• Hotline: (+62) 819.2469.325

Harta Haram Muamalat Kontenporer { Edisi Terbaru cetakan ke 12}

Written by Dr. Erwandi Tarmizi

hartaharam2Harta Haram adalah setiap harta yang didapatkan dari jalan yang dilarang syariat Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- [Dr. Khalid Al Mushlih, At taubah minal makasib al muharramah wa ahkamuha fil fiqh al Islami, Journal kementrian keadilan, Arab Saudi, edisi 38, Rabiul akhir 1429H, hal 13]Adapun yang dimaksud dengan muamalat adalah hukum syariat yang berkaitan dengan hubungan manusia satu dengan lainnya. Dan untuk hal yang berkenaan dengan harta (jual-beli, sewa menyewa, warisan dan lain sebagainya) biasanya ditambahkan kata 'maaliyyah" yang berarti harta. Akan tetapi, belakangan kata muamalat konotasinya adalah muamalat maaliyyah.
Dan sungguh, Semakin jauh zaman manusia dengan zaman masa kehidupan Rosululloh , akan semakin banyak penyimpangannya. Apalagi Seorang manusia yang hidup di abad modern zaman kita hidup ini, dltuntut untuk mengumpulkan dan menumpuk harta sebanyak-banyaknya agar bisa hidup layak dan tenang menghadapi masa depan diri dan anak cucunya. Betapa banyak Pada saat itu orang-orang tidak peduli lagi dari mana harta dia dapatkan.
Rasulullah shallallahu alaihiwa sallam bersabda:
"Akan datang suatu masa, orang-orang tidak perduli dari mana harta dihasilkannya, apakah dari jalan yang halal atau dari jalan yang haram". (HR. Bukhari).
Orang-orang tersebut dapat dikelompokkan menjadi 2:
1. Sebagian manusia tidak pernah peduli akan kaidah rabbani dalam mencapai tujuan mencari harta, kelompok ini dianjurkan untuk memeriksa kembali akidah mereka, dimana mereka telah menjadikan dinar dan dirham sebagai tuhannya dan sama sekali tidak mengindahkan peraturan Allah.
Merekalah yang disabdakan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam:
Celakalah hamba dinar, celakalah hamba dirham, celakalah hamba pakaian... (HR. Bukhari).
2. Sebagian lagi, orang-orang yang masih memillki dhamir (hati) yang peka, akan tetapi karena mereka sedari kecil tidak pernah mengerti dan mempelajari ketentuan Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- tentang muamalat, kelompok ini ~mau tidak mau- akan melanggar syariat Allah saat mengumpulkan harta karena ketidaktahuannya.
Dua kelompok yang telah disebutkan diatas adalah salah satu sumber malapetaka bagi pribadi dan umat manusia, karena:
Pertama: Mereka adalah orang-orang yang mendurhakai Allah,
berdasarkan firman Allah :
"Hal sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat dl bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu". (Al Baqarah: 168).
Dalam ayat ini Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- memerintahkan seluruh manusia agar memakan harta yang didapatkan secara halal, sedangkan memakan, mencari serta mendapatkan harta dengan jalan yang haram adalah jalan yang dirintis oleh musuh bebuyutan anak cucu Adam yakni syaitan.
Dan dua kelompok di atas sesungguhnya telah mendurhakai Allah, padahal mendurhakai Allah (berbuat dosa) adalah penyebab utama setiap malapetaka.
Kedua : Setelah Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- memerintahkan semua manusia agar mencari harta dengan cara yang halal, secara khusus Allah memerintahkan para rasul untuk hanya memakan harta yang halal, Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- berfirman
“Wahai para rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang g kamu kerjakan". (Al Mu'minuun: 51)
Dalam ayat di atas, secara khusus Allah memerintahkan para Rasul-Nya agar hanya memakan makanan yang didapatkan secara halal, lalu Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- memerintahkan mereka untuk beramal salih.
Hal ini mengisyaratkan bahwa sangat erat hubungan antara mengkonsumsi makanan yang halal dengan amal salih. Maka jangan diharap jasad kita akan bergairah untuk melakukan amal-amal salih , bila jasad tersebut tumbuh dan berkembang dari makanan yang haram.
Dan jasad yang malas beramal shalih tidak akan merasakan kenikmatan ibadah dan taqarrub kepada Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- yang pada gilirannya mengantarkan jiwa- ruhaninya kepada gundah-gulana, kacau, tidak tentram, was-was hingga sampai titik hampa dan nestapa.
Ini adalah petaka yang dahsyat terhadap setiap pribadi yang merindukan kedekatan dengan Maha Penciptanya.
Ketiga : Mereka bagaikan kelompok mayoritas Yahudi yang diabadikan Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- dalam firman-Nya:
“ Dan kamu akan melihat kebanyakan dan mereka (orang-orang Yahudi) bersegera membuat dosa, permusuhan dan memakan yang haram. Sesungguhnya amat buruk apa yang mereka telah kerjakan itu “ (Al Maidah: 62).
Apa yang bisa diharapkan untuk kemajuan umat dari orang-orang yang mengaku beragama islam akan tetapi antara mereka dengan musuhnya (Yahudi) bagaikan setali tiga uang. Mereka selalu memakan harta haram.
Keempat : Petaka yang amat buruk yang menimpa mereka adalah api neraka (harta haram) yang setiap saat mereka masukkan ke dalam perut mereka, karena diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam:
“ Sesungguhnya setiap daging yang diberi asupan makanan yang haram maka neraka-lah yang berhak melumatnya... (HR. Ahmad, dinyatakan shahih oleh AI-Albani).
Kelima : Merekalah penyebab kehinaan, kemunduran serta kenistaan umat islam saat ini, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
"Bila kalian melakukan transaksi ribawi, tunduk dengan harta kekayaan (hewan ternak), mengagungkan tanaman dan meninggalkan jihad niscaya Allah timpakan kepada kalian kehinaan yang tidak akan dijauhkan dan kalian hingga kalian kembali kepada syariat Allah (dalam seluruh aspek kehidupan kalian)". (HR. Abu Daud, dishahihkan oleh AI-Albani).
Akhir hadis di atas memberi secercah harapan kepada kita untuk mengembalikan kejayaan umat dengan cara kembali hidup secara islami dalam seluruh sisi kehidupan.
Keenam : Doa tidak dikabulkan
Rasulullah shallallahu alaihi wa saliam bersabda:
"Wahal manusia, sesungguhnya Allah Maha Baik, tidak menerima kecuali yang baikf sesungguhnya Allah memerintahkan orang-orang yang beriman apa yang la perintahkan kepada para Rasul, Allah berfirman "Hai Rasul-Rasul, makanlah dan makanan yang balk-balk dan kerjakantah amaI yang saleh" (Al Mu'minuun : 51), dan Allah Ta'ala berfirman "Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu" (Al Baqarah : 172), kemudian beliau menyebutkan seorang lelaki yang mengadakan perjalanan jauh,(menjadikan) berambut kusut dan berdebu, kemudian menadahkan tangannya ke langit "Ya Rabb, Ya Rabb", padahal makanannya berasal dari yang haram, minumannya berasal dari yang haram, pakaiannya berasal dari yang haram dan makan dari yang haram, maka bagaimana doanya akan dikabulkan ? ". (HR. Muslim).
Ketujuh : Harta haram yang merajalela pertanda azab akan turun menghancurkan masyarakat dimana harta haram tersebut menggejala.
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Apabila perzinahan dan riba merajalela di sebuah kampung, sungguh mereka telah mengundang azab untuk menimpa mereka". (HR. Al Hakim, menurut AI-Albani bahwa derajat hadis ini hasan II ghairi).

Lalu bagaimana SOLUSInya ?
Untuk menghindari fenomena di atas sejak zaman Amirul mukminin Umar bin Khattab -Rodliallohu Anhu- telah diambil kebijakan preventif. Beliau mengutus para petugas ke pasar-pasar untuk mengusir para pedagang yang tidak mengerti halal-haram dalam hal jual beli [ Dr. Nazih Hamad, Al maaliyah wal Mashrafiyyah, hal. 359]Juga diriwayatkan dari Imam Malik -rahimahulloh- bahwa beliau memerintahkan para penguasa untuk mengumpulkan seluruh pedagang dan orang-orang pasar, lalu beliau menguji mereka satu-persatu, saat beliau dapati di antara mereka ada yang tidak mengerti hukum halal-haram tentang jual-beli beliau melarangnya masuk ke pasar seraya menyuruhnya mempelajari fikih muamalat, bila telah paham, orang tersebut dibolehkan masuk pasar.
Demikian pula peran-serta istri-istri para salaf yang selalu mengingatkan suami mereka setiap akan keluar rumah untuk mencari nafkah dengan bisikan ' kami mampu bertahan menahan kelaparan, akan tetapi kami tidak akan mampu bertahan memakan neraka Allah". Ucapan yang indah ini diriwayatkan Al Ghazali, dan Ibnu Khalikan [Ibnu Khalikan, Wafayatul a'yaan, jilid II, hal 285.] Oleh karena itu, dirasa sangat penting membahas harta haram dalam muamalat kontemporer, mengingat permasalahannya lebih rumit dan tidak terdapat dalam literatur buku-buku fikih ulama terdahulu. Juga mengingat bahwa hukum asal setiap muamalat adalah halal kecuali bila terdapat larangan dari Al Quran dan Hadis. Harta-harta haram tersebut disusun berdasarkan faktor-faktor yang menyebabkan muamalatnya diharamkan, yaitu: zhulm, gharar, dan riba. Dan penting pula untuk kita kaum muslimin, siapapun itu utk mempelajari, dan mengamalkannya.
Inilah buku berjudul judul Harta Haram Muamalat Kontemporer, membahas transaksi-transaksi haram di berbagai institusi keuangan: bank, asuransi, dan bursa, juga instansi pemerintah berupa korupsi dan penerimaan hadiah (risywah).
Buku ini mengungkap kontrak-kontrak haram di dunia niaga, marketing: MLM, promosi, diskon, iklan, hak cipta, dan penjualan produk makanan yang bercampur gelatin, alkohol, formalin, rokok, narkoba, hukum berbagai jenis kartu: kartu kredit, kartu diskon, kartu belanja, kartu pulsa isi ulang, dan berbagai produk lainnya.
Buku ini menjelaskan sikap Islam terhadap olah raga dan seni: seni rupa, seni suara, seni peran, seni musik, dan profesi menggelutinya.
Buku ini mengupas hukum honor hasil praktik ibadah: berceramah, membaca dan mengajarkan Al quran, mengajar ilmu-ilmu keislaman, serta royalti menulis buku-buku agama.
Berbagai qhadhaya muashirah tersebut penulis rajut dengan tiga penyebab harta haram: kezaliman, gharar dan riba. Penulis paparkan dengan metoda ilmiyah fiqh muqaran (fikih perbandingan), dilengkapi dengan dalil-dalil Alquran dan sunnah, diakhiri dengan pemilihan pendapat yang kuat, tak lupa dikutip pula fatwa-fatwa lembaga-lembaga fikih internasional, serta mengkritisi beberapa fatwa perorangan ataupun lembaga yang dianggap kontroversial. Bila menemukan solusi Islami untuk sebuah transaksi haram, maka diberikan jalan keluar agar transaksi menjadi halal. Kemudian pembahasan harta haram ditutup dengan penjelasan tentang cara bertaubat dari harta haram, agar seorang muslim yang tertanlur sesat, menyimpang dari jalan yang benar dapat kembali ke pangkal jalan.
Inilah Edisi terakhir , dilengkapi dengan pembahasan seputar hokum BPJS Kesehatan dan Hedging Syariah.

Harta Haram Muamalat Kontenporer { Edisi Terbaru }
Penulis : DR. Erwandi Tarmizi
Fisik : Buku ukuran sedang, hardcover, 640 hlm
Penerbit: Berkat Mulia Insani Publishing
Harga Rp 130.000 diskon jadi Rp 104.000
Pemesanan : This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it., sms : 0819.2469.325

Additional Info

  • Judul Buku: -
  • Judul Asli: -
  • Penulis: -
  • Tahqiq/Takhrij: -
  • Ukuran Fisik Buku: Buku Ukuran Sedang
  • Format Cover: Hardcover
  • Jumlah Halaman: hlm
  • Penerbit /Publisher: -
  • Harga: Rp ( Belum Termasuk Ongkos Kirim)
  • Cara Pembelian: Email : This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it., sms/WA/Telegram : 08192469-325 , BBM : 5B0FE340 ( Pastikan !! tulis nama & Alamat lengkap )
Read 544 times