• Hotline: (+62) 819.2469.325

AZM bidayah nihayah set1Inilah edisi terjemah Kitab Al Bidayah wa An-Nihayah karya Imam Al Hafidz Ibnu Katsir -rahimahulloh- ini adalah satu dari sekian banyak buku induk sejarah dan biografi, yang menjadi pondasi penulisan sejarah Islam dan bangsa Arab .Kitab ini menjadi pintu masuk berbagai dekade penulisan sejarah , dimana kitab ini ditulis pada akhir abad ke 8 Hijriyah.

Di samping itu, kitab ini adalah buah karya seorang ulama yang ahli hadits yang memahami hadits, yang mampu memperjelas kedudukan hadits dan menulis berbagai dasar-dasar ilmu hadits, dalam keilmuan ini dia mencapai level bergelar huffazh (penghafal hadits)

inilah edisi terjemah Kitab Al Bidayah wa An-Nihayah karya Imam Al Hafidz Ibnu Katsir -rahimahulloh- ini adalah satu dari sekian banyak buku induk sejarah dan biografi, yang menjadi pondasi penulisan sejarah Islam dan bangsa Arab .Kitab ini menjadi pintu masuk berbagai dekade penulisan sejarah , dimana kitab ini ditulis pada akhir abad ke 8 Hijriyah. Di samping itu, kitab ini adalah buah karya seorang ulama yang ahli hadits yang memahami hadits, yang mampu memperjelas kedudukan hadits dan menulis berbagai dasar-dasar ilmu hadits, dalam keilmuan ini dia mencapai level bergelar huffazh (penghafal hadits).Keahliannya itu sangat berpengaruh pada kitab karyanya ini.

Pembahasan yang ibnu katsir -rahimahulloh- kemukakan dalam kitab ini adalah awal mula manusia yang menjadi khalifah di muka bumi, kisah-kisah para nabi, dan umat-umat terdahulu sesuai dengan penjelasan Al Qur'an dan hadits-hadits shahih. Beliau -rahimahulloh- juga mengupas tentang khabar gharib (langka), munkar dan khabar yang bersumber dari kaum Israil. Langkah selanjutnya dia menegaskan tentang sejarah perjalanan hidup Nabi Muhammad, -Sholallahu Alaihi Wassalam- dan sejarah perkembangan Islam hingga pada masa hidup beliau -rahimahulloh- ( pada abad ke 8 Hijriah) .Kemudian dia beralih pada pembahasan tentang fitnah (bencana yang menimpa umat manusia), tanda-tanda Hari Kiamat, dan berbagai kondisi kehidupan akhirat.Jadi, kitab ini sungguh-sungguh komprehenship mengupas tentang sejarah Islam, yang mana hati semua orang berkeinginan menelitinya, rasa dahaganya terobati setelah melihat berbagai keagungan sejarah kita umat Islam yang agung ini, yang memecahkan kedalam sejarah, yang pemah menjadi pemimpin dunia untuk beberapa abad lamanya, sejarah umat Islam pemah mengisi dunia dengan nilai-nilai kebenaran dan keadilan, setelah kezhaliman dan penyaimpangan memenuhi dunia.Imam Ibnu Katsir -rahimahulloh- meneliti tentang permulaan khalifah (orang pertama di muka bumi), kisah-kisah para Nabi – alaihi salam ajma’in-, bermacam-macam ujian yang menimpa umat manusia dan berbagai kisah peperangan yang membawa banyak korban (al malahim) dengan penelitian yang sangat mendalam, dia menyusun bahan-bahannya langsung bersumber dari Al Quran dan Sunnah Nabi -Sholallahu Alaihi Wassalam- . beliau -rahimahulloh- mengelaborasi antara tafsir dan sejarahnya, dia meneliti sejarah Islam hingga tahun 767 Hijriyah, menghimpun berbagai peristiwa dan biografi orang-orang terkenal.Imam Ibnu Katsir -rahimahulloh- menjadi murid langsung dari kedua tokoh ulama dari sekian tokoh yang ahli dalam bidang ini, yaitu Al Imam Al Qasim bin Muhammad Al Birzali dan Al Imam Syamsuddin Adz-Dzahabi, -rahimahumalloh- ahli sejarah Islam.

Kitabnya ini banyak mengikuti jejak karya tulis yang dihimpun oleh kedua gurunya tersebut, dan dia menambahkan berbagai perkembangan sejarah yang terjadi setelah mereka berdua, dan peristiwa yang terjadi pada masa hidupnya hingga menjelang wafatnya pada sepertiga terakhir abad ke 8 Hijriyah.

Imam Ibnu Katsir -rahimahulloh- , pada bagian terakhir pembahasan tentang berbagai peristiwa bersejarah yang terjadi di sepanjang tahun 739 Hijriyah menjelaskan,“ inilah bagian terakhir peristiwa sejarah yang dicatat oleh guru kami Al Hafizh Alamuddin Al Birzali -rahimahulloh- dalam kitabnya yang mengomentari catatan sejarah oleh Syaikh Syihabuddin Abi Syamah Al Maqdisi -rahimahulloh- , dan aku mengomentari kitab sejarahnya ini hingga pada masa hidup kami ini, dan aku telah menyelesaikannya secara tuntas mengenai catatan sejarah yang dibuatnya pada hari Rabu 20 Jumadil Akhirah 751 Hijriyah, dan hingga pembahasan inilah tulisanku tentang sejarah sejak penciptaan Adam hingga peristiwa pada masa kami, ini berakhir, segala puji bagi Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- “Demikian juga, Ibnu Katsir pernah membaca kitab yang secara utuh membahas tentang sejarah yakni Tarikh Islam karya Imam Adz-Dzahabi -rahimahulloh- , dan dia mengutip dari kitab tersebut, serta memasukkannya ke dalam kitabnya Al Bidayah wa An-Nihayah ini, seperti langkah Ibnu Al Atsir -rahimahulloh- dalam Al Kamil. Karena dia menyusun berbagai peristiwa sejarah berdasarkan tahun hijriyah sesudah Nabi -Sholallahu Alaihi Wassalam- berhijrah, lalu dia mengupas seluruh peristiwa dengan panjang lebar.Tidak ada seorang pun yang bergelar Al Hafizh seperti Ibnu Katsir -rahimahulloh- dia menyampaikan sebuah riwayat dan membiarkan 'illat yang merusak keshahihannya tetap ada, serta mengabaikan membuka kembali riwayat tersebut tetap tertahan, tanpa diketahui ke-shahahihannya dari kelemahannya, bahkan dia memilih menyampaikan berbagai riwayat, sanad periwayatannya, dan berbagai penjelasan pendahulunya, memilah riwayat yang shahih dari yang dha 'if, dan mengemukakan dalil pendukung setiap penjelasan.Mayoritas ulama, antara lain Imam Al Mufassir Ibnu Jarir Ath-Thabari -rahimahulloh- dalam Tarikh karyanya, menceritakan bahwa mereka membebaskan diri mereka dari tanggung jawab ketika mereka menyampaikan apa yang mereka sampaikan hanya cukup dengan mengemukakan sanad-sanadnya saja, hal ini dinilai cukup maksimal dalam menjelaskan berbagai periode, yang mana pengetahuan tentang biografi, para tokoh terkemuka dan berbagai kondisi mereka termasuk sejumlah ilmu pengetahuan, yang mana para pencari ilmu apa lagi para ulama tidak luput dari pengetahuan, dan pengambilan sumber dari berbagai kitab yang ditulis di tangan para ulama semestinya dengan cara mendengar langsung, berbagai ajaran dan penjelasan, di samping terus-menerus mengamati perkembangan tahun demi tahun terus, kemudian abad demi abad terus mengalami perubahan dari segala sisi.Diantara yang paling jelas mengalami perubahan adalah ilmu pengetahuan yang agung ini, yakni berbagai riwayat hidup dan para periwayat, penilaian cacat dan adilnya periwayat, dan hanya diketahui oleh segelintir dari kalangan ulama. Jadi, tidaklah cukup hanya menyebutkan sanad pada hari ini, di mana banyak terjadi langkah-langkah yang salah dan kekacauan antara berbagai riwayat dan berbagai cetakan yang tidak benar, yang cukup menenangkan ke-shahihan riwayat dari “illat yang merusaknya.

Sungguh, menjadi sebuah kebutuhan yang sangat mendesak untuk meluruskan perjalanan yang agung ini, yang disebut-sebut sebagai satu dari sekian warisan dunia Islam, dan membebaskannya dari berbagai hal yang menimpanya seperti kesalahan membaca, distorsi, penghilangan dan pengacauan berbagai riwayat, yang mana revisi dari berbagai revisi sedikit luput dari hal-hal tersebut, jadi inilah dorongan yang kuat untuk melakukan pelumsan hal tersebut, dan mengemasnya dalam bentuk yang semestinya.Jadi, Tarikh karya Ibnu Katsir seperti telah dikemukakan, termasuk kitab yang sangat panjang dan mendalam pembahasannya, yang menghimpun berbagai peristiwa sejarah dan biografi orang-orang terkenal, dan menjelaskan perbedaan sanad yang menjadi sandarannya.Kebohongan dan plagiasi banyak terjadi pada masa-masa akhir periode sahabat, dan para tabi'in menghadapi hal tersebut dengan obat yang paling utama dan efektif, yaitu memegangi sanad. Ibnu Al Mubarak -rahimahulloh- mengatakan, memegangi sanad termasuk ilmu pengetahuan agama, kalau saja tidak ada ilmu pengetahuan tentang memegangi sanad, pasti seseorang akan berkata apa pun yang diinginkannya.Ibnu Sirin -rahimahulloh- menjelaskan, mereka tidak pernah bertanya tentang sanad yang menjadi pegangan, ketika fitnah terjadi, mereka berkata, sebutlah kami orang-orang yang menjadi sandaran kalian semua. Ulama dari golongan tabi'in dan pengikut mereka benar-benar memahami penyakit ini dalam waktu yang tidak menentu dari sejarah umat ini. Diletakkanlah dasar-dasar tentang riwayat hadits, penerimaan riwayat, penilaian cacat dan adil seorang periwayat, dan berbagai metode menceritakan hadits. Dan Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- mentaqdirkan, seperti dikemukakan oleh Abdullah bin Al Mubarak -rahimahulloh- , dengan kebenaran orang-orang yang ahli, penjelasan ini tidaklah semata-mata untuk membesar-besarkan orang yang berbohong, tidak pula klaim yang kosong, bahkan bertujuan untuk mengetahui kenyataan yang sebenamya, yang hanya bisa ditemukan oleh orang yang membaca dengan segenap jerih payah, usaha untuk menghasilkannya, dan penelitian yang telah mereka lakukan, maka Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- mentakdirkan untuk memilah yang shahih dari yang tidak shahih, dan orang-orang yang menghafal Sunnah Rasulullah .

AZM bidayah nihayah set2       Banyak karya tulis yang bertemakan sejarah dengan beragam sudut pandang, yang dituangkan ke dalam An-Nihayah, bersumber dari materi itulah, struktur bangunan sejarah tersebut sampai ke berbagai generasi penerusnya dengan cara mengutip/meriwayatkan catatan sejarah para pendahulu mereka.Banyaknya karya tulis tersebut, di samping keragaman waktu, kawasan, kecenderungan dan tujuan, telah meninggalkan warisan sejarah yang berlimpah jumlahnya, hanya saja warisan itu tidak luput dari sebagian kekacauan, kontradiktif dan kelemahan, hasilnya dari ini semua adalah ketidak tegasan dalam penulisan sejarah dan kesalahan dalam teks-teks yang membangunnya dan pelajaran yang diambil dari sejarah tersebut.Kemudian, sesuatu yang sangat beresiko ini, sejumlah orang yang mengikuti keinginan nafsunya cenderung menyisipkan materi yang turut menyuburkan tercemarnya kebaikan sejarah umat ini dan para pendahulunya.

       Berawal dari semua inilah, sangat tampak keistimewaan penulis buku sejarah ini adalah orang yang mempunyai ilmu pengetahuan dari kalangan ulama ahli hadits, yang mengerti berbagai dasar-dasar periwayatan, karakteristik yang membedakan, kritik dan riwayat yang bisa diterima dan dan ditolak.Keistimewaan ini terlihat dengan jelas dalam banyak pembahasan dari kitab ini, hanya saja masih ada dalam beberapa pembahasan lain dari kitab tersebut, yang terlewatkan, baik hal tersebut dalam segi teks berbagai hadits, dalam mengkritik berbagai riwayat, atau pun dalam menimbang berbagai hadits yang kontradiktif serta berbeda penjelasannya, seperti perbedaan tahun di mana peristiwa tertentu itu terjadi atau dalam penyusunan dua peristiwa atau lebih, dalam menjelaskan wafatnya seseorang, atau pun bukti-bukti yang menguatkan peristiwa tertentu dan seterusnya.Ibnu Katsir datang pada abad ke 8 Hijriyah, dan sebelumnya telah hadir banyak karya tulis selama enam abad, dan dia mempunyai bahan yang sangat luas, dan di hadapanya terbuka sesuatu yang secara kontrit tidak pernah diketahui oleh pendahulunya, karena setiap ilmu pengetahuan pada awal peletakannya terasa sangat sulit, kemudian terus-menerus mengalami perkembangan dan mendapat perhatian, sehingga mencapai titik kematangan.Lantas, dia menyusun kitabnya ini, dan dia membuatnya seperti mengklarifikasi dan mencermati terhadap karya sebelumnya. Bahkan, tidaklah berlebihan kalau seseorang mengatakan, bahwa kitab ini hampir menjadi penutup jalan untuk menyusun kembali sejarah yang diawali dengan penciptaan makhluk serta kelanjutannya seperti berbagai kisah orang-orang terdahulu, kemudian memperluas dan menjelaskan secara detail tentang fase perjalanan hidup Nabi yang sangat harum, dilanjutkan sesudah itu dengan berbagai peristiwa dan berbagai informasi, yang di dalamnya berbaur berbagai peristiwa dengan berbagai biografi, tempat dengan manusia yang mendiaminya, kedua hal tersebut adalah materi pokok tentang ilmu sejarah, hingga beberapa tahun menjelang wafatnya.

 

 harga Penerbit Rp 4.256.000, Harga Kami Rp 3.404.000 saja

 

DH kesempurnaan islamAgama Islam adalah karunia dan nikmat terbesar yang dianugerahkan kepada umat manusia. Cahayanya menerangi kalbu yang kelam. Sinarnya menghempaskan kejahilan umat. Petunjuknya di atas petunjuk yang lain; melebihi petunjuk insting, indra dan akal. Keutamaannya tak lekang dimakan masa.

Keutamaan-keutamaan Islam inilah yang dibahas dalam buku ini secara simple dan tuntas berdasarkan dalil-dalil yang shahih. Metodologi sajian matannya adalah sebagaimana yang ditempuh oleh para ahli hadits, yaitu dengan memberikan judul tema, lalu menyebutkan ayat al-Qur`an dan hadits. Nah inilah yang disyarah oleh Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin Abdullah al-Fauzan, dan inilah buku kita ini.

Buku ini juga mengulas tentang Islam dari berbagai segi, yaitu: wajibnya menganut agama Islam bagi semua manusia, makna Islam, dalam berislam itu cukup hanya dengan mengikuti al-Qur`an dan as-Sunnah, masuk Islam itu wajib secara kaffah (keseluruhan), bid’ah dalam agama itu lebih besar dosanya daripada dosa-dosa besar, terhalangnya taubat dari ahli bid’ah, Islam itu agama fitrah, Islam itu datang dalam keadaan asing dan akan kembali dianggap asing, dan masih banyak yang lainnya.

Ini adalah salah satu buku kajian paling lengkap tentang Islam dari berbagai aspeknya, yang sangat patut menjadi perhatian setiap Muslim.

Kesempurnaan Dan Keagungan Islam (Syarah Fadlul Islam)

DH jalan selamatAqidah Tauhid merupakan pegangan pokok yang menentukan bagi kehidupan manusia di dunia dan akhirat, karena tauhid merupakan pondasi bangunan agama, menjadi dasar bagi setiap amalan yang dilakukan oleh hamba-Nya. Tauhid merupakan inti dakwah para Nabi dan Rasul. Mereka pertama kali memulai dakwahnya dengan tauhid dan tauhid merupakan ilmu yang paling mulia.

Aqidah yang benar adalah perkara yang amat penting dan kewajiban yang paling besar yang harus diketahui oleh setiap muslim dan muslimah, karena diterimanya amal ibadah tergantung dari tauhid yang benar. Kebahagiaan dunia dan akhirat dapat diperoleh oleh orang-orang yang berpegang pada aqidah yang benar ini dan menjauhkan diri dari hal-hal yang menafikan (meniadakan) aqidah tersebut.

Aqidah yang benar adalah aqidah al-Firqatun Najiyah (golongan yang selamat), Ahlus Sunnah wal Jama'ah, disebut juga sebagai Aqidah Salaf yakni aqidah yang diajarkan Rosulullah - Sholallahu Alaihi Wassalam - , yang difahami dan diamalkan oleh Shohabat - Rodliallahu Anhum -, kemudian diwariskan kepada generasi selanjutnya : tabiin, Tabiut Tabiin, Ulama Sunnah, para Imam madzab Ahlus sunnah dan sampai ulama zaman sekarang yg mengikuti mereka dengan benar . Adapun Pemahaman/aliran/firqoh/ tarekat atau paham yang murujuk pada orang ( syaikh, kyai, Imam, dan lain nya ) atau tokoh yang dianggap maksum yang tidak merujuk kepada aqidah salaf ini , sudah dipastikan adalah paham sesat yang menyesatkan.

Mengapa Aqidah Salaf menjadi penting ?,

Syaikh Muhammad Alawi As Saqqaf menjelaskan dalam kitab Syarah Aqidah Al Waasitiyah karya Syaikh Khalil harras -rahimahullah- , bahwa dengan aqidah salaf :

Pertama: Bahwa dengan aqidah Salaf ini, kaum muslimin dan da'i-da'inya akan bersatu, karena aqidah Salaf ini berdasarkan Al-Qur-an dan As-Sunnah menurut pemahaman para Shahabat. Adapun aqidah selain aqidah Salaf ini, maka persatuan tidak mungkin akan tercapai ,bahkan yang akan terjadi adalah kehancuran.

Kedua: Bahwa dengan aqidah Salaf ini seorang muslim akan mengagungkan Al-Quran dan As-Sunnah, adapun Aqidah lainnya disebabkan mashdar (sumber)nya adalah hawa nafsu, maka mereka akan bermain-main dengan dalil, sedang dalil dan tafsirnya mengikuti hawa nafsu.

Ketiga; Bahwa dengan aqidah Salaf ini akan mengikat seorang muslim dengan generasi yang pertama, yaitu para Shahabat radhiyallaahu 'anhum yang mereka itu adalah Sebaik-baik masa atau generasi.

Shahabat Ibnu Mas'ud -rodliallohu anhu- berkata,

"Sesungguhnya Allah melihat hati hamba- hamba-Nya dan Allah mendapati hati Nabi Muhammad shallallaahu 'alaihi wa sallam adalah sebaik-baik hati manusia, maka Allah pilih Nabi Muhammad shallallaahu 'alaihi wa sallam itu sebagai utusan-Nya. Allah berikan kepadanya risalah. Kemudian Allah melihat dari seluruh hati hamba-hamba-Nya setelah hati Nabi-Nya, maka didapati bahwa hati para Shahabat merupakan hati yang paling baik, maka Allah menjadikan mereka pendamping-pendamping Nabi-Nya yang mereka berperang atas agama-Nya. Apa yang dipandang oleh kaum muslimin (para Shahabat) itu baik maka itu baik di sisi Allah dan apa yang dipandang oleh kaum muslimin (para Shahabat) itu jelek maka di sisi Allah itu jelek."
[diriwayatkan oleh Ahmad (1/379), dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Muhammad Syakir]

Dan sabda Rasullulah shallallaahu 'alaihi wa sallam:
"Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian yang sesudahnya, kemudian yang sesudahnya lagi."
Dalam riwayat lain, Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Sesungguhnya Allah tidak mengumpulkan umat ini, atau beliau bersabda: Umat Muhammad, di atas kesesatan." (HR. At-Tirmidzi dalam Sunannya, Kitabul Fitan dan Al Albani menshahihkan hadits ini dalam al Misykah 1/61 no 173)

Keempat: Aqidah Salaf ini jelas, gampang, dan jauh dari ta'wil, ta'thil, dan tasybih. Oleh karena itu, dengan kemudahan ini seseorang akan tenang dengan qadha' dan Qodar Alloh Azza wa Jalla , serta akan meng-agungkan-Nya.

Kelima: Bahwa aqidah Salaf akan membawa kepada keselamatan di dunia dan di akhirat. Oleh karena itu, berpegang kepada aqidah Salaf ini hukumnya wajib.

Keenam: Aqidah Salaf ini adalah aqidah yang selamat, karena as-Salafush Shalih lebih selamat, lebih tahu, dan lebih bijaksana.

Sungguh, Begitu banyak golongan yang terjatuh dalam kesalahan dalam memahami Aqidah Salaf, terutama terkait masalah Tauhid Asma`dan Sifat, bahkan termasuk di antaranya adalah mereka yang menyatakan diri sebagai Ahlus Sunnah wal Jama’ah, tetapi ternyata justru menyimpang dari manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Salah satu manhaj untuk mengkaji masalah seperti ini, ketika ada sejumlah pihak yang mengklaim diri paling benar, adalah membandingkan dan menimbangnya -dalam rangka menguji siapa yang haq- berdasarkan al-Qur`an dan as-Sunnah dengan berlandaskan pemahaman as-Salaf ash-Shalih.

Inilah yang diuraikan dalam buku ini, yaitu dengan menjelaskan manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang haq terlebih dahulu, berdasarkan al-Qur`an dan as-Sunnah, yang diletakkan dalam kaidah-kaidah fundamen yang baku, sehingga setiap masalah ilmiah terurai secara sistematis dan rapi. Sehingga setelah uraian tersaji secara seksama, semua yang tidak sejalan dengan kebenaran, akan muncul dengan sendirinya secara jelas.

Karena itu, dengan buku ini, kita bisa menimbang berbagai permasalahan akidah yang terkait dengan tiga masalah pokok yang disajikan di dalamnya, yaitu:

– Tauhid Asma` dan Sifat.

– Syariat.

– dan Takdir.

Inilah salah satu buku terbaik yang menguraikan ketiga masalah di atas, dengan sederhana, jelas dan sistematis, sehingga menjadi sangat efektif mengoreksi yang salah dan tidak tepat pada diri kita terkait dengannya, juga menjadi timbangan bagi banyak kekisruhan yang terjadi di antara Ahlus Sunnah wal Jama’ah dengan orang-orang dan golongan-golongan yang mengklaim mengikuti Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

 

PIS ensiklo asmaul bSesungguhnya memahami nama Allah yang baik (Asma'ul Husna) merupakan pintu ilmu yang mulia, bahkan ini termasuk Al-Fiqh Al-Akbar (fikih yang paling agung) dan paling utama serta pertama kali yang masuk dalam sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam,
"Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan atasnya, maka Dia akan memberikan kefahaman kepadanya dalam masalah agama." (Muttafaq Alaih)
Mempelajari ilmu Asma Al Husna merupakan usaha termulia yang dilakukan oleh setiap jiwa dan sebaik-baiknya apa yang diraih oleh orang-orang yang memiliki kecerdasan akal dan petunjuk. Ilmu ini merupakan fondasi jalan menuju Allah dan jalan masuk yang lurus dalam meraih kecintaan dan keridhaan-Nya serta jalan yang lurus bagi setiap orang yang dicintai dan dipilih-Nya.
Sebagaimana bangunan memiliki fondasi, maka fondasi agama ini adalah iman kepada Allah Ta 'ala dan kepada nama-nama serta sifat-sifat-Nya. Jika fondasi ini kuat, maka dia akan dapat memikul bangunannya dengan kuat dan kokoh serta selamat dari guncangan dan kerobohan.
Ibnu Al-Qayyim Rahimahullah berkata, "Barangsiapa yang meng-hendaki bangunan yang tinggi, maka diharuskan baginya untuk meguatkan fondasi dan benar-benar memperhatikannya. Karena ketinggian bangunan tergantung pada kokoh dan kuatnya fondasi.
Amal dan derajat adalah bangunan, sedangkan fondasinya adalah iman.
Apabila fondasinya kuat, maka dia akan dapat memikul bangunan dan meninggikannya. Apabila roboh sebagian dari bangunan itu, maka mudah untuk memperbaikinya dan jika fondasi tidak kuat, maka tidak akan tinggi bangunannya dan tidak akan kokoh dan jika roboh sebagian dari fondasi, maka akan jatuh bangunannya atau hampir jatuh. Orang bijak akan memiliki target yaitu membenarkan fondasi dan menguatkannya, sedangkan orang jahil adalah orang yang meninggikan bangunan tanpa fondasi, maka tidak berselang lama bangunannya pun akan roboh.
Allah Ta'ala berfirman,
"Maka apakah orang-orang yang mendirikan mesjidnya atas dasar takwa kepada Allah dan keridhaan(-Nya) itu yang baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama dengan dia ke dalam neraka Jahannam?" (QS. At-Taubah: 109)
Fondasi bagi bangunan amal seperti kekuatan bagi tubuh manusia. Jika kuat, maka dia dapat membawa badan dengan baik dan menolak segala penyakit. Jika lemah kekuatannya, maka lemah pula dia dalam membawa badannya serta cepat terserang penyakit. Jadikan bangunanmu di atas fondasi iman yang kuat dan jika ada bagian atas atau atapnya yang rusak, maka mudah untuk memperbaikinya daripada kerusakan fondasinya.
Fondasi ini ada dua,
pertama, mengenal Allah, perintah, nama, serta sifat-Nya dengan baik.
Kedua, tunduk dan patuh kepada Allah dan Rasul-Nya.
Inilah sekuat-kuatnya fondasi yang dibangun oleh seorang hamba bagi bangunannya dan sesuai dengan kekuatan fondasi itulah ketinggian suatu bangunan yang dia inginkan."
Oleh karena itu, banyak sekali dalil di dalam Al-Qur'an yang menguatkan fondasi ini, bahkan hampir-hampir semua ayat tidak pernah lepas dari penyebutan nama Allah dan sifat-Nya. Ini semua menunjukkan dengan jelas tentang pentingnya ilmu yang berkaitan dengan nama dan sifat Allah serta kebutuhan yang mendesak untuk mengenalnya. Bagaimana dia tidak menempati kedudukan yang tinggi ini, sedangkan dia adalah tujuan utama diciptakannya semua manusia.
Tauhid yang merupakan tujuan utama diciptakannya manusia terbagi menjadi dua:
Pertama : Tauhid Ma'rifah dan Itsbat; ini mencakup iman kepada rububiyah, nama, dan sifat-Nya.
Tauhid Iradah dan Thalab; ini adalah tauhid ibadah.
Adapun dalil yang pertama adalah firman Allah,
"Allah lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah, ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu." (QS. Ath-Thalaq: 12)
Dan dalil yang kedua firman Allah,
"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku." (QS. Adz-Dzariyat: 56).
Yang pertama, Allah menciptakan agar kalian mengenal (Allah) dan yang kedua, Allah menciptakan agar kalian beribadah (kepada-Nya).
Oleh karena itu, tauhid adalah ilmu dan amal. Banyak sekali ayat Al-Qur'an yang menyebutkan tentang perintah untuk mempelajari ilmu yang mulia ini dan untuk memperhatikan pokok yang agung ini.
Allah Ta'ala berfirman,
' serta ketahuilah bahwasannya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." IQS. Al-Baqarah: 231)
"Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan." (QS. .al-Baqarah: 233)
“ Ketahuilah , bahwa Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana." (QS. Al-Baqarah: 209)
Adapun apa yang disebutkan oleh Allah Ta'ala tentang nama dan sifat-Nya dalam Al-Qur'an, maka sangat banyak dan tidak bisa dibandingkan dengan yang lainnya, karena nama dan sifat Allah merupakan seagung-agungnya dan semulia-mulianya serta seutama-utamanya hal yang disebut dalam Al-Qufan.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah berkata, "Di dalam Al-Qur'an, penyebutan tentang nama, sifat, dan perbuatan Allah Ta'ala lebih banyak daripada penyebutan tentang makanan, minuman, serta pernikahan di surga. Ayat-ayat yang berkaitan dengan nama dan sifat Allah Ta'ala lebih mulia daripada ayat yang berkaitan dengan hari kiamat. Semulia-mulianya ayat di dalam Al-Quran adalah ayat kursi yang berkaitan dengan nama dan sifat Allah.
Sebagaimana hal ini disebutkan dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh Muslim dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bahwasanya beliau berkata kepada Ubay bin Ka'ab Radhiyallahu Anhu, "Apakah engkau mengetahui, ayat apa yang termulia di dalam Al-Qur’an? Ubay pun berkata,
"Allah tidak ada Ilah melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya)," (QS. Al-Baqarah: 255), kemudian Rasulullah memegang dada-nya seraya berkata, "Selamat atas ilmu yang engkau miliki, wahai Abu Mundzir."
Semulia-mulianya surat dalam Al-Quran adalah Ummul Quran (induk Al-Qur’an, yakni surat Al-Fatihah), sebagaimana yang dise¬butkan dalam hadits Abu Sa'id bin Al-Mu'alla dalam Shahih Al-Bukhari, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda kepada beliau,"Sesungguhnya tidak diturunkan dalam Taurat atau Injil atau Zabur dan di Al-Quran yang semisal dengannya, dia adalah As-Sab'u Al-Matsaani (tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang) dan Al-Quran yang mulia yang diturunkan padaku. Di dalamnya terdapat penyebutan nama Allah dan sifat-Nya Yang lebih banyak dibanding hari kiamat.
Telah disebutkan dalam Shahih Al-Bukhari dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bahwasanya surat Al-Ikhlas sebanding dengan sepertiga Al-Qur’an. Selain itu, disebutkan pula bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam memberikan kabar gembira kepada yang membacanya seraya mengatakan, "Saya mencintainya karena itu adalah sifat Allah, maka Allah akan mencintainya."5 Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menjelaskan bahwa Allah cinta kepada orang yang cinta terhadap sifat-sifat-Nya dan pintu ini amatlah luas.
Ini semuanya membuktikan akan ketinggian ilmu tentang Asma dan Shifat Alloh Subhanahu Wa Ta'ala dan keagungannya serta banyaknya pelajaran yang bisa dipetik dan bahwasanya dia adalah salah satu fondasi keimanan serta salah satu rukun agama yang di atasnya dibangun kedudukan agama yang tinggi. Bagaimana mungkin perkara syariat akan lurus dan keadaan manusia akan baik tanpa mereka mengenal sang pencipta dan pemberi rezeki mereka dan tanpa mengenal nama-nama Allah yang baik dan sifat-sifat-Nya yang mulia lagi sempurna yang menunjukkan akan kesempurnaan dan kemuliaan serta keagungan-Nya, dan bahwasanya Dia adalah sesembahan yang haq dan tidak ada sesembahan yang haq selain-Nya. Akan tetapi, kebanyakan manusia terlalaikan dengan dunia daripada menyembah-Nya, padahal Allah Ta'ala telah memperingatkan mereka dengan firman-Nya, "Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang membuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi. " (QS. Al-Munaf iqun: 9), Allah Ta'ala-lah tempat kita memohon pertolongan dan Dia-lah yang dapat memberi petunjuk kepada setiap kebaikan.
PIS ensiklo asmaul bDalam memahami Asmaul Husna ( nama-nama Alloh yang indah sempurna) dan juga shifat-shifat-Nya yang Agung, terdapat kaidah-kaidah didalamnya., Hal ini telah dibahas secara mendetail oleh para ulama Salafush Shalih yang sekaligus menjadi manhaj mereka. Kesalahan dalam memahami Asma al husna ini dapat berakibat sangat fatal, sebab melakukan kesalahan yang berhubungan dengan Dzat yang maha Mulia, Alloh Subhanahu Wa Ta'ala .
Dalam buku ini, penulis membahas secara jelas, detail dan sistematis tentang Asma Al husna dan shiat-shifat Alloh Subhanahu Wa Ta'ala dengan menyandarkan setiap bahasannya pada dalil Al Quran, hadits Rosul ynag shahih sesuai manhaj salafush shalih yang benar.
Dan Sesungguhnya Firqoh-firqoh Sesat, Sebagian besarnya tersesat dalam memahami Asma Wa shifat Allah Jalla Wa Allah - Azza Wa Jalla-
Maka pelajarilah Aqidah Asma wa shifat ini, Aqidah yang diajarkan oleh Rosulullah - Sholallahu Alaihi Wassalam – dan difahami oleh generasi terbaik Islam. Jangan sampai engkau masuk ke jurang kebinasaan yang ditawarkan oleh firqoh sesat karena salah memahami Aqidah ini.

SKS syarah bulughulKitab Bulughul Maram sudah tidak asing lagi bagi kebanyakan orang, bahkan bagi orang awam sekalipun. Siapa yang tidak pernah mendengar Bulughul Maram, sebuah kitab karya al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalani. Kehebatan kitab ini terlihat dari cara penyajian hadits-hadits yang merupakan jawamful kalim (ringkas namun mengandung makna yang luas) dan diuraikan secara ternatik dan sisternatik. Dimulai dari hadits yang paling shahih dalam suatu pembahasan tertentu, kemudian dilanjutkan dengan hadits penguat, hadits yang berfungsi sebagai penjelas dari yang masih global, atau hadits yang merupakan pembatas dari hadits sebelumnya yang masih mutiak. Tak pelak, karya agung ini rnendapat banyak pujian dari kalangan ulama pada masa beliau, hingga para ulama pada masa sekarang.
Karena itu muncullah beberapa karya ularna yang menjadikan Bulughul Maram sebagai manuskrip yang disyarah (diperjelas), ditakhrij (diterangkan derajat haditsnya) maupun dita'/iq (dikomentari). Tersebut di antaranya yang terkenalKitab:
1. Subulus Salam karya Syaikh Muhammad bin Amir ash-Shanfani,
2. Taudhihul Ahkam karya Syaikh Abdullah bin Abdurahman Bassam,
3. Fiqhul Islam karya Syaikh Abdul Qadir Suaibah al-Hamd,
4. al-Badrut Tamam karya Syaikh Husain Muhammad al-Maghribi
5. Fathul Allam karya Syaikh Muhammad Shiddiq Hasan Khan,
6. Tuhfatul Kiram karya Syaikh Muhammad Luqman As-Salafi,
7. Al-Ifham karya Syaikh Abdul Aziz ar-Rajihi dan masih banyak lagi yang lain.
8. Ithaaful Kiraam Syarah Bulughul maraam min Adillatil Ahkaam, karya Syaikh Shafiyyurahman Al Mubarakfuri -rahimahulloh- Inilah edisi terjemah.
Lebih dari pada itu, Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, Syaikh Shalih al-Fauzan, Syaikh Muhammad asy-Syinqiti, pun telah menuliskan syarah atas Kitab Bulughul Maram ini.

Kitab Ithaaful Kiraam Syarah Bulughul maraam min Adillatil Ahkaam, karya Syaikh Shafiyyurahman Al Mubarakfuri -rahimahulloh-ini adalah termasuk kitab yang menggabungkan banyak hal, kelebihan kitab ini diantaranya :
1. terjemah maknawi matan hadits dalam Bulughul maram
2. syarah terhadap Kitab Bulughul Maram
3. Takrij Hadits berdasarkan Kitab-Kitab Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani -rahimahulloh-
4. Dilengkapi dengan Biografi Perawi hadits ( Jarh Wa Ta’dil )
5. Biografi Imam-Imam Ahli Hadits
6. Penjelasan istilah-istilah dalam Ilmu hadits.
Dengan demikian dapat disimpulkan kitab ini menggabungkan penjelasan terhadap Fiqih hadits dalam Bulughul Maram, dilengkapi juga dengan penjelasan yang berkaitan dengan Ilmu Hadits.

Syarah Bulughul Maram
Judul asli : Ithaaful Kiraam Syarah Bulughul maraam min Adillatil Ahkaam
Penulis : Syaikh Shafiyyurahman Al Mubarakfuri -rahimahulloh-
Penerbit : Sukses Publishing
Harga Rp 245.000 diskon jadi Rp 196.000
Pemesanan : This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.,
WA / LINE : 0819.2469.325 ( sebut nama, alamat lengkap )

AZ minhajul qosidinKiranya tidak berlebihan kalau kita mengatakan bahwa kitab Ihya' Ulumuddin adalah termasuk kitab berbahasa Arab yang paling populer di kalangan kaum Muslimin di Indonesia, bahkan mungkin di seluruh dunia. Kitab ini dianggap sebagai rujukan utama, sehingga seorang yang telah menamatkan pelajaran kitab ini dianggap telah. mencapai kedudukan yang tinggi dalam pemahaman agama Islam. Padahal kiranya juga tidak berlebihan kalau kita katakan bahwa kitab ini termasuk kitab yang paling keras diperingatkan oleh para ulama untuk dijauhi, bahkan di antara mereka ada yang merekomendasikan agar kitab ini dimusnahkan. [ Lihat Siyaru A'lamin Nubala 19/327 dan 19/495-496 halaman 245-246 (cet. Darul Ma'rifah, Beirut)]

Betapa tidak, kitab ini berisi banyak penyimpangan dan kesesatan besar, sehingga orang yang membacanya apalagi mendalaminya tidak akan aman dari kemungkinan terpengaruh dengan kesesatan tersebut, terlebih lagi kesesatan-kesesatan tersebut dibungkus dengan label dalil agama.
Di antara kesesatan besar yang dikandung buku ini adalah pembenaran ideologi (keyakinan) wihdatul wujud (bersatunya wujud Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- dengan wujud makhluk), yaitu keyakinan bahwa semua yang ada pada hakikatnya adalah satu dan segala sesuatu yang kita lihat di alam semesta ini tidak lain merupakan perwujudan/penampakan Dzat Ilahi (Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- ) - maha suci Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- dari segala keyakinan rusak ini-.

Keyakinan sangat menyimpang bahkan kufur ini dibenarkan secara terang-terangan oleh penulis kitab ini di beberapa tempat dalam kitab ini, misalnya pada jilid ke 4 halaman 86 dan halaman 245-246 ( cet. Dar marifah, Beirut )
Cukuplah pernyataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah -rahimahulloh- berikut ini yang menjelaskan besarnya penyimpangan dan kesesatan yang terdapat dalam kitab Ihya Ulumuddin, Beliau -rahimahulloh- berkata "Kitab ini berisi pembahasan-pembahasan yang tercela, (yaitu) pembahasan yang rusak (menyimpang diri Islam) dari para ahli filsafat yang berkaitan dengan tauhid (pengesaaan Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- ), kenabian dan hari Kebangkitan. Maka, ketika penulisnya menyebutkan pemahaman orang-orang ahli tasawwuf (yang sesat), ini seperti seseorang yang mengundang seorang musuh bagi kaum Muslimin tetapi (disamarkan dengan) memakaikan padanya pakaian kaum Muslimin (untuk merusak agama mereka secara terselubung). Sungguh para imam (Ulama besar) Islam telah mengingkari (kesesatan dan penyimpangan) yang ditulis oleh Abu Hamid al-Ghazali dalam kitab-kitabnya. [lihat ; Majmu al-Fatawa 10/551-552] Oleh karena itu, Imam adz-Dzahabi -rahimahulloh- menukil ucapan Imam Muhammad bin al-Walid ath-Thurthusyi -rahimahulloh- yang mengatakan bahwa kitab Ihya' Ulumiddin (yang artinya menghidupkan ilmu-ilmu agama) lebih tepat jika dinamakan Imatatu Ulumiddin (mematikan/ merusak ilmu-ilmu agama).
Di samping itu, kitab ini juga memuat banyak hadits lemah bahkan palsu, yang tentu saja tidak boleh dinisbatkan kepada Rasulullah -Sholallahu Alaihi Wassalam- , bahkan banyak di antaranya yang sangat bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar agama Islam. Kritikan Ulama Sunnah terhadap hadits dalam kitab Ihya Ulumuddin

1. Imam Abul Faraj Ibnul Jauzi -rahimahulloh- berkata (Dalam kitab beliau Minhajul Qoshidin): "Ketahuilah bahwa kitab Ihya' Ulumiddin memuat banyak kerusakan (penyimpangan) yang tidak diketahui kecuali oleh para ulama. Penyimpangannya yang paling ringan (dibandingkan penyimpangan-penyimpangan besar lainnya) adalah adanya hadits-hadits palsu dan batil (yang termaktub di dalamnya), juga hadits-hadits mauquf (ucapan Sahabat atau Tabi'in) yang dijadikan sebagai hadits marfu' (ucapan Rasulullah ). Semua itu dinukil oleh penulisnya dari referensinya, meskipun bukan dia yang memalsukannya. Dan (sama sekali) tidak dibenarkan mendekatkan diri (kepada Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- ) dengan hadits yang palsu, serta tidak boleh tertipu dengan ucapan yang didustakan (atas nama Rasulullah -Sholallahu Alaihi Wassalam- )".

2. Imam Abu Bakr Muhammad bin al-Walid ath-Thurthusyi -rahimahulloh- berkata (Beliau adalah seorang imam panutan, ulama besar dan ahli zuhud. Wafat 520 H. Biografi beliau dalam Siyaru A'lamin Nubala 19/490)
: ''...Kemudian al-Ghazali memenuhi kitab ini dengan kedustaan atas (nama) Rasulullah -Sholallahu Alaihi Wassalam- , bahkan aku tidak mengetahui sebuah kitab di atas permukaan bumi ini yang lebih banyak (berisi) kedustaan atas (nama) Rasulullah melebihi kitab ini [Dinukil oleh Imam adz-Dzahabi dalam Siyaru A'lamin Nubala 19/495]

3. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah -rahimahulloh- berkata: "Dalam kitab ini terdapat hadits-hadits dan riwayat-riwayat yang lemah, bahkan (juga mengandung) banyak hadits yang palsu, serta berisi banyak kebatilan dan kebohongan orang-orang ahli tasawwuf [Majmual-Fatawa 10/552]

4. Imam adz-Dzahabi -rahimahulloh- berkata, "Adapun kitab Ihya' Ulumiddin, di dalamnya terdapat sejumlah (besar) hadits-hadist yang batil (palsu) [Siyaru A'lamin Nubala l9/339]

5. Imam Ibnu Katsir -rahimahulloh- berkata, "...Akan tetapi, dalam kitab ini (Ihya' Ulumiddin ) banyak terdapat hadits-hadits yang asing, mungkar dan palsu. [Al-Bidayah wan Nihdyah 12/214]

6. Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani -rahimahulloh- berkata: "Betapa banyak kitab Ihya' Ulumiddin memuat hadits-hadits (palsu) yang oleh penulisnya dipastikan penisbatannya kepada Rasulullah -Sholallahu Alaihi Wassalam- , padahal Imam al-'Iraqi -rahimahulloh- dan para ulama lainnya menegaskan bahwa hadits-hadist tersebut tidak ada asalnya (hadist palsu)". [Silsilatul Ahaditsidh Dha'ifah wal Maudhu'ah 1/60]

7. Bahkan Imam as-Subki -rahimahulloh- mengumpulkan hadits-hadist dalam kitab Ihya' Ulumiddin yang tidak ada asalnya (palsu), dan setelah dihitung semuanya berjumlah 923 hadits [Thabaqatusy Syafi'iyyatil Kubra 6/287]

KITAB-KITAB YANG LEBIH PANTAS DIPELAJARI DAN DITEKUNI

Dengan uraian ringkas tentang kitab Ihya' Ulumiddin di atas, jelaslah bagi kita kandungan buruk dan penyimpangan yang terdapat di dalamnya. Maka, seorang Muslim yang menginginkan kebaikan dan keselamatan dalam agama dan imannya, hendaknya menjauhkan diri dari membaca buku-buku yang mengajarkan kesesatan seperti ini. Alhamdulillahf kitab-kitab para ulama Ahlus Sunnah yang bersih dan selamat dari penyimpangan sangat banyak. dan mencukupi untuk diambil manfaatnya.

Apakah kita tidak khawatir akan ditimpa kerusakan dalam pemahaman agama kita dengan membaca kitab seperti ini ?, padahal kerusakan dan kerancuan dalam memahami agama ini merupakan malapetaka terbesar yang akan berakibat kebinasaan dunia dan akhirat?
Bukankah Rasulullah -Sholallahu Alaihi Wassalam- berlindung kepada Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- dari kerusakan agama dan iman, sebagaimana dalam doa beliau :

"(Ya Allah) janganlah Engkau jadikan malapetaka (kerusakan) yang menimpa kami dalam agama (keyakinan) kami " [HR at-Tirmidzi (no. 3502), dan dinyatakan hasan oleh Imam at-Tirmidzi dan Syaikh al-Albani]

         Ketahuilah, bahwa ilmu yang bermanfaat untuk memperbaiki keimanan dan meyempurnakan ketakwaan kita kepada Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- hanyalah ilmu yang bersumber dari al-Qur'an dan hadits-hadits shahih dari Rasulullah -Sholallahu Alaihi Wassalam- yang dipahami dengan pemahaman yang benar, yaitu dengan merujuk pemahaman para Sahabat Nabi -Rodliallohu Anhum- dan orang-orang yang mengikuti petunjuk mereka.

           Imam Ibnu Rajab al-Hambali -rahimahulloh- berkata: "Ilmu yang bermanfaat dari semua ilmu adalah mempelajari dengan seksama dalil-dalil dari al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah , serta (berusaha) memahami kandungan maknanya, dengan pemahaman yang bertumpu pada penjelasan para Sahabat Rasulullah , para Tabi'in (orang-orang yang mengikuti petunjuk para sahabat), dan orang-orang yang mengikuti (petunjuk) mereka dalam memahami kandungan al-Qur'an dan Hadits (dengan baik). (Begitu pula) dalam (memahami penjelasan) mereka dalam masalah halal dan haram, pengertian zuhud, amalan hati (pensucian jiwa), pengenalan (tentang nama-nama dan sifat-sifat Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala-) dan pembahasan-pembahasan ilmu lainnya, dengan terlebih dahulu berusaha untuk memisahkan dan memilih (riwayat-riwayat) yang shahih (benar) dan (meninggalkan riwayat-riwayat) yang tidak benar, kemudian berupaya untuk memahami dan menghayati kandungan maknanya. Semua ini sudah sangat memadai (untuk mendapatkan ilmu yang bertnanfaat) bagi orang yang berakal dan merupakan kesibukan (yang bermanfaat) bagi orang yang memberi perhatian dan berkeinginan besar (untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat)” [Fadhlu 'llmis Salaf'ala 'Until Khalafhlm. 6]

             Renungkanlah nasehat emas dari Imam adz-Dzahabi -rahimahulloh- ketika beliau mengkritik kitab Ihya' Ulumiddin dan kitab-kitab lain semisalnya yang memuat kesesatan dan penyimpangan karena mengabaikan petunjuk al-Qur'an dan hadits-hadits shahih dari Rasulullah -Sholallahu Alaihi Wassalam- dengan pemahaman yang benar.

                Imam adz-Dzahabi -rahimahulloh- berkata: "Dalam kitab Ihya' Ulumiddin terdapat sejumlah (besar) hadits-hadits yang batil (palsu) dan banyak kebaikannya kalau saja kitab itu tidak memuat adab, ritual dan kezuhudan (model) orang-orang (yang mengaku) ahli hikmah dan ahli Tasawwuf yang menyimpang, kita memohon kepada Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- . (dianugerahkan) ilmu yang bermanfaat. Tahukah kamu apakah ilmu yang bermanfaat itu? Yaitu ilmu bersumber dari al-Qur'an dan dijabarkan oleh Rasulullah dalam ucapan dan perbuatan (beliau), serta tidak ada larangan dari beliau tentangnya. Rasulullah -Sholallahu Alaihi Wassalam- bersabda: "Barangsiapa yang tidak menyukai sunnah/ petunjukku maka dia bukan termasuk golonganku” [HR. al-Bukhari no. 5063 dan Muslim 1401 ]

Maka, wajib bagimu wahai saudaraku untuk mentadabburi (mempelajari dan merenungkan) al-Qur'an serta membaca dengan seksama (hadits-hadits Rasulullah) dalam ash-Shahihain (Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim), Sunan an-Nasa'i, Riyadhus Shalihin dan al-Adzkar tulisan Imam an-Nawawi . (Maka dengan itu) engkau akan beruntung dan sukses (meraih ilmu yang bermanfaat).

Dan jauhilah pemikiran orang-orang tasawwuf dan filsafat, ritual-ritual ahli riyddhah (ibadah-ibadah khusus ahli tasawwuf), dan kelaparan (yang dipaksakan) oleh para pendeta, serta igauan tokoh-tokoh ahli kholwat (menyepi/bersemedi yang mereka anggap sebagai ibadah). (Ingatlah), semua kebaikan hanyalah (diraih) dengan mengikuti agama (Islam) yang hanif (lurus) dan mudah (agama yang dibawa dan dicontohkan oleh Rasulullah -Sholallahu Alaihi Wassalam- ). Hanya kepada Allah-lah kita memohon pertolongan. Yd Allah, tunjukkanlah kepada kami jalan-Mu yang lurus.” [Siyaru A'lamin Nubala 19/339-340].

                Diantara buku yang Insya Alloh Azza Wa Jalla lebih Shahih dibanding Ihya Ulumiddin nya Al Ghazali -rahimahulloh- adalah kitab Minhajul Qosidin
Seperti yg dijelaskan diatas, bahwa kitab Ihya Ulumuddin, karena sejumlah masalah di dalamnya mengandung tidak sesuai dengan manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah, sejumlah ulama besar Ahlus Sunnah melakukan studi terhadap kitab tersebut, lalu mengoreksi dan membuang hal-hal yang tidak sesuai dengan Sunnah Rosul ,Salah seorang di antara mereka adalah Imam Ibnul Jauzi -rahimahulloh- .

Imam Ibnu jauzi adalah salah satu dari ulama madzab Hanbali yang menguasai berbagai bidang Ilmu yang juga dikuasai oleh penulis Kitab Ihya ulumiddin yakni Imam Al Ghazali -rahimahulloh- , namun ada satu sisi yang dimiliki Ibnu Jauzi yang tidak dimiliki oleh Imam Ghazali yaitu penguasaan yang luar biasa mendalam dalam ilmu hadits; riwayah maupun dirayah. Dan karena itulah hadits-hadits yang maudhu/ palsu dan hadits dhaif, dan hadits yang sangat lemah dalam kitab Ihya dibuang dan kemudian beliau ganti dengan dalil yang shahih dan beliau memberinya judul, Minhaj al-Qashidin wa Mufid Ash Shadiqin.

Page 1 of 3