• Hotline: (+62) 819.2469.325
Kategori Buku

bagaimana agar doa dikabulkan diterima ?

     Bila orang shalat mendapat pahala shalatnya, dan orang yang bersedekah diberi ganjaran sedekahnya, begitu pula orang yang puasa, umrah dan haji, semua mendapat pahala lantaran perbuatan mereka; maka demikian juga orang yang berdoa akan diberi pahala atas doanya, baik doa tersebut segera di-ijabahi atau pengijabahannya ditunda. Jadi, setiap kali seseorang menengadahkan kedua tangannya ke langit sembari meng-ucapkan: Ya Rabbi... ya Rabbi..., dan tiap kali ia sungguh-sungguh serta terus menerus berdoa, maka Allah memberi pahala doanya tersebut.
Di antara bukti yang menunjukkan bahwa doa adalah ibadah, sebagai berikut:
1. Hadits riwayat Turmudzi dari Nu'man bin Basyir yang mengatakan "Aku mendengar Nabi -Sholallahu Alaihi Wassalam- bersabda:
"Doa adalah ibadah." [ HR. Turmudzi (5/374), Abu Dawud (359), Ahmad (4/271) dan lainnya dengan sanad shahih]
Kemudian beliau membaca:
"Rabbmu berfirman, Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Ku-perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina." (Ghafir [40]: 60)
2. Ucapan Ibrahim yang diabadikan dalam AI-Qur'an:
"Dan aku akan menjauhkan diri darimu dan dari apa yang kamu seru se¬lain Allah, dan aku akan berdoa kepada Rabbi, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Rabbi." Maka ketika Ibrahim sudah menjauhkan diri dari mereka dan dari apa yang mereka sembah selain Allah, Kami anugerahkan kepadanya Ishaq, dan Ya'qub. Dan masing-masingnya Kami angkat menjadi nabi." (Maryam [19]: 48-49)
Di awal ayat disebutkan "Dan aku akan menjauhkan diri darimu dan dari apa yang kamu seru selain Allah", kemudian setelahnya disebutkan, "Maka ketika Ibrahim sudah menjauh¬kan diri dari mereka dan dari apa yang mereka sembah selain Allah." Hal ini menunjukkan bahwa doa adalah ibadah.
3. Juga salah satu pendapat mufassirin tentang ucapan pemuda-pemuda Ashabul Kahfi:
"Rabb kami adalah Rabb langit dan bumi. Kami sekali-kali tidak menyeru sembahan selain Dia." (AI-Kahfi [18]: 14).
Maksudnya, kami tidak beribadah kepada selain Dia.

Kesemuanya ini memberi arti bahwa doa adalah ibadah.

Atas dasar ini, siapa yang berdoa kepada Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- sebagaimana yang diperintahkan, maka —dengan izin Allah— ia diberi pahala, walaupun seandainya tidak ada tanda-tanda lahiriah dikabulkan-nya doa yang dipanjatkan olehnya. Sebab, dengan doanya itu sebenarnya ia melakukan ibadah. Bilamana orang yang berpuasa itu terhitung mengerjakan ibadah, begitu juga yang menjalankan shalat, haji, jihad dan lainnya, maka demikian halnya dengan orang yang berdoa; ia juga tengah beribadah dengan jenjang yang berbeda-beda. Oleh sebab itu, sudah seharusnya kita memahami dengan baik masalah fiqh ibadah ini.
Banyak orang membanting tulang, bermandi peluh dan berjerih payah mencari nafkah, namun tidak mendapat apa-apa. Bahkan tak jarang selain lelah dan letih, mereka masih menanggung kerugian materi. Sementara di sisi lain, ada orang yang tidak terlalu bekerja keras melampaui batas kewajaran, dan hanya sedikit berusaha, tapi ia mengajukan suatu doa pada Rabb di waktu ijabah, lalu Allah memenuhi permintaannya tersebut.

Ada pula orang yang mengobatkan anaknya ke banyak dokter dan telah menghabiskan uang berjuta-juta untuk biaya kesembuhan sang anak, namun kesernbuhan tak kunjung datang. Sementara orang lain yang anaknya menderjta sakit yang sama, ia berdoa pada Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- dengan satu doa yang diijabahi Allah Sang Penyembuh, dan ternyata anak itu pun sembuh dengan izin Allah.

Kasus ketiga, seorang pemuda mencari istri yang dapat membahagiakan dirinya. la terus mencari dan rnencari, tapi lupa berdoa kepada Allah sehingga juga tidak menemukan calon istri yang diidam-idamkannya. Sementara pemuda lain memohon calon istri idaman kepada Allah, diiringi usaha sungguh-sungguh.
Hasilnya, Allah membimbingnya pada kebaikan dan memudah-kan jalan untuk mendapatkannya.
Namun, hal ini tidak berarti membenarkan sikap bermalas-malasan, tidak berusaha mencari rezeki dan tidak menempuh upaya-upaya mencari kesembuhan. Sama sekali tidak. Tapi maksudnya, orang beriman tidak boleh lupa berdoa kepada Allah di setiap waktu dan kesempatan. Hanya Allah yang mampu menolong, dan tidak ada daya serta kekuatan selain dengan pertolongan-Nya.

Pentingnya Memahami Fiqih Doa
Mengingat bahwa doa adalah ibadah, maka ibadah ini harus ditunaikan kepada Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- semata, seperti ibadah lainnya. Sayang sekali, ternyata banyak orang yang tergelincir akibat tidak mengetahui fiqh doa. Akibatnya mereka terjerumus dalam kubangan syirik, bid'ah, serta melampaui batas dan mengundang kecelakaan, baik pada diri mereka sendiri ataupun orang lain. Sedikit sekali orang yang benar-benar mengikuti jejak Rasulullah -Sholallahu Alaihi Wassalam- dalam praktik ibadah yang satu ini.

Prilaku Syirik Sebagian Orang dalam Berdoa
Sebagian manusia yang secara lisan telah mengikrarkan syahadat bahwa tiada yang berhak diibadahi selain Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, masih saja ada yang ter-gelincir dengan berdoa pada selain Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- . Sekelompok orang berdoa pada Rasulullah, sekelompok lain berdoa pada Ali, Hasan dan Husain. Ada pula yang berdoa pada AI-Badawi, Al-Jailani, Abathir dan makhluk selain mereka ini. Para pendoa ini telah sesat jalan dan kafir lantaran perbuatan ini, sedang mereka tidak menyadari.
Allah berfirman: "Dan siapakah yang lebih sesat darlpada orang yang menyembah sembahan-sembahan selain Allah yang tiada dapat memperkenankan (doanya) sampai hari kiamat dan mereka lalai dari (memperhatikan) doa mereka. Dan apabila manusia dikumpulkan (pada hari kiamat) niscaya sembahan-sembahan mereka itu menjadi musuh mereka dan mengingkari pemujaan-pemujaan thd mereka." (AI-Ahqaf [46]: 6)

Prilaku Bid’ah Sebagian Orang dalam Berdoa
Di sisi lain, para penganut sufi banyak menciptakan bid'ah dalam agama dan doa. Mereka meninggalkan doa secara total. Mereka katakan, "Doa Anda pada Rabb berarti tuduhan negatif kepada-Nya." Mereka berdalil dengan atsar maudhu' (palsu) lagi tidak bersanad. Yakni atsar yang disandarkan pada Nabi Ibrahim _Alaihissalam- ketika Jibril mendatanginya. Jibril berkata, "Wahai Ibrahim, apakah engkau memiliki keperluan?" la menjawab, "Kalau perlu pada-mu, tidak." Jibril berkata, "Mintalah pada Rabbmu!." Ibrahim berkata, "Cukuplah pengetahuan-Nya tentang keadaanku mewakili permintaanku."
Dalam redaksi lain yang sering dikatakan kelompok awam, "Pengetahuannya tentang keadaanku sudah mencukupi permintaanku."
Berita ini tidak berdasar sebagaimana telah dinyatakan. Tambahan lagi, hal ini bertentangan dengan keumuman-keumuman syari'at seperti beberapa ayat yang telah disebutkan di atas dan ayat-ayat lainnya. Demikian pula, bertentangan dengan keadaan Rasulullah -Sholallahu Alaihi Wassalam- beserta para Rasul lainnya dan doa yang pernah mereka lakukan. Nabi Ibrahim sendiri pernah berdoa,
"Ya Rabbi, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat Ya Rabb kami, perkenankan doaku. Ya Rabb kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapakku dan sekalian orang-orang mukm/n pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)." (Ibrahim [14]: 40-41)

"Ya Rabbi, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang shalih. Jadikanlah aku buah tuturyang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian. Jadikan¬lah aku termasuk orang-orang yang mempusakai jannah yang penuh kenikmatan. Ampunilah bapakku, karena la adalah termasuk golongan orang-orang yang sesat,4 dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan." (Asy-Syu'ara' [26]: 83-87)
Artinya, orang-orang sufi ini mengharamkan kebaikan yang banyak untuk diri mereka dan mengundang kerugian besar pada diri mereka akibat penyimpangan serta jauhnya mereka dari ajaran kitab Allah dan petunjuk Nabi -Sholallahu Alaihi Wassalam- ..

Doa tergolong ibadah paling baik sebagai sarana hamba untuk mendekatkan diri kepada Rabb, dan termasuk amal shalih paling utama.
Kemudian, doa juga kunci segala kebaikan dan segel setiap keburukan, pembawa keuntungan sekaligus penangkal kerugian. Bahkan berbagai ujian yang menimpa hamba seperti sakit, rasa takut, kelaparan, kemiskinan, kematian dan krisis buah-buahan, di antara tujuan utamanya adalah membawa hamba untuk berdoa dan merendahkan diri kepada Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- .
Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- berfirman, yang arti nya ;
"Kami tidak-lah mengutus seseorang nabi pun kepada suatu negeri, (lalu penduduk-nya mendustakan nabi itu), melainkan Kami timpakan kepada penduduknya kesempitan dan penderitaan, supaya mereka tunduk dan merendahkan diri." ( AI-Araf [7]: 94)
"Maka mengapa mereka tidak memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri ketika datang siksaan Kami kepada mereka?" ( AI-An'am [6]: 43)
Oleh karena itu, banyak sekali ayat Al-Qur'an maupun hadits Nabi yang menganjurkan kita agar tekun berdoa, di samping juga menjelaskan tentang adab, hukum, keutamaan, pengaruh dan beragam bentuk doa dan kalimatnya untuk dipanjatkan di setiap waktu dan tempat, Yang lebih menyenangkan, setiap doa yang kita panjatkan tidak akan sia-sia, dan pasti akan "diterima" dan "dikabulkan"; entah dalam waktu dekat, atau diundur beberapa waktu, atau dihindarkan dari keburukan yang setara dengan kebaikan yang dimohon, atau ditangguhkan dan disimpan untuk dipetik kelak setelah kematian.
   Buku ini berbicara tentang fiqih doa, yang meliputi berbagai hal yang terkait dengannya. Di antaranya: urgensi memahami fiqih doa, hakikat doa, anjuran dan perintah berdoa, mukadimah dan tawassul dalam berdoa, meminta doa orang-orang shalih dan kaum lemah, perilaku syirik dan bid'ah dalam bedoa, bersungguh-sunguh dan meninggikan keinginan dalam berdoa, waktu-waktu dan tempat-ternpat mustajab, adab-adab dalam berdoa, pedoman dalam berdzikir dan berdoa, penyebab terlambatnya pengabulan doa dan banyak hal lainnya hingga pembahasan mengenai masalah yang sering diperselisihkan, yaitu soal mengangkat kedua tangan dalam berdoa dan berdoa secara berjamaah. Semua dibahas berdasarkan dalil yang shahih.

 

Detail Info Buku
Bahasa Indonesia/ terjemah
Format Cover softcover
ISBN 978-602-8417-13-6
Judul Asli Fiqhu Ad Du’a
Judul Buku Doa Pasti Diterima
Jumlah Halaman 258 hlm
Penerbit / Publisher Al Qowam
Penulis Syaikh Musthafa Al Adawi
Ukuran Fisik Buku 14 x 20.5 cm