• Hotline: (+62) 819.2469.325

Rahasia Asmaul Husna

Written by Imam Al Qurthubi - rahimahullah-

PA rahasia asmaul husnaSesungguhnya sarana yang paling mulia, paling tinggi dan paling kuat bagi seorang hamba dalam mendekatkan dirinya ke-pada Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala-  ialah dengan melalui Asmaa-ul Husnaa (Nama-Nama-Nya yang baik). Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala-  telah memerintahkan kita untuk berdo'a dengan menggunakannya, sebagaimana firman-Nya:
"Hanya milik Allah Asmaa-ul  Husnaa, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asmaa-ul Husna itu, dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Kelak  mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan." (QS. Al-A'raaf: 180)
Dalam ash-Shahiihain diriwayatkan dari Abu Hurairah -Rodliallohu Anhu-  bahwa Rasulullah -Sholallahu Alaihi Wassalam- bersabda:
"Sesungguhnya Allah memiliki 99 nama, seratus kurang satu. Barangsiapa menguasainya (Yakni hafal dan mengerti maksudnya, serta berusaha mengamalkannya)  maka ia akan masuk Surga.” [HR. Al-Bukhari (no. 7392) kitab at-Tauhid, bab 12, dan Muslim  (no. 2677) kitab adz-Dzikri wad Du'a, bab 2, dari Abu Hurairah -Rodliallohu Anhu- ]     Imam Ibnul Qayyim -rahimahulloh-  berkata, "Ilmu tentang Nama-Nama Allah serta memahaminya merupakan pangkal atau pokok dari ilmu-ilmu lainnya. Barangsiapa memahami Nama-Nama Allah ini sebagaimana yang dikehendaki Allah, maka ia telah menguasai seluruh ilmu. Hal ini karena pemahaman  terhadap Nama-Nama Allah ini merupakan dasar untuk mcmahami seluruh ilmu. Sebab seluruh ilmu itu meru¬pakan hasil akhir yang ditunjukkan oleh Nama-Nama Allah, dan sangat erat kaitannya dengan Asmaa-ul Husna.” [Badaa-i'ul Fawaa-id (I/171).
 Imam Ibnul Qayyim -rahimahulloh-   dalam kitab yang sama  beliau menyebutkan tiga tingkatan dalam memahami Asmaa-ul Husna, yang dengan sebab pemahaman terhadap ketiga tingkatan inilah seseorang dijamin masuk Surga:
1.    Menghafal lafazh-lafazhnya serta hitungannya.
2.    Memahami makna-maknanya serta arahan-arahannya.
3.    Berdo'a dengannya.
          Telah kita pahami bersama bahwa para ulama meskipun mereka berbeda pendapat dalam beberapa hal, namun mereka sepakat bahwa tidak boleh menamai Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala-  atau mengabarkan tentang sifat-sifat-Nya, kecuali dengan nama atau sifat yang diberitakan Allah dalam Kitab-Nya, atau melalui lisan Rasul-Nya , tanpa penambahan, pengurangan, atau melebihi apa yang dinyatakan dalam al-Quran atau al-Hadits. Untuk menentukan Nama-Nama Alloh ini, kita wajib menggunakan nash dari al-Qur-an dan hadits-hadits yang shahih, karena masalah Nama-Nama Allah ini merupakan masalah tauqiifiyyah, di mana akal manusia tidak berkompeten untuk menentukannya. Akal manusia semata tidak akan mampu un¬tuk mengenal Nama-Nama Alloh yang sesuai dengan keagungan-Nya. Akal pun tidak akan mampu untuk menggapai apa yang menjadi hak Rabbul 'Alamin yang berupa sifat-sifat-Nya yang serba sempurna dan serba indah. Maka menamai Alloh Yang Mahamulia dan Mahaagung dengan suatu nama yang tidak difirmankan oleh-Nya merupakan suatu ucapan mengenai Allah tanpa landasan ilmu. Dan tindakan seperti ini diharamkan oleh Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala-  atas hamba-hamba-Nya.
    Imam Ibnu Hazm -rahimahulloh-  berkata; "Tidak diperbolehkan menamai Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- atau mengabarkan tentang Nama-Nama-Nya, kecuali dengan apa yang Allah namakan bagi Diri-Nya sendiri dan apa yang Dia kabarkan tentang diri-Nya di dalam Kitab-Nya, atau melalui lisan Rasul-Nya . Atau paling tidak, melalui kesepakatan yang sah dari semua ulama Islam yang berkompeten dalam hal ini, tidak lebih dari itu. Bahkan, hal ini tetap tidak boleh, meskipun makna lafazh dari nama yang disandarkan kepada Allah itu benar. Jika tidak memenuhi ketentuan di atas, maka lafazh tersebut tidak boleh dimutlakkan sebagai nama Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- .
      Sebagai contoh, kita telah mengetahui dengan yakin bahwa Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala-  telah membangun langit. Lalu Dia berfirman:
“Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami)..."(QS. Adz-Dzaariyat: 47)
Namun kita tidak boleh menamai-Nya dengan Banna’u  (Yang Maha Membangun). Demikian pula, kita mengetahui dengan yakin bahwa Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala-  telah menciptakan beraneka warna tumbuhan dan hewan. Dan Allah Ta'ala telah berfirman:
"Shibghah (celupan) Allah. Dan siapakah yang lebih baik shibghah-nya daripada Alloh Azza Wa Jalla ?..." (QS. Al-Baqarah: 138)
Namun kita tidak boleh menamai-Nya dengan Shobaagh (Yang Maha Pencelup).
        Kita pun mengetahui bahwa Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- menurunkan hujan dari langit dan mengeluarkan air dari bumi untuk minum kita. Namun kita tidak boleh menamai-Nya' dengan Saqqo  atau Saqii (Yang Maha Pemberi Minum).
Dan demikian pula, kita tidak boleh menamai-Nya dengan sesuatu nama yang Allah Ta'ala sendiri tidak menamai Diri-Nya dengan nama tersebut. [lihat : Al-Fashlu fil Milal wal Ahwaa wan Nihal (11/108)]      Imam Nawawi -rahimahulloh-  berkata, "Nama-Nama Allah itu bersifat tauqiifiyyah, tidak boleh ditetapkan kecuali dengan dalil yang sha¬hih.” [Syarh an-Nawawi (VII/188) ]     al-Ghazali -rahimahulloh- pun berargumen bahwa Asmaa-ul Husnaa mi telah disepakati bersifat tauqiifiyyah. Kita tidak boleh menamai Rasulullah -Sholallahu Alaihi Wassalam- kecuali dengan nama yang telah diberikan oleh ayah-nya, atau dengan nama yang beliau sendiri telah menamakan dirinya dengan nama itu, dan demikian pula halnya terhadap orang-orang besar lainnya. la berkata, "Jika yang demikian itu terlarang bagi hak makhluk, maka bagi hak Allah hal tersebut lebih terlarang lagi.” [lihat : FathulBaari (XL/223) ]       Imam as-Suyuthi -rahimahulloh- berkata, "Ketahuilah bahwa Nama-Nama Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- itu bersifat tauqiifiyyah, dengan pengertian bahwa tidak diperkenankan untuk memutlakkan suatu nama (bagi Allah), selama tidak ada izin Syara', meskipun makna yang dimaksudkan-nya telah dijelaskan.” [Syarh Sunan Ibni Majah (1/275)]      Abul Qasim al-Qusyairi -rahimahulloh- , berkata, "Nama-Nama Allah itu diambil secara tauqiifiy dari al-Kitab, as-Sunnah dan Ijma'. Maka setiap nama yang bersumber dari al-Kitab, as-Sunnah dan Ijma', yang menerangkan Nama-Nama Allah, wajib memutlakkannya di dalam mensifati-Nya. Selain dari yang demikian, maka tidak boleh dimutlak-kan untuk mensifati-Nya, sekalipun maknanya benar.”[ lihat : Subulus Salaam (IV/ 109)]      Ibnul Wazir al-Murtadha -rahimahulloh-  berkata, "Nama-Nama Allah dan sifat-sifat-Nya bersifat tauqiifiyyah  syar'iyyah. Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala-  terlalu Mulia untuk digambarkan atau ditentukan (tentang nama dan sifat-Nya) oleh hamba-hamba-Nya yang jahil menurut apa yang mereka pahami. Maka tidak boleh menamai Allah , misalnya dengan Rabbul Kilaab wal Khanaazir (artinya: Rabb  bagi anjing-anjing dan babi-babi) atau dengan yang seumpamanya yang tidak diizinkan syara'. Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala-  hanya boleh dinamai dengan nama yang Dia sendiri telah menamai Diri-Nya dengan nama tersebut.” [lihat : Iitsaarul Haqq(I/314].
           Penegasan para ulama tentang kaidah Asmaa-ul Husnaa seperti yang telah disebutkan sebagiannya di atas sangatlah banyak, Semuanya menunjukkan pemahaman 'aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah yang menyatakan bahwa Asmaa-ul Husnaa itu bersifat tauqiifiyyah, dan bahwa penetapannya harus berdasarkan nash yang shahih, yang dengan tegas menyebutkan lafazh Nama Allah tersebut di dalamnya.
      Maka berdasarkan kenyataan ini, pembahasan  tentang As-maa-ul Husnaa dalam buku ini bertujuan untuk menghimpun, memahami makna-maknanya, menghafalkan, dan berdo'a dengannya. Jadi tujuannya bukan untuk membuat-buat Nama-Nama Allah yang baru berdasarkan lafazh ayat atau hadits.
Dan tujuan pokok buku ini  bukan untuk memperdalam masalah-masalah seputar Asmaa-ul Husnaa, seperti apakah yang dimaksud dengan Asmaa-ul Husnaa yang dianjurkan bagi kita untuk berdo'a kepada Allah dengannya.

inilah buku karya Al Imam Al Qurthubi, membahas tentang rahasia Asma al Husna.

========================================================================
Rahasia Asmaul Husna
Penulis : Imam Al Qurthubi - rahimahullah-
Fisik: Buku ukuran sedang, hardcover
Penerbit : Pustaka Azzam
Harga Rp 263.000 diskon jadi Rp 210.000

Pemesanan :

Email : This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it. / sms,WA,Telegram  : 0819.2469.325 ,  BBM : 5B0FE340

(kami hanya menjawab pesan singkat yang dlengkapi nama dan alamat lengkap)

=====================================================================

Additional Info

  • Judul Buku: Rahasia Asmaul Husna
  • Judul Asli: -
  • Penulis: Imam Al Qurthubi - rahimahullah-
  • Tahqiq/Takhrij: -
  • Ukuran Fisik Buku: Buku Ukuran Sedang
  • Format Cover: Hardcover
  • Jumlah Halaman: -
  • Penerbit /Publisher: Pustaka Azzam
  • Harga: Rp 263.000 diskon jadi Rp 210.000 ( Belum Termasuk Ongkos Kirim)
  • Cara Pembelian: Email : This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it., sms/WA/Telegram : 08192469-325 , BBM : 5B0FE340 ( Pastikan !! tulis nama & Alamat lengkap )
Read 280 times