• Hotline: (+62) 819.2469.325
Kategori Buku
Pustaka Al Furqon Bid'ah-kah Ilmu Hisab ?! Penulis : Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif Abu Yusuf Fisik : Buku ukuran sedang 14.5x20.5 cm, Softcover,.. Product #: PAF-0002 Regular price: Rp 40.000 Rp 40.000

Bid'ah-kah Ilmu Hisab ?!

Harga: Rp 40.000

- +

Di antara kenikmatan agung yang Alloh anugerahkan kepada kaum muslimin adalah sempurnanya agama Islam. Alloh Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. (QS. al-Maidah: 3)
Tidak ada satu perkara pun yang mendekatkan diri mereka kepada Alloh dan menjauhkan mereka dari murka-Nya kecuali telah Alloh jelaskan dengan gamblang dan jelas.
Dari Abu Dzar -Rodliallahu Anhu- berkata: "Kita ditinggalkan Rosululloh dan tidak ada satu burung pun yang mengepakkan kedua sayapnya di angkasa melainkan beliau telah menyampaikan kepada kami ilmunya. Dan Rosululloh pun bersabda: 'Tidak tersisa sesuatu pun yang mendekatkan ke surga dan menjauhkan dari neraka melainkan telah dijelaskan pada kalian.' " (HR. Thobroni dalam Mu'jam Kabir: 1647 dengan sanad shohih)
Demikian juga, tidak ada satu pun dari hukum syariat baik yang berlaku pada masa Rosululloh masih hidup atau pun sepeninggal beliau sampai nanti hari kiamat kecuali pasti ditemukan jawabannya dalam al-Qur'an maupun as-sunnah, baik secara tegas atau pun secara isyarat, keumuman dalil serta illat hukum.
Sebagai contoh mudah, perhatikan firman Alloh:
Dan (Dia telah menciptakan) kuda, bagal (peranakan kuda dengan keledai) dan keledai, agar kamu menungganginya dan(menjadikannya) perhiasan. Dan Allah menciptakan apa yang kamu tidak mengetahuinya. (QS. an-Nahl: 8)
Di sini dengan tegas Alloh menyampaikan kepada kita bahwa Dia akan menciptakan apa yang tidak diketahui oleh para sahabat.
Para sahabat yang hidup di zaman Rosululloh tidak mengetahui kondisi hidup di kutub selatan atau utara, yang mana peredaran matahari (yang normalnya dari terbit sampai terbit lagi berkisar 24 jam) di daerah ini tidak seperti pada daerah lainnya. Lalu bagaimana dengan waktu sholatnya? Ternyata hal ini telah dijawab oleh beliau dengan isyarat pada hadits Dajjal, di mana beliau -Sholallahu Alaihi Wassalam- bersabda tentang waktu hidup Dajjal di muka bumi: "Empat puluh hari, satu hari seperti satu tahun, hari berikut-nya seperti satu bulan, hari berikutnya seperti satu pekan dan lainnya seperti hari-hari biasa." Para sahabat bertanya: "Wa-hai Rosululloh, satu hari yang seperti satu tahun, apakah boleh kita sholat seperti satu hari saja?" Maka Rosululloh menjawab: "Tidak, namun perkirakanlah ukurannya." (HR. Muslim)
Rokok tidak pernah dikenal manusia pada zaman Rosululloh, namun hukum menghisap rokok sangat gamblang akan keharaman-nya berdasarkan keumuman dalil al-Qur'an dan as-sunnah. Alloh Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan. (QS. al-Baqoroh: 195)
Rosullulloh Sholallahu Alaihi Wassalam bersabda,
"Tidak boleh berbuat sesuatu yang membahayakan (baik terhadap diri sendiri maupun orang lain)." (HR. Ibnu Majah 2/784, Baihaqi 10/133, Ahmad 1/313, Daruquthni 4/228, Hakim 2/57 dan beliau mengatakan shohih menurut syarat Imam Bukhori-Muslim dan disepakati oleh Imam Dzahabi)
Kalau masih ada yang ngeyel (bersikeras) berkata: "Itu 'kan relatif, berbeda antara satu orang dengan lainnya?"
Kami katakan: Serahkan semua masalah kepada ahlinya, sehingga tidak asal bicara. Bukankah semua dokter dan ahli kesehatan dunia- muslim maupun kafir- sepakat mengatakan bahwa rokok itu berbahaya? Bahkan di bungkus dan iklan rokok wajib ditulis: "Merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi, dan gangguan kehamilan dan janin."
Alangkah bagusnya apa yang diceritakan oleh Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin -rahimahulloh- :
Suatu ketika Syaikh Muhammad Abduh sedang berada di Inggris. Saat itu beliau sedang makan,di sebuah rumah makan.si sebuah rumah makan, ternyata disisinya ada seorang pendeta kristen dan dia bertanya kepada bertanya kepada Syaikh: "Dalam al-Qur'an disebutkan:
Dan Kami turunkan al-Qur'an kepadamu untuk menjelaskan segala sesuatu. (QS. An-Nahl [16]: 89)
Sekarang saya bertanya, apakah dalam al-Qur'an diterangkan bagaimana caranya membuat makanan ini?"
Maka Syaikh (Muhammad Abduh) menjawab: "Ya, hal ini diterangkan dalam al-Qur'an."
Pendeta Kristen dengan setengah bengong berkata: "Di ayat mana?"
Maka Syaikh memanggil pelayan rumah makan dan bertanya: "Bagaimana cara membuat makanan ini?" Pelayan tadi menjelaskan secara terperinci. Setelah selesai, Syaikh berkata kepada pendeta: "Begitulah caranya sebagaimana yang terdapat dalam al-Qur'an."

Pendeta tadi tambah bengong lagi, lalu Syaikh berkata: "Begitulah Alloh memerintahkan, Dia berfirman:
Maka bertanyalah kepada ahlu dzikr (orang yang mengetahui) jika kalian tidak mengetahui. (QS. an-Nahl: 43)
Dan orang yang mengetahui cara membuat makanan ini adalah pelayan tadi."
Subhanalloh. Maha suci Alloh yang telah menyempurnakan agama Islam yang mulia ini. Oleh karena itu, tidak ada satu pun masalah kontemporer kecuali telah dijawab oleh para ulama dengan jelas sekali, bersandarkan al-Qur'an dan as-sunnah meskipun kejadian tersebut belum pernah ada pada zaman turunnya wahyu.
Demikian juga, merupakan sesuatu yang wajib dilakukan oleh setiap insan ialah beriman bahwa Alloh mengetahui apa yang telah, sedang, dan akan terjadi sebelum kejadiannya. Alloh sangat mengetahui bahwa nantinya dunia ini akan mengalami perkembangan pesat di segala bidang terutama ilmu sains dan teknologi, di antaranya ilmu astronomi perbintangan. Maka saat Alloh menyatakan bahwa agama Islam ini telah sempurna yang mampu menjawab segala permasalahan agama sampai nanti hari kiamat, maka ini berkonsekuensi tidak bolehnya keluar dari ketentuan syar'i dengan dalih perubahan (perkembangan) zaman, kalau hal ini berhubungan dengan sesuatu yang sudah paten.
Hal ini sehubungan dengan sebuah polemik yang hampir tiap tahun berulang, terutama saat akan datangnya bulan-bulan ibadah, yaitu: Romadhon, Syawwal, dan Dzulhijjah. Polemik ini berawal dari dari adanya sebagian kaum muslimin yang jauh-jauh hari sudah menetapkan datangnya bulan Romadhon, Idul Fithri maupun Idul Adhha dengan menggunakan dasar ilmu hisab astronomi, sementara sebagian lainnya berpegang pada patokan rukyatul hilal atau ikmal. Akibatnya, seringkali hal ini menimbulkan perbedaan yang dari sinilah polemik tersebut muncul.
Masalah ini sering kali menimbulkan gesekan di kalangan bawah, meskipun kalangan teras kaum muslimin mencoba untuk menetralisir suasana dengan memunculkan slogan klasik "perbedaan umat Islam adalah rohmat".1 Namun ternyata itu pun tidak banyak menolong.
Masalah ini semakin rumit pada saat Idul Adhha, karena tidak hanya berhubungan dengan rukyah dan hisab, namun juga berkaitan dengan manasik haji yang berada di Arab Saudi. Sehingga sebagian berpegang harus mengikuti Saudi, sebagian berpegang pada rukyah Indonesia, dan sebagian lainnya menggunakan pedoman hisab.
Seandainya semua ini hanya sebatas wacana pemikiran serta dilakukan dengan dialog ilmiah, niscaya masalahnya akan mending dan insya Alloh hanya akan berkisar pada kalangan tertentu. Namun ter-nyata-wal 'iyadzu billah-banyak yang menjadikan ini sebagai tolok ukur wala' wal baro' (cinta dan benci). Bahkan di sebuah kampung nun jauh dari perkotaan ada yang mengeluarkan dan memecat seo-rang da'i dan tidak menerimanya lagi. Tatkala dikonfirmasikan, ter-nyata salah satu sebabnya adalah karena da'i tersebut berhari raya pada hari itu dan tidak berhari raya pada hari ini. Subhanalloh Wallohul Musta'an.
Inilah buku yang memberikan secercah wacana ilmiyah dalam kaitannya masalah Hilal dan Hisab.

sebagian pembahasan :
Bab Ke-1 Sekilas Tentang Rukyatul Hilal, Ikmal, dan Hisab.
A. Rukyatul Hilal.
B. Ikmal.
C. Ilmu Hisab
1. Sejarah dan Perkembangan Ilmu Hisab
2. Jenis Ilmu Hisab.
3. Sistem-Sistem Dalam Ilmu Hisab
4. Hukum Mempelajari Ilmu Hisab

Bab Ke-2 Tanda Awal dan Akhir Bulan Hijriyyah
A. Tanda Awal dan Akhir Semua Bulan Sama
B. Tanda Awal dan Akhir Bulan
1. Rukyatul Hilal
C. Bolehkah Berpedoman Pada Ilmu Hisab?

Bab Ke-3 Kewajiban Berpegang Pada Rukyatul Hilal
A. Dalil aI-Qur'an
B. Dalil as-Sunnah
C. Ijma' ParaUlama
D. Dalil lain
E. Perkataan Ulama Seputar Masalah Ini

Bab Ke-4 Bersama Para Penganut Madzhab Hisab
A. Madzhab Ahli Hisab
B. Dalil Madzhab Hisab dan Diskusi Ilmiyah Terhadapnya
1. Dalil Hisab Pertama: Pergerakan matahari dan bulan
2.Dalil Hisab Kedua: Yang penting mengetahui awal masuk
3.Dalil Hisab Ketiga: Kaum muslimin pada zaman Rosul tidak mengenal ilmu hisab
4.Dalil Hisab Keempat: Rosululloh memerintahkan untuk memperkirakan dg hisab
5. Dalil Hisab Kelima: Rukyat ilmiyyah
6. Dalil Hisab Keenam: Ilmu hisab qoth'i dan tidak akan salah.
7. Dalil Hisab Ketujuh: Tidak ada ijma' ulama dalam masalah ini
8. Dalil Hisab Kedelapan: Maslahah mursalah
9. Dalil Hisab Kesembilan: Kias dengan waktu sholat
10. Dalil Hisab Kesepuluh: Qiyas dengan kondisi orang yang tertahan di penjara bawah tanah
11. Dalil Hisab Kesebelas: Rukyah hanya wasilah saja

Bab Ke-5 Permasalahan Seputar Rukyat
A. Rukyat Fardhu Kifayah
B. Berapa Orang yang Merukyat?
C. Wajib Teliti Dalam Rukyah
D. Rukyah Hilal Dengan Teropong Bintang
E. Besar Kecilnya Hilal Tidak Berpengaruh Pada Hasil Rukyah
F. Bila Persaksian Rukyat Ditolak Oleh Pemerintah
G. Bila Hilal Kelihatan di Satu Negara, Wajibkah Bagi Negara LainnyaMengikutinya?

Bab Ke-6 Puasa dan Hari Raya Bersama Pemerintah
A. Kewajiban Taat Kepada Pemerintah
B. Mengapa Harus Mengikuti Pemerintah?
C. Bagaimana Dengan Idul Addha?
D. Bila Pemerintah Salah

Bab Ke-7 Kalender Islam Internasional
A. Urgensi Kalender Dalam Peradaban Umat Manusia
B. Hanya untuk Keperluan Administrasi Bukan untuk Menetapkan Ibadah
C. Kalender Dunia
D. Hukum Menggunakan Kalender Masehi (Gregorian).

Bab Ke-8 Hukum yang Berhubungan Dengan Bulan dan Hari Syar'i.
A. Hukum yang berhubungan dengan bulan Syar'i
B. Hukum yang berhubungan dengan hari Syar'i

Bab Ke-9 Menuju Titik Temu
A. Haruskah Hisab dan Rukyat Dipertentangkan?
B. Bila Ilmu Hisab dan Rukyat Hilal 'Terpaksa' Bertentangan
C. Pegang Erat Persatuan, Singkirkan Pertikaian
Pertama: Kesimpulan
Kedua: Nasihat

Bid'ahkah Ilmu Hisab ?!
Penulis : Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif Abu Yusuf
Fisik : Buku ukuran sedang 14.5x20.5 cm, Softcover,288 hal
Penerbit : Pustaka Al Furqon