• Hotline: (+62) 819.2469.325
Kategori Buku
Darul Falah Syarah Problematika Jahiliyah Penulis : Syaikh Dr Shalih bin Fauzan Al Fauzan , Penerbit : Darul Falah .. Product #: DFH-0081 Regular price: Rp 44.000 Rp 44.000

Syarah Problematika Jahiliyah, Penerbit Pustaka darul Falah

Harga: Rp 44.000  Rp 35.200

- +

      Inilah buku penjelas dari Kitab Masaail Al Jahiliyah tulisan -Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab -rahimahulloh- yang membahas masalah perilaku jahiliyah, yang telah diselisihi oleh Rasulullah -Sholallahu Alaihi Wassalam- . Di dalamnya berisi 128 masalah yang berkaitan dengan perkara-perkara jahiliyah. Beliau -rahimahulloh- telah meringkasnya dan mengambil permasalahan-permasalahan tersebut dari Al-Kitab, As-Sunnah, dan perkataan para ulama. Tujuan ditulisnya buku ini adalah sebagai peringatan bagi kaum muslimin agar menjauhi permasalahan ini, karena perkara ini sangatlah berbahaya sekali. Di dalam buku ini, beliau menerangkan masalah-masalah jahiliyyah yang telah diselisihi oleh Rasulullah -Sholallahu Alaihi Wassalam- terhadap orang-orang jahiliyah dari kalangan Ahli Kitab dan Ummiyyin.


Yang dimaksud dengan Ahli Kitab adalah Ahli Kitab dari kalangan Yahudi dan Nasrani. Karena orang-orang Yahudi mempunyai kitab Taurat yang telah diturunkan oleh Allah kepada Nabi Musa alaihisslam. Sedangkan orang-orang Nasrani mereka mempunyai kitab Injil yang Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- turunkan kepada Nabi Isa bin Maryam –Alaihissalam-. Oleh karena itu mereka dijuluki sebagai Ahli Kitab.

Dan di masa sekarang, mereka menyebut Taurat dengan nama Perjanjian Lama atau Lembaran-lembaran Lama, sedangkan Injil mereka sebut dengan nama Perjanjian Baru atau Lembaran-lembaran Baru. Demikian istilah yang sekarang mereka pakai.
Keduanya awal nya adalah dua kitab yang agung, yang Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- telah turunkan kepada kedua nabi yang mulia, yaitu Nabi Musa dan Nabi Isa, dan lebih terkhusus Taurat. Karena kitab tersebut adalah kitab yang agung. Sedangkan Injil berfungsi sebagai penyempurna dan pembenar terhadap Taurat. Oleh karena itulah mereka dinamakan Ahli Kitab, sebagai pembeda antara mereka dengan selain mereka dari kalangan orang-orang yang tidak memiliki kitab.
Adapun Al-Ummiyyin, mereka adalah bangsa Arab yang tidak beragama dengan agama-agama yang ada. Mereka dijuluki dengan Al-Ummiyyin, yang merupakan bentuk jamak (kata benda yang berjumlah lebih dari dua, ed) dari kata ummiy, nisbat kepada al-um (yaitu orang yang tidak bisa membaca dan menulis). Mereka adalah mayoritas kaum yang tidak bisa membaca dan menulis, serta tidak memiliki kitab sebelum diturunkannya Al-Qur'an. Oleh karena itu, mereka dinamakan Al-Ummiyyin, sebagaimana Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- berfirman,yang artinya.
"Dia adalah Dzat yang telah mengutus seorang rasul di kalungan Al-Ummiyyin dari kalangan mereka sendiri. " (Al-Jumu'ah: 2)
Dan firman Alloh Azza Wa Jalla
"Supaya engkau memberikan peringatan kepada suatu kaum yang nenek moyang mereka tidak diperingatkan, maka mereka adalah orang-orang yang lalai."(Yasin:6)
Inilah makna Al-Ummiyyin. Dan Allah telah menyifati Nabi -Sholallahu Alaihi Wassalam- dengan sifat ummiy.
Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- berfirman, yang artinya
"Orang-orang yang mengikuti rasul, nabi yang ummiy yang mereka dapati tertulis di sisi mereka di dalam Taurat dan Injil, yang ia akan memerintahkan kepada yang ma 'ruf dan mencegah dari yang mungkar. "(Al-A'raf: 157)

Yang dimaksud dengan ummiy adalah tidak bisa membaca dan menulis. Dan beliau diutus membawa kitab yang agung ini dalam keadaan ummiy sebagai bukti atas kebenaran risalahnya. Hal ini termasuk salah satu mukjizat beliau -Sholallahu Alaihi Wassalam- . Dan mayoritas bangsa Arab ketika itu Ummiyyin dan Nabi mereka pun seorang ummiy.
Sedangkan jahiliyah adalah nisbat kepada al-jahl, yang artinya adalah tidak ada ilmu atau bodoh. Maka al-jahiliyyah adalah masa tidak adanya seorang rasul dan sebuah kitab. Yang dimaksud dengannya adalah masa sebelum diutusnya Nabi Muhammad -Sholallahu Alaihi Wassalam-

Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- berfirman, yang artinya
“ jangan kalian bertabaruj sebagaimana tabarujnya kaum jahiliya hterdahulu. (Al-Ahzab:33)
Kejahiliyahan yang dimaksud dalam ayat ini ialah masa sebelum diutusnya Nabi -Sholallahu Alaihi Wassalam- . Mengapa demikian? Karena sebelum diutusnya Nabi , seluruh belahan alam semesta ini berada di dalam gelombang kesesatan dan kekufuran. Hal ini dikarenakan kitab-kitab yang ada telah tersusupi oleh tangan-tangan kotor. Orang-orang Yahudi telah melakukan tahrif (perubahan) terhadap kitab Taurat, dengan memasukkan berbagai macam kesesatan, kekufuran, dan kekejian.

Demikian pula orang-orang Nasrani. Mereka telah melakukan tahrif tehadap kitab Injil dari keasliannya sebagaimana yang telah diturunkan kepada Nabi Isa –Alaihissalam- Dan yang demikian itu terjadi ketika ada seorang yang bernama Bils atau Syawel. Dia adalah seorang Yahudi yang dengki kepada Rasulullah Isa – Aliahissalam- Laki-laki ini telah merencanakan makar dan tipu daya untuk merusak dan menghancurkan agama Al-Masih..
Dalam rangka melancarkan misi busuknya, ia berpura-pura beriman kepada Nabi Isa –Alaihisslam- dan menyesali atas segala sikapnya yang memusuhi Al-Masih dan ajarannya. Hal ini karena ia telah bermimpi -menurut pengakuannya- bahwa ia beriman kepada Al-Masih, dan orang-orang Nasrani membenarkan apa yang telah dikatakannya.
Kemudian ia mendalami Injil yang diturunkan kepada Isa ,Lalu ia menyusupkan dan memasukkan ke dalamnya keyakinan kepada berhala, kekufuran dan kesesatan. la memasukkan keyakinan trinitas, yaitu bahwasanya Allah adalah salah satu dari yang tiga, Isa adalah anak Allah, atau dia adalah Allah. Dan ia juga menyusupkan ajaran untuk menyembah salib, serta berbagai macam pemahaman kekafiran yang keji.
Orang-orang Nasrani lalu membenarkan hal itu dan menyatakan bahwa sang Yahudi ini adalah seorang alim dan seorang yang beriman. Bahkan mereka menjulukinya sebagai Rasul Bils atau Rasul Al-Masih sesuai dengan anggapan batil mereka. Padahal misi utama dia hanyalah ingin menghancurkan agama Al-Masih. Maka berhasillah apa yang ia inginkan. Sehingga agama Al-Masih menjadi rusak dan telah masuk di dalamnya segala macam faham keberhalaan, dan ajaran trinitas sampai zaman sekarang ini.

Ini adalah keadaan Ahli Kitab sebelum diutusnya Nabi Muhammad -Sholallahu Alaihi Wassalam- kecuali sedikit dari mereka yang masih berpegang dengan ajaran yang benar ketika itu. Akan tetapi mayoritas dari mereka berada di atas kekafiran dan penyimpangan dari agama Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- .
Adapun bangsa Arab terbagi menjadi dua kelompok, yaitu:
1. Kelompok yang mengikuti agama-agama sebelumnya, seperti agama Yahudi, Nasrani, dan Majusi.
2. Kelompok yang masih berada di atas agama yang lurus (tauhid), yaitu agama Ibrahim dan Ismail, tidak terkecuali di Hijaz di bumi Mekkah Al-Mukarramah.
Sampai muncul seorang laki-laki yang bernama'Amr bin Luhay Al-Khuza'i, seorang raja dari Hijaz, yang pada awalnya menampakkan pengorbanan, ibadah, dan kebaikan. Kemudian pada suatu hari ia pergi ke negeri Syam untuk berobat. Di sana ia mendapati penduduk Syam menyembah patung berhala, dan dia menganggapnya itu adalah kebaikan. Selanjutnya ia pulang dari negeri Syam dengan membawa patung berhala tersebut. Dia pun berusaha menggali patung berhala yang terkubur di dalam tanah milik kaum Nabi Nuh –Alaihisslam-. Patung berhala tersebut merupakan jelmaan/wujud fisik orang-orang shalih pada masa kaum Nabi Nuh –alaihissalam-, orang-orang Sholeh tersebut bernama : Wad, Suwa', Yaghuts, Ya'uq, Nasr, dan yang lainnya, yang telah diporak-porandakan oleh angin topan sehingga terkuburlah patung berhala tersebut.
Kemudian datanglah Iblis dan tentaranya dari kalangan Syaithon ‘ membimbing’ Amr bin Luhay dan menunjukkan tempat di mana patung berhala itu terkubur. Lalu ia menggali dan mengeluarkannya. Setelah itu dia membagi dan menyebarkan patung berhala tersebut kepada kabilah-kabilah Arab. Dia memerintahkan agar patung berhala tersebut diibadahi atau dijadikan sebagai sesembahan selain mereka menyembah kepada Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- . Maka mereka pun menerima seruan dan ajakan sesat dan menyesatkan itu. Sehingga dengan ini, masuklah kesyirikan dan peribadatan kepada patung berhala ke negeri Hijaz dan selainnya dari negeri-negeri Arab, dan dirubahlah ajaran Ibrahim –Alaihissalam-.
'Amr bin Luhay telah membuat berbagai macam kekejian dengan membuat patung berhala dari binatang ternak. Oleh karena itu Nabi -Sholallahu Alaihi Wassalam- telah melihatnya di neraka Jahannam dalam keadaan ususnya terburai.
Maka keadaan alam semesta ketika sebelum diutusnya Nabi -Sholallahu Alaihi Wassalam- berada di dalam kesesatan yang nyata. Baik Ahli Kitab, orang-orang ummiy maupun selain mereka, bahkan seluruh penduduk. Kecuali sebagian yang tersisa dari Ahli Kitab yang masih berada di atas agama yang benar. Akan tetapi mereka telah punah sebelum diutusnya Nabi -Sholallahu Alaihi Wassalam- . Sehingga terjadilah kegelapan yang pekat di muka bumi ini. Disebutkan di dalam sebuah hadits, "Sesungguhnya Allah melihat kepada penduduk bumi, dan Dia murka (baik) kepada bangsa Arab maupun ajam-nya (non Arab), kecuali sebagian yang tersisa dari Ahli Kitab."
Di dalam kegelapan yang pekat ini, keadaan jahiliyah yang sudah menjadi hukum, dan menghancurkan berbagai jalan, pelajaran, dan peninggalan risalah samawiyah, dalam keadaan yang demikian parahnya, Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- mengutus Nabi dalam rangka mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya. Sebagaimana Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- berfirman,
"Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan Al-Hikmah ( sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelum itu benar-benar dalam kesesatan yang nyata. " (Ali 'Imran: 164)
Makna “Dan sesungguhnya mereka sebelum itu " adalah sebelum diutusnya Nabi -Sholallahu Alaihi Wassalam- . Semua perkara yang disandarkan kepada kejahiliyahan maka perkara itu tercela.
Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- berfirman, yang artinya
"Dan janganlah kalian bertabaruj sebagaimana tabarujnya kaum jahiliyah yang dahulu " (Al-Ahzab: 33). Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- telah melarang semua istri Nabi dari ber-tabaruj. Yaitu menampakkan perhiasan di pasar-pasar dan di depan manusia. Karena kebiasaan istri-istri orang jahiliyah adalah ber-tabaruj, bahkan sampai membuka aurat, sebagaimana ketika mereka melakukan thawaf. Mereka berpendapat bahwa hal ini adalah sebagian dari kebanggaan.
Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- berfirman, yang artinya
"Ingatlah ketika Dia menjadikan orang-orang kafir di dalam hati-hati mereka ada semangat, yaitu semangat jahiliyah. " (Al-Fath: 26)
Dan semangat kejahiliyahan itu merupakan perkara yang tercela. Sehingga ketika Nabi -Sholallahu Alaihi Wassalam- mendengar seorang dari kaum Anshar yang sedang bertikai dengan seorang dari kaum Muhajirin di sebuah peperangan berteriak, "Wahai kaum Anshar! " Dan orang Muhajirin juga berteriak, "Wahai kaum Muhajirin! " Setiap orang dari mereka menyeru kaumnya. Maka Nabi -Sholallahu Alaihi Wassalam- bersabda,
"Apakah dengan seruan jahiliyah ini kalian saling memanggil, sedangkan aku masih berada di tengah-tengah kalian?! Tinggalkan seruan itu, karena sesungguhnya ini adalah seruan yang buruk. “ [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (no. 3518,4905, dan 4907) dan Muslim (no. 2584).]
Maknanya adalah berbangga diri dengan kabilah (suku). Karena sesama mukmin itu bersaudara, tidak ada perbedaan antara Anshar dan Muhajirin, dan tidak pula antara kabilah ini dan itu. Mereka bersaudara dalam satu keimanan, seperti satu jasad dan bangunan yang sebagiannya menopang sebagian yang lain.
{mospagebreak}
Kewajiban ini (wajib dilakukan) oleh semua kaum muslimin. Tidak ada perbedaan antara bangsa Arab atau non Arab, antara kulit hitam dengan kulit putih kecuali dengan ketaqwaan, sebagaimana Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- berfirman,
"Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa di antara kalian." (Al-Hujurat: 13)
"Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu. " (Al-Hujurat: 10)
Bangga dengan nasab ( keturunan, Trah, Ras ) dan kabilah (suku) adalah sebagian dari perkara-perkara kejahiliyahan.
Nabi -Sholallahu Alaihi Wassalam- bersabda,
“Barangsiapa yang mati sedang dia belum berbaiat (kepada penguasa kaum muslimin), niscaya ia mati dalam keadaan jahiliyah.” [Diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim (no. 1850).]
Karena orang-orang jahiliyah adalah para pembangkang dan tidak pernah mau tunduk kepada penguasa dan pemimpin. Demikianlah keadaan orang-orang jahiliyah.
Kesimpulannya adalah, semua perkara jahiliyah itu tercela. Dan Rasulullah telah melarang kita untuk menyerupai orang-orang jahiliyah di dalam semua perkara. Dan dengan diutusnya beliau maka hilanglah kejahiliyahan secara umum di muka bumi ini. Ilmu dan keimanan telah datang, Al-Qur’an dan As-Sunnah telah diturunkan, dan tersebarlah ilmu sehingga lenyaplah kebodohan.
Maka selama Al-Qur’an, As-Sunnah, dan perkataan para ulama Sunnah masih ada, sesungguhnya kejahiliyahan itu sudah tidak ada [Maksudnya adalah kejahiliyahan secara umum]. Adapun sebagian sikap dan perilaku kejahiliyahan masih tetap ada di sebagian manusia, kabilah, atau sebagian negeri-negeri. Dan ini adalah kejahiliyah yang sifatnya juziyyah (sebagian atau parsial, khusus).
Oleh karena itu, tatkala Nabi -Sholallahu Alaihi Wassalam- mendengar seorang laki-laki mencela saudaranya dengan mengatakan, "Wahai anaknya orang hitam." Maka beliau berkata kepadanya 'Engkau mencelanya karena ibunya?! Sesungguhnya pada dirimu masih ada perilaku jahiliyah.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (no. 30,2545,6050) dan Muslim (no. 1661)]
Rosululloh juga bersabda ,
"Empat perkara yang merupakan perkara jahiliyah dan masih terdapa tpada umatku yang tidak mereka tinggalkan, yaitu mencela nasab (keturunan), bangga dengan nasab (keturunan), meratapi mayit, dan meminta hujan kepada bintang-bintang.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari secara ringkas (no. 3850) dan Muslim (no. 935). Dan lafazh hadits ini milik Muslim]
Hal ini menunjukkan bahwasanya masih ada beberapa perkara jahiliyah pada sebagian manusia, dan hal ini sangat tercela, akan tetapi pelakunya tidak dikafirkan karenanya. Tetapi kejahiliyahan secara umum telah lenyap dari muka bumi.Alhamdulillah.
Oleh karena itu tidak diperbolehkan untuk mengatakan, "Bahwa manusia berada dalam kejahiliyahan", atau, "Masa sekarang secara umum berada di dalam masa jahiliyah". Karena ucapan ini merupakan satu bentuk penentangan terhadap keberadaan risalah, penentangan terhadap Al-Qur"an dan As-Sunnah. Ucapan mutlak seperti ini tidak dibenarkan.
Adapun bila dikatakan, "Bahwa pada sebagian manusia masih ada sifat dan perilaku kejahiliyahan", atau, "Di sana ada satu perangai dari perangai jahiliyah". Dan hal ini memang ada (maka diperbolehkan). Sehingga dalam hal ini terdapat perbedaan antara kondisi sebelum dan sesudah diutusnya Nabi.
Terkadang sebagian orang mengatakan, "Apa yang mendorong ditulis dan dikumpulkannya masalah-masalah kejahiliyahan, padahal masa kejahiliyahan itu telah berlalu? Dan kita adalah kaum muslimin. Walillahil hamd.
Kita katakan kepadanya, "Yang mendorong ditulis dan dikumpulkan permasalahan ini tiada lain agar waspada darinya. Sesungguhnya apabila seorang muslim telah mengetahuinya, dia akan mewaspadainya. Adapun jika bodoh dan tidak mengenalnya, terkadang terjerumus ke dalamnya. Maka menyebutkan dan mempelajarinya adalah dalam rangka untuk mengenali perkara-perkara tersebut kemudian menjauhi dan waspada darinya. Ini dari satu sisi. Dan sisi yang kedua, sesungguhnya bila engkau mengenal kejahiliyahan niscaya engkau akan mengenal keutamaan Islam,
Umar bin Al-Khaththab -Rodliallohu Anhu- berkata,
'Hampir-hampir ikatan tali Islam terurai sehelai demi sehelai, bila ada orang yang tumbuh dalam Islam tidak mengenal perkara jahiliyah'."
Maka bila manusia biasa masa bodoh terhadap perkara-perkara jahiliyah, sungguh sangat dikhawatirkan ia terj.atuh ke dalamnya. 

Detail Info Buku
Bahasa Indonesia
Format Cover softcover
Judul Asli Syarah Masaail Jahiliyah
Judul Buku Syarah Problematika Jahiliyah
Jumlah Halaman 274 hlm
Penerbit / Publisher Darul Falah
Penulis Syaikh Dr Shalih bin Fauzan Al Fauzan
Ukuran Fisik Buku Buku Ukuran Sedang