• Hotline: (+62) 819.2469.325
Kategori Buku

bagaimana menghindari godaan gangguan tipudaya setan ?

Brand: Al Qowam

Harga: Rp 170.000  Rp 136.000

- +

       Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- berfirman mengisahkan Iblis -musuh-Nya- ketika Dia bertanya tentang alasannya tidak mau bersujud kepada Adam, lalu Iblis menjawab bahwa ia lebih baik daripada Adam, lalu Allah mengeluarkannya dari surga dan Iblis memohon untuk diberi tempo/waktu hingga hari kiamat. Maka Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- pun memberikan tempo tersebut kepadanya. Setelah itu, Iblis berkata, seperti tercantum dalam Al Quran:
"Karena Engkau telah menghukumku tersesat maka aku benar-benar akan duduk menghalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus. Kemudian aku akan mendatangi mereka dari muka, belakang, kanan dan kiri mereka dan Engkau tidak mendapati kebanyakan mereka bersyukur" (Al-A'raf [7]: 16-17)
Sebagian besar ulama ahli tafsir dan ahli nahwu berkata: "Dalam ayat di atas terdapat hadzf (penghapusan) huruf, sehingga fi’il (kata kerja) tersebut menashabkan isim setelahnya.Taqdirnya adalah: laaqudanna lahum ala shirathika ' Maka aku benar-benar akan duduk menghalangi mereka di atas jalan-Mu"
Mengenai penafsiran kata "shirathal mustaqim (jalan-Mu yang lurus)",
Ibnu Abbas -Rodliallohu Anhu- berkata: ‘Agama-Mu yang jelas."
Ibnu Mas'ud -Rodliallohu Anhu- berkata: "Yaitu kitabullah."
Jabir -Rodliallohu Anhu- berkata: "Yaitu Islam."
Mujahid -Rahimahulloh- berkata: "Yaitu kebenaran."
Semua pernyataan tersebut semakna, yaitu jalan menuju Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- .

        Rosululloh -Sholallahu Alaihi Wassalam- bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Sabrah bin Fakih: "Sesungguhnya setan duduk menghalangi anak Adam pada semua jalannya." Jadi, tidak ada satupun jalan kebaikan kecuali setan duduk di sana menghalangi orang yang hendak melaluinya.

Mengenai perkataan Iblis: “ Kemudian aku akan mendatangi mereka dari muka", berkata para ulama islam dalam menafsirkan nya,

Ibnu Abbas -Rodliallohu Anhu- berkata dalam riwayat Atiyah: "Dari arah dunia." 

Sedangkan dalam riwayat Ali Ibnu Abi Talhah, Ibnu Abbas berkata: "Aku akan menjadikan mereka ragu-ragu terhadap kehidupan akhirat."

Hasan Basri -rahimahulloh- berkata: "Dari arah akhirat, agar mereka mendustakan hari kebangkitan, surga dan neraka."
Mujahid -Rahimahulloh- berkata: "Dari depan mereka, artinya dari arah yang mereka bisa melihat."
Mengenai perkataannya: " dan dari belakang mereka", Ibnu Abbas -Rodliallohu Anhu- terkata: "Aku akan menjadikan mereka mencintai dunia."
Hasan Basri -Rahimahulloh- berkata: "Dari arah dunia mereka, aku tampakkan dunia itu indah dan aku jadikan mereka menyukainya."
Dalam riwayat yang berbeda, Ibnu Abbas berkata: "Dari arah akhirat mereka."
Abu Shalih -rahimahulloh- berkata: "Aku jadikan mereka ragu-ragu terhadap kehidupan akhirat dan menganggapnya mustahil terjadi."
Mujahid -rahimahulloh- berkata: "Dari arah yang mereka tidak bisa melihat."
Mengenai perkataan Iblis " dan dari arah kanan mereka",
Ibnu Abbas -rahimahulloh- berkata: "Aku kaburkan urusan agama mereka."
Abu Shalih berkata: "Aku akan menjadikan mereka ragu-ragu dalam urusan tersebut." Dalam riwayat lain, Ibnu Abbas mengatakan, "Dari arah kebaikan."
Hasan Basri -rahimahulloh- berkata: "Dari arah kebaikan, aku kendurkan semangat mereka untuk melaksanakannya."
Abu Shalih -rahimahulloh- berkata: "Dari depan, belakang, kanan dan kiri artinya: kujadikan mereka itu munafik dan menyukai kemunafikan."
Hasan Basri -rahimahulloh- berkata: " dan dari arah kiri mereka" artinya dari arah kejahatan. Iblis memerintahkan dan menganjurkan mereka untuk melaksanakan kejahatan serta menampakkan indah kejahatan tesebut di mata mereka."
Ada riwayat shahih dari Ibnu Abbas -rahimahulloh- bahwa ia berkata: "Iblis tidak mengatakan dari atas, karena ia mengetahui bahwa Allah berada di atas mereka."
Asy Sya'bi -rahimahulloh- berkata: "Allah menurunkan rahmat dari atas mereka."
Qatadah -rahimahulloh- berkata: "Wahai manusia, berhati-hatilah terhadap setan, dari arah manapun. Akan tetapi, ia tidak mendatangimu dari arah atas, karena ia tidak bisa menghalangimu dari rahmat Allah."
Wahidi -rahimahulloh- berkata: "Pendapat yang mengatakan bahwa kanan adalah kiasan dari kebaikan sedangkan kiri adalah kiasan dari kejahatan adalah pendapat yang baik. Karena orang-orang Arab biasa mengatakan, 'Tempatkan aku di sebelah kananmu, jangan kau tempatkan aku di sebelah kirimu. Kedepankan aku, jangan kebelakangkan aku."'
Abu Ubaid meriwayatkan dari Asmai bahwa ia berkata: "'Dia berada di sebelah kanan kami, artinya: 'ia berkedudukan baik di sisi kami' Kebalikannya: ia berada di sebelah kiri kami."

       Jalan yang dilalui oleh manusia ada empat, tidak ada jalan lain. Kadang-kadang ia mengambil jalan sebelah kanannya, kirinya, depannya dan kadang-kadang belakangnya. Jalan manapun yang diambilnya, ia pasti menemukan setan sedang menghadangnya. Jika ia melalui jalan tersebut dalam rangka melaksanakan kemaksiatan maka ditemukannya setan mendorong, membantu, menolong dan memberinya iming-iming.
Di antara yang memperkuat pendapat para ulama Salaf tersebut adalah firman Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- :
"Dan Kami tetapkan bagi mereka teman-teman yang menjadikan mereka memandang bagus apa yang ada di hadapan dan di belakang mereka" (Fushshilat [41]: 25)
Kalbi -rahimahulloh- berkata: "Kami tetapkan untuk mengiringi mereka, teman-teman yang berupa setan-setan." Muqatil berkata: "Kami siapkan untuk mereka teman-teman yang berupa setan-setan."
Ibnu Abbas -Rodliallohu Anhu- berkata: "Yang di hadapan mereka adalah perkara dunia sedangkan yang di belakang mereka adalah perkara akhirat."
Artinya, setan-setan itu menghiasi dunia ini sehingga tampak indah di mata mereka sehingga mereka lebih mengutamakannya dan mengajak mereka untuk mendustakan serta berpaling dari akhirat.
Al Kalbi -rahimahulloh- berkata: "Mereka menghiasi perkara akhirat yang ada di hadapan mereka: bahwa tidak ada surga, neraka, atau hari kebangkitan; dan perkara dunia: yaitu kesesatan yang sedang mereka lakukan." Pendapat ini dipilih oleh Farak.
Ibnu Zaid -rahimahulloh- berkata: "Setan-setan itu menghiasi perbuatan-perbuatan jahat yang telah mereka kerjakan maupun yang akan mereka kerjakan."

      Dengan berdasarkan pendapat ini maka maksudnya adalah: setan-setan itu menghiasi perbuatan-perbuatan buruk mereka yang telah lampau, sehingga mereka tidak bertaubat dan yang akan datang, sehingga mereka tidak berniat meninggalkannya.

        Firman Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- mengenai perkataan setan: "Kemudian aku akan mendatangi mereka dari arah depan dan belakang" meliputi urusan-urusan dunia dan akhirat, sedangkan firman-Nya: "Dari kanan dan kin mereka", karena malaikat kebaikan berada di sebelah kanan, menganjurkan manusia untuk berbuat bail maka setan mendatanginya dari arah ini untuk menghalanginya; sedangkan malaikat yang mencatal kejahatan berada di sebelah kiri, mencegahnya dari perbuatan jahat maka setan mendatanginya dari arah tersebut dan menghasungnya untuk melakukannya.
Ini merupakan perincian dari firman Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- :
"Demi kemuliaan-Mu, sungguh aku akan menyesatkar mereka semua." (Shad [38]: 82)

       Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- berfirman:
Mereka ibadahi selain Allah itu tidak lain berhala-berhala dan (dengan beribadah kepada berhala-berhala itu) mereka tidak lain hanyalah beribadah kepada setan yang durhaka. Yang dilaknat oleh Allah. Setan mengatakan, 'Saya akan mengambil dari hamba-hamba-Mu bagian yang sudah ditentukan. Dan aku benar-benar akan menyesatkan mereka dan menyuruh mereka (memotong telinga-telinga binatang ternak) lalu mereka benar-benar memotongnya dan aku suruh mereka (mengubah ciptaan Allah) lalu mereka benar-benar mengubahnya! Barangsiapa menjadikan setan sebagai pelindung selain Allah maka sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata. Setan memberikan janji-janji dan membangkitkan angan-angan kosongpada mereka. Dan tidaklah setan memberikan janji-janji selain tipuan belaka." (An-Nisa' [4]:117-120)
Imam Dhahak -rahimahulloh- berkata: "Mafrudhan maksudnya:diketahui'."
Zajaj berkata: "Maksudnya: bagian yang telah kutetapkan untukku."
Farak berkata: "Sesuatu pada diri manusia yang menjadi jalan bagi setan untuk menguasainya, itu seakan-akan merupakan jatah baginya."
Ibnu Qoyyim -rahimahulloh- dalam buku ini beliau berpendapat, al-fardhu sebenarnya berarti at-taqdiru (penetapan). Ayat tersebut memiliki makna: barangsiapa mengikuti dan menaati setan maka ia merupakan jatah yang ditetapkan bagi setan. Jadi, barangsiapa menaati musuh Allah maka ia merupakan jatahnya.
Manusia terbagi menjadi dua:
1 . Yang merupakan bagian dan jatah bagi setan.
2. Yang merupakan wali , hamba shalih bagi Allah.
Sedangkan ucapan setan: "Dan aku benar-benar akan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka",
Ibnu Abbas -Rodliallohu Anhu- berkata: "Setan ingin menghalang-halangi dan mengakhirkan taubat manusia."
Al Kalbi -rahimahulloh- berkata: "Setan benar-benar akan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka bahwa sekalipun tersesat, mereka tetap akan memperoleh bagian mereka di akhirat ."
Ulama lain mengatakan: "Aku akan memberikan iming-iming kepada mereka berupa tindakan menuruti hawa nafsu yang mengajak kepada kemaksiatan dan bidcah."
Ada juga yang berkata: "Sungguh aku akan membangkitkan angan-angan mereka bahwa mereka akan hidup lama dalam gelimang nikmat dunia maka aku panjangkan angan-angan mereka sehingga mereka mengutamakan kenikmatan dunia daripada kenikmatan akhirat."

       Mengenai penafsiran ucapan Iblis: "Dan aku benar-benar akan memerintah mereka (untuk mengubah ciptaan Allah) maka mereka benar-benar mengubahnya"
Ibnu Abbas -Rodliallohu Anhu- berkata: "Maksudnya adalah agama Allah." Ini juga pendapat Ibrahim, Mujahid, Hasan Basri, Dhahak, Qatadah, Sudi. Sa'id bin Musayib dan Sa'id bin Jubair – rahimakumulloh-
Maksudnya adalah Allah  menciptakan hamba-hamba-Nya di atas fitrah yang lurus, yaitu agama Islam, sebagaimana firman Allah: "Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah. (Tetaplah pada) fitrah Allah yang telah menciptakan menusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. Dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya..." (Ar-Rum [30]: 30-31)

Karena itu, Nabi -Sholallahu Alaihi Wassalam- bersabda:
Setiap bayi pasti dilahirkan di atas fitrah, lalu kedua orang tuanya me-yahudi-kan, me-nasrani-kan dan me-majusi-kannya; sebagaimana binatang dilahirkan sebagai binatang secara utuh. Apakah kalian me-nemukan kudung padanya, kecuali setelah kalian mengudungnya?" Kemudian Abu Hurairah membaca ayat berikut: 'Tetaplah pada fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu!" (HR.Mutafaqcalaih)

Dalam hadits tersebut Nabi -Sholallahu Alaihi Wassalam- menyebutkan dua perkara secara seiring, yaitu: perubahan fitrah dengan meyahudikan dan mengkristenkan serta perubahan ciptaan. Kedua perkara tersebut telah diberitahukan oleh Iblis bahwa manusia pasti akan mengubah keduanya.
la mengubah fitrah dengan kekafiran dan ini adalah perubahan karakter dasar yang di atasnya mereka diciptakan serta mengubah rupa dengan pemotongan dan pengudungan. Yang satu merupakan pengubahan penciptaan ruh sedangkan yang satu lagi adalah pengubahan penciptaan rupa.

Kemudian Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- berfirman: "Setan memberikan janji-janji dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal setan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain tipuan belaka." Janji setan adalah apa yang dibisikkannya kepada hati manusia, seperti: "Engkau akan panjang umur dan akan mengalahkan musuh-musuhmu, dunia itu silih berganti, kemenangan suatu saat akan berada di tanganmu, sebagaimana dahulu berada di tangan orang lain." Setan memanjangkan angan-angannya dan menjanjikan kebaikan kepadanya, sekalipun ia melakukan perbuatan syirik dan maksiat. la membangkitkan angan-angan kosong dalam berbagai bentuk, yang tidak ada kenyataannya.

Ada perbedaan antara menjanjikan dan membangkitkan angan-angan. Menjanjikan adalah berkaitan dengan kesenangan sedangkan membangkitkan angan-angan adalah berkaitan dengan keinginan. Setan menjanjikan kesenangan yang tidak ada kenyataannya, yang disebut pula dengan tipuan (ghurur) dan membangkitkan angan-angannya yang tidak mungkin terwujud. Barangsiapa memperhatikan keadaan sebagian besar manusia, niscaya ia menemukan mereka itu tergiur oleh janji dan iming-iming setan, tanpa menyadari bahwa janji-janji setan adalah dusta dan iming-imingnya adalah mustahil. Jiwa yang hina, yang tidak berharga sama sekali, menelan mentah-mentah janji-janji dan iming-iming setan.

Jiwa yang lemah memang merasakan nikmatnya angan-angan kosong dan janji-janji palsu; menyenanginya, seperti pada para wanita dan anak-anak.
Perkataan-perkataan bohong sumbernya dari janji dan angan-angan yang dibangkitkan oleh setan. Setan membangkitkan angan-angan pada pengikut-pengikutnya bahwa mereka akan memperoleh kebenaran, menjanjikan kepada mereka bahwa mereka akan sampai kepada kebenaran tanpa melalui ialannya. Semua orang yang mengikuti kebatilan terkena firman Allah berikut: "Setan menjanjikan dan membangkitkan angan-angan pada mereka, padahal setan tidak menjanjikan kepada mereka kecuali tipuan belaka." (An-Nisa [4]: 120)

Serupa dengannya adalah firman Allah: "Setan menjanjikan kefakiran kepada kalian dan memerintah kalian melakukan fakhsya (perbuatan kotor). Padahal Allah menjanjikan ampunan dan karunia-Nya kepada kalian." (Al-Baqarah [2]: 268)
Sebagian ulama mengatakan, maksud "menjanjikan kefakiran kepada kalian" adalah "menakut-nakuti kalian dengan kefakiran. Setan berkata: 'Jika kalian menginfakkan harta maka kalian akan menjadi fakir.' Dan memerintah kalian untuk melakukan fakhsya (perbuatan kotor)." Para ulama tafsir berkata: “Perbuatan kotor di sini adalah kebatilan."
Disebutkan dari Imam Muqatil dan Kalbi : "Semua kata fakhsya di dalam Al-Quran berarti zina, kecuali pada ayat tersebut, di sini berarti kebakhilan."
Imam Ibnu Qoyyim -rahimahulloh- , berkata : Yang benar, yang dimaksud fakhsya adalah semua perbuatan kotor. Ia merupakan sifat yang dipredikatkan kepada sesuatu yang mahdzuf (terhapus). Dihapuskannya maushuf (yang disifati) dimaksudkan untuk menunjukkan keumuman: maksudnya semua perbuatan kotor dan kekotoran, yang salah satunya adalah kebakhilan.
Dalam ayat tersebut Allah telah menyebutkan janji dan perintah setan. Setan memerintah mereka melakukan kejahatan dan menakut-nakuti mereka dari melakukan kebaikan.
Keduanya merupakan esensi keinginan setan terhadap manusia. Ketika setan menakut-nakuti seseorang dari perbuatan baik, ia meninggalkan perbuatan baik itu. Danjika setan memerintahnya berbuat fakhsya, ia melakukannya. Allah menyebut tindakan setan yang menakut-nakuti manusia dengan sebutan janji. Kemudian Allah menyebutkan janji-Nya kepada manusia, jika ia menaati-Nya, melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, yaitu berupa ampunan dan karunia. Ampunan adalah penjagaan dari keburukan dan karunia adalah pemberian kebaikan.

Dalam hadits yang masyhur disebutkan:
"Sesungguhnya, malaikat memiliki bisikan pada hati manusia, demikian pula setan. Bisikan malaikat adalah: janji kebaikan dan pembenaran terhadap janji Allah, sedangkan bisikan setan adalah janji keburukan dan pendustaan terhadap janji Allah!' Kemudian (Abu Hurairah) membaca ayat (yang artinya): "Setan itu menjanjikan kefakiran dan memerintah perbuatan kotor (fakhsya) kepadamu."

Setan dan malaikat itu silih berganti memberikan bisikan kepada manusia, sebagaimana bergantinya malam dan siang. Ada orang yang malamnya lebih panjang daripada siangnya, ada yang sebaliknya, ada yang hanya menggunakan waktu siang saja dan ada yang sebaliknya.

Bagaimana bentuk-bentuk tipu daya setan terhadap manusia, dan bagaimana kiat untuk menghindari nya. Insya Alloh Azza Wa Jalla dibahas dalam buku ini .

Detail Info Buku
Bahasa Indonesia/ terjemah
Format Cover Hardcover
ISBN 978-602-8417-15-0
Judul Asli Ighatsatul lhfan min mashaydisy Syaithon
Judul Buku Ighatsatul Lahfan : Menyelamatkan Hati dari Tipu daya Setan
Jumlah Halaman 770 hlm
Penerbit / Publisher Al Qowam
Pentahqiq Khalid Abdul Lathif As Saba’ Al Alami’
Penulis Imam Ibnul Qoyyim Al Jauziyyah
Ukuran Fisik Buku 19,5 x 26,5 cm