• Hotline: (+62) 819.2469.325
Kategori Buku
Pustaka Imam Syafii Tuntunan Mengambil Berkah penulis : Dr. Nashir bin 'Abdurrahman bin Muhammad al-Judai' ; Penerbit Pustaka Imam Syafii .. Product #: PIS-00073 Regular price: Rp 120.000 Rp 120.000

Tuntunan Mengambil Berkah

Tabaruk atau mencari berkah adalah tema yang selalu menarik untuk dibicarakan. Pesan-pesannya pun mengundang selera untuk diamalkan,karena tabarruk akan mendatangkan kcbaikan dan keberkahan, baik dalam urusan dunia atau agama.
Betapa tidak, keberkahan malam Lailatul Qadar misalnya. Beribadah pada malam itu nilainya beribu-ribu kali lebih baik dari malam-malam lainnya. Tentang keberkahan malam ini, Allah mengabadikannya dalam firman-Nya:
"Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. " (QS. Al-Qadr: 3)
Tentang keberkahan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam bersabda:
"Sekali shalat di masjidku ini lebih utama daripada seribu kali shalat di masjid lain, kecuali shalat di Masjidil Haram. Sekali shalat di Masjidil Haram lebih utama daripada seratus ribu kali shalat di masjid lain," (HR. Ahmad).
Dan, mengenai keberkahan tinggal di kota Madinah dengan sabar mcnghadapi kesulitannya, di dalam shahih Muslim disebutkan bahwa Rasulullah bersabda:
"Tidaklah seseorang dari ummatku bersabar terhadap kesuliian hidup tinggal  di Madinah melainkan aku akan memberi isyafaat kepadanya dan menjadi saksi baginya."
  Demikianlah, dengan izin-Nya, Alloh Azza wa Jalla  memberikan keberkahan dan kebaikan yang banyak pada sebagian ciptaan-Nya. Siapakah yang tidak tergerak hatinya untuk mengumpulkan bonus luar biasa itu dengan amalan yang ringan dilakukan? Hanya orang-orang yang malas dan lalai saja yang rela membiarkan kesempatan emas itu bcrlalu tanpa makna. Hanya orang-orang yang dungu saja yang tidak tergugah hatinya untuk menggapainya.
    Ironisnya, di sisi lain kita dapati banyak ummat Islam yang menyikapi tabarruk ini secara berlebihan. Dengan niat meraup pahala dan keberkahan yang berlipat ganda mereka bertabarruk dengan segala sesuatu yang berbau keramat dan dianggap memiliki berkah, dimana saja hal itu mereka temukan. Mulai dari kuburan orang yang dianggap mereka sebagai Wali, sampai scnjata-senjata peninggalan para raja dan menu-menu makanan upacara adat, batu akik, dan benda-benda lain-nya yang dianggap keramat, bertuah, sakti, ada “ isi ‘ nya. Dan istilah-istilah lain yang semisal.
     Tersebarnya berbagai bentuk praktik tabarruk yang dilarang— dengan berbagai model dan fenomenanya—di semua negara-negara Islam. Akibatnya, ia menjadi sesuatu yang wajar dilakukan, bahkan dianggap sebagai salah satu bentuk ibadah oleh pelakunya.
Di sebagian besar negeri Islam, banyak tempat ziarah kubur yang dijadikan sebagai tempat suci. la menjadi tujuan safar, tempat i'tikaf, thawaf, shalat dan berdo'a. Bangunan fisiknya diusap sedangkan tanahnya dijadikan sebagai obat yang dianggap dapat menyembuhkan. Sementara, orang yang dikubur di dalamnya menjadi tambatan do'a selain kepada Allah. Bahkan, masjid dan kubah di bangun di atasnya. Demikianlah yang terjadi pada peninggalan-peninggalan para Nabi, orang-orang shalih, dan semisalnya. Tidak hanya sampai di sini, kaum Muslimin juga ditimpa fitnah dengan dimuliakannya malam kelahiran (maulid) Nabi dan mencari berkah darinya, serta perayaan hari-hari besar dan momen-momen lainnya.
     Dalam  konteks ke-Indonesia-an, sebagian masyarakat Muslim Indonesia dikenal gemar bertabarruk / cari berkah. Makam orang-orang yang dianggap Wali merupakan tempat keramat yang dijadikan tempat mencari berkah/bertabarruk.
Di Solo, Jawa Tengah, "Kiai Slamet", yang tak lain adalah kerbau milik keraton Surakarta, diburu keberkahannya setiap tanggal satu syura (Muharram). Masih di tempat yang sama, mereka bertabarruk dengan sisa air cucian benda-benda Keraton pada tiap upacara sekaten yang bertepatan dengan hari Maulid Nabi. Dan, masih banyak lagi fenomena seperti itu di tempat lain di Indonesia.
Fenomena tabarruk serupa juga terjadi di banyak negara Islam selain Indonesia, dan di negara Iran kondisinya sangat parah. Mereka menjadikan makam-makam para imam mereka sebagai tempat suci dan tempat beribadah, berdo'a, dan tabarruk.
      Ummat Islam yang mengerjakan amalan seperti itu seringkali tanpa dilandasi dengan ilmu yang benar dan tidak jarang hanya karena mengikuti adat istiadat nenek moyang mereka secara turun temurun. Akibatnya, pelanggaran-pelanggaran terhadap syari'at Islam tidak terhindarkan. Bahkan, tak jarang tabarruk mereka justru merupakan sebuah kemusyrikan, na'uudzu billah min dzaalik.
      Bagaimanakah cara bertabarruk yang dibenarkan? Kapan dan dimanakah hal itu dapat dilakukan? Apa hukumnya orang yang bertabarruk dengan cara yang tidak disyari'atkan dan dengan benda-benda yang secara syar'i tidak mengandung berkah? Adakah di bumi Allah ini, seperti di indonesia dan negara Islam lain selain tanah suci Makkah dan Madinah, tempat yang diberkahi? Apakah tabarruk yang dilakukan oleh masyarakat Muslim di Indonesia, di Iran, dan di negara Islam lain dibenarkan oleh syari'at? Atau justru ia merupakan sebuah kemusyrikan?
   Adanya pengaruh berbahaya dan kerusakan besar yang disebabkan oleh tabarruk yang tidak disyari'atkan. Dampak negatif yang paling besar adalah terjerumus ke dalam perbuatan syirkul akbar (syirik besar), bid'ah, kemaksiatan, serta menyia-nyiakan kewajiban dan hal-hal Sunnah. Semua ini, dan semacamnya, terjadi atas nama dan karena tabarruk tersebut. Tentu semua itu menuntut adanya satu pembahasan tuntas terkait dengan tema tersebut dan menjelaskannya
    Untuk mendapatkan jawaban yang memuaskan dan memberikan informasi yang cukup tentang tabarruk, inilah buku yang membahas tentang tabarruk secara lengkap dan tuntas. Buku ini ini merupakan terjemahan dari kitab aslinya yang berjudul "at-Tabarruk Anwaa'uhu wa Ahkaamuhu." Buku yang merupakan disertasi doktoral karya DR. Nashir bin 'Abdurrahman bin Muhammad al-Judai' ini menyuguhkan kajian tabarruk secara tuntas dan menyeluruh, baik yang disyari'atkan maupun yang dilarang, mencakup seluruh waktu dan tempat yang diberkahi di seluruh penjuru dunia.

Detail Info Buku
Bahasa Indonesia
Format Cover hardcover
Judul Asli at-Tabarruk Anwaa'uhu wa Ahkaamuhu
Judul Buku Tuntunan Mengambil Berkah
Jumlah Halaman 669 hlm
Penerbit / Publisher Pustaka Imam Syafii
Penulis Dr. Nashir bin 'Abdurrahman bin Muhammad al-Judai'
Ukuran Fisik Buku buku ukuran sedang 17 x 24 cm