• Hotline: (+62) 819.2469.325
Kategori Buku

Al Itisham : Buku Induk Pembahasan Sunnah & Bidah

Harga: Rp 199.000  Rp 159.000

- +

Diriwayatkan sebuah atsar dari Sa'id Al Musayyib -rahimahullah-
" Sesungguhnya Dia (Sa'id) melihat seorang lelaki yang sholat setelah terbit fajar lebih dari dua rokaat dengan memperpanjang ruku dan sujudnya, maka Sa'id bin Al Musayyib pun melarangnya. Kemudian lelaki tadi pun berkata kepada beliau,'Wahai Abu Muhammad ( Sa'id), Apakah Alloh akan menyiksaku dengan sebab sholat ?', Sa'id pun menjawab,'Tidak, namun Alloh akan menyiksamu karena menyelisihi Sunnah." [Imam Al Baihaqi dalam Al Kubro 2/466, Abdurrazak 3/55, Sunan Ad Darimi 1/116 dan yang lainnya , dengan sanad Shahih ]
Syaikh Al Albani -rahimahullah- dalam kitab beliau Irwaul Ghalil 2/236 mengomentari atsar ini dengan perkataan," Ini adalah jawaban yang sangat bagus dari Sa'id Al Musayyib -rahimahullah- dan merupakan senjata tajam atas ahlu bid'ah yang sering menganggap baik perbuatan bid'ah dengan label ibadah kemudian mereka mengingkari Ahlus Sunnah yang membantah perbuatan mereka dan menuduh Ahlus Sunnah telah mengingkarinya. Padahal Ahlus Sunnah hanyalah mengingkari perbuatan penyimpangan mereka yang menyelisihi sunnah dalam dzikir, sholat dan ibadah lainnya.".
Begitu banyak bid'ah dan penyimpangan yang dilakukan muslimin yang sangat jauh dari tuntunan agama yang disebabkan karena kebodohan dan hawa nafsu.

Sungguh, Tidak diragukan lagi bahwa setiap bid'ah dalam urusan agama adalah sesat dan terlarang (haram). Hal ini berdasarkan Sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam [artinya], "jauhilah oleh kalian perkara-perkara yang baru (dalam agama) karena setiap yang baru itu bid'ah dan setiap bid'ah adalah sesat."[ Abu Dawud: 4/201, hadits nomor 4607 dan at-Tirmidzi: 5/44, hadits nomor 2676.]
Sabda beliau -Sholallahu Alaihi Wassalam- "Barangsiapa mengada-adakan dalam urusan (agama) kami sesuatu yang baru yang tidak termasuk bagian darinya, maka ia tertolak " .
"Barangsiapa mengerjakan suatu amalan yang tidak ada perintah dari kami, maka ia tertolak." [Muttafaq 'alaih. Al-Bukhari: 3/222, hadits nomor 2697, dan Muslim: 3/1343]

Kedua hadits di atas menunjukkan bahwa setiap perkara baru dalam urusan agama adalah bid'ah, dan setiap bid'ah pasti sesat dan tertolak. Dengan demikian, semua bentuk bid'ah dalam semua bentuk ibadah adalah terlarang (haram) kecuali ada perintahnya. Akan tetapi, larangan bid'ah tersebut bertingkat-tingkat sesuai dengan jenis bid'ah itu sendiri.
Ada bid'ah yang sampai pada tingkatan kufur, seperti melakukan thawaf di kuburan dengan maksud untuk mendekatkan diri (beribadah) kepada orang-orang yang ada di kuburan tersebut, mempersembahkan binatang-binatang sembelihan dan nadzar-nadzar kepada kuburan-kuburan itu, berdoa dan beristighatsah (meminta pertolongan agar dihilangkan dan segala malapetaka) kepada para penghuni kuburan-kuburan itu, dan perkataan-perkataan golongan ekstrem dari kalangan Jahmiyah, Mu'tazilah, dan Rafidhah.

Ada bid'ah yang menjadi sarana menuju kesyirikan, seperti membangun bangunan di atas kuburan, shalat, dan berdoa di kuburan. dengan tujuan meminta kepada penghuni kubur.
Ada bid'ah yang termasuk kemaksiatan, berpuasa dengan cara berdiri di bawah terik matahari, mengebiri dengan tujuan untuk memangkas nafsu birahi, dan lain-lainnya [Lihat Kitabut-Tauhid karya 'Allamah Dr. Shalih bin fauzan al fauzan]

Imam asy-Syathibi rahimahullah menyebutkan bahwa dosa orang yang melakukan perbuatan bid'ah tidak berada pada satu tingkatan, tetapi berada pada tingkatan yang berbeda-beda. Perbedaan tingkatan itu disebabkan oleh beberapa sisi berikut:

1. Orang yang melakukan bid'ah itu mengklaim dirinya sebagai orang yang berhak berijtihad (mujtahid) atau hanya orang yang ikut-ikutan (muqallid).
2. Bid'ah itu terjadi pada hal-hal yang bersifat dharuri. agama, jiwa, kehormatan, akal, harta, dan lain-lain atau bukan dharuri.
3. Orang melakukan bid'ah itu secara sembunyi-sembunyi atau terang-terangan.
4. Orang yang melakukan bid'ah itu mengajak kepada bid'ahnya atau tidak.
5. Bid'ah itu mengeluarkan pelakunya dari lingkup ahli Sunnah atau tidak.
6. Bid'ah itu termasuk bid'ah hakiki atau idhafi.
7. Bid'ah itu jelas atau samar.
8. Bid'ah itu menyebabkan pelakunya menjadi kafir atau tidak.
9. Bid'ah itu terus-menerus dikerjakan atau tidak.

Asy-Syathibi rahimahullah menjelaskan bahwa tingkatan-tingkatan ini berbeda-beda kadar dosanya sesuai dengan cara pandang terhadap tingkatan-tingkatan tersebut. [lihat : al itishom : 2/515-559]

       Selanjutnya, beliau rahimahullah menjelaskan bahwa di antara tingkatan-tingkatan ini ada yang haram dan ada pula yang makruh. Namun, sifat sesat itu mencakup semua macam bid'ah yang ada.
Tidak diragukan bahwa sesuai dengan tingkatan-tingkatan dosanya, maka bid'ah itu terbagi menjadi tiga bagian.
Pertama, bid'ah yang merupakan kekufuran yang nyata.
Kedua, bid'ah yang merupakan dosa-dosa besar.
Ketiga, bid'ah yang merupakan dosa-dosa kecil

Bid'ah yang merupakan dosa kecil mempunyai beberapa syarat berikut :
Pertama, bid'ah itu tidak dikerjakan secara terus-menerus. Bid'ah yang berupa dosa kecil yang dikerjakan secara terus-menerus dapat berubah menjadi dosa besar.
Kedua, tidak didakwahkan. Jika seseorang mengajak kepada bid'ah itu, maka dosanya akan semakin besar karena semakin banyak orang yang mengerjakannya.
Ketiga, bid'ah itu tidak dikerjakan di tempat-tempat berkumpul dan tidak pula dikerjakan di tempat-tempat ditegakkannya Sunnah.
Keempat, tidak menganggap kecil dan meremehkan bid'ah itu. Tindakan seperti ini menunjukkan sikap meremehkan bid'ah tersebut, sedang menganggap remeh dosa itu lebih besar dosanya daripada dosa yang diremehkan itu
Sebutan sesat itu berlaku pada ketiga bagian bid'ah ini karena Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam telah menetapkan bahwa setiap bid'ah adalah sesat. Ini mencakup bid'ah yang menyebabkan kekufuran dan bid'ah yang menyebabkan kefasiqan baik berupa dosa besar maupun dosa kecil [ lihat al itishom 2/516]

Ada sebagian ulama yang membagi bid'ah itu berdasarkan lima hukum yang terdapat dalam syariat Islam.Merekaberpendapat bahwa ada bid'ah yang hukumnya wajib, ada bid'ah yang hukumnya haram, ada bid'ah yang hukumnya sunnah, ada bid'ah yang hukumnya makruh, dan ada bid'ah yang hukumnya mubah (boleh).
Pembagian bid'ah semacam ini jelas-jelas bertentangan dengan sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam [artinya],
" Sesungguhnya setiap perkara baru [dalam urusan agama] adalah bid'ah, dan setiap bid'ah adalah sesat."

    Imam asy-Syathibi rahimahullah secara terang-terangan menolak pembagian bid'ah semacam itu setelah ia mengemukakan pembagian-pembagian bid'ah beserta pelakunya. la berkata, "Tanggapan [atas pembagian bid'ah ini] adalah bahwa pembagian [bid'ah] seperti ini adalah perkara yang diada-adakan yang sama sekali tidak didukung oleh dalil syar'i. Bahkan, pembagian itu sendiri adalah tertolak karena bid'ah itu pada hakikatnya adalah amalan yang tidak ditunjukkan oleh dalil syar'i baik dari nash-nash syar'i maupun kaidah-kaidahnya. Sekiranya ada dalil dari syariat yang menunjukkan hukum wajib, sunnah, atau mubah, maka hal itu bukanlah bid'ah, dan amalan tersebut termasuk dalam keumuman amalan-amalan yang diperintahkan atau amalan-amalan yang diperintah untuk memilihnya. Oleh karena itu, menggabungkan hal-hal di atas adalah bid'ah, dan menggabungkan keberadaan dalil-dalil yang menunjukkan hukum wajib, sunnah, atau mubah adalah penggabungan yang saling menafikan (bersifat kontradiktif). Adapun bid'ah yang makruh dan yang haram, maka hal itu dapat diterima ditinjau dari sisi bahwa hal itu memang bid'ah, bukan dari tinjauan yang lain [ al itishom 1/246] Kitab Al Itishom karya Imam Asy Syatibi adalah Salah satu kitab yang menjadi rujukan para ulama dalam memahami secara detail bidah dan pernik-perniknya.

Bab 1 : Definisi, penjelasan arti dan pengambilan kata bid'ah dari segi lafadzhnya
Bab 2 : Tercelanya bid'ah dan buruknya tempat kembali bagi para pelaku bid'ah
Bab 3 : Tentang umumnya celaan terhadap bid'ah dan hal-hal baru dalam agama
Bab 4 : Sumber pengambilan Ahli Bid'ah dalam berdalil
Bab 5 : Hukum bid'ah hakikiyah dan idhafiyyah serta perbedaan keduanya
Bab 6 : Hukum-hukum bid'ah tidak hanya satu macam.
Bab 7 : Bidah masuk dalam perkara adat atau hanya perkara ibadah
Bab 8 : Perbedaan antara bidah, Al Maslahat al mursalah dan istihsan
Bab 9 : Sebab-sebab perpecahan kelompok yang membuat bidah di kalangan umat Islam
Bab10 : Penjelasan makna 'Shirothol Mustaqim" yang diselewengkan oleh Ahli Bidah kemudian mereka tersesat setelah adanya petunjuk yang jelas

Detail Info Buku
Bahasa Indonesia
Format Cover hardcover
Judul Asli Al I'tishom
Judul Buku Al Itisham : Buku Induk Pembahasan Sunnah & Bidah
Jumlah Halaman 896 hlm
Penerbit / Publisher Pustaka Azzam
Penulis Imam Asy Syatibi
Ukuran Fisik Buku Buku ukuran sedang 23,5 x 15 cm