• Hotline: (+62) 819.2469.325
Kategori Buku
Pustaka As-Sunnah Fatwa Penting Sehari-Hari : Ensiklopedi Fatwa Al Albani penyusun : Syaikh mahmud Ahmad Rasyid dan Syaikh Abu Sanad Muhammad ;Penerbit : Pustaka As Sunnah .. Product #: ASN-00028 Regular price: Rp 185.000 Rp 185.000

Fatwa Penting Sehari-Hari : Ensiklopedi Fatwa Al Albani

Harga: Rp 185.000  Rp 148.000

- +

Al Fiqh fi Ad-Diin (pemahaman dalam agama) dan kebutuhan umat ini terhadap keberadaannya sangatlah penting, di samping kebutuhannya terhadap makan dan minum. Sebuah hadits yang diriwayatkan dari Mu'awiyah -rodliallohu anhu- , bahwa Nabi Sholallahu Alaihi Wassalam bersabda : "Barangsiapa yang Allah menghendaki kebaikan baginya, niscaya Allah akan pahamkan baginya (urusan) agama." [HR. Bukhari (I/24) dan Muslim (11/718)]
Dalam 'samudera' perbedaan pendapat, 'al 'Ashabiyah al- Madzabiyah' (fanatik mazhab), serta banyaknya ucapan qiila wa qaala (katanya dan katanya.), dan benarlah apa yang disabdakan Rasulullah Sholallahu Alaihi Wassalam tentang kita:
"Sesungguhnya Alloh Tabarraka Wa Ta'ala tidak mengambil ilmu dengan mencabut dari hamba, tetapi Allah mengambil ilmu dengan diwafatkanya para ulama hingga tidak tersisa seorang alim-pun. Lalu mereka mengambil orang-Orang yang bodoh sebagai pemimpin mereka, mereka bertanya dan mereka memberikan fatwa tanpa ilmu. Mereka sesat dan menyesatkan." [HR. Bukhari (I/100) dan Muslim (IV/2058)]
Al-Fiqh fi ad'Diin (pemahaman dalam agama) haruslah berpijak pada dalil sebelum pendapat orang, hidayah sebelum hawa nafsu, dan itiba' sebelum pikiran dan akal. Bila tidak, niscaya hukum syar'i akan hilang. Sementara di lain sisi Alloh Tabarraka Wa Ta'ala disembah berdasarkan kebodohan yang membuat manusia terperosok kedalam perselisihan dan bid'ah terutama aqidah dan ibadah mereka.
Ketahuilah, bahwa al-Fiqh ad-Diin tidak dapat diperoleh kecuali bagi orang yang diberi karunia oleh Allah berupa pemahaman yang baik, niat yang shalih, serta ilmu yang bermanfaat. Hal ini akan mengarahkan pada diterimanya amal dan terbebas dari taqlid buta.
Bersamaan dengan ash-Shahwah Al-Mubarakah (kesadaran yang penuh berkah) dan kesadaraan keilmuan yang bergerak dari hari ke hari. Bahkan pertambahan ini dapat dilihat dari sambutan individu-individu umat ini untuk mencari ilmu, didorong kesadaran mereka, bahwa generasi umat ini tidak akan membaik terkecuali dengan hal-hal yang telah membuat baik generasi yang lalu.
Tiada jalan yang dapat mengantarkan mereka kecuali dengan mencari ilmu dan berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkannya. Oleh karena itulah, buku ini sebagai usaha mendekatkan ilmu kepada pencarinya dan sebagai arahan bagi pecintanya. Buku ini mengumpulkan permasalahan-permasalahan fiqh yang dipilih dan dirajihkan oleh Syaikh al-Albani -rahimahullah- . Buku ini merupakan kumpulan pendapat-pendapat yang dipilih dan dirajihkan oleh asy-Syaikh Muhammad Nashirudin al-Albani -rahimahullah- dari sela-sela tulisan-tulisan dan buku-bukunya yang sudah banyak tersebar dikalangan kaum muslimin dan thalabul 'ilmi.
Syaikh al-Albani -rahimahullah- adalah orang yang gemar mencari kebenaran dan seorang peneliti dalil-dalil, ia sangat jauh dari sifat fanatik, taqlid, bertek-tele atau meremehkan orang-orang yang tidak sependapat dengannya. Bahkan Albani termasuk orang yang sangat hati-hati terhadap para pendukung akal. Albani juga termasuk orang yang gemar mendakwahkan untuk mengikuti sunnah. Beliau juga sangat hati-hati dari pendapat-pendapat yang nyleneh atau dibuat-buat dan menyimpang dari ijtihad ahlu 'ilmi dari kalangan salafush shalih.
Tidak diragukan lagi, bahwa ini merupakan perpanjangan tangan dari 'madrasah' keilmuan yang berusaha melempar jiwa taqlid dan mendahulukan dalil daripada pendapat-pendapat kebanyakan orang. 'Madrasah' inilah yang telah menjadi peta perjalanan dan pembelajaran Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah -rahimahullah- , yang kemudian bendera ini dibawa oleh muridnya yang cerdas: Ibnu al-Qayyim al-Jauziyah -rahimahullah- . Dan empat imam sebelum mereka telah berperan dalam 'masalah' ini. Mereka telah sepakat atas kewajiban berpegang teguh pada sunnah dan kembali kepadanya, serta meninggalkan semua pendapat yang menyelisihinya walaupun yang berpendapat adalah orang besar.
Oleh karenanya, Syaikh al-Albani -rahimahullah- memilih pendapat dan merajihkannya, walaupun menyelisihi pendapat mereka. Tetapi terkadang pendapatnya bersesuaian dengan salah satu mazhab, atau bisa juga sesuai dengan Syaikhul Islam atau mungkin kadangkala sesuai dengan pendapat Ibnu Hazm. Hal ini bukan suatu kehinaan atau aib. Kebenaran adalah yang lebih berhak untuk diikuti dan sunnah lebih berhak untuk dipegang.
Secara langsung hal ini tidak menjadikan Syaikh al-Albani -rahimahullah- terikat oleh satu mazhab tertentu, sebagaimana sikap ahli hadits yang lain. Alangkah indahnya ungkapan seorang penyair :

Ahlu ilmi adalah ahlu Nabi
Walaupun mereka tidak bersama Nabi,
tapi nafas mereka senantiasa menyertai Nabi

Telah ada yang menuduh, bahwa Syaikh al-Albani -rahimahullah- bukan seorang ahli fiqh melainkan beliau adalah ahli hadits. Apabila orang yang mengada-ngada ini mengetahui perkataannya ini, niscaya ia akan tahu, bahwa hal ini hanya kekeliruan, sebab ahli hadits-lah yang paling dekat dengan nilai-nilai kemasyarakatan, karena hal ini dilatari pengetahuan mereka tentang kondisi Rasulullah Sholallahu Alaihi Wassalam dari segi imam ahlu sunnah wal jamaah. Hal ini supaya anda menjadi jelas, bahwa tuduhan semacam ini hanya watak kepuasan orang-orang yang dengki. seperti sebuah syair :" Semua orang melempari bintang, Sesungguhnya lemparan tersebut tidaklah sampai ke bintang"
Syaikh al-Albani -rahimahullah- telah mengomentari masalah ini saat ditanya apa hubungannya antara ilmu fiqh dan ilmu hadits? Apakah seorang ahli hadits harus menjadi ahli fiqh atau ia cukup menjadi ahli hadits saja?
Syaikh al-Albani -rahimahullah- menjawab :
"Seorang ahli fiqh haruslah ahli hadits, dan seorang ahli hadits tidak harus menjadi ahli fiqh, sebab secara langsung seorang ahli hadits adalah ahli fiqh.
Apakah para sahabat Nabi -rodliallohu anhum- pernah belajar fiqh atau tidak?
Apakah fiqh yang mereka pelajari adalah apa yang mereka peroleh dari Rasulullah Sholallahu Alaihi Wassalam ( yaitu : hadits) ?
Jadi mereka mempelajari hadits. Adapun ahli fiqh adalah mereka yang mempelajari pendapat-pendapat ulama fiqh serta tidak mempelajari hadits Nabi yang merupakan sumber fiqh. Hendaknya dikatakan kepada mereka : Kalian wajib mempelajari ilmu hadits. Sebab kita tidak bisa membayangkan seorang ahli fiqh yang tidak mengetahui hadits baik dari sisi hafalan, yang shahih dan yang dhaif. Pada saat yang sama kita tidak bisa membayangkan seorang ahli hadits, tapi bukan ahli fiqh. Al-Qur'an dan as-Sunnah adalah sumber dari setiap masalah fiqh.
Adapun fiqh yang ada sekarang adalah 'fiqh ulama' bukan fiqh al-Qur'an dan as-Sunnah. Benar, sebagiannya ada di dalam al-Qur'an dan as-Sunnah, dan sebagian yang.lain berupa pendapat-pendapat dan ijtihad, namun mayoritas pendapat ini menyalahi hadits , sebab mereka tidak mempunyai ilmunya.."[Al-Manhaj as-Salafi, oleh syaikh al-Albani hal.60 ]
Dikarenakan Syaikh al-Albani -rahimahullah- memiliki pendapat yang berubah sebagian kecil permasalahan fiqh, dalam buku iniberusaha untuk menjelaskan pendapat beliau yang lain dalam satu permasalahan atau sebutkan pendapatnya yang dahulu dan pendapat yang terakhir.
Demikianlah pendapat ahli ilmu, yang merupakan keistimewaan mereka. Apabila ijtihad mereka berubah, maka pada waktu yang merupakan dalil atas dua hal:
1. Luasnya pentelaahan dan pembahasan serta bertambahnya ilmu
2. Taqwa dan "Amanah Ilmiyah'
Dan karena kebenaran telah nampak baginya di waktu lain yang belum ia lihat sebelumnya, maka ia akan diberi pahala baik yang dahulu atau yang datang kemudian. Syaikh al-AIbani -rahimahullah- mengungkapkan dalam muqoddimah kitab 'adh-Dhaifah' Cetakan baru jilid pertama hal. 2-4:
"Dikarenakan tabiat manusia yang telah diciptakan oleh Allah mempunyai sifat lemah keilmuan yang ditunjukkan dalam firman Allah yang artinya : "Dan mereka tidak mengetahui apa~apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendakiNya".[, QS.al-Baqarah: 255/ayat kursi]
maka sesuatu yang wajar sekali bila seorang pencari kebenaran tidak kaku pada pendapat atau ijtihadnya yang telah lalu, apabila terlihat kebenaran dikemudian hari. Oleh karena itu, kita sering mendapatkan dalam kitab-kitab terdapat beberapa pendapat yang saling bertentangan dari seorang imam berkaitan dengan sebuah hadits dan biografi perawi serta dalam masalah fiqh, terutama Imam Ahmad. Imam Syafi'i -rahimahumallah- juga memiliki keistimewaan dalam hal ini, dimana ia terkenal memiliki dua mazhab: qadim (yang lalu) dan jadid (yang baru). Oleh karena itulah pembaca yang mulia tidak perlu heran atas penarikan kembali disebagian pendapat dan hukum."
Metode dalam buku ini dalam penyusunan Ikhtiyarat ini adalah:
1. Pemaparan dalam bentuk permasalahan. Syaikh al-Albani telah mencantumkan permasalahan-permasalahan tersebut di dalam kitab-kitab nya, atau penyusunannya persis seperti pendapat pilihan yang telah dirajihkan oleh Syaikh al-Albani. Kemudian dinukil nash pendapat pilihan tersebut apa adanya. Adapun metode Syaikh al-Albani dalam menentukan pendapat pilihannya terkadang berpijak pada pemaparan dalil terlebih dahulu, lalu mengambil beberapa faedah dari dalil tersebut yang digunakan untuk menjelaskan tarjihannya, atau Syaikh al-Albani juga mencantumkan pendapat-pendapat yang dapat menguatkannya. Kemudian ditutup dengan pemilihan dalil yang sesuai dengan pendapatnya. Terkadang juga menukil kerajihan Syaikh al-Albani dengan menyebutkan dalil-dalilnya secara singkat. Dalam permasalahan yang sangat jarang sekali, terkadang dimenambahkan kalimat atau menyusun redaksi sesuai dengan apa yang ingin dirajihkan oleh Syaikh al-Albani. Namun demikian, hal tersebut dicantumkan dalam tanda kurung ( [ ] ).
2. Untuk memudahkan pembaca, juga mencantumkan pendapat-pendapat pilihan yang terkait dengan setiap pokok permasalahan.. Dan sbuku ini berupaya mengembalikan setiap pendapat tersebut kepada referensi Syaikh al-Albani. Hal ini berguna bagi yang ingin menambah pentelaahan terhadap pendapat Syaikh al-Albani -rahimahullah- .
3. buku ini mencantumkan daftar isi khusus berkaitan dengan setiap judul permasalahan di setiap bab. Hal ini supaya memudahkan pembaca bila ingin merujuk kepada suatu permasalahan tertentu, juga untuk mengetahui apa pendapat Syaikh al-Albani dalam masalah tersebut.

Inilah sebuah buku yang memuat ensiklopedi fatwa Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani -rahimahullah- yang telah menyuguhkan solusi tepat dan syar'i dari berbagai macam permasalahan mulai dari ibadah :thaharoh, sholat, Puasa, Muammalah, Zakat, haji, Nikah, Jihad, Doa Dzikir, Politik-hukum, Aqidah tauhid dan permasalahan Ilmiyyah Islamiyyah lainnya dengan dalil-dalil akurat dan shahih dari Al Qur'an dan As Sunnah tegak diatas pemahamman Salafush Shalih.

Detail Info Buku
Bahasa Indonesia
Format Cover hardcover
Judul Asli Taujihu As saari Likhtiyaraat Al Fiqhiyyah Li Asy Syaikh Al Albani
Judul Buku Fatwa Penting Sehari-Hari : Ensiklopedi Fatwa Al Albani
Jumlah Halaman 1008 hlm
Penerbit / Publisher Pustaka As Sunnah
Penyusun Syaikh mahmud Ahmad Rasyid dan Syaikh Abu Sanad Muhammad
Ukuran Fisik Buku buku ukuran sedang 15 x 23 cm