• Hotline: (+62) 819.2469.325
Kategori Buku

Rutinitas Amalan Bidah dalam Setahun

Seorang Muslim tidak akan ragu bahwa Rasulullah tidak akan meninggalkan dunia ini dan kembali ke sisi Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- , melainkan setelah agama yang hanif (lurus) ini disempurnakan, sebagaimana firman-Nya:
"Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam itu menjadi agamamu," (QS. Al-Maa-idah: 3) dan setelah Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala-  menjadikan beliau -Sholallahu Alaihi Wassalam-  sebagai penutup para Nabi, sebagaimana firman-Nya:
"Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah danpenutup Nabi-Nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (QS. Al-Ahzaab: 40)
    Sesungguhnya agama yang ditegakkan di atas asas Kitabullah al-Karim dan as-Sunnah Rasulullah -Sholallahu Alaihi Wassalam- ini layak diterapkan di mana saja dan kapan saja, serta cukup untuk memenuhi segala kebutuhan umat manusia. Oleh sebab itulah, Allah memerintahkan kita agar mengikuti petunjuk-Nya. Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala-  berfirman:
"'Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu menceraiberaikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa." (QS. Al-An'aam: 153)
Allah juga memerintahkan kita agar mentaati Rasul-Nya. Allah berfirman:
"Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya." (QS. Al Hasyr: 7)
Selain itu, Allah memerintahkan kita untuk mengembalikan semua permasalahan yang diperselisihkan kepada Allah dan Rasul-Nya. Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala-  berfirman:
"Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul(-Nya), dan ulil amri (para pemimpin) di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (al-Qur-an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari Kemudian. Yang demikian itu adalah lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya." (QS. An-Nisaa': 59)
       Apabila agama ini telah diyakini kesempurnaannya, maka sudah pasti tidak dibutuhkan penambahan. Tidak perlu lagi diada-adakan bid' ah dalam agama untuk mendekatkan diri kepada Allah, Rabb semesta alam. Maka siapa saja yang mengada-adakan bid' ah lalu menganggapnya baik, sesungguhnya ia telah membawa syari'at baru dan menuduh syari'at Muhammad belum lengkap. Seolah-olah, ia mengoreksi ketetapan Allah dan Rasul-Nya. Cukuplah hal itu sebagai bukti keburukannya.
      Dalam pada itu, musuh-musuh Islam dan orang-orang yang tidak suka melihat Islam tersebar menggambarkan indah sejumlah bid' ah kepada sebagian orang. Mereka memunculkannya dalam bentuk yang gemerlap dan menipu, serta menghiasinya dengan pakaian zuhud, taqarrub (pendekatan diri) kepada Allah, dan perwujudan cinta Rasul.
       Padahal, maksud mereka yang sebenarnya adalah merusak agama Islam dan menyaingi syari'at dengan bid'ah, agar sunnah Nabi menjadi perkara yang asing sementara bid'ah menggantikan kedudukannya.
     Sejumlah ulama suu' (yang sesat dan menyesatkan) dan pemuka tarekat sengaja menyebarkan bid'ah, sebagai upaya mereka untuk menjadi pemimpin masyarakat dan untuk mencari harta, sehingga merebaklah amalan-amalan bid'ah di dunia Islam, layaknya api yang menjalar saat menyulut tumbuh-tumbuhan kering. Di lain pihak, masyarakat umum menganggap amalan-amalan bid'ah itu sebagai perkara yang disyari'atkan dan harus dijaga kelestariannya, sedangkan mereka sendiri banyak meninggalkan sunnah Nabi yang disyari'atkan.
      Sementara itu, mengikuti sunnah Nabi dan memberantas bid'ah merupakan kewajiban setiap Muslim pada umumnya, juga kewajiban para ulama dan penuntut ilmu pada khususnya. Bid'ah termasuk perkara mungkar yang harus diubah menurut kemampuan diri kita masing-masing, baik dengan tangan, lisan, ataupun hati.
     Inilah buku yang membahas tentang bidah sepanjang tahun yakni al-bida'al-hauliyah. Maksudnya adalah bid'ah yang senantiasa dilakukan setiap tahun pada waktu-waktu tertentu.

Buku ini disusun berdasarkan sistematika berikut, yaitu muqaddimah, pendahuluan, sembilan pasal, dan penutup.

1.   Muqaddimah
Pada muqaddimah, akandipaparkan urgensi pembahasan ini, alasan mengapa memilih pembahasan ini, serta metodologi penyusunan pembahasan ini.

2.   Pendahuluan
Pada pendahuluan, dijelaskan sedikit tentang bid'ah, yang meliputi atau terdiri dari uraian-uraian berikut.
• Pertama: definisi bid'ah secara etimologi dan terminologi.
• Kedua: hukum bid'ah dalam Islam.
• Ketiga: sebab-sebab munculnya bid'ah.
• Keempat: bid'ah pertama yang muncul dalam Islam.
• Kelima: sebab-sebab tersebarnya bid'ah.
• Keenam: dampak negatif bid'ah terhadap masyarakat.
•    Ketujuh: cara menangkal bahaya bid'ah.
•    Kedelapan: bid'ah dalam setahun.
Setelah itu, dijalskan pembahasan utama ke dalam sembilan pasal, yaitu sebagaimana disebutkan dan dideskripsikan pada uraian di bawah ini.

Pasal Pertama: Bulan Muharram, mencakup tiga pembahasan:
Pembahasan pertama: beberapa atsar (riwayat) yang berkaitan dengan bulan Muharram.
Pembahasan kedua: bid'ah menciptakan suasana sedih pada bulan Muharram yang dibuat-buat kaum Syi'ah Rafidhah.
Pembahasan ketiga: bid'ah menciptakan suasana gembira pada bulan Muharram yang dibuat-buat kaum Nashibah.

Pasal Kedua: Bulan Shafar, mencakup dua pembahasan:
Pembahasan pertama: beberapa atsar yang berkaitan dengan bulan Shafar.
Pembahasan kedua: bid'ah menganggap sial bulan Shafar.

Pasal Ketiga: Bulan Rabi'ul Awwal: bid'ah maulid Nabi, mencakup enam pembahasan:
Pembahasanpertama: orang yang pertama kali memunculkan bid'ah ini.
Pembahasan kedua: kondisi masyarakat ketika pertama kali bid'ah ini muncul.
Pembahasan ketiga: beberapa syubhat (dalil/pemahaman) yang memperkuat pendapat orang-orang yang mengemukakan bid'ah ini dan bantahan terhadapnya.
Pembahasan keempat: cara-cara menghidupkan perayaan Maulid Nabi.
Pembahasan kelima: hakikat mencintai Rasul.
Pembahasan keenam: sikap Ahlus Sunnah terhadap bid'ah Perayaan maulid Nabi ini.

Pasal Keempat: Bulan Rajab, mencakup lima pembahasan.
Pembahasan pertama: beberapa atsar yang berkaitan dengan bulan Rajab.
Pembahasan kedua: mencakup dua bagian:
Bagian pertama: pengagungan orang-orang kafir terhadap bulan Rajab.
Bagian kedua: 'atiirah (penyembelihan hewan) pada bulan Rajab.
Pembahasan ketiga: bid'ah mengkhususkan bulan Rajab untuk berpuasa atau shalat malam dan hukum umrah dan ziarah ke Ka'abah pada bulan Rajab. Pembahasan keempat: bid'ah shalat Ragha-ib. 
Pembahasan kelima: bid'ah perayaan malam Isra' Mi'raj.

Pasal Kelima: Bulan Sya'ban, mencakup tiga pembahasan:
Pembahasan pertama: beberapa atsar yang berkaitan dengan bulan Sya'ban.
Pembahasan kedua: bid'ah perayaan malam Nishfu Sya'ban.
Pembahasan ketiga: bid'ah shalat Alfiyah.

Pasal Keenam: Bulan Ramadhan, mencakup dua pembahasan:
Pembahasan pertama: keutamaan bulan Ramadhan dan atsar-atsar yang berkaitan dengannya.
Pembahasan kedua: beberapa bid'ah yang dilakukan pada bulan Ramadhan.
Pertama: membaca surat Al-An'aam (pada rakaat terakhir shalat Tarawih pada malam kedua puluh tujuh bulan Ramadhan).
Kedua: bid'ah shalat Tarawih setelah shalat Maghrib. Ketiga: bid'ah shalat al-Qadr.
Keempat: bid'ah shalat Tarawih pada malam pengkhataman al-Qur-an pada bulan Ramadhan dengan membaca semua ayat sajdah dalam satu rakaat. Kelima: bid'ah merangkai ayat-ayat do'a.
Keenam: bid'ah dzikir setiap selesai mengerjakan dua rakaat shalat Tarawih.
Ketujuh: sejumlah bid'ah pada malam khatam al-Qur-an. Kedelapan: bid'ah menyerukan sahur.
Kesembilan: bid'ah yang terkait dengan melihat hilal Ramadhan.
Kesepuluh: bid'ah hifzhiyyah (membuat jimat pada Jum'at terakhir) Ramadhan.
Kesebelas: bid'ah memukul-mukul tembaga pada hari terakhir bulan Ramadhan.
Kedua belas: bid'ah perpisahan bulan Ramadhan. Ketiga belas: bid'ah perayaan mengenang Perang Badar.

Pasal Ketujuh: Bulan Syawwal, mencakup tiga pembahasan:
Pembahasan pertama: beberapa atsar yang berkaitan dengan bulan Syawwal.
Pembahasan kedua: bid'ah menganggap sial menikah pada bulan Syawwal.
Pembahasan ketiga: bid'ah 'ledul Abrar (perayaan pada hari kedelapan bulan Syawwal).

Pasal Kedelapan: Bulan Dzulhijjah, mencakup tiga pembahasan:
Pembahasan pertama: beberapa atsar yang berkaitan dengan bulan Dzulhijjah.
Pembahasan kedua: bid'ah at-ta'riif.
Pembahasan ketiga: bid'ah perayaan Ghadir Khum (berdasarkan riwayat Sumur Khum).

Pasal Kesembilan: Penyerupaan kaum Muslimin terhadap orang-orang kafir pada hari Raya mereka, mencakup delapan pembahasan:
Pembahasan pertama: perayaan hari lahir al-Masih Nabi 'Isa
Pembahasan kedua: perayaan Nairuz (tahun baru bangsa Persia).
Pembahasan ketiga: perayaan hari ulang tahun. Pembahasan keempat: beberapa perayaan dan peringatan bid'ah. Pembahasan kelima: perayaan tahun baru Hijriyah. Pembahasan keenam: perayaan abad baru Hijriyah.
Pembahasan ketujuh: perayaan untuk mengenang sejumlah ulama (haul).
Pembahasan kedelapan: syari'at agar berbeda dari Ahlul Kitab. 

3.   Penutup

Detail Info Buku
Bahasa Indonesia
Format Cover Hardcover
ISBN 978-602-8062-62-6
Judul Asli Al Bidah Al Hauliyah
Judul Buku Rutinitas Amalan Bidah dalam Setahun
Jumlah Halaman 723 hlm
Penerbit / Publisher Pustaka Imam Syafii
Penulis Abdulloh bin Abdul Aziz At Tuwaijiri
Ukuran Fisik Buku Buku Ukuran Sedang 17 x 24 cm