• Hotline: (+62) 819.2469.325

Berbakti dan Silaturahmi

Written by Imam Ibnul Jauzi

PA berbaktiSungguh, Allah - Subhanahu Wa Ta'ala - mengutus Muhammad - Sholallahu Alaihi Wassalam - dengan risalah penutup yang membawa kebahagiaan bagi berbagai umat dan kehidupan bagi berbagai bangsa. Yaitu kehidupan yang stabil dan bersumber dari kebajikan dan silaturahmi sebagai tingkatan yang paling tinggi dalam Islam. Karena kebajikan dan silaturahmi merupakan salah satu makna terbesar yang termuat dalam risalah Muhammad - Sholallahu Alaihi Wassalam - .
Islam menetapkan berbuat ihsan (kebajikan) pada segala sesuatu dan menganggap salah satu amal yang paling baik adalah menjaaga hubungan antara hamba dengan Tuhannya, serta antara manusia satu sama lain.

Karena itu, tidak diragukan lagi bahwa hubungan di antara masyarakat dalam kondisi terbaiknya berpijak pada komitmen-komitmen dari satu pihak terhadap pihak lain. Komitmen ini dalam kapasitasnya sebagai sesuatu yang ditunaikan untuk orang lain disebut "kewajiban", dan dalam kapasitasnya sebagai kelayakan seseorang untuk menerimanya disebut sebagai "hak".
Jadi, dari antara hak dan kewajiban itulah terjadi kebajikan dan silaturahmi.
Kata al birr (kebajikan) sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Atsir - rahimahullah- dalam An-Nihayah sama artinya dengan Ihsan. Kata ini untuk hak orang tua dan hak kerabat adalah lawan dan kata durhaka, yaitu berbuat buruk dan mengabaikan hak-hak mereka. Derivasi kata ini adalah barra - yabarru - baarrun, jamaknya barrah. Sedangkan jamak al barru adalah abraar.

An Nawawi dalam Syarh Muslim (jilid 16 hal 111) berkata, "Menurut para ulama. kata birru bermakna shilah (hubungan). "

Ibnu Qarqul dalam Al Mathali' mengatakan,"kata ‘birru’ adalah kata yang mencakup segala kebaikan. kata ‘Birrul Walidain’ itu seluruhnya berasal dari menjaga hubungan,berbuat baik, kelembutan dan ketaatan."

Kata ‘birru’ dalam penggunaan syari'at merupakan kata yang mencakup setiap jenis kebaikan, dan yang dimaksud adalah yang melebihi batasan takwa, Tingkatannya berada di atas tingkatan takwa, dan di bawah tingkatan ihsan.

Kata ‘shilah‘ berarti kelembutan, kasih sayang, hubungan Allah terhadap hamba-hamba-Nya, kasih sayang-Nya terhadap mereka, dan limpahan nikmat-Nya pada mereka; atau penghubung-Nya terhadap mereka melalui para penghuni kerajaan-Nya dan golongan Ar-Rafiq Al A'la, pendekat-Nya kepada mereka, dan pelapangan hati mereka yang tertutup [lihat : Shahih Muslim (7/415)]

Ada banyak macam ibadah yang Islam memerintahkan untuk melakukannya secara baik.
Di antara ibadah yang paling agung, paling mulia tingkatannya, serta paling besar perhatiannya dari Allah - Subhanahu Wa Ta'ala - dan Junjungan kita Rasulullah adalah berbakti kepada kedua orang tua.

Allah - Subhanahu Wa Ta'ala - berfirman,
" Dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan 'ah' dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah, 'Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil "(Qs. AI Israa' [17]: 23-24)

Al Qurthubi dalam tafsirnya (10/238) berkata, "Yang dimaksud dengan berbakti kepada kedua orang tua adalah menyetujui keinginan-keinginan keduanya. Atas dasar itu, jika salah satu dari keduanya memerintahkan suatu hal kepada anaknya, maka anaknya wajib menaati keduanya manakala perintah tersebut bukan maksiat, meskipun yang diperintahkan itu termasuk perkara mubah. Demikian pula jika perkara tersebut termasuk perkara sunnah."

Sebagian ulama mengatakan bahwa perintah keduanya terhadap perkara mubah itu menjadikannya sunnah bagi anak, dan perintah keduanya terhadap perkara sunnah itu menjadikannya sunnah muakkad.

Kemudian Al Qurthubi - rahimahullah- berkata,
"Di antara bentuk ihsan dan bakti kepada kedua orang tuanya -manakala jihad tidak sampai kepada hukum fardhu ain- adalah tidak berjihad kecuali dengan izin keduanya. Para ulama berbeda pendapat terkait orang tua yang musyrik; apakah seseorang harus keluar dengan izin keduanya manakala jihad hukumnya fardhu kifayah?, Imam Ats-Tsauri - rahimahullah- mengatakan bahwa anak tidak boleh berperang kecuali dengan izin keduanya. Sedangkan Imam Asy-Syafi'I - rahimahullah- mengatakan bahwa dia boleh berperang tanpa izin keduanya."

Imam Al Jashshash - rahimahullah- dalam Ahkam Al Quran mengatakan, "Para sahabat kami berpendapat bahwa seseorang tidak boleh berjihad kecuali dengan seizin kedua orang tuanya manakala musuh telah dihadapi oleh pasukan yang kuat sehingga telah mencukupi baginya untuk tidak keluar. Mereka juga mengatakan bahwa jika musuh dihadapi oleh pasukan yang tidak bisa menandinginya, maka dia harus keluar tanpa izin kedua orang tuanya karena jihad pada waktu itu menjadi fardhu ain bagi setiap orang yang mampu, bukan lagi fardhu kifayah yang apabila dikerjakan oleh sebagian orang maka gugurlah kewajiban bagi sebagian yang lain."

Mereka berbeda pendapat tentang keberangkatan seseorang untuk bemiaga dan selainnya —yang tidak ada nash di dalamnya-, "Tidak ada larangan untuk melakukannya tanpa izin kedua orang tua karena Nabi hanya melarangnya berangkat jihad kecuali dengan seizin kedua orang tuanya manakala kewajiban tersebu telah dijalankan oleh orang lain, karena dalam jihad ada risiko terbunuh dan ada kecemasan orang tua terhadapnya.
Sedangkan dalam perniagaan dan perbuatan-perbuatan mubah yang tidak ada risiko terbunuh, dia tidak perlu meminta izin keduanya. Para sahabat kami juga mengatakan bahwa tidak sepatutnya seseorang membunuh ayahnya yang kafir manakala dia memerangi kaum muslimin sesuai dengan firman Allah "Janganlah kamu berkata 'ah' kepadanya. "(Qs. Al Israa' [17]: 24)

Allah - Subhanahu Wa Ta'ala - juga berfirman,
"Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan bergaullah dengan keduanya di dunia dengan baik. "(Qs. Luqman [31]: 15)

Allah - Subhanahu Wa Ta'ala - memerintahkan untuk mempergauli keduanya dengan cara yang baik dalam keadaan keduanya memeranginya agar dia menjadi kafir. Di antara bentuk pergaulan yang baik adalah tidak menghunuskan pedang dan tidak membunuh keduanya kecuali dia terpaksa melakukannya karena khawatir dibunuh oleh ayahnya seandainya dia tidak membunuh. Pada saat itulah dia boleh membunuh ayahnya karena jika dia tidak melakukannya, berarti dia dihukumi bunuh diri lantaran membiarkan orang lain membunuhnya. Dia dilarang membiarkan orang lain membunuhnya, sebagaimana dia dilarang untuk membunuh dirinya sendiri
Jadi, pada saat itu dan dengan alasan tersebut dia boleh membunuh ayahnya Nabi - Sholallahu Alaihi Wassalam - pernah melarang Hanzhalah bin Abu Amir Ar Rahib - Rodliallahu Anhu - untuk membunuh ayahnya yang saat itu musyrik.
Islam juga menaruh perhatian terhadap bakti kepada kedua orang tua sesudah keduanya meninggal dunia. Allah - Subhanahu Wa Ta'ala - berfirman,
"Dan ucapkanlah, 'Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil'. "(Qs. Al Israa' [17]: 24)

Imam Abu Bakar Al Jashshash - rahimahullah- mengatakan, "Para sahabat kami berpendapat tentang seorang muslim yang ditinggal mati kedua orang tuanya dalam keadaan kafir bahwa dia memandikan, mengantar jenazahnya dan menguburkannya, karena itu termasuk cara memperlakukan orang tua yang baik sesuai yang diperintahkan Allah ." ( lihat : Ahkamul Quran, Al jashshash 2/236]

Allah - Subhanahu Wa Ta'ala - berfirman,
"Dan berkatalah kepada keduanya dengan perkataan yang mulia. "(Qs. Al Israa' (171: 23)
Maksudnya adalah perkataan yang lembut seperti ibunda atau ayahanda, tanpa menyebut nama dan julukan keduanya Yaitu setiap perkataan baik sesuai dengan etika yang baik dan menjaga kehormatan.

Allah - Subhanahu Wa Ta'ala - berfirman,
"Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan. "(Qs. A1 Israa' [17]: 24)

Berdasarkan hukum ayat ini, sepastasnya seseorang menjadikan dirinya dalam posisi yang selembut-Iembutnya dalam berbicara, diam dan memandang, tidak boleh menatap keduanya dengan tatapan tajam karena itu adalah cara menatap orang yang marah.

Allah - Subhanahu Wa Ta'ala - berfinman,
"Dan ucapkanlah, 'Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil'. "(Qs. Al Israa' [17]: 24)

Pendidikan disebut dalam ayat tadi secara khusus agar seseorang teringat akan kasih sayang kedua orang tuanya dan keletihan mereka dalam mendidiknya. Hal itu akan menambahkan rasa kasih sayang kepada keduanya.
Al Qur'an melarang kita untuk memohonkan ampunan bagi orang musyrik yang sudah mati. Jadi, jika kedua orang tua adalah orang kafir dzimmi, maka dia memperlakukan keduanya sesuai yang diperintahkan Allah di sini kecuali sebatas iba kepada keduanya sesudah keduanya mati dalam keadaan kafir. [Lihat: Tafsir Al Qurthubi (10/244)]

Allah - Subhanahu Wa Ta'ala – berfirman yang artinya,
"Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Ku lah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Ku-beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. "(Qs. Luqman [31]: 14-15)

Dalam dua ayat ini ada beberapa perintah dan larangan dari Allah. Perintahnya terdapat dalam kalimat, "Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya... "

Pengertian ayat ini adalah: Kami berpesan kepada manusia untuk berbuat baik kepada kedua orang tuanya, dan Kami (Allah) memerintahkan hal ini kepada manusia. Luqman pun memerintahkannya kepada anaknya. [Tafsir Al Qurthubi(14/64)]

Allah - Subhanahu Wa Ta'ala - berfirman, "Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu... " Pengertian ayat ini adalah bersyukurlah untuk-Ku terhadap kedua orang tuamu. Pengertian yang lebih bagus dari ini adalah bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Menurut sebuah pendapat, syukur kepada Allah dilakukan atas nikmat iman, dan syukur kepada kedua orang tuanya dilakukan atas nikmat pendidikan.

Sufyan bin Uyainah - rahimahullah- berkata, "Barangsiapa yang mengerjakan shalat lima waktu, maka dia telah bersyukur kepada Allah. Dan barangsiapa yang berdoa untuk kedua orang tuanya selepas shalat, maka dia telah bersyukur kepada keduanya."[ Tafsir Ai Qurthubi (14/65)]

Allah - Subhanahu Wa Ta'ala - berfirman, "Dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik... "

Al Qurthubi berkata, "Ayat ini menjadi dalil tentang silaturahmi terhadap kedua orang tua yang kafir dengan cara memberinya nafkah jika keduanya fakir dan berkata lembut kepada keduanya, serta mengajak keduanya untuk memeluk Islam dengan cara lemah lembut."

Firman Allah - Subhanahu Wa Ta'ala - , "Dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku"
maksudnya adalah: janganlah kalian menaati keduanya dalam kemusyrikan, dan janganlah kalian menempuh jalan keduanya, melainkan tempuhlah jalan orang-orang mukmin yang bertaubat kepada Allah.
Adapun larangannya ada dalam firman Allah ,
“ Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya.”
Ayat ini semakna dengan ayat,
"Dan jika keduanya memaksamu untiik mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya (Qs. Al Ankabuut [29]: 8)

Al Qurthubi berkata bahwa ayat ini turun berkaitan dengan Sa'ad bin Abu Waqqash - Rodliallahu Anhu - sesuai yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi darinya. Dia berkata, "Ada empat ayat yang diturunkan terkait denganku." Kemudian dia menyebutkan kisahnya, lalu Ummu Sa’ad berkata —maksudnya sesudah Sa'd masuk Islam-, "Tidakkah Allah memerintahkan bakti kepada kedua orang tua?,Demi Allah, aku tidak makan makanan dan tidak minum minuman hingga aku mati atau kamu kembali kafir." Dari sinilah turun ayat ini [Tafsir Al Qurthubi (13/328)]

Al Qurthubi - rahimahullah- berkata dalam tafsir nya Tafsir Al Qurthubi (10/244-245), "Jika kedua orang tua adalah kafir dzimmi, maka dia memperlakukan keduanya sesuai yang diperintahkan Allah kecuali sebatas iba kepada keduanya sesudah keduanya mati dalam keadaan kafir," sebagaimana telah diisyaratkan.

Di antara doa Nabiyullah Nuh adalah seperti yang difirmankan Allah - Subhanahu Wa Ta'ala -
"Ya Tuhanku! Ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang Dzalim itu selain kebinasaan. " (Qs. Nuuh [71]: 28)

Allah - Subhanahu Wa Ta'ala - membalas orang-orang yang berbakti kepada orang tua mereka di dunia dan akhirat.
Allah berfirman,
"Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah(pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan sehingga apabila dia telah dewasa dan umumya sampai empat puluh tahun dia berdoa: 'Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yartg telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang shalih yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri". Mereka itulah orang-orang yang Kami terima dari mereka amal yang baik yang telah mereka keiyakan dan Kami ampuni kesalahankesalahan mereka, bersama penghuni-penghuni surga, sebagai janji yang benar yang telah dijanjikan kepada mereka. "(Qs Al Ahqaaf [46]: 15-16)

Sebagaimana bakti kepada kedua orang tuanya itu dapat menambah rezeki dan memanjangkan umur seperti yang akan Anda temukan dalam kitab ini pembahasan nya.

Kita pun memiliki keteladanan yang baik dari nabi dan generasi pendahulu yang shalih dalam hal berbakti dan silaturahmi.

Bapak para Nabi, yaitu Ibrahim - Alaihis Salam- pun berkata lemah lembut saat mengajak ayahnya untuk beriman kepada Allah - Subhanahu Wa Ta'ala - Ketika ayahnya mencacinya, beliau membalasnya dengan perkataan halus dan janji untuk memohonkan am pun baginya.
Allah - Subhanahu Wa Ta'ala - berfirman,
"Ceritakanlah (hai Muhammad) kisah Ibrahim di dalam AI Kitab (Al Qur'an) ini. Sesungguhnya dia adalah seorang yang sangat membenarkan lagi seorang nabi. Ingatlah ketika dia berkata kepada bapaknya: 'Wahai bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikit pun? Wahai bapakku, sesungguhnya telah datang kepadaku sebagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang Jurus. Wahai bapakku, janganlah kamu menyembah syetan. Sesungguhnya syetan itu durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pemurah. Wahai bapakku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa adzab dari Tuhan Yang Maha Pemurah, maka kamu menjadi kawan bagi setan.' Berkata bapaknya, 'Bencikah kamu kepada tuhan-tuhanku, hai Ibrahim? Jika kamu tidak berhenti, niscaya kamu akan kurajam, dan tinggalkanlah aku buat waktu yang lama. ' Berkata Ibrahim, 'Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan meminta ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku. "(Qs. Maryam [19]: 41-47)

Putra Ibrahim juga merupakan contoh teladan dalam menaati ayahnya.
Allah - Subhanahu Wa Ta'ala - berfirman,
"Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, 'Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu', Dia menjawab, 'Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; In sya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orangyang sabar'. "(Qs. Ash-Shaffat [37]: 101-102)

Allah - Subhanahu Wa Ta'ala - juga memuji bakti yang dilakukan Nabi Yahya - Alaihis Salam- kepada kedua orang tuanya.
Allah - Subhanahu Wa Ta'ala - berfirman,
"Hai Yahya, ambillah Al Kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh. Dan Kami berikan kepadanya hikmah selagi dia masih kanak-kanak, dan rasa belas kasihan yang mendalam darisisi Kami dan kesucian (dari dosa). Dan dia adalah seorang yang bertakwa dan banyak berbakti kepada kedua orang tuanya, dan bukanlah dia orang yang sombong lagi durhaka. "(Qs. Maryam [19]: 12-14)

Lihatlah nabi Isa - Alaihis Salam- yang dibersihkan dari tuduhan kepadanya dan baktinya kepada ibunya. Allah - Subhanahu Wa Ta'ala - berfirman..
"Berkata Isa, 'Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi. Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup; dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka " (Qs. Maryam [19]: 30-32)

Allah - Subhanahu Wa Ta'ala - juga berfirman untuk menceritakan bakti yang dilakukan nabi Yusuf - Alaihis Salam- kepada kedua orang tuanya. Allah - Subhanahu Wa Ta'ala - berfirman,
"Maka tatkala mereka masuk ke (tempat) Yusuf: Yusuf merangkul ibu bapaknya dan dia berkata, Masuklah kamu ke negeri Mesir, insyaAllah dalam keadaan aman.' Dan dia menaikkan kedua ibu-bapaknya ke atas singgasana. Dan mereka (semuanya) merebahkan diri seraya sujud kepada Yusuf. Dan berkata Yusuf, 'Wahai ayahku inilah takbir mimpiku yang dahulu itu; sesungguhnya Tuhanku telah menjadikannya suatu kenyataan. Dan sesungguhnya Tuhanku telah berbuat baik kepadaku, ketika Dia membebaskan aku dari rumah penjara dan ketika membawa kamu dari dusun padang pasir, setelah syetan merusakkan (hubungan) antaraku dan saudara-saudaraku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Lembut terhadap apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana "(Qs. Yuusuf [12]: 99-100)

Adapun dari generasi salafush-shalih, di antara mereka adalah Uwais Al Qarni - rahimahullah- . Diriwayatkan dari Asir bin Jabir, dia berkata: Ketika datang bala bantuan dari Yaman, Umar bin Khaththab - Rodliallahu Anhu - bertanya, "Apakah di antara kalian ada Uwais bin Amir?" Hingga sampailah dia kepada Uwais dan bertanya, "Apakah kamu Uwais bin Amir?" Dia menjawab, "Ya." Umar bertanya, "Apakah kamu dari bani Murad kampung Qaran?" Dia menjawab, "Ya." Umar bertanya, "Apakah kamu dahulu terkena penyakit kusta kemudian kamu sembuh darinya kecuali hanya sebesar uang satu dirham?" Dia menjawab, "Ya."
Umar bertanya, "Apakah kamu mempunyai seorang ibu?" Dia menjawab, "Ya." Umar berkata, "Aku telah mendengar Rasulullah bersabda, Akan datang kepadamu seseorang yang benama Uwais bin Amir bersama sekelompok pasukan bantuan dari penduduk Yaman. Dia dari bani Murad kampung Qaran Dia menderita penyakit kusta kemudian sembuh kecuali hanya sebesar uang satu dirham. Dia mempunyai seorang ibu dan dia sangat berbakti kepadanya. Jika dia bersumpah dengan nama Allah pasti terlaksana. Jika kamu bisa memintanya untuk memohonkan ampun kepada Allah, mintalah.' Oleh karena itu mohonkanlah ampunan kepada Allah untukku." Maka Uwais pun memohonkan ampun untuknya.

Kemudian Umar berkata kepadanya, "Ke mana kamu hendak pergi." Dia menjawab, "Kufah." Umar bertanya, "Tidakkah sebaiknya kamu saya tuliskan surat pengantar kepada gubernurnya?" Dia menjawab, "Aku lebih menyukai hidup di tengah rakyat jelata."

Pada tahun berikutnya seorang laki-laki dari pembesar mereka berhaji dan bertemu dengan Umar - Rodliallahu Anhu - , lalu dia bertanya tentang Uwais. Dia menjawab, "Aku meninggalkan dia dalam keadaan buruk rumahnya dan sedikit perabotnya." Umar berkata, "Aku mendengar Rasulullah bersabda, 'Akan datang kepadamu seseorang yang bemama Uwais bin Amir bersama sekelompok pasukan bantuan dari penduduk Yaman. Dia dari bani Murad kampung Qaran. Dia menderita penyakit kusta kemudian sembuh kecuali hanya sebesar uang satu dirham. Dia mempunyai seorang ibu dan dia sangat berbakti kepadanya. Jika dia bersumpah dengan nama Allah pasti terlaksana. Jika kamu bisa meminta untuk memohonkan ampun (kepada Allah ),maka mintalah.”

Maka inilah buku yang membahas bagaimana detail berbakti kepada orang tua, kisah-kisah teladan para nabi, ulama, dan salafush shalih dalam berbakti kepada orang tua, bagaimana ihsan dan silaturahmi kepada anak yatim , bagaimana makna silaturahmi yang sebenarnya dalam islam, sehingga dengan membaca buku ini dan mengamalkan nya akan memperbaiki adab dan akhlak kita kepada orang tua, anak yatim, muslimin yang lain nya.

Berbakti dan Silaturahmi
Judul asli : Al Birru wa Shilah
Penulis : Imam Ibnul Jauzi
Tahqiq : Adil Abdul Maujud & Ali Muawidh
Fisik : Buku ukuran sedang 15 x 23,5 cm, hardcover, 860 hlm
Penerbit : Pustaka Azzam
Harga Rp call

pemesanan : wa/sms/telegram : 0819.2469.325 , pastikan tulis nama, alamat lengkap atau email : This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Additional Info

  • Judul Buku: Berbakti dan Silaturahmi
  • Judul Asli: Al Birru wa Shilah
  • Penulis: Imam Ibnul Jauzi
  • Tahqiq/Takhrij: Adil Abdul Maujud & Ali Muawidh
  • Ukuran Fisik Buku: Buku ukuran sedang 15 x 23,5 cm
  • Format Cover: Hardcover
  • Jumlah Halaman: 860 hlm
  • Penerbit /Publisher: Pustaka Azzam
  • Harga: Call ( Belum Termasuk Ongkos Kirim)
  • Cara Pembelian: Email : This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it., sms/WA/Telegram : 08192469-325 , BBM : 5B0FE340 ( Pastikan !! tulis nama & Alamat lengkap )
Read 888 times