• Hotline: (+62) 819.2469.325
Kategori Buku
Pustaka Al Furqon Qawaidul Fiqhiyyah : Kaedah-Kaedah Praktis Memahami Fiqih Islami penulis : Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif Abu Yusuf Fisik ; buku ukuran sedang 14.5 x 20.5 cm, Softcove.. Product #: PAF-0006 Regular price: Rp 58.000 Rp 58.000

Qawaidul Fiqhiyyah : Kaedah-Kaedah Praktis Memahami Fiqih Islami

Harga: Rp 58.000

- +

Ketahuilah, pokok dari keselamatan seorang hamba tidak akan dia dapatkan kecuali dengan murninya tauhid dan bebasnya dari polusi syirik, maka kesempurnaan keselamatan tidak akan diraih melainkan dengan kemurnian ibadah dan bebasnya dari bid'ah. Jika yang masalah yang pertama diketahui dengan mempelajari ilmu tauhid, maka bagian yang kedua diketahui dengan ilmu fiqih.

Ilmu fiqih juga memiliki keutamaan lainnya :

Dengannyalah diketahui bagaimana cara beribadah kepada Alloh Tabarraka Wa Ta'ala dengan cara yang benar, mulai dari masalah thoharoh, sholat, zakat, puasa, haji dan lainnya.

Dengannya dikibarkan bendera Islam, dan itu diketahui dalam fiqih jihad, jizyah, fai' dan lainnya.

Dengannya pula diketahui bagaimana cara mencari rizqi yang halal dan menghindari cara mencari yang haram, hal itu dalam fiqih mu'amalat, jual beli, riba, sewa-menyewa dan lainnya.

Dengannya diketahui bagaimana cara membangun bahtera keluarga yang bahagia, diketahui hak-hak suami istri serta anak. Hal ini dalam fiqih pernikahan.

Dengan ilmu fiqih pula diketahui bagaimana harta seseorang akan dibagi sepeninggalnya, yang dibahas dalam ilmu faro'idl.

Dengannya akan diketahui balasan bagi orang yang berbuat kriminal, hal ini dalam fiqih jinayat dan lainnya.

Serta masih banyak hal lain yang diketahui dengan mem-pelajari ilmu fiqih.

Namun tatkala masalah fiqih adalah masalah yang selalu berkembang seiring dengan perkembangan zaman, sedangkan nash al Qur'an dan as Sunnah ash Shohihah yang menjadi dasar liukum masalah fiqih terbatas, karena keduanya terputus dan lidak berkembang lagi dengan wafatnya Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam , sedangkan sudah dimaklumi bersama bahwa sesuatu yang terbatas tidak mungkin bisa mengiringi sesuatu yang tak terbatas dan selalu berkembang, maka para ulama' berjuang dan berusaha keras untuk merumuskan berbagai kaedah yang terambil dari kedua wahyu tersebut untuk bisa digunakan sepanjang masa, sampaipun terhadap masalah-masalah yang belum pernah ada wujudnya pada zaman turunnya wahyu. Dan kaedah ini terbagi menjadi dua macam:

Pertama: Kaedah yang berhubungan dengan dalil, maksudnya adalah bagaimana cara memahami dan mengambil faedah dari sebuah dalil, yang kemudian dikenal dengan istilah ilmu ushul fiqih

Kedua: Kaedah yang berhubungan langsung dengan amal perbuatan hamba, yang kemudian disebut dengan ilmu qowa'id fiqhiyyah. Dari sini, diketahuilah bahwa betapa pentingnya ilmu qowa'id fiqhiyyah ini.

Imam Al Qorrofi -rahimahullah- berkata: "Barangsiapa yang menguasai fiqih lewatpenguasaan kaedah-kaedahnya, maka dia tidak butuh untuk menghafal semua permasalahannya satu persatu karena sudah tercakup dalam keumuman kaedah tersebut (Uhat Al Furuq Al Qorrofi 2/1 15)

Ini semua menjadi salah satu bukti akan kesempurnaan syariat Islam, yang ditegaskan oleh Alloh Tabarraka Wa Ta'ala , dalam firman Nya:
"Pada hari ini telah Kusempumakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. " (QS. Al Maidah: 3) Fiqh ,secara istilah adalah mengetahui hukum-hukum syari yang berhubungan dengan amal perbuatan hamba berdasarkan pada dalil-dalilnya secara terperinci. (Lihat Syarah Ushul min ilmil Ushul oleh Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin hal: 14)
Dari sini dapat disimpulkan bahwa kaedah fiqih adalah hukum atau pondasi yang bersifat umum yang bisa untuk memahami permasalahan fiqih yang tercakup dalam pembahasannya.
(Lihat Al Wajiz fi idhohi Qowaid Al Fiqh al Kulliyah oleh DR. Muhammad Shidqi al Burnu him: 13-18) Banyak faedah yang bisa dipetik dari belajar dan mengetahui kaedah fiqhiyah, saya sebutkan saja dua diantaranya yaitu:

1. Sebuah kaedah fiqih bisa digunakan untuk mengetahui banyak permasalahan fiqih yang tercakup dalam pembahasannya. Dan ini akan sangat memudahkan seorang penuntut ilmu untuk mengetahui hukum-hukm fiqih tanpa harus menghafal sebuah permasalahan satu persatu. Berkata Imam Al Qorrofi: "Barangsiapa yang menguasai fiqih lewat penguasaan kaedah-kaedahnya, maka dia tidak butuh untuk menghafal semua permasalahannya satu persatu karena sudah tercakup dalam keumuman kaedah tersebut. (Lihat Al Furuq Al Qorrofi 2/115)

2. Penguasaan kaedah fiqih akan sangat membantu seseorang dalam memberikan sebuah hukum yang kontemporer dan belum pemah terjadi sebelumnya dengan cara yang mudah. (Lihat Al Wajiz fi idhohi Qowaid Al Fiqh al Kulliyah oleh DR. Muhammad Shidqi al Burnu hal: 24)
Misalnya: kalau ada orang bertanya: apakah hukum me-rokok ? karena rokok belum ada pada zaman Rosululloh
Jawabnya: Rokok haram, karena dengan kesepakatan para ahli kesehatan bahwa dia itu membahayakan tubuh dan kesehatan, dan disebutkan dalam sebuah kaedah fiqih:
Yang maknanya: tidak boleh berbuat sesuatu yang membahayakan diri maupun orang lain. Maka semakin nampaklah betapa penting ilmu qowa'id fiqhiyah ini untuk dipelajari. Diantara yang menunjukkan akan hal ini adalah:

1 . Fenomena banyaknya orang yang tidak memahami kaedah-kaedah dasar dalam memahami fiqih Islam padahal masa-lah ini selalu mereka dapaikan setiap harinya. contoh: Banyaknya pertanyaan seputar apakah seseorang yang sudah berwudlu lalu dia ragu-ragu, apakah sudah batal ataukah belum, maka apakah dia wajib mengulangi wudlu-nya ataukah tidak? begitu juga tentang seseorang yang selesai kencing lalu merasa ragu-ragu apakah dia meneteskan air kencing lagi ataukah tidak? padahal masalah semacam ini sangat jelas yang tercakup dalam sebuah kaedah fiqih:
"Sesuatu yang yakin tidak bisa dihilangkan dengan sebuah keragu-raguan."

2. Banyaknya orang yang menggunakan sebuah kaedah fiqhiyah secara salah kaprah, atau bukan pada tempatnya.
contoh mudah yang sering terjadi:
Tatkala ada seseorang yang menambahi sebuah ibadah dengan cara yang tidak ada contohnya, lalu ada orang lain yang melarangnya, maka dengan serta merta dia akan mengatakan: "Tunjukkan kepada kami sebuah dalil yang melarangnya, karena pada dasarnya semua perbuatan boleh dilakukan kecuali ada dalil yang melarangnya."
Begitulah orang semacam ini berdalih dengan sebuah kaedah fiqih yang masyhur yaitu:
"Pada dasarnya segala sesuatu itu hukumnya mubah."
Hampir sama dengan contoh ini adalah apa yang digemborkan oleh sebagian kaum muslimin yang melegalkan demokrasi produk barat kafir yang kemudian mereka poles sedemikian rupa dan akhirnya mereka namakan dengan demokrasi islami, padahal sudah amat sangat nyata bagi yang mempunyai akal yang jernih kerusakan sistem ini dan bertentangannya dengan syariat Islam, namun tatkala mereka memasukinya mereka me-ngatakan: "Bukankah itu cuma wasilah dan cara, kan semuanya tergantung kepada tujuannya, kalau tujuanya baik yaitu untuk berdakwah maka cara apapun akan jadi baik."

Begitulah dia berkata dengan menyitir sebuah kaedah fiqih yang masyhur yaitu:
"Wasilah itu sama dengan hukum tujuannya." Dan masih banyak beberapa syubhat bathil lainnya.

Inilah buku yang membahas kaedah-kaedah praktis dalam memahami Fiqih dalam Islam secara benar sesuai pemahaman salafush Shalih.

Qawaidul Fiqhiyyah : Kaedah-Kaedah Praktis Memahami Fiqih Islami
penulis : Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif Abu Yusuf
Fisik ; buku ukuran sedang 14.5 x 20.5 cm, Softcover, 361 Hlm
Penerbit : Pustaka Al Furqon