• Hotline: (+62) 819.2469.325
Kategori Buku

Ajaran Madzab Imam Syafii yang Ditinggalkan

Harga: Rp 150.000

- +

Dalam kehidupan keberagamaan umat Islam, bermadzhab khususnya fikih adalah realitas yang tidak dapat dielakkan. Ada latar belakang sejarah sendiri mengapa kemudian madzhab-madzhab itu terbentuk, padahal tanpa ada deklarasi apa pun dari para ulama yang kemudian dinobatkan sebagai imam-imam madzhab. Karena, mereka insya Allah tidak pernah membayangkan apalagi menginginkan untuk menjadi imam madzhab. Ilmu mumpuni, keshalihan, dan ke-wara'an-lah yang menjadikan umat menempatkan mereka sebagai tokoh dan pemimpinDalam sejarah umat Islam, banyak muncul madzhab-madzhab fikih. Tetapi yang terus bertahan, paling dikenal dan cukup banyak pengikutnya ada empat, yaitu madzhab Hanafi dengan pemimpin Imam Abu Hanifah, madzhab Maliki dengan Imam Malik sebagai tokohnya, madzhab Syafi'i dengan Imam Syafi'i sebagai pemimpin-nya, dan madzhab Hanbali dengan Imam Ahmad bin Hanbal sebagai pemimpinnya.
Kemunculan dan perkembangan madzhab fikih ini sudah dianggap wajar seiring dengan kebolehan ijtihad. Kontribusi para imam yang memang memiliki otoritas untuk memberikan penjelasan dalam masalah hukum itu kemudian memunculkan pengikut-pengikut yang cenderung lebih memilih metode maupun hasil ijtihad yang mereka lakukan dengan ciri khas masing-masing.
Persoalan yang timbul mengiringi perkembangan madzhab adalah munculnya pengikut-pengikut yang fanatik madzhab sehingga menimbulkan gesekan dengan pengikut madzhab lain. Yang lebih menyedihkan sebagian pengikut madzhab menjalaninya dengan taklid buta, tanpa mengerti alasan-alasan pendapat seorang pendiri madzhab maupun tokoh-tokoh dari madzhab itu. Dan yang paling parah, mereka yang mengaku bermadzhab, tetapi menyimpang dari prinsip, metode, maupun cara yang dipegang sang pendiri madzhab. Inilah kemudian yang memunculkan banyak kerancuan bahkan penyimpangan dalam praktik keberagamaan umat Islam, khususnya yang mengikuti madzhab tertentu.
Buku Ini ditulis untuk merespon realitas kehidupan bermadzhab yang seperti itu. Dipilihnya madzhab Syafi'i sangat terkait dengan madzhab ini yang paling banyak diikuti di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Penulis menyoroti praktik-praktik Islam dari mereka yang menyatakan bermadzhab Syafi'i tetapi tidak sejalan dengan prinsip-prinsip maupun metode yang dipegang oleh Imam Syafi'i.
Upaya untuk menelaah berbagai realitas keyakinan dan amalan masyarakat Syafi'iyyah tanah air, kita tidak boleh terjebak oleh kaidah mayoritas, yakni bahwa yang diamalkan kebanyakan orang, itulah yang benar.
Diriwayatkan dari Abu Ali bin Syadzaan dengan sanad yang marfu' sampai kepada Abdullah bin Ishaq Al-Ja'fari bahwa ia menceritakan, 'Abdullah bin Al-Hasan, yakni Ibnul Hasan bin Ali bin Abu Thalib seringkali duduk bersama Rabi'ah dan saling menimba ilmu. Suatu hari, ada seorang laki-laki di majelis mereka berkomentar, "Akan tetapi masyarakat awam tidak demikian (amalan masyarakat awam berlawanan dengan itu)?" Abdullah berkata: "Bagaimana pendapatmu bila semakin banyak orang yang bodoh, apakah mereka menjadi hakim yang memutuskan hukum? Apakah mereka menjadi hujjah terhadap ajaran As-Sunnah?" Rabi'ah berkata: "Aku bersaksi bahwa itu adalah ucapan dari anak-anak para Nabi -Alaihissalam- " (lihat : Al-I'itishaam I; 460)
Jadi, soal masyarakat awam yang sudah terlanjur bersinggungan dengan sekian banyak kesalahan, sudah 'kadung' terbiasa dengan budaya yang keliru, ternyata realitas yang sudah ada dari semenjak berakhirnya tiga generasi emas Islam, Sahabat, Tabi'in dan Tabiu't Tabi'in. Mulai dari situ, budaya bid'ah dan kesesatan menyebar luas, sehingga pada sebagian komunitas Islam, amalan atau keya-kinan yang keliru atau cara berkeyakinan dan beramal secara keliru, justru sudah menjadi kebiasaan yang dianggap benar, selain itu adalah salah.
Padahal, dasar keyakinan Ahlussunnah hanya mengacu pada substansi kebenaran. Kalau bisa malah dibilang sebaliknya, 'Kebanyakan orang -dalam skala umum- justru berada dalam kekeliruan'.
"Kalau engkau memperturuti (keyakinan atau amalan) kebnnyakan manusia di bumi ini, pasli mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah." (QS. Al-An'aam : 116)
Maksudnya, bila kita mengikuti mereka, pasti kita akan tersesat seperti mereka. Karena kebanyakan manusia di bumi ini memang tidak akan mengajak ke arah petunjuk. Karena mereka memang berada dalam tumpukan kesalahan (Lihat Tafsir Alh-Thabori VIII: 10)
Misi kita sebagai muslim adalah mempelajari, mengamalkan dan mendakwahkan kebenaran. Haram hukumnya memperturutkan kehendak orang dan mengabaikan hukum Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- . Rasulullah -Sholallahu Alaihi Wassalam- bersabda:
"Siapa saja yang mencari keridhaan Allah dengan hal-hal yang dimurkai oleh manusia, pasti Allah pun akan meridhainya dan menjadikan manusia juga akan menyukainya. Siapa saja yang mencari keridhaan manusia dengan hal-hal yang dimurkai oleh Allah, pasti Allah pun akan murka terhadapnya, dan menjadikan manusia justru akan membencinya." [Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi IV : 609. Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban I : 510. diriwayatkan oleh Al-Haitsami dalam Majma'uz Zawaa-id IV : 71. Juga oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf VI: 198. Lalu oleh Alh-Thabrani X : 215]
Berkenaan dengan Hadis tersebut, Ibnu Rajab Al-Hambali -rahimahulloh- menjelaskan:
"Manusia paling berbahagia adalah yang memperbaiki hubungannya dengan Allah. Karena, dengan cara itu, Allah akan memper¬baiki hubungannya dengan manusia. Orang yang mencari keridhaan manusia dengan hal-hal yang membuat Allah murka, pasti pujian manusia terhadapnya, berubah menjadi cacian belaka." [lihat : jamiul uluum wal hikam I : 163]
Kemudian camkan berbagai ungkapan Imam Syafi'i sendiri: "Kaum muslimin telah berijma' bahwa apabila seseorang telah mengetahui Sunnah Rasulullah -Sholallahu Alaihi Wassalam- , tidak boleh ia meninggalkannya hanya karena mengikuti pendapat orang lain." Beliau -rahimahulloh- juga pernah menyatakan "Kalau pendapatku berlawanan dengan pendapat Rasulullah -Sholallahu Alaihi Wassalam- campakkan saja pendapatku itu ke tembok."
Beliau -rahimahulloh- juga pernah menyatakan:
"Bila ada Hadis shahih, itulah madzhabku."
Demikianlah beberapa ungkapan Imam Syafi'i I [Lihat biografi beliau dalam Siyar A 'lam Nubala (XI/ 34-35)]
Dalam ungkapan lain, Asy-Syafi'i -rahimahulloh- menjelaskan, 'Umat Islam bersepakat bahwa orang yang telah mengetahui ajaran Sunnah Rasulullah tidak perlu meninggalkan ajaran itu hanya karena pendapat seseorang [Ar-Ruuh oleh Ibnul Qayyim hal. 356.]
Fenomena masyarakat Syafi'iyyah yang sudah terlanjur membentuk berbagai corak keyakinan dan amalan yang banyak di antaranya berkutat dalam lingkaran kesesatan, memang sebuah problematika yang harus dicarikan solusinya, harus ditelaah, diteliti dan dibenahi sisi-sisi buruknya, agar perwajahan masyarakat Syafi'iyyah itu menjadi lurus dan tidak lagi terbungkus oleh fanatisme buta belaka.
Artinya, seyogyanya masyarakat Syafi'iyyah di mana pun mereka berada, selalu membuka pintu untuk mengadopsi kisi-kisi kebenaran, meski harus berlawanan dengan adat kebiasaan yang mereka lakukan. Sikap itu, sudah merupakan bentuk diskusi dingin 'yang amat bermanfaat.
Imam Syafi'i -rahimahulloh- pernah berkata: 'Aku tidak pernah berdiskusi dengan siapa pun dengan keinginan dalam hati agar orang itu keliru.Dan setiap kali aku memiliki ilmu dalam hati, aku ingin setiap orang memiliki ilmu tersebut, tanpa dinisbatkan kepadaku.'
Dari Ar-Rabie' diriwayatkan bahwa ia pernah mendengar Imam Syafi'i bertutur, saat aku menemui beliau ketika beliau sedang sakit. Beliau menyebutkan buku-buku yang pernah beliau tulis. Beliau lalu berkata: 'Aku ingin sekali seandainya seluruh manusia mempelajari buku-buku itu, namun tidak usah dinisbatkan kepadaku sedikit pun.'
Dari Harmalah bin Yahya diriwayatkan bahwa ia menceritakan, Aku pernah mendengar Imam Syafi'i berkata: 'Aku berkeinginan seandainya seluruh ilmu yang kuketahui, dapat dipelajari oleh seluruh manusia, aku cukup mendapatkan pahalanya dan mereka tidak usah memujiku’ [ lihat ; Aadabusy Syaafi'ie Wa Manaaqibuhu hal. 91]
Semua ungkapan Imam Syafi'i menunjukkan, bahwa beliau tidak perduli dari mana saja kebenaran itu datang. Asalkan itu adalah kebenaran, bahkan tanpa menyertakan nama beliau sekali pun pada buku-buku yang beliau tulis. Sehingga, beliau pun lebih tidak perduli apakah sebuah metodologi itu bernama Syafi'iyyah atau bukan, bahkan beliau lebih suka bila embel-embel nama beliau tidak disertakan, yang terpenting adalah kesesuaiannya dengan kebenaran.
Begitu juga pendapat di kalangan Syafi'iyyah, terkadang bisa saja berubah-ubah, mengikuti alasan dan hujjah yang juga berbeda-beda, sesuai dengan batas keilmuan yang dimiliki oleh ulama Syafi'iyyah bersangkutan. Contohnya saja, dalam soal menyikapi keharusan membedakan diri dengan orang kafir.
Seperti contoh yang mereka sebutkan tentang meninggikan kuburan sedikit. Karena menurut madzhab Syafi'i, yang lebih utama adalah meratakannya. Sedangkan menurut madzhab Imam Ahmad dan Abu Hanifah, sedikit ditinggikan. Namun kemudian segolongan penganut madzhab Syafi'i menyatakan, "Pada saat sekarang ini, kita wajib meninggikannya sedikit, karena orang-orang Rafidlah (Syi'ah) biasa meratakannya. Dengan meratakannya, berarti kita telah menyerupai mereka dalam hal yang menjadi syi'ar mereka."
Segolongan di antara penganut Syafi'iyyah menyatakan, "Kita justru boleh saja meratakannya. Dengan meratakannya, tidak berarti kita menyerupai mereka dalam syi'ar mereka. Namun kedua golongan itu tetap sepakat tentang keharusan tidak menyerupai ahli bid'ah dalam hal apa yang menjadi syi'ar mereka. Mereka hanya berbeda pendapat, apakah meratakan kuburan itu termasuk menyerupai mereka atau tidak?" Kalau demikian halnya dengan menyerupai ahli bid'ah, apalagi menyerupai orang-orang kafir?
Yakni mengacu pada sabda Nabi: " Barangisapa yang menyerupai satu kaum, berarti ia termasuk golongan mereka." (HR. Abu Dawud)
Juga sabdanya: "Berbedalah dengan orang-orang musyrik, pendek-kanlah kumis dan panjangkanlah jenggot." (HR. Muslim)
Buku ini adalah salah satu bentuk upaya penyadaran, bahwa kebenaran itu memang harus dipelajari, diteliti dan ditelaah secara serius. Tidak boleh hanya dijiplak dari adat kebiasaan saja.

Ajaran Madzab Imam Syafii yang Ditinggalkan
Penulis : Firnda Andirja Abidin Lc, MA
Fisik : Buku ukuran sedang 23 x 15 cm, Hardcover, 528 halaman
Penerbit : nashirus Sunnah
ISBN : 978-602-7734-42-5
Harga Rp