• Hotline: (+62) 819.2469.325
Kategori Buku
Pustaka Ibnu Katsir Mulakhkhas Fiqhi : Panduan Fiqih Lengkap [ Jilid 1 ] Judul asli : Mulakhkhash Fiqhii;Penulis : Syaikh Prof DR Shaleh bin fauzan bin Abdulloh Al Fauzan;Fi.. Product #: PIK-0028-1 Regular price: Rp 156.000 Rp 156.000

Mulakhkhas Fiqhi : Panduan Fiqih Lengkap [ Jilid 1 ]

Harga: Rp 156.000  Rp 124.000

- +

Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala-  telah memberikan kenikmatan kepada umat Islam dengan agama yang diridhai-Nya, yaitu Islam, dan menjadikannya sebagai agama yang sempurna. Tidak ada satu perkara pun yang ditinggalkan oleh Islam, kecuali telah diterangkan dengan jelas pengetahuan tentangnya, baik itu menyangkut akidah, ibadah maupun muamalah.
Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala-  telah memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya untuk menuntut ilmu, agar dapat memahami agama ini dengan sebaik-baik-nya. Bahkan di saat jihad pun Allah memerintahkan kepada kaum muslimin agar ada di antara mereka yang tetap tinggal dan tidak ikut serta pergi berjihad, agar dapat menuntut ilmu dan mengajarkannya kepada saudara-saudaranya saat mereka pulang dari jihad. Ini semua menunjukkan pentingnya mempelajari agama ini dengan sebaik-baiknya.
Rasulullah -Sholallahu Alaihi Wassalam-  juga telah mengabarkan pada kita, bahwa di antara tanda kebaikan pada diri seseorang adalah ketika orang tersebut me¬mahami agama ini secara mendalam. Beliau juga mengabarkan bahwa seseorang akan menjadi mulia di sisi Allah dan di hadapan manusia, ketika ia memiliki ilmu dan mengamalkannya dengan sebaik-baiknya, demi meraih ridha Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- .
      Rasulullah -Sholallahu Alaihi Wassalam- di dalam banyak haditsnya telah menjelaskan, bahwa ibadah yang tidak didasari dengan pengetahuan yang benar, adalah kerugian yang besar bagi pelakunya. Karena di samping ibadah tersebut tertolak, pelakunya juga diancam dengan siksaan yang berat kelak di hari Kiamat.
Demikian pula halnya dengan ilmu yang diamalkan bukan karena Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- , kelak akan membawa pelakunya pada kesengsaraan di akhirat. Banyak sekali gambaran-gambaran mengerikan yang terjadi pada orang-orang yang perbuatannya menyelisihi ilmunya, atau perbuatan-nya tidak disertai dengan keikhlasan kepada Allah tH di hari Kiamat kelak. Seperti yang terjadi pada tiga orang yang telah diberikan ke-nikmatan oleh Allah berupa kemampuan membaca al-Quran dengan bagus, harta melimpah dan kesempatan untuk berjihad dijalan-Nya. Akan tetapi ketika mereka menyalahgunakan kenikmatan tersebut dan tidak melandasinya dengan keikhlasan semata karena Allah, maka Allah pun mengadzab mereka. Na'uudzubillaah.
    Kerusakan yang ada di muka bumi ini -dengan berbagai bentuk-nya- tidak lain karena minimnya pengetahuan umat manusia terhadap syari'at Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- . Mereka bahkan keluar dari aturan-aturan Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- , lalu dengan seenaknya melanggar rambu-rambu yang telah Allah tetapkan demi kemaslahatan mereka, hanya sekedar untuk memenuhi kepuasan hawa nafsu.
      Fenomena kesyirikan, kezhaliman, permusuhan, pemutusan tali silaturahim, kecurangan dalam bermuamalah, serta memakan harta anak yatim dengan zhalim dan berbagai macam kejahatan lainnya dalam kehidupan ini, merupakan realita nyata dari kerusakan yang diakibatkan oleh kebodohan umat manusia terhadap agama yang diridhai ini. Maka ketika umat ini ingin kembali kepada al-Qur-an dan as-Sunnah, mempelajari keduanya dengan benar dari mengembalikan seluruh perselisihan pendapat kepada keduanya, niscaya mereka akan menjadi umat yang beriman dan bertakwa kepada Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- . Karena keduanya merupakan modal utama dalam meraih kebahagiaan, ke-tentraman dan kemakmuran.
Sebagaimana yang telah Alloh janjikan dalam banyak ayat di dalam al-Quranul Karim.
Di antaranya adalah firman Alloh Azza Wa Jalla , yang artinya
"Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa , pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari la-ngit dan bumi. Akan tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya." (QS. Al-A'raaf: 96)
   Ketika sebagian umat ini menyadari akan pentingnya hal terse¬but, mulai dari keutamaan menuntut ilmu syar'i dan kedudukan orang yang berilmu di sisi Allah, hingga betapa ilmu memiliki pengaruh yang begitu besar dan dominan dalam memperbaiki umat manusia, di berbagai segi, maka mereka pun mengerahkan seluruh kemampuan untuk mencarinya, demi meraih pahala yang besar dan menumbuh-kan rasa takut kepada Allah. Di samping mereka mengamalkan ilmu tersebut dalam kehidupan sehari-hari, mereka juga mengajarkannya kepada umat. Maka berdirilah lembaga-lembaga pendidikan dan halaqah-halaqab (kajian-kajian) ilmiah yang mengajarkan ilmu-ilmu keislaman di dalamnya. Tidak hanya sebatas itu saja, mereka juga mengarang buku-buku dalam berbagai disiplin ilmu syari'at, seperti Aqidah, Tafsir, Hadits, Fiqih (hukum), Ushul Fiqih, dan lain-lain, demi mengeluarkan manusia dari gelapnya kebodohan dan kekufuran menuju terangnya ilmu pengetahuan dan Islam.
   Inilah buku yang akan memandu kaum muslimin mengenal ajaran yang berkaitan dengan Ibadah seorang muslim terhada Rabb nya . Kitab  'Mulakhkhas Fiqhi', yang berarti “Fiqih Ringkas', buku ini membahas masalah-masalah fiqih secara ringkas dan praktis. Namun demikian, bukan berarti buku ini tidak berbobot. Bagaimana tidak, karena pada asalnya buku ini adalah ringkasan dari kitab: ar-Raudh al-Murbi' Syarah Zaad al-Mustaqni yang sangat populer itu. Yang menjadi kelebihan buku ini adalah, walaupun masalah-masalah fiqih dibahas secara ringkas di sini, akan tetapi pada dasarnya itulah inti dari ilmu fiqih yang kadang dibahas dengan panjang lebar oleh para ulama fiqih. Bagi kalangan awam yang bukan ahli di bidang fiqih, untuk membaca kitab-kitab fiqih
yang sangat luas pembahasanya tersebut sangatlah melelahkan dan membuat jenuh.
Karenanya, buku ini sangatlah tepat untuk kaum muslimin yang ingin mempelajari ilmu fiqih dan mendalaminya dengan berbagai kesibukan yang mereka miliki. Buku ini juga sangat penting bagi para da'i sebagai materi yang mereka sampaikan dalam kajian-kajian fiqih. Mengingat di masa sekarang ini menuntut penjelasan masalah agama secara ringkas tapi padat.
      Mengenai keilmiahan kitab ini, tidak perlu diragukan lagi, mengingat nama penulis yang sudah tidak asing lagi bagi kita. Di mana beliau adalah salah seorang ulama besar abad ini dan merupakan ang-gota Lembaga Ulama-Ulama Besar Arab Saudi, serta anggota Komisi Tetap Fatwa Saudia Arabia, yang hanya beranggotakan empat orang ulama terbesar.
     Di samping itu, pada setiap pembahasan dalam kitab ini, penulis selalu menyebutkan dalil-dalil dari al-Qur-an dan as-Sunnah yang shahihah, kecuali beberapa hadits saja yang kami dapati didha'ifkan oleh Syaikh al-Albani dan Syaikh Syu'aib al-Arna-uth. Dan ini tidak mengurangi kredibilitas penulis dan kualitas buku ini. Sebab itu merupakan hal yang sangat wajar dan manusiawi. Karena setiap orang, apakah dia ulama yang paling berilmu sekalipun, pasti memiliki kekurangan dan kesalahan. Bahkan para ulama dari kalangan Salaf tidak sedikit di antara mereka yang kita dapati menyebutkan hadits dha'if di dalam buku-buku karya mereka, tanpa mereka sengaja. Dan hal tersebut tidak serta merta mengurangi kredibilitas yang bersangkutan dan kualitas karya mereka.
Karenanya, buku terjamah ini secara utuh sesuai de¬ngan naskah aslinya, tanpa ada sedikit pun bagian dari naskah asli dibuang. Hal ini untuk menjaga keasliannya dan sebagai wujud amanat ilmiah yang harus di jaga.
Adapun langkah-langkah lain untuk menambah keilmiahan, serta untuk memberikan kemudahan kepada pembaca buku ini adalah:
1.   Mencantumkan penomoran ayat-ayat dan surat, yang banyak disebutkan dalam banyak pembahasan dalam kitab ini.
2.   menyertakan nomor bab dalam setiap hadits yang terdapat dalam kitab ini. Hal inidilakukan karena beberapa alasan, di antaranya :
Terkadang penulis menyebutkan dalam takhrij hadits nama atau nomor bab, di mana hadits tersebut berada. Namun terkadang juga beliau meninggalkannya.
Setelah  di teliti ternyata penomoran bab yang beliau cantumkan berbeda-beda. Terkadang untuk hadits dari perawi yang sama, beliau menggunakan penomoran al-Mu'jam al-Mu-fahras li alfazh al-Hadits untuk penomoran babnya, terkadang juga menggunakan penomoran Tuhfah al-Asyraf. Hal ini dipandang akan menyulitkan pembaca yang ingin merujuk kembali hadits-hadits tersebut dalam kitab aslinya.
Dalam rangka mempermudah pembaca yang ingin merujukkan kembali hadits yang terdapat dalam kitab ini kepada kitab aslinya, disini disebutkan penomoran bab di belakang setiap hadits, yang mana seluruh bab yang dipakai dalam kitab ini adalah berdasarkan penomoran al-Mu'jam al-Mufahras li alfazh al-Hadits, kecuali hadits-hadits yang diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi, digunakan penomoran Tuhfah al-Asyraf. Karena penomoran ini yang didapatkan pada kitab-kitab rujukan untuk Sunan at-Tirmidzi.
-    Setelah diteliti dengan merujuk kepada beberapa kitab rujukan dari beberapa penerbit yang berbeda, didapati bahwa penomoran hadits berbeda-beda antara satu penerbit dengan yang lainnya. Akan tetapi penomoran babnya sama..
2.    Berusaha men-takhrij semua hadits yang terdapat di dalam buku ini. Dalam hal ini merujuk kepada karya-karya Syaikh al-Albani dalam menilai derajat suatu hadits yang terdapat dalam buku ini.
3.   Hadits-hadits yang pengesahannya tidak terdapat dalam buku-buku Syaikh al-Albani tersebut,rujukkan kepada kitab aslinya yang disertai dengan pengesahan hadits dari ahli hadits terkemuka. Sebagai contoh, hadits-hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan ad-Daruquthni yang pengesahannya ti¬dak terdapat dalam kitab-kitab Syaikh al-Albani, dirujukkan kepada kitab Musnad al-Imam Ahmad bin Hanbal dan Sunan ad-Daruquthni yang keduanya di-takhrij oleh Syaikh Syu'aib al-Arnauth.
4.   Adapun atsar (riwayat selain hadits Nabi), tidak di-takhrij. Dibiarkan sebagaimana yang terdapat pada naskah aslinya.
5. Dalam melakukan takhrij hadits yang diletakkan dalam footnote, buku ini mengawali keterangannya dengan menyebutkan derajat hadits, seperti shahih, hasan atau dha'if. Hal ini untuk memudahkan pembaca agar dapat langsung mengetahui derajat hadits tersebut. Adapun jika hadits tersebut diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari atau Imam Muslim atau diriwayatkan oleh sekelompok perawi hadits di mana al-Bukhari dan Muslim ada di dalamnya, maka tidak mencantumkan derajat hadits tersebut, karena ulama-ulama Ahlus Sunnah telah sepakat atas keshahihannya.
6.   Untuk memudahkan pembaca dalam mencari hadits dari sumbernya, maka setiap hadits dicantumkan dengan nomornya. Penomoran tersebut disesuaikan dengan kitab-kitab hadits yang kami miliki. Adapun perinciannya sebagai berikut:
a.    Al-Bukhari berdasarkan penomoran kitab Muhammad Fuad Abdul Baqi.
 b.   Abu Dawud berdasarkan penomoran penerbit Dar as-Sahnun.
c.    At-Tirmidzi berdasarkan penomoran Syaikh Ahmad Syakir.
d.   An-Nasa-i berdasarkan penomoran Maktabah Tahqiq at-Turats al-Islami.
e.    Ibnu Majah berdasarkan penomoran Muhammad Fuad Abdul Baqi.
f. Mengenai riwayat Imam Ahmad, perlu diketahui bahwa tim penyusun kitab asli mencantumkan penomoran berdasar¬kan cetakan al-Maimaniyyah, sebelum di-takhrij oleh Syaikh Syu'aib al-Arnauth dan kawan-kawan.
h.   Khusus hadits riwayat Muslim, kami menggunakan dua nomor sekaligus, yaitu penomoran Muhammad Fuad' Abdul Baqi, dan penomoran yang dikeluarkan oleh Tim Dar as-Salam, di bawah pengawasan Syaikh Shaleh bin 'Abdil 'Aziz Alu Syaikh. Di mana dietakkan dalam dua tanda kurung: (no. Muhammad Fuad (no. tim Dar-As-Salam..)). Hal ini dilakukan karena terkadang penulis menyebutkan dua versi nomor tersebut secara bergantian. Sehingga dalam pandangan kami akan menyulitkan pembaca yang ingin merujuk kembali kepada kitab aslinya.
i.    Jika sumber pengesahan sebuah hadits (baik shahih maupun dha'if) terdapat dalam banyak kitab-kitab karya Syaikh al-Albani -rahimahulloh- , maka mencukupkan dengan mencantumkan satu atau dua sumber saja.
Dan masih ada bebrpa keunggulan lain dari edisi terjemah kitab Mulakhas Fiqhi cetakan pustaka mibnu katsir ini.

Mulakhkhas Fiqhi : panduan Fiqih Lengkap [ Jilid 1]
Judul asli : Mulakhkhash Fiqhii
Penulis : Syaikh Prof DR Shaleh bin fauzan bin Abdulloh Al Fauzan
Fisik : buku ukuran sedang 16 x 24 cm, hardcover, 742 halaman
Penerbit : Pustaka Ibnu katsir