/ terjemah
Format Cover softcover
ISBN 978-602-8417-40-2
Judul Asli Syarah Aqidah Wasithiyah
Judul Buku Syarah Aqidah Wasithiyah
Jumlah Halaman 554 & 436 hlm
Jumlah Jilid Lengkap 1 Set 2 Jilid lengkap
Penerbit / Publisher Al Qowam
Penulis Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin
Ukuran Fisik Buku 15 x 23 cm