• Hotline: (+62) 819.2469.325
Wednesday, 02 August 2017 10:05

Musnad Imam Ahmad (22 Jilid lengkap )

Written by Imam Ahmad bin Hambal
Rate this item
(0 votes)

AZM musnad ahmad set2       Menghukumi suatu hadits itu shahih, hasan, atau dha'if, harus didasarkan pada beberapa hal, diantaranya adaalah (tabiat yang mendorong seseorang untuk senantiasa bertakwa, dan berakhlak mulia dan menjauhi maksiat serta bid'ah) dan dhabth (keakuratan hapalan) periwayat, atau tuduhan terhadap : "adaalah" dan "dhabth" mereka.
Mengetahui segala sesuatu berkenaan dengan salah seorang periwayat hadis bukan hal yang mudah, sebagaimana pendapat para ulama tentang seorang periwayat juga berbeda-beda, ada yang berlebihan, ada yang sedang-sedang saja, dan ada yang meremehkan. Perbedaan penilaian terhadap seorang periwayat akan mempengaruhi perbedaan dalam menghukumi suatu hadits, apakal shahih, hasan, dha'if, atau maudhu '.
Allah Ta’ala  berfirman,yang artinya:
: orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu." (Qs. Al Hujuraat [49]: 6)
Rasulullah -Sholallahu Alaihi Wassalam-  bersabda,
"Semoga Allah membaguskan akhlak dan mengangkat derajat orang yang mendengar sesuatu dari kami (yakni : hadits)  lalu dia menyampaikannya seperti yang dia dengar, Berapa banyak orang yang menyampaikan lebih paham dari yang mendengar." (HR. At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad, dan Ibnu Hibban)
    Oleh karena itu, para sahabat -Rodliallohu Anhum-  sangat hati-hati dan teliti dalam masalah periwayatan, baik ketika mengambil dan menyampaikannya, sehingga muncullah kaidah, "Sesungguhnya hadits-hadits ini adalah agama, maka perhatikanlah dari siapa kalian mengambilnya." Dengan demikian muncullah ilmu Al Jarh wa At-Ta'dil. Para ulama memberikan perhatian yang sangat besar dalam masalah ini. Mereka mengerahkan segala upaya untuk mempelajari kondisi para periwayat yang menukil hadits Nabi -Sholallahu Alaihi Wassalam- .
Imam Al Iraqi -rahimahulloh-  berkata dalam Fath Al Mughits (Fath Al Mughits (3/314)" Mintalah bantuan dengan ilmu Jarh wa Ta 'dil, karena ia merupakan jalan untuk menjelaskan Antara yang sehat (shahih) dengan yang sakit (dha'if) dan berhati- hatilah, mempunyai tujuan (tertentu), karena jarh sangat berbahaya."
   
Pembukuan Sunnah
Ketika agama Islam telah tersebar ke penjuru negeri, bid'ah . merajalela, para sahabat -Rodliallohu Anhum-  telah berpencar ke berbagai wilayah, banyak  di   antara  mereka  telah  meninggal  dunia,   serta minimnya   mereka   yang   hapal   hadits,   maka   perlu   dilakukan bukuan dan penulisan hadits Rasulullah -Sholallahu Alaihi Wassalam- . Inilah asalnya, karena yang pandai dan cerdas bisa lupa, sedangkan tulisan dapat jaganya.
    Ketika Umar bin Abdul Aziz -rahimahulloh- menjabat sebagai khalifah pada permulaan  tahun   100   H,   dia  menulis   kepada  Abu  Bakar  bin Muhammad bin Amr bin Hazm, Gubernur Madinah, "Lihatlah hadits Rosululloh dan tulislah, karena aku takut ilmu akan hilang dan para ulama banyak yang meninggal dunia."
    Dia -rahimahulloh-  berwasiat agar riwayat yang ada pada Amrah binti Abdurrahman Al Anshariyyah (W. 98 H) dan Qasim bin Abu Bakar (W. 120 H) dituliskan untuknya. Dia juga menginstruksikan kepada para gubenurnya di berbagai kota penting di negeri-negeri Islam agar mengumpulkan hadits.
    Di antara orang yang dikirimi surat adalah Muhammad bin bin Ubaidillah bin Abdullah bin Syihab Az-Zuhri Al Madani, seorang Imam terkenal dan ulama besar wilayah Hijaz dan Syam (124 H).
     Setelah itu pembukuan Sunnah pada generasi setelah Az-Zuhri berkembang pesat. Orang yang pertama kali menyusunnya adalah Ibnu Juraij (W. 150 H), Ibnu Ishaq (W. 151 H), atau Malik di Madinah (W. 179 H), Ar-Rabi bin Shubaih (W. 160 H), atau Sa'id bin Arubah (W. 156 H), atau Hammad bin Salamah di Bashrah (W. 176 H), Husyaim di Wasith (W. 188 H), Ma'mar di Yaman (W. 153 H), Jarir bin Abdul Hamid di Rayy (W. 188 H), dan Ibnu Al Mubarak di Khurasan (W. 181 H) –rahimakumulloh-- .
Mereka semua hidup pada abad 2 H. Pembukuan hadits yang mereka lakukan bercampur dengan perkataan para sahabat dan fatwa tabiin.
   Di antara kitab-kitab paling terkenal yang ditulis pada masa ini adalah: Muwaththa Malik (W. 179 H), Musnad Al Imam Asy-Syafi'i (W. 204 H), dan Mukhtalaf Al Hadits karya Imam Syafi'i, Musnad Al Imam Ahmad, Al Jami' karya Abdurrazzaq, Mushannaf  Syu 'bah bin Al Hajjaj (W. 160 H), Mushannaf Sufyan bin Uyainah (198), Mushannaf Al-Laits bin Sa'ad (175 H), serta beberapa karya ulama ahli hadits yang semasa dengan mereka, seperti Al Auza'i dan Al Humaidi (219 H) [ lihat : tarikh Funun Al Hadits 33,34)
    Ada beberapa model penulisan hadits yang dilakukan oleh para Ulama Sunanh, diantaranya penulisan hadits metode musnad. Musnad adalah kitab yang berisi kumpulan hadits yang tidak diurut berdasarkan urutan bab-bab fiqih namun dikelompokkan/diurutkan  menurut setiap nama Shohabat rodliallohu anhum , baik hadits shahih, hasan atau dhaif. Urutan nama-nama para Shohabat didalam musnad kadang berdasarkan huruf hijaiyah atau alfabet sebagaimana dilakukan oleh ulama dan ini yang paling mudah, kadang juga berdasarkan pada kabilah dan suku, atau berdasarkan yang paling dahulu masuk Islam, atau berdasarkan negeri (asal). 
   Kitab hadits yang berbentuk musnad cukup banyak. Al Killani dalam kitabnya Ar Risalah Al Musthatharafah menyebutkan jumlahnya sebanyak 82 Musnad, diatara yang paling terkenal yaitu : Musnad karya Imam Abu Daud, Musnad karya Imam Ahmad bin Hanbal, Musnad karya Imam Abu bakar Al Humaidi, Musnad karya Imam Abu Ya’la -rahimakumullah- . Kitab ini adalah dari terjemahan Kitab Musnad Imam Ahmad yang telah ditakhrij oleh Syaikh Al Muhadits Ahmad bin Muhammad Syakir -rahimahullah- . Sebuah serial kitab yang menjadi rujukan dalam hadits-hadits Rosul.

 

Harga Penerbit Rp 4.258.000, harga Kami Rp 3.400.000 saja ( Selama Stok masih Ada !. Buruan Saja )

 

Additional Info

  • Judul Buku: Musnad Imam Ahmad
  • Judul Asli: Musnad lil Imam Ahmad bin Muhammad bin Hanbal
  • Penulis: Imam Ahmad bin Hambal
  • Tahqiq/Takhrij: Syaikh Al Muhadits Ahmad bin Muhammad Syakir
  • Ukuran Fisik Buku: Buku Ukuran Sedang 15 x 23.5 cm
  • Format Cover: Hardcover
  • Jumlah Halaman: 22 Jilid / set lengkap
  • Penerbit /Publisher: Pustaka Azzam
  • Harga: Rp 4.258.000 Diskon jadi Rp 3.400.000 ( Belum Termasuk Ongkos Kirim)
  • Cara Pembelian: Email : This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it., sms/WA/Telegram : 08192469-325 ( Pastikan !! tulis nama & Alamat lengkap )
Read 81 times Last modified on Monday, 14 August 2017 07:05
Login to post comments