• Hotline: (+62) 819.2469.325
Kategori Buku
Media Tarbiyah Sifat Puasa Nabi [ Kompilasi 3 Ulama ] penulis: Syaikh Al Albani, Abdul Aziz bin Baaz, AL Utsaimin -rahimakumulloh- fisik: buku ukuran seda.. Product #: TAR-0010 Regular price: Rp 32.000 Rp 32.000

Sifat Puasa Nabi [ Kompilasi 3 Ulama ]

Sesungguhnya syari'at Islam yang mulia ini sangat indah. Segala hukumnya dibangun di atas hikmah dan kemaslahatan, Hanya, kadang kita mengetahuinya dan kadang pula kita tidak mengetahuinya karena para hamba memang tidak mendapat kewajiban untuk mengetahui perincian hikmah Allah. Namun, cukup bagi mereka hanya mengimani, mengetahui ilmunya secara umum, dan pasrah sepenuhnya, sebab mengetahui perincian hikmah adalah sesuatu yang di luar batas kemampuan akal manusia.
"Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (QS. an-Nisa [4]: 65)
Bagaimanapun juga, seseorang tidak dicegah untuk mengetahui hikmah suatu syari'at karena hal tersebut memiliki beberapa manfaat, di antaranya:
Mengetahui ketinggian dan keindahan syari'at Islam karena semua syari'atnya dibangun di atas hikmah.
Bisa diqiyaskan (dianalogikan) kepada hal lain yang semakna.
Lebih menentramkan seorang hamba dengan hukum tersebut.
Penyemangat untuk menjalankan hukum syari'at.
Bisa memberikan kepuasan kepada orang lain.
Memberikan kekuatan ilmu yang matang.
Menampakkan makna salah satu nama Allah yaitu al-Hakim.

Adapun hikmah dari syariat diantaranya manfaat puasa adalah sebagai berikut:

1. Melatih jiwa untuk taat kepada Allah
Jiwa sifatnya seperti anak kecil yang perlu dilatih. Karena itu, jiwa seorang muslim harus dilatih dan dibiasakan untuk mengerjakan ketaatan. Salah satu bentuk pelatihan agar jiwa terbiasa dalam mengerjakan ketaatan adalah dengan puasa karena dalam puasa seseorang akan meninggalkan sebagian kenikmatan-yang asalnya halal-dari menahan makan, minum, dan berkumpul dengan istri, yang semuanya ini ditinggalkan demi mencari ridha dan pahala Alloh Subhanahu Wa Ta'ala.
Sudah barang tentu itulah pelatihan yang nyata. Tidak ada yang sanggup mengerjakannya kecuali orang yang benar-benar beriman, suci jiwanya, dan tulus cintanya untuk taat kepada Allah. Barangkali inilah yang diisyaratkan dalam sebuah hadits yang berbunyi:
"Sungguh bau mulutnya orang yang puasa lebih harum di sisi Allah Ta'ala daripada minyak misk. Dia meninggalkan makan, minum dan syahwatnya karena Aku. Semua amalan bani Adam untuknya, kecuali puasa, sesungguhnya ia untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya."[ HR. Bukhari No. 1894, Muslim No. 1151]
Imam Ibnu Hibban -rahimahulloh- mengatakan: "Syi'ar dan tanda kaum mukminin pada hari kiamat adalah cahaya yang memancar karena bekas wudhu mereka di dunia, sebagai pembeda dengan seluruh umat lainnya. Dan syi'ar mereka juga pada hari kiamat dengan puasanya, bau mulut mereka lebih harum di sisi Allah daripada minyak misk (kesturi), agar mereka terkenal dengan amalan tersebut pada hari perkumpulan. Kita memohon kepada Allah keberkahan pada hari itu [Shahih Ibn Hibban 8/211]

2. Menumbuhkan sifat sabar
Puasa adalah jihad melawan hawa nafsu dan melatih kesabaran. Di dalam puasa terdapat tiga macam kesabaran:
o Sabar dalam ketaatan
o Sabar dalam meninggalkan kemaksiatan
o Sabar menerima takdir
Alangkah bagusnya ucapan Imam Ibnu Rajab -rahimahulloh- : "Sabar itu ada tiga macam: sabar dalam mengerjakan ketaatan kepada Allah, sabar dalam meninggalkan larangan Allah, dan sabar dalam menerima takdir Allah yang menyakitkan. Semua jenis sabar ini terkumpul dalam ibadah puasa karena dalam puasa terdapat sabar dalam mengerjakan ketaatan kepada Allah, sabar dalam meninggalkan apa yang Allah haramkan dari kelezatan syahwat, dan sabar untuk menerima
apa yang dia dapat berupa rasa sakit dengan kelaparan dan kehausan
serta lemasnya badan dan jiwa.' [ lihat : Lathaiful ma'arif]

3. Meredam syahwat
Tidak dipungkiri bahwa setiap insan punya insting (naluri) untuk menyukai lawan jenis. Naluri yang tertanam pada diri setiap manusia ini harus tersalurkan pada jalur yang sah yaitu pernikahan. Bila belum mampu menikah maka puasa adalah metode jitu untuk meredam syahwat. Itulah obat mujarab yang telah ditunjukkan oleh Nabi kita dalam sabdanya:
"Wahai para pemuda, barang siapa di antara kalian yang sudah mampu menikah segeralah menikah karena pernikahan akan lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Dan barang siapa yang belum mampu menikah maka hendaklah dia berpuasa, karena hal itu adalah benteng baginya. [HR. Bukhari No. 1905, Muslim No. 1400]
{mospagebreak}
4. Mensyukuri nikmat Allah
Termasuk hikmah puasa adalah mengingatkan kepada seluruh hamba akan besarnya nikmat Allah. Seorang hamba akan menyadari betapa besarnya nikmat kenyang serta, merasa puas dalam makan dan minum ketika dia merasa lapar dan haus. Perasaan kenyang setelah asalnya lapar atau hilangnya dahaga setelah asalnya kehausan akan mendorong seseorang untuk bersyukur kepada Allah. Sadarilah hal ini wahai saudaraku, jadikanlah puasamu sebagai media untuk lebih meningkatkan rasa syukur kepada Allah. [Ash-Shiyam fil islam hlm. 28 Sa'id bin Ali al-Qahthani]

5. Solidaritas antar sesama
Itulah hikmah puasa dari sisi kemasyarakatan. Sesungguhnya rasa lapar dan haus demi menjalankan perintah agama akan menumbuhkan solidaritas dan perasaan setara dengan orang-orang miskin yang kesehariannya sering merasakan kelaparan dan kehausan. Hal itu akan menumbuhkan sifat peka dan peduli terhadap saudaranya yang kurang mampu.
Imam Ibnul Qayyim -rahimahulloh- mengatakan: "Puasa akan mengingatkan keberadaan orang-orang yang kelaparan dari kalangan orang-orang miskin."[ ZadulMa'ad 2/27 Ibnul Qayyim]
Ibnu Humam -rahimahulloh- berkata: "Sesungguhnya tatkala orang yang puasa itu merasakan sakitnya rasa lapar pada sebagian waktu, hal itu akan mengingatkannya pada seluruh keadaan dan waktu yang akan membawanya bersegera untuk peduli kepada orang yang kurang
mampu."[ Fathul Qadir 2/42 Ibnu Humam]
6. Sebab meraih derajat takwa
Puasa adalah sebab untuk meraih derajat takwa. Allah berfirman:
"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (QS. al-Baqarah [2]: 183)
Sesungguhnya orang yang puasa diperintahkan untuk mengerjakan ketaatan dan meninggalkan kemaksiatan. Dengan demikian,bila orang yang sedang puasa terbetik di dalam hatinya untuk me-ngerjakan maksiat maka dia akan menahan dan meninggalkannya.
Imam Ibnul Qayyim -rahimahulloh- mengatakan: "Puasa mempunyai pengaruh yang sangat menakjubkan dalam menjaga anggota tubuh lahiriah dan kekuatan batiniah. Puasa menjaga dari segala campuran yang membahayakan yang apabila dibiarkan akan merusak seluruh tubuh dan membersihkan dari dzat-dzat yang merusak kesehatan. Puasa dapat menjaga kesehatan hati dan anggota badan dan mengemba-likan dari kerusakan syahwat. la adalah sarana yang paling besar dalam mewujudkan ketakwaan kepada Allah [Zadul Ma'ad 2/28 Ibnul Qayyim]

7. Menjernihkan hati dan pikiran
Inilah hikmah yang jarang diketahui manusia. Dengan meninggalkan berbagai kenikmatan dan keinginan jiwa ketika berpuasa, pikiran dan hati menjadi jernih dan bersih. Hati dan pikiran akan terpu-sat untuk dzikir dan beribadah. Sebaliknya, banyak makan dan mi-num akan membuat hati menjadi lalai dan sibuk, bahkan tidak mus-tahil membuat hati menjadi keras dan gersang.
Ibrahim bin Adham berkata: "Barang siapa mampu menahan perutnya akan mampu menjaga agamanya. Barang siapa dapat menguasai rasa lapar akan meraih akhlak yang mulia, karena maksiat kepada Allah sangat jauh bagi orang yang lapar dan sangat dekat bagi yang kenyang. Kenyang dapat mematikan hati karena orang yang kenyang akan banyak senang, gembira, dan tertawa."[ Jami'ul Ulum wal Hikam 2/473 Ibnu Rajab. Lihat pula Min Akhbar him. 116 Zakaria bin Ghulam Qadir al-Bakistani.]

8. Sehat dengan puasa
Hal itu telah diakui dalam dunia kedokteran. Puasa dapat menyehatkan tubuh manusia dan menyembuhkan dari berbagai penyakit ganas. Dengan sedikit makan, anggota pencernaan dapat istirahat, cairan-cairan dan kotoran yang membahayakan dapat keluar dan hilang. Semua itu adalah hikmah dan keutamaan dari Allah. Tidak ada satu pun perintah Allah kecuali di dalamnya terdapat kebaikan bagi para hamba-Nya.
Demikianlah sebagian hikmah yang dapat kita ketahui. Bisa jadi masih banyak lagi hikmah-hikmah lainnya yang belum kita ketahui. Akan tetapi, perlu dicatat bahwa manfaat puasa ini tidak akan dicapai kecuali oleh orang yang berpuasa secara sempurna dari segala yang diharamkan Allah. Dia berpuasa (menahan diri) dari makan, minum, berhubungan intim dengan istri. Dia berpuasa dari mendengar yang haram, melihat yang haram, ucapan yang haram, dan usaha yang haram. Dia senantiasa menjaga waktunya dan selalu memanfaatkan kesempatan bulan puasa dengan ketaatan kepada Rabb-nya. Maka orang semacam itulah yang dapat meraih manfaat dari ibadah puasanya

Inilah buku yang akan memberikan bekal ilmu sebelum dan ketika menjalani ibadah puasa ramadhan, karena puasa di bulan ramadhan adalah wajib diamalkan oleh setiap muslim, maka mengetahui ilmunya juga menjadi wajib. Penulis menyajikan dalam bentuk ringkas dan padat seputara puasa ramadhan dengan berpijak pada dalil-dalil valid dari Al Qur'an dan As Sunnah serta penjelasannya oleh ulama terkemuka. Disertai penjelasan masalah kontenporer yang selalu terjadi disetiap bulan ramadhan.

Sifat Puasa Nabi [ Kompilasi 3 Ulama ]
penulis: Syaikh Al Albani, Abdul Aziz bin Baaz, AL Utsaimin -rahimakumulloh-
fisik: buku ukuran sedang, Softcover
Penerbit: Media terbiyah

Detail Info Buku
Bahasa indonesia
Format Cover softcover
Judul Buku Sifat Puasa Nabi [ Kompilasi 3 Ulama ]
Penerbit / Publisher Media tarbiyah
Penulis Syaikh Al Albani, Abdul Aziz bin Baaz, AL Utsaimin
Ukuran Fisik Buku Buku ukuran sedang