• Hotline: (+62) 819.2469.325
Kategori Buku
Darul Haq Buku Induk Koreksi Dzikir dan Doa Penulis : Syaikh Bakr Bin Abdulloh Abu Zaid, Penerbit : Darul Haq .. Product #: DHQ-0038 Regular price: Rp 120.000 Rp 120.000

Buku Induk Koreksi Dzikir dan Doa

Harga: Rp 120.000  Rp 96.000

- +

Berdoa dan Berdzikir kepada Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- merupakan kesibukan yang paling baik dan cara paling utama bagi seseorang untuk mendekatkan diri kepada Allah Yang Mahasuci dan Mahatinggi. Berdo'a dan berdzikir adalah kunci segala kebaikan yang akan diperoleh seorang hamba di dunia dan akhirat, pencegah segala bentuk keburukan, mendatangkan berbagai manfaat dan menolak datangnya bahaya.
Imam Ibnul Qayyim -rahimahulloh- berkata: "Jika Allah akan memberi kunci ke¬pada seorang hamba, berarti Allah akan membukakan (pintu kebaikan) kepadanya dan jika seseorang disesatkan Allah, berarti ia akan tetap berada di muka pintu tersebut.”. [ lihat ; Al-Fawaa-id hal. 127. Dinukil dari Fiqhul Ad'iyati wal Adzkaar hal. 5], Bila seseorang tidak dibukakan hatinya untuk berdo'a dan berdzikir, maka hatinya selalu bimbang, perasaannya gundah-gulana, fikirannya kalut, selalu gelisah, hasrat dan keinginannya menjadi lemah.
Namun bila seorang hamba selalu berdo'a dan berdzikir, selalu memohon perlindungan kepada Allah dari berbagai keburukan, niscaya hatinya menjadi tenang karena ingat kepada Allah.
Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- berfirman:
.. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang." (QS. Ar-Ra'd: 28)
Seorang hamba yang selalu menekuni dzikir, setiap hari dan setiap waktu, termasuk di dalamnya membaca al-Quran setiap hari, karena al-Quran adalah sebaik-baik dzikir, dan senantiasa berdo'a dan mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allah H saja, menjauh-kan sikap lalai, maka Allah akan menghidup-kan dan memberikan cahaya kepada hatinya.
Al-Qur-an, as-Sunnah dan Atsar Salafush Shalih telah memberikan petunjuk mengenai jenis do'a dan dzikir yang dianjurkan sebagai-mana ibadah-ibadah lainnya. Nabi -Sholallahu Alaihi Wassalam- sudah menjelaskan kepada ummatnya dengan gam-blang mengenai do'a dan dzikir dengan lengkap dan sempurna setiap hari, setiap waktu, dalam berbagai kesempatan dan dalam situasi dan kondisi yang dialami oleh seorang Muslim.
Bila do'a dan dzikir ini dilaksanakan oleh seorang Muslim sesuai dengan contoh Rasulullah dan para Sahabatnya, maka ia akan mendapatkan petunjuk, ketenangan dan penawar hati dari berbagai penyakit, karena do'a dan dzikir merupakan obat penyakit hati. Sebaliknya, orang yang tidak melaksanakan do'a dan dzikir seperti yang dicontohkan Rasulullah, maka ia akan celaka, sesat dan hidupnya sempit serta dikuasai syaitan dan hawa nafsu.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -rahimahulloh- (wafat tahun 728 H) mengatakan: "Tidak diragukan lagi, bahwa sesungguhnya do'a dan dzikir adalah termasuk ibadah yang sangat utama. Ibadah itu harus didasari dengan sikap ittiba (mengikuti jejak) Nabi dengan konsekuen dan konsisten, bukan mengikuti hawa nafsu dan bukan pula mengada-ada, membuat sesuatu yang baru yang tidak ada contohnya (bid'ah). Do'a dan dzikir yang diajarkan dan dicontohkan Nabi -Sholallahu Alaihi Wassalam- adalah bentuk do'a dan dzikir paling utama yang seharusnya diamalkan oleh setiap Muslim. Orang yang melaksanakan do'a dan dzikir yang dicontohkan Nabi, ia akan merasa aman dan selamat dan akan mendapatkan manfaat serta hasil yang optimal. Sementara do'a dan dzikir yang dibuat-buat, ada yang diharamkan dan ada yang makruh, bahkan ada yang syirik dan banyak sekali orang yang tidak tahu.” [Majmuu* Fataawa - Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah XXII/510-511]
Yang diperintahkan bagi seorang Muslim adalah berdzikir kepada Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- sesuai dengan apa yang disyari'atkan agama, dan berdo'a ke¬pada Alloh Azza Wa Jalla dengan do'a-do'a yang datang dari al-Quran dan Sunnah Nabi yang shahih. Karena itu, wajib atas seorang Muslim mengikuti (ittiba) apa yang telah disyari'atkan Allah dan apa yang telah dicontohkan Nabi-Nya.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -rahimahulloh- berkata: "Di antara orang yang sangat caib dan tercela ialah orang yang menggunakan hizib atau wirid yang tidak ma'tsur (tidak ada contoh¬nya) dari Nabi, sekalipun hizib atau wirid tersebut berasal dari syaikhnya (tuan gurunya, ustadz nya, kyai nya dan semisal nya). Sementara, ia justru meninggalkan/mengabai-kan dzikir dan wirid yang diajarkan dan dibaca oleh pemimpin ummat manusia dan Imam seluruh makhluk, yaitu Nabi Muhammad -Sholallahu Alaihi Wassalam- yang merupakan hujjah Allah atas hamba-hamba-Nya.” [Majmuu' Fataawa - Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah XXII/525.]
Segala kebajikan adalah dengan ittiba' (mengikuti) Nabi , berpedoman pada petunjuknya, dan mengikuti Sunnahnya yang shahih. Beliau adalah sosok teladan yang selalu mendapatkan limpahan rahmat dan shalawat dari Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- , Malaikat dan seluruh makhluk. Beliau -Sholallahu Alaihi Wassalam- adalah manusia yang paling sempurna dalam berdo'a dan berdzikir kepada Allah Yang Mahasuci dan Mahatinggi.
Imam Ibnul Qayyim -rahimahulloh- (wafat tahun 751 H) berkata: "Dzikir yang paling baik dan paling bermanfaat adalah do'a dan dzikir yang diyakini dengan hati, diucapkan dengan lisan, dilaksanakan dengan konsisten dari do'a dan dzikir yang dicontohkan Rasulullah , serta orang yang melakukannya memahami makna-makna dan maksud yang terkandung di dalam-nya. “[ lihat : Al-Fawaa-id libnil Qayyim hal. 247, Fawaa-idul Fawaa-id hal. 309, Syaikh 'All Hasan 'All 'Abdul Hamid.]
Dzikir dan doa adalah ibadah yang agung dan sentral dalam Islam, karena semua ibadah itu mengandung dzikir dan doa, baik itu Shalat, Zakat, Puasa, Haji, dan lainnya. Begitu juga doa sangat dibutuhkan dalam bermajelis, saat musafir, dan sebagainya; karena dzikir dan doa itu mencakup setiap ruang dan waktu, kecuali yang tidak layak berdzikir di dalamnya. Karena itu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan contoh di mana beliau berdzikir (mengingat dan menyebut) Allah dalam setiap keadaan beliau. Hingga seorang sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, Mu'adz bin Jabal Radhiallahu ‘anhu berkata, Tidak ada sesuatu yang lebih menyelamatkan (seseorang) dari azab Allah daripada berdzikir (mengingat dan menyebut) Allah. Namun, tidak semua yang kita lihat dan kita dengar dari dzikir dan doa yang dilakukan oleh sebagian kaum Muslimin itu benar, sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Ada begitu banyak kekeliruan, bid'ah, khurafat, bahkan kesyirikan yang tercampur aduk dalam dzikir dan doa yang dilakukan sebagian kaum Muslimin. Ini diperparah lagi oleh seabrek kesalahan dari segi tata cara, tempat, waktu, dan lafazh dzikir dan doa. Bahkan sebagian kekeliruan tersebut menyusup dari luar Islam ke dalam tata cara dzikir dan doa kaum Muslimin. Berbagai kekeliruan tersebut menyusup ke dalam dzikir yang diajarkan oleh Nabi a secara terang dan jelas, seperti: Dzikir dan doa dalam shalat, setelah salam dari Shalat Fardhu, dzikir pagi dan petang hari, membaca al-Qur`an, dan lain-lain.

Dan buku ini adalah sebuah usaha untuk membersihkan semua noda-noda itu dari dzikir dan doa kaum Muslimin, sehingga menjadi amal shalih yang murni sesuai Sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan diterima oleh Allah sebagai ibadah. Islam itu telah dinyatakan sempurna oleh Allah dalam al-Qur`an, tidak terkecuali dzikir dan doa. Maka agar tetap sempurna, harus dikoreksi dengan timbangan al-Qur`an dan as-Sunnah lalu mem-buang noda-noda yang ditambahkan kepadanya

Detail Info Buku
Bahasa Indonesia
Format Cover Hardcover
Judul Asli Tashih Ad Du’a
Judul Buku Buku Induk Koreksi Dzikir dan Doa
Jumlah Halaman 607 hlm
Penerbit / Publisher Darul Haq
Penulis Syaikh Dr Bakr bin Abdullah Abu Zaid
Ukuran Fisik Buku Buku Ukuran Sedang 16 x 24.5 cm