• Hotline: (+62) 819.2469.325
Kategori Buku

Fatwa-Fatwa Tentang Wanita [ Edisi Lengkap ]

Harga: Rp 147.000  Rp 117.600

- +

Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- menciptakan makhluk bukan tanpa tujuan apalagi sia-sia, bahkan pnciptaan itu mempunyai hikmah besar yang intinya agar manusia mampu menkmati kehidupan bahagia di dunia dan akhirat,
Allah berfirman, yang artinya,
"Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?. " (Al Mukminun : 115)
Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- telah menjelaskan bahwa tujuan utama penciptaan jin dan manusia untuk beribadah sebagaimana firman-Nya, yang artinya,
"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku."(Adz-Dzariyaat:56)
Ayat di atas merupakan kaidah penting bagi kehidupan manusia dan jin. Ibadah merupakan landasan utama untuk meraih kebahagiaan dunia dan akhirat sebagaimana firman –Nya, yang artinya,
Barangsiapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (An Nahl: 97)
Ibadah bukan hanya pelaksanaan ritual vertikal, akan tetapi ibadah sebagaimana yang dinyatakan oleh Imam Ibnu Taimiyah -rahimahulloh- bahwa Ibadah adalah segala sesuatu yang dicintai dan diridhai Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- baik berupa ucapan dan perbuatan zhahir maupun batin. Berarti ibadah mencakup seluruh aktifitas dan hubungan baik secara vertikal dan horizontal selagi dalam rangka mencari ridha Allah. Maka sebaiknya seorang muslim dari mulai baligh hingga datang kematian menjadikan nafas, ucapan, tindakan dan gerakan selalu bernilaikan ketaatan dan kebaikan sebagaimana firman Alloh Azza Wa Jalla yang artinya,
"Dan sembahlah tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal)."(Al Hijr: 99)
Semua kebaikan yang kita lakukan baik berhubungan dengan Allah dan Rasul-Nya serta manusia bisa bernilaikan ibadah asalkan dilaksanakan ikhlas hanya untuk Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- saja dan sesuai dengan contoh yang diamalkan Rosululloh.
Allah menjadikan ibadah suatu yang tauqifi (berdasarkan tuntutan Alloh Azza Wa Jalla dan Rosul Nya, bukan hasil karangan manusia lainnya).
Ibadah itu ada yang berhubungan dengan hak Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- seperti tauhid, berdoa, tawakkal, istighatsah, nadzar, sumpah, isti'anah, shalat, puasa, zakat dan haji; dan ada pula yang berhubungan dengan sesama makhluk seperti ber-niaga, pernikahan, thalak, sewa-menyewa, utang-piutang; dan ada yang ber¬hubungan dengan kehidupan keluarga dan masyarakat seperti pernikahan, thalak, waqaf dan kafalah; serta ada yang berhubungan dengan kehidupan bernegara seperti imamah, bai'ah, jihad, hukum hudud dan juga hubungan antar negara. Dan masih banyak cabang hukum agama yang telah dibahas secara tuntas oleh para ulama.
Semua cabang hukum dan ajaran agama secara tuntas telah dijelaskan oleh Allah sebagaimana firman Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- yang artinya,
"Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Qur 'an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri. " (An Nahl: 89)
Wajib setiap muslim merujukkan segala permasalahan agama kepada dan Rasul-Nya dan tanpa ada unsur penolakan terhadap putusan Allah dan Rasul-Nya sebagaimana firman Alloh Azza Wa Jalla, yang artinya,
“ Tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesatyang nyata. (Al-Ahzab : 36)
Tidak semua nash Al-Qur'an dan Al-Hadits gampang difahami oleh orang sementara tuntutan beribadah berlaku bagi setiap manusia, dari sini dibutuhkan ijtihad para ulama untuk mengeluarkan kandungan hukum dari nash tersebut dan menjawab setiap permasalahan yaag terjadi dalam masyarakat sehingga orang awam tidak kebingungan mengamalkan ajaran Islam.
Terlebih dalam masalah fiqhiyah sering kali orang awam terbawa arus dalam mengikuti salah satu madzhab sehingga muncul berbagai koturan dan friksi sosial yang membuat macet komunikasi, padahal perbedaan dalam masalah fikih telah terjadi sejak zaman
Nabi -Sholallahu Alaihi Wassalam- dan sahabat -Rodliallohu Anhum- bahkan perbedaan dalam masalah fikih merupakan kebutuhan alami manusia dalam melaksanakan ajaran Islam. Maka kita menemukan banyak permasalahan yang tidak sepi dari polemik dan perdebatan di antara para ulama.
Selama perbedaan itu masih bermuatan baik dan bersandar pada dalil yaag shahih, maka tidak mungkin kita menafikannya. Dan selagi akar perbedaan itu mendapat pembenaran dari Al-Qur'an dan Al-Hadits maka tidak logis jika dtiiadakan.
Seperti yang pernah diucapkan Imam Syafii -rahimahulloh- , “Tidak semua orang bisa menguasai seluruhh hadits, pasti ada satu atau dua sunnah yang belum sampai kepadanya, sehingga apapun yang saya ucapkan bila berbenturan dengan amah Rasul, maka sunnah itulah pendapatku.”, Dan beliau -rahimahulloh- juga mengatakan, “ jika kamu menemukan hadits yang shahih maka itulah madzhabku.”
Terutama masalah agama yang bersentuhan dengan kaum wanita sering kali terabaikan, padahal tidak mudah menemukan jawaban sekitar masalah fikih yang berkaitan dengan wanita, sementara sangat banyak hukum-hukum yang sangat khusus bagi wanita, dari mulai thaharah, shalat, puasa, zakat, kaji, pernikahan dan hukum-hukum muamalat serta jinayat serta hukum kewanitaan lain.
Islam datang dengan menghormati wanita, saat itulah wanita merasakan kehidupan, terselamatkan dari noda-noda kezhaliman dan para pelakunya. Islam memberinya kemuliaan dan kehormatan yang tidak pernah dimiiiki sebelumnya, maka wanita dapat menikmati kehidupannya dan hak-haknya dinaungi di bawah keadilan Islam. Wanita dibebani tugas syari'at Tuhan langit dan bumi, kedudukannya sama dengan kaum pria, bahkan lebih dari itu, Allah menurunkan surat dengan nama mereka dan mengkhususkannya dengan hukum-hukum dan nasihat-nasihat, dan Rasulullah -Sholallahu Alaihi Wassalam- pun menyampaikan khabar gembira, bahwa barangsiapa yang dikaruniai anak-anak perempuan, lalu berbuat baik kepada mereka, maka kelak mereka akan menjadi dinding penghalang dari api Neraka.
Nabi mengajarkan kepada kaum wanita hukum-hukum agama ini, bahkan dalam Shahih Al-Bukhari disebutkan, bahwa beliau menetapkan hari khusus untuk mereka, di mana pada hari tersebut beliau menasihati mereka dan mengajarkan kepada mereka urusan agama. Para isteri beliau pun mengajarkan kepada kaum wanita perkara-perkara agama yang belum mereka ketahui. Begitulah kaum wanita mendapat porsi pengajaran semenjak zaman kenabian hingga zaman kita sekarang ini dengan berbagai cara.
Dan sekarang, di mana banyak perkara yang membutuhkan fatwa dan penjelasan, para ulama -rahimahumulloh- - mengerahkan ijtihad dan hukum-hukum yang dapat menerangkan jalan bagi yang menempuhnya. Hanya saja, hukum-hukum itu tersebar dalam berbagai buku dan risalah. Karena itu, buku ini berusaha menyusunnya dengan menghimpun dari sejumlah buku para ulama sekarang, yaitu berupa fatwa-fatwa dan hukum-hukum yang khusus berkaitan dengan wanita muslimah.


Buku ini disusun menjadi sepuluh kitab, setiap kitab terdiri dari beberapa bab, dan setiap bab terdiri dari beberapa pasal, yang mana setiap pasalnya terdiri dari beberapa masalah. Rinciannya sebagai berikut:


Kitab kesatu : Thaharah, terdiri dari 10 bab.
Kitab kedua : Shalat, terdiri dari 9 bab.
Kitab ketiga : Jenazah dan kuburan, terdiri dari 2 bab.
Kitab keempat : Zakat, terdiri dari 5 pasal.
Kitab kelima : Puasa, terdiri dari 6 bab.
Kitab keenam : Haji, terdiri dari 10 bab.
Kitab ketujuh : Nikah, Thalaq dan Khulu', terdiri dari 10 bab.
Kitab kedelapan : Menyusui, terdiri dari beberapa masalah.
Kittb kesembilan : Pakaian dan Perhiasan, terdiri dari 5 bab.
Kitab kesepuluh : Adab dan Akhlaq, terdiri dari 6 bab.
Materi fatwa diambil dari sejumlah fatwa Ulama yaitu;
Fatawa Asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu Asy-Syaikh, 1/13,
Al-Majmu'ah Al-Kamilah limu'allafat Asy-Syaikh As-Sa'di, juz 7
fatawa Majalah Al-Buhuts Al-Islamiyah 1/50
Fatawa Al-Lajnah Ad-Da'imah, susunan Ahmad Ad-Duwaisy, 5/11
Majmu'ah Fatawa wa MaqolaatAsy-Syaikh Ibnu Baaz, 1/6
Kitab Ad-Da'wah / Al-Fatawa, Syaikh Ibnu Baaz ½
Majmu'ah Fatawa wa Durus Al-Haram Al-Makki, Ibnu Utsaimin1/3
Majmu'ah Fatawa wa Rasa'il Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin, Fahd As-Sulaiman, juz 4 (thaharah), Fatawa Nur 'ala Ad-Darb, Fayiz Abu Syaikhah
Al-Muntaqa min Fatawa Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan, susunan 'Adil Al-Furaidan, 1/5
At-Tanbihat 'alaAhkam TaUtashu bil Mukminat, Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan,
Zinatul Mar 'ah Al-Mukminah, Syaikh Abdullah Al-Fauzan,
Fatawa Al-Lajnah Ad-Da'imah,susunan Shafwat Asy-Syawadufi
beberapa buku kecil yang menghimpun sejumlah fatwa khusus, seperti; Shalat, dari fatwa-fatwa Syaikh Ibnu Baaz, Fatawa Ash-Shiyam, dari fatwa-fatwa sejumlah ulama yang disusun oleh Muhammad Al-Musnad, Fatawa Al-Mar 'ah yang disusun oleh Muhammad Al-Musnad.
Ditambah lagi dengan beberapa kutaib Syaikh Ibnu Utsaimin, seperti; Shalatul 'Idain, Al-Fatawa Al-Makkiyah, Fatawa Al-'Id, Fatawa Al-Hajj, Fatawa At-Ta'ziyah, Fatawa Al-Mash 'ala Al-Khuffain, 52 Su'alan 'an Akkamil Haidh wan Nifas, 70 Su 'alan fi Ahkamil Jana 'iz

Detail Info Buku
Bahasa Indonesia
Format Cover hardcover
Judul Asli Al Fatawa Al Jam’iyah lil mar’ah Al Muslimah
Judul Buku Fatwa-Fatwa Tentang Wanita
Jumlah Halaman 980 hlm
Penerbit / Publisher Darul Haq
Penyusun Amin bin yahya Al Wazan
Ukuran Fisik Buku Buku Ukuran Sedang 16 x 24.5 cm