• Hotline: (+62) 819.2469.325
Monday, 16 October 2017 02:40

Tarikh Khulafa

AZM tarikh khulafa

Zaman terus berputar , peristiwa sejarah akan berulang, tempat dan situasinya yang berbeda. Putaran zaman mempergilirkan antaran kebaikan dan keburukan. Dan kondisi suatu zaman akan sangat dipengaruhi oleh siapa yang menjadi pemimpinnya saat itu. Hal ini dapat kita saksikan pada perjalanan umat islam dari semenjak masa kenabian, masa khulafa’urrasyidin serta masa kedinastian Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah.

Kekhilafahan mengalami masa keemasan pada masa-masa khulafa’urrasyidin terutama pada masa Khalifah Abu bakar, Umar dan setengah dari masa kekhilafahan Utsman bin Affan.Setelah berakhirnya masa khulafa’urrasyidin, kekhilafahan berpindahsecara turun temurun, adakalanya berada di tangan orang yang zhalim dan durhakan. Namun bagaimanapun kondisi mereka  tetap lebih baik disbanding dengan masa pasca kejatuhan khilafah.

Imam As-Suyuthi, seorang ulama besar yang hidup antara tahun 849-911 H, mengungkap perikehidupan para khalifah (penguasa) berdasarkan periwayatan yang terpercaya dan komentar-komentar para ulama yang langsung menjadi pelaku sejarah. Karya beliau  merupakan warisan yang sangat berharga karena kaya dengan pelajaran yang mendalam dan menjadi rujukan sepanjang zaman bagi umat yang ingin memahami sejarah para penguasa pendahulunya.

Additional Info

  • Judul Buku -
  • Judul Asli -
  • Penulis -
  • Tahqiq/Takhrij -
  • Ukuran Fisik Buku Buku Ukuran Sedang
  • Format Cover Hardcover
  • Jumlah Halaman hlm
  • Penerbit /Publisher -
  • Harga Rp ( Belum Termasuk Ongkos Kirim)
  • Cara Pembelian Email : This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it., sms/WA/Telegram : 08192469-325 , BBM : 5B0FE340 ( Pastikan !! tulis nama & Alamat lengkap )
Published in Terbaru

AZM minhajul qosidin set1     Kitab Minhajul Qashidin karya Imam Jamaluddin Ibnul Jauzi rahimahullah yang merupakan kitab referensi dalam tazkiyatun nafs . Beliau meringkasnya dan memberikan komentar di dalamnya. Minhajul Qoshidin adalah Sebuah kitab taskiyatun nafs (penyucian jiwa /hati) dimana kandungan kitab ini sarat dengan berbagai terapi dan contoh penyakit jiwa yang biasa hinggap di dada seorang muslim. Sehingga apabila orang yang membacanya, menelaah dan mentadabburinya, akan lebih terhibur dan merasa tentram karena obat-obat penawar yang disuguhkan bersumber langsung dari Kitabullah dan Sunnah rasul-Nya -Sholallahu Alaihi Wassalam-  serta perkataan (aqwaal) dan perbuatan (af'aal) para salafus shalih rahimahumullah.

      Kitab Minhajul Qashidin karya Imam Jamaluddin Ibnul Jauzi rahimahullah yang merupakan kitab referensi dalam tazkiyatun nafs . Beliau meringkasnya dan memberikan komentar di dalamnya. Minhajul Qoshidin adalah Sebuah kitab taskiyatun nafs (penyucian jiwa /hati) dimana kandungan kitab ini sarat dengan berbagai terapi dan contoh penyakit jiwa yang biasa hinggap di dada seorang muslim. Sehingga apabila orang yang membacanya, menelaah dan mentadabburinya, akan lebih terhibur dan merasa tentram karena obat-obat penawar yang disuguhkan bersumber langsung dari Kitabullah dan Sunnah rasul-Nya -Sholallahu Alaihi Wassalam-  serta perkataan (aqwaal) dan perbuatan (af'aal) para salafus shalih rahimahumullah.     

          Banyak kitab mengenai penyucian jiwa, namun sedikit sekali yang menyuguhkan terapi yang berdasarkan hadits-hadits shahih. Hal ini malah bukan lagi sebagai solusi dalam kehidupan seorang muslim, akan tetapi menjadi petaka dan buah simalakama karena efek yang ditimbulkan tidak sesuai dengan nilai-nilai agama Islam yang hanif ini. Satu diantaranya yakni Kitab Ihya Ulumuddin karaya Al Ghazali -rahimahullah- . Kemudian Kitab Ihya Ulumuddin ini dikoreksi oleh Imam Ibnu jauzi -rahimahulloh-  menjadi Kitab Minhajul Qoshidin. 

        Al Imam Ibnul Jauzi rahimahullah, berkata: "Wahai orang yang jujur dan bergelora semangatnya! Mungkin, selama ini engkau tekun berkutat dengan ketergiuran dunia yang masygul, menarik perhatian dan bertekad untuk memutuskan diri dari akhkat. Padahal, engkau tahu bahwa bergaul dengan manusia itu mengharuskan dirimu turut secara langsung dengan mereka. Sementara meremehkan  Muhasahatun nafs (introspeksi diri) merupakan dasar sikap berlebih-lebihan, sehingga ketika takdir  bagi umurmu tidak panjang, semua yang ada pasti ditinggalkan. Hembusan-hembusan nafas terlalu cepat menghampiri tempat kematian. Di saat seperti ini, engkau akan benar-benar mencari muara yang bisa menjadi teman di saat sendirian, yaitu sebuah buku. Lalu engkau menelaahnya tanpa banyak bicara. Pilihanmu pun jatuh kepada Kitab Ihya Ulumuddin, karena menurut anggapanmu, inilah buku yang paling cocok bagi jiwamu. MAKA : ”Ketahuilah, bahwa dalam Kitab Ihya Ulumuddin terdapat kekurangan dan bencana yang ke-rusak-kannya hanya  dapat diketahui oleh para Ulama, karena didalamnya terdapat hadits-hadits dhaif, bathil, maudhu', mauquf yang dijadikan marfu.

       Kemudian beliau -rahimahulloh berkata: "Tidak sepatutnya beribadah dengan mengamalkan hadits-hadits maudhu' /Palsu dan terpedaya dengan perkataan yang dibuat-buat. Bagaimana mungkin keridhaan Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- menghadirimu, jika engkau shalat seharian, padahal Rasulullah -Sholallahu Alaihi Wassalam- tidak sepatah kata pun bersabda tentang cara Sholat yang demikian itu?!, Bagaimana mungkin saya bisa memberikan atsar (pengaruh) kepadamu, jika engkau sendiri lebih mendengarkan setiap perkataan yang berasal dari para sufi (ahli tasawwuf), yang direalisasikan dalam bentuk amal shalih yang tidak jelas manfaatnya baik di dunia, maupun di akhirat? ,

        Sebagai contoh seperti yang diperintahkan para sufi (ahli tasawwuf) untuk berlapar-lapar, mengadakan perjalanan panjang tanpa adanya tujuan yang jelas dan berjalan ke tengah Sahara tanpa dilengkapi dengan bekal yang cukup. Hal-hal tersebut merupakan perbuatan yang cacat, yang kesemuanya telah saya sarikan dalam Kitab Talbis Iblis (tipu daya yang diciptakan Iblis).     

      Karenanya saya (yakni Imam Ibnu jauzi -red) akan mengetengahkan buku (sebagai pengganti dari Kitab Ihya Ulumuddin) yang terlepas dari kerusakan-kerusakan dan tidak mengurangi manfaat-manfaatnya dengan merujuk kepada nukilan-nukilan riwayat yang shahih dan masyhur serta mengandung makna yang baik dan tepat, serta saya buang apa yang pantas untuk dibuang dan saya tambahkan apa yang pantas untuk ditambahkan.Jika engkau memang sudan bersikukuh mgin melakukan Uzlah  (mengasingkan diri) agar memperoleh apa yang terbaik bagi jiwamu dan menerapkannya dalam kehidupan nyata, maka jadikanlah ilmu (yang shaahih) sebagai pemimpin bagimu dan bersikap telitilah terhadap setiap detak nafsu dalam jiwamu, agar kamu mencapai keselamatan. Lalu, berhati-hatilah dalam mengikuti jalan salah satu dari dua orang berikut ini:   

Pertama, seorang ulama yang mengetahui selisih pendapat di dalam urusan fiqih, namun, dia merasa cukup dengan kemapanan kedudukannya sebagai ulama atau dia mengemban kedudukan di mahkamah (pengadilan), lalu dia masih berkehendak untuk menjaga kedudukannya itu, atau dia pandai menghiasi kata-katanya dalam memberi nasehat, kemudian menyempitkan pandangan-pandangan obyek para pendengarnya.     

Kedua, orang zuhud yang membolak-balikan setiap pendapat yang salah karena kebodohannya, yang mendekatkan diri dengan membalik-balikkan telapak tangan dan mengandalkan barakah, yang melakukan perbuatan menurut hawa nafsunya, tidak berdasarkan pada syari'at Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala-  dan Sunnah Rasul-Nya  Kedua karakter (sifat) orang ini, telah menyimpang dari jalan kebenaran, puas dengan amal yang menipu mata (terlihat bercahaya pada sisi luarnya, tetapi buruk dan gulita pada sisi dalamnya), sehingga bisa mengecoh setiap pemula (orang-orang yang baru mempelajari tentang Islam baik dari kalangan ummat Islam yang awam atau pun muallaf/orang yang baru memeluk agama Islam) seperti layaknya fatamorgana. Dan jalan mereka berdua sangat jauh dari kehidupan salafus shalih yang dikenal keistiqamahan dan kebenaran jalannya.Insya'allah, di dalam kitab ini saya akan menceritakan tentang kisah-kisah jejak kehidupan mereka.Kitab ini amat diperlukan bagi siapa saja yang menginginkan kesempurnaan dan bagi mereka yang baru memulainya. Setiap goresan kalimatnya mengandung rahasia-rahasia dalam beribadah serta anjuran, agar berhati-hati dari setiap bencana dalam bermu'amalah.”

Kitab Minhajul Qoshidin karya Syaikh Imam jamaluddin Ibnu jauzi -rahimahulloh- ini adalah kitab yang agung lagi penuh manfaat, ingin rasanya saya mengkaji untuk yang kedua kalinya. Sebab Kitab ini jauh lebih hebat dari apa yang saya perkirakan semula, namun diatas segala kelebihannya, saya tetap merasakan adanya kekurangan, sehingga ingin rasanya memberikan kritik atau pcnjelasan/syarah agar maksud yang diinginkan dalam kitab Minhajul Qoshidin benar-benar tercapai. Kitab ini cukup banyak nuansa furu’ (sub-sub bahasannya). Terbukti, masalah ini dibahas di awal kitab. Padahal persoalan-persoalan fiqih itu idealnya ada pada kitab-kitab fiqih. Meski demikian, kitab ini tidak bisa dianggap sebagai kitab fiqih. Kitab ini sebagai jawaban bagi mereka yang ingin berkonsentrasi untuk kehidupan akhirat tanpa harus meninggalkan kebutuhan dunia dan bagi mereka yang ingin mengintropeksi diri, mentadabburi akan hakekatnya sebagai makhluk yang lemah serta tak lepas dari kekurangannya. Kitab ini juga sebagai sarana yang mengantarkan seorang muslim memahami dengan benar arti sebuah kehidupan, waktu dan kesempatan yang Allah jalla jallaluh berikan bagi para hamba-Nya agar mampu dipergunakan dengan penuh optimal demi meraih sebuah kehidupan yang kekal abadi di akhekat kelak."
Al Imam Ibnu Qudamah Al Maqdisi Al Hambali -rahimahulloh-

 

inilah terjemah lengkap Minhajul Qosidin karya Al Imam Ibnu jauzi Al hambali rahimahullah, Pembahasan di Setiap Jilid nya,  

1. Ilmu, Pondasi-pondasi Aqidah, rahasia-rahasia bersuci, Dzikir dan Doa

2. Urutan Wirid, Adab makan, Adab Nikah, Adab Mencari Penghidupan, Akhlak-akhlak Kenabian

3. Keajaiban hati, Penempaan jiwa, Meredam Syahwat, Tercelanya Ghurur

4.Taubat, Sabar & Syukur, harapan & rasa takut, Cinta,Rindu & Ridha

5. Niat, Ikhlas dan kejujuran, Tafakur, Mengingat kematian dan sesudahnya

Harga Dari Penerbit Rp 913.000 , harga kami Rp 730.000

 

Minhajul Qashidin : Petunjuk bagi Orang Beriman ( 5 Jilid /Set )

Stok Terbatas & Harga Bisa berubah Sewaktu-Waktu BURUAN SEGERA BELI =====>>>
SAYA BELI !

 

 

 

Additional Info

  • Judul Buku Minhajul Qashidin : Petunjuk bagi Orang Beriman
  • Judul Asli Minhajul Qashidin
  • Penulis Imam Ibnul Jauzi Al Hambali -rahimahullah-
  • Tahqiq/Takhrij Kamil Muhammad Al Kharrath
  • Ukuran Fisik Buku Buku Ukuran Sedang 16 x23 cm
  • Format Cover Hardcover
  • Jumlah Halaman 5 Jilid/Set
  • Penerbit /Publisher Pustaka Azzam
  • Harga Rp 913.000 Diskon jadi Rp 730.000 ( Belum Termasuk Ongkos Kirim)
  • Cara Pembelian Email : This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it., sms/WA/Telegram : 08192469-325 , BBM : 5B0FE340 ( Pastikan !! tulis nama & Alamat lengkap )

AZ minhajul qosidinKiranya tidak berlebihan kalau kita mengatakan bahwa kitab Ihya' Ulumuddin adalah termasuk kitab berbahasa Arab yang paling populer di kalangan kaum Muslimin di Indonesia, bahkan mungkin di seluruh dunia. Kitab ini dianggap sebagai rujukan utama, sehingga seorang yang telah menamatkan pelajaran kitab ini dianggap telah. mencapai kedudukan yang tinggi dalam pemahaman agama Islam. Padahal kiranya juga tidak berlebihan kalau kita katakan bahwa kitab ini termasuk kitab yang paling keras diperingatkan oleh para ulama untuk dijauhi, bahkan di antara mereka ada yang merekomendasikan agar kitab ini dimusnahkan. [ Lihat Siyaru A'lamin Nubala 19/327 dan 19/495-496 halaman 245-246 (cet. Darul Ma'rifah, Beirut)]

Betapa tidak, kitab ini berisi banyak penyimpangan dan kesesatan besar, sehingga orang yang membacanya apalagi mendalaminya tidak akan aman dari kemungkinan terpengaruh dengan kesesatan tersebut, terlebih lagi kesesatan-kesesatan tersebut dibungkus dengan label dalil agama.
Di antara kesesatan besar yang dikandung buku ini adalah pembenaran ideologi (keyakinan) wihdatul wujud (bersatunya wujud Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- dengan wujud makhluk), yaitu keyakinan bahwa semua yang ada pada hakikatnya adalah satu dan segala sesuatu yang kita lihat di alam semesta ini tidak lain merupakan perwujudan/penampakan Dzat Ilahi (Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- ) - maha suci Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- dari segala keyakinan rusak ini-.

Keyakinan sangat menyimpang bahkan kufur ini dibenarkan secara terang-terangan oleh penulis kitab ini di beberapa tempat dalam kitab ini, misalnya pada jilid ke 4 halaman 86 dan halaman 245-246 ( cet. Dar marifah, Beirut )
Cukuplah pernyataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah -rahimahulloh- berikut ini yang menjelaskan besarnya penyimpangan dan kesesatan yang terdapat dalam kitab Ihya Ulumuddin, Beliau -rahimahulloh- berkata "Kitab ini berisi pembahasan-pembahasan yang tercela, (yaitu) pembahasan yang rusak (menyimpang diri Islam) dari para ahli filsafat yang berkaitan dengan tauhid (pengesaaan Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- ), kenabian dan hari Kebangkitan. Maka, ketika penulisnya menyebutkan pemahaman orang-orang ahli tasawwuf (yang sesat), ini seperti seseorang yang mengundang seorang musuh bagi kaum Muslimin tetapi (disamarkan dengan) memakaikan padanya pakaian kaum Muslimin (untuk merusak agama mereka secara terselubung). Sungguh para imam (Ulama besar) Islam telah mengingkari (kesesatan dan penyimpangan) yang ditulis oleh Abu Hamid al-Ghazali dalam kitab-kitabnya. [lihat ; Majmu al-Fatawa 10/551-552] Oleh karena itu, Imam adz-Dzahabi -rahimahulloh- menukil ucapan Imam Muhammad bin al-Walid ath-Thurthusyi -rahimahulloh- yang mengatakan bahwa kitab Ihya' Ulumiddin (yang artinya menghidupkan ilmu-ilmu agama) lebih tepat jika dinamakan Imatatu Ulumiddin (mematikan/ merusak ilmu-ilmu agama).
Di samping itu, kitab ini juga memuat banyak hadits lemah bahkan palsu, yang tentu saja tidak boleh dinisbatkan kepada Rasulullah -Sholallahu Alaihi Wassalam- , bahkan banyak di antaranya yang sangat bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar agama Islam. Kritikan Ulama Sunnah terhadap hadits dalam kitab Ihya Ulumuddin

1. Imam Abul Faraj Ibnul Jauzi -rahimahulloh- berkata (Dalam kitab beliau Minhajul Qoshidin): "Ketahuilah bahwa kitab Ihya' Ulumiddin memuat banyak kerusakan (penyimpangan) yang tidak diketahui kecuali oleh para ulama. Penyimpangannya yang paling ringan (dibandingkan penyimpangan-penyimpangan besar lainnya) adalah adanya hadits-hadits palsu dan batil (yang termaktub di dalamnya), juga hadits-hadits mauquf (ucapan Sahabat atau Tabi'in) yang dijadikan sebagai hadits marfu' (ucapan Rasulullah ). Semua itu dinukil oleh penulisnya dari referensinya, meskipun bukan dia yang memalsukannya. Dan (sama sekali) tidak dibenarkan mendekatkan diri (kepada Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- ) dengan hadits yang palsu, serta tidak boleh tertipu dengan ucapan yang didustakan (atas nama Rasulullah -Sholallahu Alaihi Wassalam- )".

2. Imam Abu Bakr Muhammad bin al-Walid ath-Thurthusyi -rahimahulloh- berkata (Beliau adalah seorang imam panutan, ulama besar dan ahli zuhud. Wafat 520 H. Biografi beliau dalam Siyaru A'lamin Nubala 19/490)
: ''...Kemudian al-Ghazali memenuhi kitab ini dengan kedustaan atas (nama) Rasulullah -Sholallahu Alaihi Wassalam- , bahkan aku tidak mengetahui sebuah kitab di atas permukaan bumi ini yang lebih banyak (berisi) kedustaan atas (nama) Rasulullah melebihi kitab ini [Dinukil oleh Imam adz-Dzahabi dalam Siyaru A'lamin Nubala 19/495]

3. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah -rahimahulloh- berkata: "Dalam kitab ini terdapat hadits-hadits dan riwayat-riwayat yang lemah, bahkan (juga mengandung) banyak hadits yang palsu, serta berisi banyak kebatilan dan kebohongan orang-orang ahli tasawwuf [Majmual-Fatawa 10/552]

4. Imam adz-Dzahabi -rahimahulloh- berkata, "Adapun kitab Ihya' Ulumiddin, di dalamnya terdapat sejumlah (besar) hadits-hadist yang batil (palsu) [Siyaru A'lamin Nubala l9/339]

5. Imam Ibnu Katsir -rahimahulloh- berkata, "...Akan tetapi, dalam kitab ini (Ihya' Ulumiddin ) banyak terdapat hadits-hadits yang asing, mungkar dan palsu. [Al-Bidayah wan Nihdyah 12/214]

6. Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani -rahimahulloh- berkata: "Betapa banyak kitab Ihya' Ulumiddin memuat hadits-hadits (palsu) yang oleh penulisnya dipastikan penisbatannya kepada Rasulullah -Sholallahu Alaihi Wassalam- , padahal Imam al-'Iraqi -rahimahulloh- dan para ulama lainnya menegaskan bahwa hadits-hadist tersebut tidak ada asalnya (hadist palsu)". [Silsilatul Ahaditsidh Dha'ifah wal Maudhu'ah 1/60]

7. Bahkan Imam as-Subki -rahimahulloh- mengumpulkan hadits-hadist dalam kitab Ihya' Ulumiddin yang tidak ada asalnya (palsu), dan setelah dihitung semuanya berjumlah 923 hadits [Thabaqatusy Syafi'iyyatil Kubra 6/287]

KITAB-KITAB YANG LEBIH PANTAS DIPELAJARI DAN DITEKUNI

Dengan uraian ringkas tentang kitab Ihya' Ulumiddin di atas, jelaslah bagi kita kandungan buruk dan penyimpangan yang terdapat di dalamnya. Maka, seorang Muslim yang menginginkan kebaikan dan keselamatan dalam agama dan imannya, hendaknya menjauhkan diri dari membaca buku-buku yang mengajarkan kesesatan seperti ini. Alhamdulillahf kitab-kitab para ulama Ahlus Sunnah yang bersih dan selamat dari penyimpangan sangat banyak. dan mencukupi untuk diambil manfaatnya.

Apakah kita tidak khawatir akan ditimpa kerusakan dalam pemahaman agama kita dengan membaca kitab seperti ini ?, padahal kerusakan dan kerancuan dalam memahami agama ini merupakan malapetaka terbesar yang akan berakibat kebinasaan dunia dan akhirat?
Bukankah Rasulullah -Sholallahu Alaihi Wassalam- berlindung kepada Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- dari kerusakan agama dan iman, sebagaimana dalam doa beliau :

"(Ya Allah) janganlah Engkau jadikan malapetaka (kerusakan) yang menimpa kami dalam agama (keyakinan) kami " [HR at-Tirmidzi (no. 3502), dan dinyatakan hasan oleh Imam at-Tirmidzi dan Syaikh al-Albani]

         Ketahuilah, bahwa ilmu yang bermanfaat untuk memperbaiki keimanan dan meyempurnakan ketakwaan kita kepada Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- hanyalah ilmu yang bersumber dari al-Qur'an dan hadits-hadits shahih dari Rasulullah -Sholallahu Alaihi Wassalam- yang dipahami dengan pemahaman yang benar, yaitu dengan merujuk pemahaman para Sahabat Nabi -Rodliallohu Anhum- dan orang-orang yang mengikuti petunjuk mereka.

           Imam Ibnu Rajab al-Hambali -rahimahulloh- berkata: "Ilmu yang bermanfaat dari semua ilmu adalah mempelajari dengan seksama dalil-dalil dari al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah , serta (berusaha) memahami kandungan maknanya, dengan pemahaman yang bertumpu pada penjelasan para Sahabat Rasulullah , para Tabi'in (orang-orang yang mengikuti petunjuk para sahabat), dan orang-orang yang mengikuti (petunjuk) mereka dalam memahami kandungan al-Qur'an dan Hadits (dengan baik). (Begitu pula) dalam (memahami penjelasan) mereka dalam masalah halal dan haram, pengertian zuhud, amalan hati (pensucian jiwa), pengenalan (tentang nama-nama dan sifat-sifat Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala-) dan pembahasan-pembahasan ilmu lainnya, dengan terlebih dahulu berusaha untuk memisahkan dan memilih (riwayat-riwayat) yang shahih (benar) dan (meninggalkan riwayat-riwayat) yang tidak benar, kemudian berupaya untuk memahami dan menghayati kandungan maknanya. Semua ini sudah sangat memadai (untuk mendapatkan ilmu yang bertnanfaat) bagi orang yang berakal dan merupakan kesibukan (yang bermanfaat) bagi orang yang memberi perhatian dan berkeinginan besar (untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat)” [Fadhlu 'llmis Salaf'ala 'Until Khalafhlm. 6]

             Renungkanlah nasehat emas dari Imam adz-Dzahabi -rahimahulloh- ketika beliau mengkritik kitab Ihya' Ulumiddin dan kitab-kitab lain semisalnya yang memuat kesesatan dan penyimpangan karena mengabaikan petunjuk al-Qur'an dan hadits-hadits shahih dari Rasulullah -Sholallahu Alaihi Wassalam- dengan pemahaman yang benar.

                Imam adz-Dzahabi -rahimahulloh- berkata: "Dalam kitab Ihya' Ulumiddin terdapat sejumlah (besar) hadits-hadits yang batil (palsu) dan banyak kebaikannya kalau saja kitab itu tidak memuat adab, ritual dan kezuhudan (model) orang-orang (yang mengaku) ahli hikmah dan ahli Tasawwuf yang menyimpang, kita memohon kepada Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- . (dianugerahkan) ilmu yang bermanfaat. Tahukah kamu apakah ilmu yang bermanfaat itu? Yaitu ilmu bersumber dari al-Qur'an dan dijabarkan oleh Rasulullah dalam ucapan dan perbuatan (beliau), serta tidak ada larangan dari beliau tentangnya. Rasulullah -Sholallahu Alaihi Wassalam- bersabda: "Barangsiapa yang tidak menyukai sunnah/ petunjukku maka dia bukan termasuk golonganku” [HR. al-Bukhari no. 5063 dan Muslim 1401 ]

Maka, wajib bagimu wahai saudaraku untuk mentadabburi (mempelajari dan merenungkan) al-Qur'an serta membaca dengan seksama (hadits-hadits Rasulullah) dalam ash-Shahihain (Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim), Sunan an-Nasa'i, Riyadhus Shalihin dan al-Adzkar tulisan Imam an-Nawawi . (Maka dengan itu) engkau akan beruntung dan sukses (meraih ilmu yang bermanfaat).

Dan jauhilah pemikiran orang-orang tasawwuf dan filsafat, ritual-ritual ahli riyddhah (ibadah-ibadah khusus ahli tasawwuf), dan kelaparan (yang dipaksakan) oleh para pendeta, serta igauan tokoh-tokoh ahli kholwat (menyepi/bersemedi yang mereka anggap sebagai ibadah). (Ingatlah), semua kebaikan hanyalah (diraih) dengan mengikuti agama (Islam) yang hanif (lurus) dan mudah (agama yang dibawa dan dicontohkan oleh Rasulullah -Sholallahu Alaihi Wassalam- ). Hanya kepada Allah-lah kita memohon pertolongan. Yd Allah, tunjukkanlah kepada kami jalan-Mu yang lurus.” [Siyaru A'lamin Nubala 19/339-340].

                Diantara buku yang Insya Alloh Azza Wa Jalla lebih Shahih dibanding Ihya Ulumiddin nya Al Ghazali -rahimahulloh- adalah kitab Minhajul Qosidin
Seperti yg dijelaskan diatas, bahwa kitab Ihya Ulumuddin, karena sejumlah masalah di dalamnya mengandung tidak sesuai dengan manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah, sejumlah ulama besar Ahlus Sunnah melakukan studi terhadap kitab tersebut, lalu mengoreksi dan membuang hal-hal yang tidak sesuai dengan Sunnah Rosul ,Salah seorang di antara mereka adalah Imam Ibnul Jauzi -rahimahulloh- .

Imam Ibnu jauzi adalah salah satu dari ulama madzab Hanbali yang menguasai berbagai bidang Ilmu yang juga dikuasai oleh penulis Kitab Ihya ulumiddin yakni Imam Al Ghazali -rahimahulloh- , namun ada satu sisi yang dimiliki Ibnu Jauzi yang tidak dimiliki oleh Imam Ghazali yaitu penguasaan yang luar biasa mendalam dalam ilmu hadits; riwayah maupun dirayah. Dan karena itulah hadits-hadits yang maudhu/ palsu dan hadits dhaif, dan hadits yang sangat lemah dalam kitab Ihya dibuang dan kemudian beliau ganti dengan dalil yang shahih dan beliau memberinya judul, Minhaj al-Qashidin wa Mufid Ash Shadiqin.

Additional Info

  • Judul Buku Minhaj Al Qosidin : Petunjuk bagi Orang Beriman ( Edisi Lengkap 5 Jilid )
  • Judul Asli Minhaj al-Qashidin wa Mufid Ash Shadiqin
  • Penulis Imam Ibnul Jauzi
  • Tahqiq/Takhrij kamil Muhammad Al Kharrath
  • Ukuran Fisik Buku Buku Ukuran Sedang
  • Format Cover Hardcover
  • Jumlah Halaman hlm
  • Penerbit /Publisher Pustaka Azzam
  • Harga Rp 913.000 diskon jadi Rp 730.000 ( Belum Termasuk Ongkos Kirim)
  • Cara Pembelian Email : This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it., sms/WA/Telegram : 08192469-325 ( Pastikan !! tulis nama & Alamat lengkap )
Published in Terbaru
Monday, 21 March 2016 00:00

Anjuran menghafal dan Menjaga Ilmu

PA anjuran mengapalMenuntut ilmu merupakan kewajiban setiap muslim. Dengan ilmu, seseorang dapat meraih cita-cita yang diinginkan dan segala sesuatu yang sulit menjadi mudah. Begitu pentingnya ilmu, sampai-sampai Allah dan Rasulullah memerintahkan umat Islam untuk belajar dan menuntut ilmu. Tidak hanya sebatas menuntut ilmu, kita juga dianjurkan untuk menghafal, menjaga, dan mengaplikasikan ilmu yang telah dipelajari. Sebab, ilmu tanpa amal laksana pohon tanpa buah.

Buku yang berjudul asli Al Jami' fi Al Hatstsi ala Hifzhil Ilmu ini merupakan buah karya beberapa ulama terkemuka di bidangnya, yaitu Abu Hilal Al Askari, Al Khathib Al Baghdadi, Ibnu Asakir, dan Ibnul Jauzi. Muatannya pun sarat dengan ragam anjuran menuntut ilmu, tips menghafal dan menjaga hafalan, serta etika menuntut ilmu. Tak lupa pula penulis menyebutkan beberapa tokoh yang menonjol dari sisi keiimuannya, seperti Ahmad bin Hanbal, An-Nasai, Abu Ath-Thayyib Al Mutanabbi, Ishaq bin Rahawaih, dan lain sebagainya, sebagai teladan dan contoh agar kita bisa mengikuti jejak mereka.

Dengan buku ini, kita memiliki banyak informasi tentang keutamaan ilmu, cara menjaga ilmu, dan etika orang berilmu.

 

Additional Info

  • Judul Buku Anjuran menghafal dan Menjaga Ilmu
  • Judul Asli Al Jami' fi Al Hatstsi ala Hifzhil Ilmu
  • Penulis Imam Al Khatib Al baghdadi, Imam Ibnu Asakir, Imam Ibnul jauzi & Abu Hilal Al Askari
  • Tahqiq/Takhrij -
  • Ukuran Fisik Buku Buku ukuran sedang 15.5 x 23 cm
  • Format Cover Hardcover
  • Jumlah Halaman -
  • Penerbit /Publisher Pustaka Azzam
  • Harga Rp 123.000 diskon jadi Rp 98.000 ( Belum Termasuk Ongkos Kirim)
  • Cara Pembelian Email : This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it., sms/WA/Telegram : 08192469-325 , BBM : 5B0FE340 ( Pastikan !! tulis nama & Alamat lengkap )
Published in Terbaru
Sunday, 20 March 2016 00:00

Rahasia Asmaul Husna

PA rahasia asmaul husnaSesungguhnya sarana yang paling mulia, paling tinggi dan paling kuat bagi seorang hamba dalam mendekatkan dirinya ke-pada Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala-  ialah dengan melalui Asmaa-ul Husnaa (Nama-Nama-Nya yang baik). Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala-  telah memerintahkan kita untuk berdo'a dengan menggunakannya, sebagaimana firman-Nya:
"Hanya milik Allah Asmaa-ul  Husnaa, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asmaa-ul Husna itu, dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Kelak  mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan." (QS. Al-A'raaf: 180)
Dalam ash-Shahiihain diriwayatkan dari Abu Hurairah -Rodliallohu Anhu-  bahwa Rasulullah -Sholallahu Alaihi Wassalam- bersabda:
"Sesungguhnya Allah memiliki 99 nama, seratus kurang satu. Barangsiapa menguasainya (Yakni hafal dan mengerti maksudnya, serta berusaha mengamalkannya)  maka ia akan masuk Surga.” [HR. Al-Bukhari (no. 7392) kitab at-Tauhid, bab 12, dan Muslim  (no. 2677) kitab adz-Dzikri wad Du'a, bab 2, dari Abu Hurairah -Rodliallohu Anhu- ]     Imam Ibnul Qayyim -rahimahulloh-  berkata, "Ilmu tentang Nama-Nama Allah serta memahaminya merupakan pangkal atau pokok dari ilmu-ilmu lainnya. Barangsiapa memahami Nama-Nama Allah ini sebagaimana yang dikehendaki Allah, maka ia telah menguasai seluruh ilmu. Hal ini karena pemahaman  terhadap Nama-Nama Allah ini merupakan dasar untuk mcmahami seluruh ilmu. Sebab seluruh ilmu itu meru¬pakan hasil akhir yang ditunjukkan oleh Nama-Nama Allah, dan sangat erat kaitannya dengan Asmaa-ul Husna.” [Badaa-i'ul Fawaa-id (I/171).
 Imam Ibnul Qayyim -rahimahulloh-   dalam kitab yang sama  beliau menyebutkan tiga tingkatan dalam memahami Asmaa-ul Husna, yang dengan sebab pemahaman terhadap ketiga tingkatan inilah seseorang dijamin masuk Surga:
1.    Menghafal lafazh-lafazhnya serta hitungannya.
2.    Memahami makna-maknanya serta arahan-arahannya.
3.    Berdo'a dengannya.
          Telah kita pahami bersama bahwa para ulama meskipun mereka berbeda pendapat dalam beberapa hal, namun mereka sepakat bahwa tidak boleh menamai Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala-  atau mengabarkan tentang sifat-sifat-Nya, kecuali dengan nama atau sifat yang diberitakan Allah dalam Kitab-Nya, atau melalui lisan Rasul-Nya , tanpa penambahan, pengurangan, atau melebihi apa yang dinyatakan dalam al-Quran atau al-Hadits. Untuk menentukan Nama-Nama Alloh ini, kita wajib menggunakan nash dari al-Qur-an dan hadits-hadits yang shahih, karena masalah Nama-Nama Allah ini merupakan masalah tauqiifiyyah, di mana akal manusia tidak berkompeten untuk menentukannya. Akal manusia semata tidak akan mampu un¬tuk mengenal Nama-Nama Alloh yang sesuai dengan keagungan-Nya. Akal pun tidak akan mampu untuk menggapai apa yang menjadi hak Rabbul 'Alamin yang berupa sifat-sifat-Nya yang serba sempurna dan serba indah. Maka menamai Alloh Yang Mahamulia dan Mahaagung dengan suatu nama yang tidak difirmankan oleh-Nya merupakan suatu ucapan mengenai Allah tanpa landasan ilmu. Dan tindakan seperti ini diharamkan oleh Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala-  atas hamba-hamba-Nya.
    Imam Ibnu Hazm -rahimahulloh-  berkata; "Tidak diperbolehkan menamai Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- atau mengabarkan tentang Nama-Nama-Nya, kecuali dengan apa yang Allah namakan bagi Diri-Nya sendiri dan apa yang Dia kabarkan tentang diri-Nya di dalam Kitab-Nya, atau melalui lisan Rasul-Nya . Atau paling tidak, melalui kesepakatan yang sah dari semua ulama Islam yang berkompeten dalam hal ini, tidak lebih dari itu. Bahkan, hal ini tetap tidak boleh, meskipun makna lafazh dari nama yang disandarkan kepada Allah itu benar. Jika tidak memenuhi ketentuan di atas, maka lafazh tersebut tidak boleh dimutlakkan sebagai nama Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- .
      Sebagai contoh, kita telah mengetahui dengan yakin bahwa Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala-  telah membangun langit. Lalu Dia berfirman:
“Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami)..."(QS. Adz-Dzaariyat: 47)
Namun kita tidak boleh menamai-Nya dengan Banna’u  (Yang Maha Membangun). Demikian pula, kita mengetahui dengan yakin bahwa Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala-  telah menciptakan beraneka warna tumbuhan dan hewan. Dan Allah Ta'ala telah berfirman:
"Shibghah (celupan) Allah. Dan siapakah yang lebih baik shibghah-nya daripada Alloh Azza Wa Jalla ?..." (QS. Al-Baqarah: 138)
Namun kita tidak boleh menamai-Nya dengan Shobaagh (Yang Maha Pencelup).
        Kita pun mengetahui bahwa Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- menurunkan hujan dari langit dan mengeluarkan air dari bumi untuk minum kita. Namun kita tidak boleh menamai-Nya' dengan Saqqo  atau Saqii (Yang Maha Pemberi Minum).
Dan demikian pula, kita tidak boleh menamai-Nya dengan sesuatu nama yang Allah Ta'ala sendiri tidak menamai Diri-Nya dengan nama tersebut. [lihat : Al-Fashlu fil Milal wal Ahwaa wan Nihal (11/108)]      Imam Nawawi -rahimahulloh-  berkata, "Nama-Nama Allah itu bersifat tauqiifiyyah, tidak boleh ditetapkan kecuali dengan dalil yang sha¬hih.” [Syarh an-Nawawi (VII/188) ]     al-Ghazali -rahimahulloh- pun berargumen bahwa Asmaa-ul Husnaa mi telah disepakati bersifat tauqiifiyyah. Kita tidak boleh menamai Rasulullah -Sholallahu Alaihi Wassalam- kecuali dengan nama yang telah diberikan oleh ayah-nya, atau dengan nama yang beliau sendiri telah menamakan dirinya dengan nama itu, dan demikian pula halnya terhadap orang-orang besar lainnya. la berkata, "Jika yang demikian itu terlarang bagi hak makhluk, maka bagi hak Allah hal tersebut lebih terlarang lagi.” [lihat : FathulBaari (XL/223) ]       Imam as-Suyuthi -rahimahulloh- berkata, "Ketahuilah bahwa Nama-Nama Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- itu bersifat tauqiifiyyah, dengan pengertian bahwa tidak diperkenankan untuk memutlakkan suatu nama (bagi Allah), selama tidak ada izin Syara', meskipun makna yang dimaksudkan-nya telah dijelaskan.” [Syarh Sunan Ibni Majah (1/275)]      Abul Qasim al-Qusyairi -rahimahulloh- , berkata, "Nama-Nama Allah itu diambil secara tauqiifiy dari al-Kitab, as-Sunnah dan Ijma'. Maka setiap nama yang bersumber dari al-Kitab, as-Sunnah dan Ijma', yang menerangkan Nama-Nama Allah, wajib memutlakkannya di dalam mensifati-Nya. Selain dari yang demikian, maka tidak boleh dimutlak-kan untuk mensifati-Nya, sekalipun maknanya benar.”[ lihat : Subulus Salaam (IV/ 109)]      Ibnul Wazir al-Murtadha -rahimahulloh-  berkata, "Nama-Nama Allah dan sifat-sifat-Nya bersifat tauqiifiyyah  syar'iyyah. Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala-  terlalu Mulia untuk digambarkan atau ditentukan (tentang nama dan sifat-Nya) oleh hamba-hamba-Nya yang jahil menurut apa yang mereka pahami. Maka tidak boleh menamai Allah , misalnya dengan Rabbul Kilaab wal Khanaazir (artinya: Rabb  bagi anjing-anjing dan babi-babi) atau dengan yang seumpamanya yang tidak diizinkan syara'. Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala-  hanya boleh dinamai dengan nama yang Dia sendiri telah menamai Diri-Nya dengan nama tersebut.” [lihat : Iitsaarul Haqq(I/314].
           Penegasan para ulama tentang kaidah Asmaa-ul Husnaa seperti yang telah disebutkan sebagiannya di atas sangatlah banyak, Semuanya menunjukkan pemahaman 'aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah yang menyatakan bahwa Asmaa-ul Husnaa itu bersifat tauqiifiyyah, dan bahwa penetapannya harus berdasarkan nash yang shahih, yang dengan tegas menyebutkan lafazh Nama Allah tersebut di dalamnya.
      Maka berdasarkan kenyataan ini, pembahasan  tentang As-maa-ul Husnaa dalam buku ini bertujuan untuk menghimpun, memahami makna-maknanya, menghafalkan, dan berdo'a dengannya. Jadi tujuannya bukan untuk membuat-buat Nama-Nama Allah yang baru berdasarkan lafazh ayat atau hadits.
Dan tujuan pokok buku ini  bukan untuk memperdalam masalah-masalah seputar Asmaa-ul Husnaa, seperti apakah yang dimaksud dengan Asmaa-ul Husnaa yang dianjurkan bagi kita untuk berdo'a kepada Allah dengannya.

inilah buku karya Al Imam Al Qurthubi, membahas tentang rahasia Asma al Husna.

========================================================================
Rahasia Asmaul Husna
Penulis : Imam Al Qurthubi - rahimahullah-
Fisik: Buku ukuran sedang, hardcover
Penerbit : Pustaka Azzam
Harga Rp 263.000 diskon jadi Rp 210.000

Pemesanan :

Email : This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it. / sms,WA,Telegram  : 0819.2469.325 ,  BBM : 5B0FE340

(kami hanya menjawab pesan singkat yang dlengkapi nama dan alamat lengkap)

=====================================================================

Additional Info

  • Judul Buku Rahasia Asmaul Husna
  • Judul Asli -
  • Penulis Imam Al Qurthubi - rahimahullah-
  • Tahqiq/Takhrij -
  • Ukuran Fisik Buku Buku Ukuran Sedang
  • Format Cover Hardcover
  • Jumlah Halaman -
  • Penerbit /Publisher Pustaka Azzam
  • Harga Rp 263.000 diskon jadi Rp 210.000 ( Belum Termasuk Ongkos Kirim)
  • Cara Pembelian Email : This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it., sms/WA/Telegram : 08192469-325 , BBM : 5B0FE340 ( Pastikan !! tulis nama & Alamat lengkap )
Published in Terbaru

PA arasy

Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah adalah aqidah golongan yang mendapat pertolongan, sebagaimana dikabarkan Rosulullah - Sholallahu Alaihi Wassalam – dalam sabdanya :

"Akan tetap ada segolongan dari umatku yang tetap teguh di atas kebenaran hingga Hari Kiamat.” ( lihat Shahih Muslim bi syarah An Nawawi 13/66]

Yaitu golongan yang selamat, yang mengenainya Rasulullah  - Sholallahu Alaihi Wassalam -  bersabda,
"Kaum Yahudi terpecah menjadi tujuh puluh satu golongan, kaum Nashrani terpecah  menjadi tujuh puluh dua golongan, dan umat ini akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan yang semuanya di neraka kecuali satu Ditanyakan kepada beliau "Siapa itu, wahai Rasulullah?”, Beliau menjawab,” Mereka adalah  seperti apa yang aku dan para sahabatku sekarang berada di atasnya. "

[ Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Daud (5/4 (no. 4596 (4597); At-Tirmidzi (5/25-26 (no. 2640 (2641); Ibnu Majah (2/132 (no. 3991-3993); Ahmad (2/332 (3/120), 145 (4/120); Al Hakim di dalam Al Mustadrak (1/128, dan ia berkata. "Shahih menurut syarat Muslim." dan 2/480), dan ia berkata "Sanadnva shahih")-, Ad-Darimi (2/158 (no. 2521); Ath-Thabarani di dalam Al Kabir (8/321, no. 8035 (8/327 (no. 8051); (8/178 (no. 759, 10/271-272 (no 211) (212) , dan diriwayatkan dalam kitab hadits lain nya ]

Ciri mereka sebagaimana yang dikabarkan oleh Rosulullah - Sholallahu Alaihi Wassalam - : Mereka diatas apa yang nabi dan para Shahabatnya berada diatasnya.
Inilah  ciri yang membedakan akidah Ahlussunnah wal Jama'ah yang tidak terdapat pada selain mereka. Jadi akidah mereka diwamai oleh pokok-pokoknya yang menjadi sandaran segala masalah dalam ilmu ini.

AI Quranul Karim yang merupakan tali Allah - Subhanahu Wa Ta'ala -  yang kokoh, yang tidak didatangi kebathilan bagi dari depan maupun dari belakangnya, adalah pokok/dasar pertama dari pokok-pokok Ahlussunnah wal Jama'ah.

Pokok kedua adalah As-Sunnah An-Nabawiyyah Ash-Shahihah yang valid dari Rasulullah - Sholallahu Alaihi Wassalam -  Karena Allah telah mewajibkan atas manusia untuk mengikuti Rasul-Nya dan meniru sunnahnya. Allah - Subhanahu Wa Ta'ala -  berfirman,

"Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah." (Qs. A1 Hasyr [59]: 7)

Allah - Subhanahu Wa Ta'ala - juga berfirman,

" Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu" (Qs. A1 Ahzaab [331: 21).

    Ahlussunah wal Jama'ah, pedoman mereka adalah Al Kitab dan As-Sunnah. "Berbeda dengan ahli bid'ah dan perpecahan, karena sandaran mereka secara batin bukan Al Qur an dan As-Sunnah, tapi di atas dasar-dasar yang diada-adakan oleh para guru mereka yang dijadikan sandaran dalam tauhid, sifat-sifat, takdir, iman kepada Rasul dan sebagainya.  
    Kemudian apa yang mereka kira disepakati Al Quran, maka mereka berhujjah dengannya, dan apa yang menyelisihinya maka mereka menakwilkannya.
Karena itu anda dapati mereka ketika berhujjah dengan Al Quran dan Al Hadits, tidak memperdulikan konotasi pendalilannya, dan tidak meneliti apa yang terdapat di dalam Al Quran dari makna itu, dan ayat-ayat serta hadits-hadits yang menyelisihi mereka, maka mereka langsung menakwilkannya sebagaimana kecepatan orang yang bermaksud menolaknya dengan cara apa pun yang memungkinkan. Jadi maksud mereka bukan memahami maksud Allah - Subhanahu Wa Ta'ala – dan rasul Nya, tapi mendebat yang berseberangan dengan keyakinan mereka.

Ahlussunnah wal Jamaah, pokok-pokok mereka yang menjadi sandaran mereka adalah Al Kitab dan As-Sunnah, dan maksud mereka adalah mengikuti syariat Allah yang disyariatkan-Nya melalui lisan Rasul-Nya, Muhammad  - Sholallahu Alaihi Wassalam - .

Imam Asy-Syafi'I - rahimahullah-  berkata, "Aku beriman kepada apa-apa yang datang dari Allah, dan apa-apa yang datang dari Rasulullah sesuai maksud Rasulullah."

Karena itu, pemahaman mereka tidak berdiri sendiri, akan tetapi dalam memahami pokok-pokok itu mereka bersandar kepada apa yang dipahami oleh para sahabat Nabi yang hidup di masa turunnya wahyu, dan mengetahui maksud Allah dan maksud Rasul-Nya. Ini ciri kedua.
Karena pokok-pokok Ahlussunnah adalah sama, yaitu Al Kitab dan As-Sunnah, maka demikian juga para imam Ahlussunnah, yaitu para salaf shalih dari kalangan sahabat, tabiin dan tabi'ut tabiin, maka ilmu dan pemahaman mereka itulah yang mereka anut, dan dari perkataan mereka itulah mereka berpendapat.

Imam Ahmad - rahimahullah- berkata, "Pokok-pokok As-Sunnah menurut kami adalah berpegang teguh dengan apa yang dianut oleh para sahabat Rasulullah dan mengikuti mereka dalam masalah agama.”

    As-Sunnah menurut kami adalah atsar-atsar Rosulullah - Sholallahu Alaihi Wassalam - . As-Sunnah adalah tafsir Al Quran dan As-Sunnah adalah dalil dalil Al Qur an.
    Di dalam As-Sunnah tidak ada qiyas, dan tidak disandingkan dengan perumpamaan-perumpamaan, serta tidak dapat dijangkau dengan akal dan kecenderungan, akan tetapi As-Sunnah adalah mengikuti dan meninggalkan kecenderungan." [ lihat : Syarah ushul Itiqod Ahlus Sunnah, Imam Al Lalikai asy syafii 1/156]

Jadi perkara-perkara agama ini dikembalikan kepada sandaran yang bersambung kepada Nabi.  Karena itu, Ahlussunnah memiliki sandaran yang bersambung.
Dan karena itu dikatakan kepada para ahli bid'ah, "Inilah pokok-pokok kami, dan sanad-sanad kami merujuk kepada Nabi Lalu merujuk kepada apa pokok-pokok mereka para ahli bid'ah ?.

Dari logika ini, maka memperhatikan riwayat yang matsur dari pada pendahulu umat adalah salah satu ciri yang menonjol di kalangan Ahlussunnah wal Jama'ah. Karena itu, karangan-karangan mereka dipenuhi dengan riwayat-riwayat ma'tsur dari perkataan Allah, perkataan Rasul-Nya dan ucapan para salaf dari kalangan sahabat, tabiin serta orang-orang yang berjalan di atas manhaj mereka, mengikuti jalan mereka dan menempuh cara mereka.

Adalah hak bagi setiap Ahlussunnah untuk bangga dengan apa yang diwariskan oleh para ulama sunnah yang berupa warisan peninggalan agung yang berisi manhaj Ahlul Haq, dan mengandung ucapan para ulama dan para imam yang menjelaskan jalan petunjuk, melindungi dan membela akidah yang benar, agar tetap bersih lagi jernih sebagaimana ketika Nabi meninggalkannya untuk kita.

Maka dari itu, sudah selayaknya peninggalan itu dirawat dikeluarkan dari lemari-lemari perpustakaan dan tempat-tempat penyimpanan manuskrip-manuskrip

    Di antara peninggalan salaf untuk kata yarvg layak diperhatikan adalah kitab yang masih tersimpan di dalam manuskrip dalam masa yang cukup lama, yaitu kitab Al Arsy karya Imam Adz-Dzahabi Asy Syafii - rahimahullah- . Sebuah kitab berharga pada masalah ini, di dalamnya pengarang menghimpun puluhan nash dan atsar yang menjelaskan akidah Ahlussunnah wal Jama'ah mengenai suatu masalah di antara masalah-masalah besar dalam mentauhidkan asma wa sifat (nama-nama dan sifat-sifat Allah), yaitu masalah penetapan tingginya Allah di atas para makhluk-Nya, dan istiwa -nya Allah di atas Arsy-Nya.

Diantara pembahasan dalam kitab ini :

Bab Pertama : Pendapat-pendapat manusia mengenai nama-nama dan sifat-sifat Allah - Subhanahu Wa Ta'ala - .
   Pasal pertama : Keyakinan Ahlus Sunnah mengenai nama dan sifat Allah - Subhanahu Wa Ta'ala –
1.    Definisi Ahlus Sunnah Wal Jamaah
2.    Keyakinan Ahlus Sunnah mengenai nama dan shifat Allah - Subhanahu Wa Ta'ala –
 Pasal kedua : Pendapat-pendapat Muathilah (golongan sesat yang meniadakan, mengingkari nama-nama dan shifat Allah)
1.    Pengertian Muathilah
a.    Para pemikir filsafat/ Filosof
b.    Para Teolog ( ahli kalam)
2.    Tingkatan-tingkatan Ta’thil (peniadaan, pengingkaran) kaum Muathilah
a.    Tingkatan Ta’thil mereka dalam masalah nama dan shifat secara umum
b.    Tingkatan Ta’thil mereka  masalah Asma Al Husna
c.    Taingkatan Ta’thil mereka dalam masalah Shifat-shifat Allah - Subhanahu Wa Ta'ala –
Pasal ketiga : Musyabihah ( Golongan yang menyerupakan Allah dengan Makhluk Nya)
1.    Definisi Tamtsil dan Tasybih
2.    Definisi Musyabihah

Bab Kedua : Pendapat-pendapat mengenai sifat Tinggi dan Istiwa’
Pasal pertama: pendapat-pendapat mengenai sifat linggi
1.    Pendapat Ahlussurwah wal Jama'ah dan yang menyepakati mereka.
2.    Pendapat-pendapat yang menyelisihi mereka.

Pasal kedua: Pendapat-pendapat mengenai sifat istiwa’
1.    Madzhab salaf mengenai istiwa’
2.    Pendapat-pendapat yang menyelisihi mereka.
          Golongan pertama: Menafikan istiwa ‘
          Golongan kedua: Pendapat tafwidh (menyerahkan kepada Allah).
          Golongan ketiga: Pendapat musyabbihah.

Pasal ketiga: Masalah-masalah yang terkait dengan ketinggian dan istiwa’
1.    Apakah Arsy kosong dari-Nya ketika turun-Nya.
2.    Masalah-masalah batas dan persentuhan.
a.    Hukum lafazh-lafazh global
b.    Masalah batas.
c.    masalah persentuhan

Bab ketiga: Definisi Arsy
Pembahasan Pertama : Makna bahasa untuk kata Arsy
Pembahasan kodua: madzab-madzhab dalam mendefinisikan Arasy

Pasal kedua : Dalil-dalil yag menetapkan Arasy dari Kitabullah dan Sunnah Rosulullah - Sholallahu Alaihi Wassalam - .
1.    dalil Al Quran
2.    2. Dalil dari hadits Rosulullah - Sholallahu Alaihi Wassalam –
3.    
Pasal ketiga:  Sifat Arsy dan kekhususan-kekhususannya.
1.    Penciptaan Arsy dan keadaannya
2.    Tempat Arsy.
3.    Kekhususan-kekhususan Arsy.

Pasal keempat: Pembicaraan mengenai para pemangku 'Arasy dan Kursi.
1.    Pembicaraan mengenai para pemangku Arsy.
2.    Pembicaraan mengenai Kursi.

Dan detail pembahasan lain nya

 

 

Stok Sangat Terbatas

Anda TIDAK AKAN pernah RUGI dengan membaca dan belajar buku-buku dasar Aqidah seperti buku ini, Saat ini hanya dicetak oleh Penerbit Azzam saja dan dengan jumlah exemplar terbatas, ayo buruan pesan !!
PESAN SEKARANG !

 

Additional Info

  • Judul Buku Al Arasy : Singgasana Allah - Azza wa jalla -
  • Judul Asli Kitab Al Arasy
  • Penulis Imam Adz Dzahabi - rahimahullah-
  • Tahqiq/Takhrij -
  • Ukuran Fisik Buku Buku ukuran sedang 15.5 x 23 cm
  • Format Cover Hardcover
  • Jumlah Halaman 908 hlm
  • Penerbit /Publisher Pustaka Azzam
  • Harga Rp 215.000 diskon 20% = Rp 172.000 ( Belum Termasuk Ongkos Kirim)
  • Cara Pembelian Email : This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it., sms/WA/Telegram : 08192469-325 , BBM : 5B0FE340 ( Pastikan !! tulis nama & Alamat lengkap )
Published in Terbaru
Page 1 of 2