• Hotline: (+62) 819.2469.325
Kategori Buku
Media Tarbiyah Ahkamul Janaaiz : Panduan Mengurus Jenazah [ Kompilasi 3 Ulama Sunnah] Penulis : Syaikh Abdul Aziz bin Baaz, Syaikh Al Albani, Syaikh Al Utsaimin, Penerbit : Media tarbiya.. Product #: TAR-0022 Regular price: Rp 95.000 Rp 95.000

Ahkamul Janaaiz : Panduan Mengurus Jenazah [ Kompilasi 3 Ulama Sunnah]

Harga: Rp 95.000  Rp 76.000

- +

Kehidupan dan kematian adalah dua hal yang merupakan ujian Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- atas manusia, agar Dia tahu, manakah di antara mereka yang terbaik amalannya, dan tidak ada jiwa yang hidup melainkan akan merasakan kematian sebagai awal kehidupannya yang abadi dan kepada Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- lah semua akan kembali.

Mahasuci Allah Yang telah menjadikan kehidupan dan kematian sebagai ujian bagi ummat manusia. Allah Ta'ala berfirman,yang artinya,

"Mahasuci Allah Yang menguasai (segala) kerajaan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa, Maha Pengampun." (QS. Al-Mulk: 1-2)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin - rahimahullah- berkata, "Kita mengimani bahwa Allah Ta'ala adalah Pencipta segala sesuatu. Tidak ada sesuatu pun di langit maupun di bumi, melainkan Allah-lah Yang menciptakannya, bahkan kematian pun adalah ciptaan Allah - Subhanahu Wa Ta'ala – (lihat : Syarh Riyaadhish Shaalihiin, penjelasan hadits no. 486)

Hal itu agar manusia tidak tertipu dengan dunia sehingga melupakan Akhirat. Oleh karena itu, setiap manusia hendaklah menjadikan dunia ini sekedar sebagai ladang beramal sebagai bekal di Akhirat kelak.
Dalam hadits yang dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani - rahimahullah- , Rasulullah bersabda, "Apalah arti dunia ini bagiku?! Tidaklah aku di dunia ini melainkan seperti orang yang menaiki kendaraan dan berteduh di bawah pohon lalu pergi dan meninggalkannya. “
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin menjelaskan, "Rasulullah tidak menjadikan dunia sebagai hasrat hidupnya dan tidaklah ada harta yang tinggal pada diri beliau melainkan beliau infaqkan seluruhnya di jalan Allah Ta'ala. Bahkan, beliau hidup di dunia ini layaknya seorang fakir."3

Beliau - Rahimahullah- juga berkata, "Semua manusia di dunia ini pada hakikatnya berada dalam perjalanan. Dunia bukanlah tempat tinggal selamanya, akan tetapi sebagai tempat persinggahan dimana ia akan segera meninggalkannya, siang atau malam. Seorang musafir terkadang perlu singgah di suatu tempat untuk beristirahat, namun para musafir ini tidak mengenal persinggahan, terus berjalan. Setiap saat, Anda akan terus berjalan dan terus mendekat menuju Akhirat.

Tidakkah kita merenungi perjalanan kita yang tak pernah berhenti sekejap pun ini? Selalu berjalan selangkah demi selangkah. Bukankah akan segera sampai? Iya, oleh karena itu Allah Ta'ala berfirman,

"Pada hari ketika mereka melihat hari Kiamat itu (karena suasananya sungguh dahsyat), mereka merasa seakan-akan hanya (sebentar saja) tinggal (di dunia) pada waktu sore atau pagi hari." (QS. An-Naazi'aat: 46)

Maka Hendaklah kita semua selalu merenungi usia yang telah berlalu dengan usia yang akan kita lalui. Usia yang telah kita lalui itu seakan hilang begitu saja tak berbekas, seolah belum pernah kita alami atau seperti sebuah mimpi saja. Oleh karena itu, hendaklah kita tidak merasa tenang dan bahagia dengan urusan dunia ini. Sebab, tidak ada manusia yang hidup selamanya di dunia ini.
Oleh karena itu, Ibnu 'Umar - Rodliallahu Anhuma - berkata:
“ Jika engkau berada di waktu pagi, maka jangan menunggu sore', karena bisa jadi Anda meninggal dunia sebelum tiba waktu sore. Jika engkau berada di waktu sore, maka jangan menunggu pagi', karena bisa jadi Anda meninggal sebelum tiba waktu pagi. Akan tetapi, manfaatkanlah kesempatan! Jangan menunda untuk beramal shalih! Jangan terlena dengan dunia sehingga Anda berangan-angan dengan sesuatu yang fana dalam keadaan lengah.
'Pergunakan waktu sehat-mu sebelum tiba waktu sakitmu dan pergunakan masa hidupmu sebelum tiba kematianmu,' yaitu manfaatkan waktu sehat, manfaatkan masa hidup ini! Sebab, di saat sakit maka akan melemah dirimu dan saat kematian telah menjemputmu maka terputuslah sudah semua upayamu." ((lihat : Syarh Riyaadhish Shaalihiin, penjelasan judul bab 55)

Kemudian kematian juga merupakan ujian Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- bagi orang-orang yang ditinggalkan oleh mayyit, apakah mereka bisa menjalankan petunjuk Rasulullah -Sholallahu Alaihi Wassalam- di dalam menghadapi hal tersebut sehingga akan men-dapatkan pahala yang agung dari Allah, ataukah mereka justru di saat tersebut melakukan pelanggaran-pelangga-ran terhadap syari'at sehingga tergolong ke dalam orang-orang yang dimurkai Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- .

"Dan sesungguhnya petunjuk Rasulullah dalam penyelenggaraan jenazah adalah petunjuk yang paling sempurna, menyelisihi segala cara dari umat-umat yang sebelumnya, meliputi ihsan kepada mayyit, memperlakukannya dengan hal-hal yang bermanfaat baginya di kuburnya dan di akhiratnya, mengandung ihsan kepada keluarga dan kerabatnya, dan mengandung ubudiyyah dari yang hidup kepada Allah Tabaraka wa Ta'ala dalam perlakuan mereka kepada mayyit." (Zaadul Ma'ad, 1/498)

TAR ahkamul janaiz WMMengurus jenazah merupakan perkara penting dalam peradaban manusia. Setiap manusia yang telah dijemput ajalnya harus dikuburkan. Jika tidak, niscaya akan mengganggu kenyamanan manusia lainnya yang masih hidup. Prosesi pengurusan jenazah diyakini sebagai suatu penghormatan kepada sosok manusia yang telah meninggal.

Terlebih lagi di dalam syari'at agama Islam ini. Prosesi mengurus jenazah setiap Muslim telah diatur sedemikian rupa secara teratur, rapi, dan lengkap. Hal ini bukan hanya sebagai bentuk penghormatan kepada jenazah Muslim tersebut, namun juga sebagai ladang amal bagi orang-orang turut serta di dalam prosesi pengurusan jenazah tersebut; mulai saat hadir di rumah duka, menshalatinya, mengusungnya ke pemakaman, hingga turut mengubur-kannya. Bahkan ketika jenazah telah dikubur pun, kaum Muslimin masih bisa mengambil ibrah (pelajaran) darinya.

Akan tetapi, semakin jauhnya kaum Muslimin dari para ulama dan ilmu-ilmu mereka menjadikan prosesi pengurusan jenazah semakin rumit, memberatkan, bahkan menakutkan. Hal ini disebabkan prosesi tersebut banyak dibumbui kebathilan, khurafat, dan bid'ah. Oleh karena itu, kaum Muslimin sangat butuh terhadap ilmu mengenai tata-cara pengurusan jenazah beserta hukum-hukumnya. Semoga dengan itu, prosesi mengurus jenazah benar-benar menjadi salah satu syiar Islam yang mudah, tertib, lengkap, dan sakral.

Buku ini disusun dari tulisan, fatwa, dan pelajaran dari tiga ulama besar abad ini, yaitu Syaikhul Imam 'Abdul 'Aziz bin 'Abdillah bin Baaz,Syaikhul Mujaddid Muhammad Nashiruddin Al-Albani dan Syaikhul' Allamah Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin - rahimahumullah-

Detail Info Buku
Bahasa Indonesia
Format Cover Hardcover
Judul Buku Ahkamul Janaaiz : Panduan Mengurus Jenazah
Jumlah Halaman 420 hlm
Penerbit / Publisher Media Tarbiyah
Penulis Syaikh Abdul Aziz bin Baaz, Syaikh Al Albani, Syaikh Al Utsaimin
Ukuran Fisik Buku Buku Ukuran Sedang 16 x 24.5 cm