• Hotline: (+62) 819.2469.325
Kategori Buku
Pustaka As-Sunnah Ensiklopedi Zakat : Kumpulan Fatwa-Fatwa Zakat Kumpulan fatwa : Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin -rahimahullah-, Penerbit :Pustaka Sunnah .. Product #: ASN-00009 Regular price: Rp 167.500 Rp 167.500

Ensiklopedi Zakat : Kumpulan Fatwa-Fatwa Zakat

Harga: Rp 167.500  Rp 134.000

- +

Zakat menurut bahasa artinya bertambah dan berkembang. Setiap tu yang bertambah jumlahnya atau berkembang ukurannya dinamakan zakat. Adapun menurut syara' yaitu beribadah kepada Alloh Azza wa Jalla mengeluarkan bagian wajib secara syara' dari harta tertentu dan diberikan kepada sekelompok atau instansi (zakat) tertentu.
Sedangkan hubungan kedua makna tersebut (makna secara bahasa dan syara') yaitu bahwasanya zakat itu meskipun secara lahirnya mengurangi kuantitas harta, namun dari sisi pengaruh (atsar) justru akan bertambah keberkahan dan jumlahnya. Karena apabila manusia menunaikan apa yang telah diwajibkan Allah kepadanya dalam masalah hartanya, boleh jadi Allah akan membukakan pintu-pintu rezekinya yang tidak pernah terlintas dalam pikirannya.
Alloh Azza wa Jalla berfirman,yang artinya
"Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipatgandakan (pahalanya). " (Q.S. ar Ruum [30] : 39)
Alloh Azza wa Jalla juga berfirman, yang artinya:
"Katakanlah: Sesungguhnya Rabbku melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya). Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah pemberi rezeki yang sebaik-baiknya." (Q.S. Saba [34] : 39)
Kata "yukhlifuhu" (dalam surat Saba) maksudnya dengan zakat dan sedekah yang ia keluarkan maka dipastikan akan mendapatkan gantinya. Dan Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam telah bersabda, "Bersedekah itu tidak akan mengurangi harta. " [ HR Muslim 2588]
Ini dapat dibuktikan. Bahwasanya orang-orang yang diberi kekuatan untuk dapat rnenunaikan kewajibannya pada harta mereka, maka mendapatkan keberkahan pada harta yang dikeluarkannya dan yang tersisa pada mereka. Boleh jadi pintu rezeki yang dibukakan Allah bagi mereka di depan mata itu, disebabkan infak fi sabilillah yang mereka lakukan. Oleh sebab itu arti zakat menurut syara' erat kaitannya dengan maknanya secara bahasa dari sisi tumbuh dan berkembangnya harta tersebut.
Kemudian dalam zakat juga terkandung makna bertambah lainnya Yaitu bertambahnya keimanan dalam hati muzakki (orang yang berhak mengeluarkan zakat). Sebab zakat termasuk amal shalih, dan amal-amal shalih dapat menambah keimanan seseorang. Dan madzhab Ahlus Sunnah wal Jama' ah memandang bahwa amal shalih termasuk keimanan sedangkan keimanan bertambah seiring dengan penambahan amal serta berkurang seiring dengan penurunan amal. Zakat juga menambah kemuliaan akhlak manusia, sebab zakat itu memberi, sedangkan memberi menunjukkan kedermawanan dan kebaikan
Dan tidak diragukan lagi bahwa hal itu merupakan akhlak yang mulia lagi utama. Bahkan memiliki dampak yang kuat dalam melapangkan hati dan dada, menjadi cahaya jiwa dan ketenteramannya. Barangsiapa yang ingin membuktikannya, cobalah untuk berinfak, pasti dia akan mendapatkan dampak serta efek-efek positif yang dihasilkan infak ini. Apalagi jika infak ini termasuk infak wajib seperti zakat yang merupakan salah satu rukun Islam dan bangunannya yang agung yang selalu bcrgandengan dengan kata shalat yang tidak lain merupakan tiangnya Islam. Bahkan zakat bisa mengesankan posisi seseorang yang mencintai apa yang ada di sisi Allah 'Azza wa Jalla. Karena harta merupakan sesuatu yang amat dicintai, sedangkan memberikan sesuatu yang dicintai tidak mungkin bisa dilakukan kecuali dibarengi kecintaan kepada Dzat yang dicintainya yang diimani manusia. Dan sebaliknya Dzat yang dicintai-mu pun akan menyukai apa yang diperbuatnya.
Zakat merupakan salahsatu rukun Islam yang lima yang menjadi pilar bangunan Islam, sebagaimana sabda Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam " Islam dibangun diatas lima perkara; bersaksi bahwa tidak ada ilah/sesembahan yang patut disembah selain Allah dan bahwasanya Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam adalah utusan-Nya, mendirikan sholat, menunauikan zakat, puasa di bulan ramadhan dan berhaji ke baitullah al haram."[ HR Bukhari dan Muslim].
Berdasarkan ijma' (kesepakatan) kaum muslimin, zakat hukumnya wajib, barangsiapa yang mengingkari kewajibannya maka ia telah kafir. Kecuali orang tersebut baru masuk Islam, atau ia hidup di daerah yang jauh dari ilmu pengetahuan dan ahlinya. Orang seperti itu bisa dimaafkan, Namun ia harus diberi tahu, dan jika tetap saja dengan pengingkarannya walaupun sudah diberi penjelasan maka ia telah kafir dan murtad.
Adapun seandainya ia menolak disebabkan sikap bakhil dan menyepelekan, para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini. Di mereka ada yang berpendapat kafir. Ini merupakan salah satu pendapat yang diriwayatkan dari Imam Ahmad, Ada juga yang berpendapat tidak kafir. Dan ini pendapat yang benar. Meski demikian, Ia dianggap telah melakukan perbuatan dosa besar.
Sedangkan yang menjadi landasan dalil tidak kafirnya adalah hadits Abu Hurairah -rodliallohu anhu- yang berbunyi: Bahwasanya Nabi menyebutkan orang yang menahan zakat emas dan perak. Kemudian beliau "Sampai diputuskan perkara di antara para hamba-Nya, sehingga ia bisa melihat jalannya, apakah ke surga atau ke neraka."[HR Muslim, dalam Kitab Zakat], Sekiranya mungkin melihat jalannya ke surga, maka ia tidak kafir. orang kafir tidak akan melihat jalan ke surga.
Walaupun begitu, orang yang menahan zakat disebabkan kesombongan dan sikap menyepelekan ada dosa yang besar seperti yang disebutkan Alloh Azza wa Jalla dalam firman-Nya, "Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan." (Q.S. AH Imran [3] : 180)
Dan firman-Nya :
"Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, {bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih. Pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka Jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka, (lalu dikatakan) kepada mereka: Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu." (Q.S. at Taubah [9] : 34-35)
Maka dari itu, sudah selayaknyalah bagi setiap pribadi muslim untuk bersyukur kepada Allah akan nikmat harta yang telah dikaruniakan kepadanya dengan cara menunaikan kewajiban zakatnya sehingga Allah menambah keberkahan pada hartanya.
Inilah kitab yang memuat fatwa-fatwa fadlilatusy Syaikh Muhammad bin Shalih Al Usaimin -rahimahullah- yang berkaitan dengan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada beliau berkaitan dengan ibadah Zakat, dan permasalahan-permasalahan zakat kontenporer.

Detail Info Buku
Bahasa Indonesia
Format Cover Hardcover
Judul Asli Fatawa fi ahkami Az Zakat
Judul Buku Ensiklopedi Zakat : Kumpulan Fatwa-Fatwa Zakat
Jumlah Halaman 500 hlm
Penerbit / Publisher Pustaka As Sunnah
Penyusun kumpulan fatwa : Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin
Ukuran Fisik Buku Buku Ukuran Sedang 15.5 cm x 24 cm