• Hotline: (+62) 819.2469.325

Memahami Kalimat Syahadat Menurut Aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah

Written by Ust. Yazid bin Abdul Qodir Jawas

FWD memahami syahadat      Syahadatain (dua kesaksian) merupakan prinsip dasar keabsahan dan diterimanya semua amal hamba-hamba Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- Suatu amalan akan sah dan diterima apabila dilakukan dengan keikhlasan hanya karena Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- dan mutaba'ah (mengikuti) Sunnah Rasulullah -Sholallahu Alaihi Wassalam-

Ikhlas karena Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- merupakan realisasi dari syahadat (persaksian) laa ilaaha illallaah, tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala-
Sedangkan mutaba'ah atau mengikuti Sunnah dari Rasulullah -Sholallahu Alaihi Wassalam- merupakan realisasi dari syahadat (kesaksian) bahwa Nabi Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya.
Al-Hafizh Ibnu Hajar -rahimahulloh- (wafat th. 852 H) berkata, "Yang dimaksud dengan syahadat di sini adalah membenar-kan apa yang dibawa oleh Rasulullah sehingga mencakup semua yang disebutkan tentang keyakinan (rukun iman yang enam dan yang selainnya) [Fat-hul Baari (1/49-50, syarah hadits no. 8).]

Telah diketahui secara pasti bahwa persaksian Tauhid merupakan kunci agama Islam, pokoknya agama, dan tiang bangunannya. Tidak ada Islam bagi orang yang belum meyakini, mengucapkan, dan mengamalkannya.
Tidak diragukan lagi bahwa keadaan seperti ini tidak akan terwujud kecuali setelah mengetahui maknanya, karena urutan ini (yakni : ilmu, keyakinan, ucapan, dan amal ) bagaikan urutan bangunan dan pondasinya, serta cabang dan pokok¬nya. Sebab, hukum atas segala sesuatu merupakan cabang dari penggambaran nya. Karena mya, siapa saja yang tidak mengetahui maknanya dan tidak dapat menggambarkannya maka ia seperti orang yang mengigau disaat tidur, tidak mengetahui apa yang ia ucapkan [lihat : Mishbaahuzh Zhalaam (him. 161).]

Yang demikian itu dikarenakan setiap yang mengerti akan adanya Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- , dia mengetahui secara pasti bahwa yang dimaksud dari dua kalimat syahadat adalah hakikat dan maknanya serta yang mencakupinya dari ilmu dan amal. Adapun sekedar pengucapan saja tanpa mengetahui maknanya dan tanpa meyakini hakikatnya, maka ini tidak akan memberikan manfaat kepada seorang hamba dan juga tidak akan membebaskan dia dari kesyirikan dan cabang- / cabangnya.

Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari -rahimahulloh- (wafat th. 310 H) ketika menafsirkan firman Allah Ta'ala,
"... Kecuali orang-orang yang menyaksikan dengan benar dan mereka mengetahui." (QS. Az-Zukhruuf: 86)
Beliau berkata, "Persaksian dia terhadap kebenaran dan ikrar dia terhadap tauhid maksudnya: kecuali yang beriman kepada Allah dan mereka mengetahui hakikat Tauhid [Tafsiir Ath-Thabari (XXV/105).]
Jadi, sesuatu yang harus diperhatikan oleh setiap Muslim adalah memahami kalimat yang agung ini (yaitu kalimat laa ilaaha illallaah) dan mengetahui kandungannya dengan pengetahuan yang benar
Lantas, ilmu apa yang bermanfaat bagi dirinya kalau tiduk mengetahui makna kalimat yang dapat membawanya pada kesuksesan?!
Pentingnya mengetahui makna laa ilaaha illallaah semakin ditekankan ketika banyaknya orang yang menyimpang dari pemahaman yang benar, dan semakin jarang juga orang yang serius menjelaskan dan menjabarkan makna kalimat ini. Betapa bariyak penafsiran-penafsiran kalimat ini yang keliru menghiasi buku-buku dan lisan-lisan ahli bid'ah, serta berakibat pada penyimpangan dalam agama seseorang. Allaahul Musta'aan!
Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- berfirman, yang arti nya
"Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: 'Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja..." (QS. Al-Mumtahanah: 4)

Dan Allah Ta'ala berfirman,
“ Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan daum nya,’ Sesungguhnya aku tidak bertanggungjawab terhadap apa yang engkau sembah, tetapi ( aku menyembah Rabb) yang menjadikanku, karena sesungguhnya Dia member hidayah kepadaku.’, Dan (Ibrahim) menjdikan kalimat tauhid itu kalimat yang kekal pada keturunan nya supaya mereka kembali kepada kalimat tauhid itu.” [ QS Az Zukhruuf 26-28].

Maksudnya, Ibrahim –Alaihiissalam- menjadikan loyalitas karena Allah Ta'ala dan berlepas diri dari setiap sembahan selain-Nya sebagai kalimat yang kekal pada keturunannya, yang terus diwariskan oleh para Nabidan pengikut-nya, dari sebagian mereka kepada sebagian yang lain. Yang dimaksud ialah kalimat 'laa ilaaha illallaah' (tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah). Inilah yang diwariskan oleh imam orang-orang yang hanif kepada para pengikut beliau sampai datangnya hari Kiamat.
Dengan kalimat Tauhid inilah, bumi dan langit dapat tegak. Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- menjadikan fitrah seluruh makhluk di atas kalimat ini. Di atasnya agama dan kiblat itu dibangun, serta pedang-pedang jihad dihunuskan. la adalah murni hak Allah Ta'ala atas seluruh hamba-Nya, sekaligus merupakan kalimat yang melindungi darah, harta, dan keturunan di kehidupan dunia, kemudian menyelamatkan manusia dari siksa kubur dan Neraka. la adalah lembaran terbuka yang seseorang itu tidak akan masuk Surga, melainkan dengannya. la adalah tali yang jika seseorang tidak berpegang dengan¬nya, niscaya dia tidak akan sampai kepada Allah Ta'ala. la adalah kalimat Islam dan kunci pembuka Surga yang penuh keselamatan. Dengannya, manusia terbagi menjadi orang yang sengsara, bahagia, diterima, ataupun ditolak. Dengannya juga, negeri kekufuran terpisah dengan negeri keimanan, serta terbedakan antara negeri kenikmatan dengan negeri kesengsaraan dan kehinaan. la adalah tiang yang mengandung perkara yang wajib sekaligus yang sunnah.

Rasulullah -Sholallahu Alaihi Wassalam- bersabda,
"Barangsiapa yang akhir ucapannya adalah laa ilaaha illallaah pasti masuk Surga.” [Shahih: HR. Ahmad (V/233), Abu Dawud (no. 3116), Ath-Thabrani dalam Al-Kabtir (XX/112), dan AI-Hakim (1/351), dari Sahabat Mu'adz &£$& dengan sanad hasan, insya Allah. Hadits ini mempunyai penguat dari Shahabat Abu Hurairah $%g\jgj, yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban (no. 2993), dengan sanad jayyid (bagus).]
Ruh dan rahasia kalimat ini adalah pengesaan Allah Ta'ala dengan kecintaan, pemuliaan, pengagungan, takut dan harap (hanya kepada Allah Ta'ala), dan perkara-perkara lain yang mengikutinya; berupa tawakkal, taubat, keinginan, dan ketakutan. Seorang hamba tidak mencintai selain-Nya. Segala sesuatu yang dicintai selain Allah adalah karena mengikuti kecintaan kepada-Nya dan merupakan sarana untuk tambah mencintai-Nya. Seorang hamba tidak takut kepada selain Allah, tidak berharap kepada selain-Nya, tidak bertawakkal selain kepada-Nya, ia hanya mengharap kepada Allah, tidak takut selain kepada-Nya, hanya ber-sumpah dengan nama-Nya, tidak bernadzar selain kepada-Nya, hanya bertaubat kepada-Nya, tidak mentaati selain perintah-Nya, hanya mengharapkan ganjaran dari-Nya, tidak memohon pertolongan ketika terjadinya kesulitan selain kepada-Nya, hanya bersandar kepada-Nya, tidak sujud selain kepada-Nya, serta hanya menyembelih untuk-Nya dan dengan nama-Nya. Seluruh perkara ini terkumpul pada satu kalimat, yaitu: "Tidaklah disembah dengan semua macam ibadah, melainkan hanya Allah semata." Inilah realisasi kalimat syahadat laa ilaaha illallaah.

Oleh karena itulah, Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- mengharamkan api Neraka bagi orang yang mongucapkan kalimat syahadat laa ilaaha illallaah dengan sebenar-benarnya.
Mustahil orang yang merealisasikan dan menerapkan syahadat ini masuk Neraka. pernyataan ini sesuai dengan firman Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala-
"Dan orang-orang yang memberikan kesaksiannya." (QS. Al-Ma'aarij: 33)
Hamba tersebut telah melaksanakan syahadat tersebut secara lahir dan batin, baik melalui hati maupun anggota badannya.
Sebagian manusia ada yang syahadatnya mati, sebagian lagi syahadatnya tertidur sehingga harus dibangunkan supaya terjaga, sebagian lagi ada yang syahadatnya berbaring, dan sebagian lagi ada yang syahadatnya miring hampir berdiri. Kedudukan syahadat dalam hati seperti halnya kedudukan roh terhadap badan. Ada roh yang mati, roh yang sakit dan lebih dekat kepada kematian, roh yang lebih dekat dengan kehidupan, serta ada roh yang sehat dan melaksanakan kemaslahatan badan.

Nabi -Sholallahu Alaihi Wassalam- bersabda,
"Sesungguhnya aku mengetahui suatu kalimat yang tidaklah seorang hamba mengucapkannya ketika dia meninggal dunia, melainkan rohnya akan mendapatkan roh baginya”. [Shahih: HR. Ahmad (1/63), AI-Hakim (1/72), Ibnu Hibban (no. 204), Abu Nu'aim dalam AI-Hilyah (11/296), Ibnu Khuzaimah dalam At-Tauhiid (hlm. 328), dan Ibnul Banna' dalam Fadhlut Tahliil (no. 1), dari Shahabat 'Umar bin AI-Khath-thab dan 'Utsman bin 'Affan, dan sanadnya kuat.]
Dengan demikian, kehidupan roh bergantung pada kalimat tersebut di dalamnya, seperti halnya kehidupan badan tergantung dari keberadaan roh di dalamnya; juga sebagaimana orang yang meninggal di atas kalimat ini sehingga berhak berada di Surga dan bergerak bebas di dalamnya.

Maka dari itu, barangsiapa yang merealisasikan dan melaksanakan inti kalimat ini niscaya rohnya akan bergerak bebas dalam Surga, bahkan tempat tinggal dan hidupnya menjadi kehidupan yang terbaik.
Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- ber firman,
"Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Rabb-nya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya. Maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya).” (QS. An-Naazi'aat: 41)
Surga adalah tempat tinggal bagi mereka pada hari Pertemuan dengan-Nya kelak. Surga pengetahuan, kecintaan, kedekatan dengan Allah, kerinduan terhadap pertemuan dengan-Nya, senang dengan Allah, dan ridha terhadap-Nya merupakan tempat tinggal rohnya di dunia. Barangsiapa yang Surga tersebut adalah tempat tinggalnya di dunia maka Surga yang abadi akan menjadi tempat tinggalnya di akhirat. Adapun barangsiapa yang terhalang dari Surga dunia maka dia akan lebih ter-halang dari Surga yang abadi. Orang-orang yang melakukan kebajikan berada di dalam Surga kenikmatan meskipun mereka mengalami kesulitan dan kesempitan hidup di dunia; sedangkan orang-orang yang durhaka berada dalam Neraka kepedihan meskipun kehidupan dunia mereka serba cukup.

Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- ber firman,
“ barangsiapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan/f (QS. An-Nahl: 97)
Kehidupan yang baik adalah Surga dunia. Allah berfirman,
"Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit..." (QS. Al-Anraam: 125)

Kenikmatan manakah yang lebih baik dibandingkan kelapangan dada? Sebaliknya, adzab manakah yang lebih pedih daripada sempitnya dada?
Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- berfirman,
"Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada ke-khawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertaqwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan) di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar." (QS. Yunus: 64)
Seorang Mukmin yang ikhlas kepada Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- ,merupakan manusia yang paling baik hidupnya, paling tenteram pikirannya, paling lapang dadanya, dan paling bahagia hatinya. Inilah Surga yang disegerakan sebelum Surga yang abadi [lihat : Ad-Daa' wad Dawaa' (him. 300-303) karya Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah, tahqiq, ta'liq, dan takhrij Syaikh 'All bin Hasan 'All 'Abdul Hamid.]

Inilah buku yang membahas tuntas memahami kalimat Syahadat menurut Aqidah Ahlus Sunnah wal jamaah, Adapun buku ini memuat penjelasan tentang:

Makna Syahadat (Persaksian).
Kedudukan Dua Kalimat Syahadat dalam Syari'at Mam dan Keutamaannya.
Makna, Rukun serta Syarat-Syarat Syahadat : Laa Illaha Illah
Penjelasan Kalimat Tauhid dan Keutamaannya
Makna Syahadat : Muhammad Rosululloh
Pembatal-Pembatal Syahadat
Dan lain-lainnya.

Additional Info

  • Judul Buku: Memahami Kalimat Syahadat Menurut Aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah
  • Judul Asli: -
  • Penulis: Ust. Yazid bin Abdul Qodir Jawas
  • Tahqiq/Takhrij: -
  • Ukuran Fisik Buku: Buku Ukuran Sedang, 17 x 24 cm
  • Format Cover: Hardcover
  • Jumlah Halaman: 306 hlm
  • Penerbit /Publisher: Khazanah Fawaid
  • Harga: Rp 99.000 diskon jadi Rp 79.000 ( Belum Termasuk Ongkos Kirim)
  • Cara Pembelian: Klik pada tombol BELI, Pertanyaan ? : Email : This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it., WA/Telegram : 08192469-325 , ( Pastikan !! tulis nama & Alamat lengkap )
Read 1021 times