• Hotline: (+62) 819.2469.325
Kategori Buku
Pustaka At-Taqwa itikaf Berdasarkan Al-Quran dan As Sunnah penulis : ust. Yazid bin Abdul Qodir Jawas;, Penerbit : Pustaka At Taqwa .. Product #: ATQ-0010 Regular price: Rp 18.000 Rp 18.000

itikaf Berdasarkan Al-Quran dan As Sunnah

Harga: Rp 18.000  Rp 15.000

- +

Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kelapangan dan kemudahan kepada hamba-hamba-Nya untuk melaksanakan amal-amal shalih di setiap waktu, yaitu di waktu malam dan siang dan pada hari dan bulan yang telah ditentukan oleh Allah dan Rasul-Nya shallallaahu 'alaihi wa sallam tentang keutamaan-nya.
Allah Ta'ala telah mensyari'atkan berbagai macam ibadah dan berbagai jenis ketaatan. Tujuannya agar seorang hamba dapat mengikat hatinya dengan Penciptanya dengan mentauhid-kan-Nya dan agar dia sampai kepada Rabb-nya dengan cara yang Allah syari'atkan.
       Di antara bulan yang Allah berikan keutamaan adalah bulan Ramadhan yang diberkahi oleh Allah Ta'ala. Pada bulan itu ada malam yang lebih utama dari seribu bulan, yaitu malam Lailatul Qadar. Adanya Lailatul Qadar ini pada sepuluh malam yang terakhir. Karena itu, kita dianjurkan untuk memperbanyak ibadah pada sepuluh malam yang terakhir di bulan Ramadhan dengan ibadah-ibadah yang disunnahkan oleh Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam.
       Ibadah-ibadah yang diwajibkan dan disunnahkan pada bulan Ramadhan banyak sekali, seperti puasa, shalat Tarawih, membaca Al-Qur-an, shadaqah, memberi makan orang yang berbuka puasa, 'umrah, mengeluarkan zakat fithrah, dan lainnya. Dan di antara amal yang juga disunnahkan adalah i'tikaf.
      I'tikaf disunnahkan dilaksanakan setiap waktu, tetapi yang utama ialah di bulan Ramadhan. Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam selalu melaksanakan i'tikaf pada sepuluh malam yang terakhir di bulan Ramadhan setiap tahunnya sampai beliau meninggal dunia. Kemudian dilanjutkan oleh istri-istrinya setelah beliau shallallaahu 'alaihi wa sallam wafat.
        I'tikaf harus dilaksanakan di masjid, tidak boleh di tempat lain. Allah memuji orang-orang yang me¬laksanakan ibadah di masjid, sebagaimana Allah Ta'ala berfirman,
"(Cahaya itu) di rumah-rumah yang di sana telah diperintahkan Allah untuk memuliakan dan menyebut nama-Nya, di sana bertasbih (menyucikan) nama-Nya pada waktu pagi dan petang. Orang yang tidak dilalai-kan oleh perdagangan dan jual beli dari mengingat Allah, melaksanakan shalat, dan menunaikan zakat. Mereka takut kepada hari ketika hati dan penglihatan menjadi guncang (hari Kiamat), (mereka melakukan itu) agar Allah memberi balasan kepada mereka dengan yang lebih baik daripada apa yang telah mereka kerjakan, dan agar Dia menambah karunia-Nya kepada mereka. Dan Allah memberi rezeki kepada siapa saja yang Dia kehendaki tanpa batas." (QS. An-Nuur: 36-38)
Kata "buyuutin" dalam ayat itu adalah masjid, karena i'tikaf itu dilaksanakan di masjid. Sebagaimana Allah Ta'ala berfirman,
"...Ketika kamu beri'tikaf di dalam masjid..." (QS. Al-Baqarah: 187)
      Melaksanakan i'tikaf di dalam masjid merupakan realisasi dari perintah Allah Ta'ala untuk memakmur-kan masjid. Sebagaimana laki-laki diperintahkan shalat berjama'ah di masjid setiap hari, maka i'tikaf pun di¬laksanakan di masjid.
"Sesungguhnya yang memakmurkan masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari Kemudian, serta (tetap) melaksanakan shalat, menunaikan zakat, dan tidak takut (kepada apa pun) kecuali kepada Allah. Maka mudah-mudahan mereka termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk. " (QS. At-Taubah: 18)
Jadi, yang dimaksud dengan memakmurkan masjid dalam Islam adalah bukan dengan menghias dan memperindah arsitektur masjid, tetapi dengan melaksana¬kan ibadah-ibadah di dalamnya sesuai dengan Sunnah, mengajak kaum Muslimin untuk shalat berjama'ah di masjid, mengadakan kajian di masjid, dan ibadah-ibadah lainnya yang sesuai dengan Sunnah Nabi shal¬lallaahu 'alaihi wa sallam, termasuk i'tikaf.
      Bila kita perhatikan sekarang, sedikit sekali ummat Islam yang melakukan i'tikaf. Padahal i'tikaf adalah Sunnah yang dianjurkan untuk dihidupkan sebagai-mana dilakukan oleh Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam dan istri-istrinya.
Manfaat dari i'tikaf banyak sekali, di antaranya menjauhkan diri kita dari cinta kepada dunia, sebagai kesempatan untuk mendekatkan diri dan bermunajat kepada Allah, untuk bertaubat kepada Allah Ta'ala atas dosa yang dilakukan sepanjang tahun, untuk membersihkan hati, untuk melaksanakan Qiyamul Lail, memperbanyak membaca Al-Qur-an dan meng-khatamkannya, men-tadabbur-kan isinya, berusaha memahami isi Al-Qur-an untuk diamalkan, memper¬banyak istighfar (memohon ampun) kepada Allah, banyak berdzikir (ingat kepada Allah) sesuai dengan Sunnah, berusaha untuk mendapatkan derajat yang terpuji di sisi Allah, dan manfaat yang lainnya yang sangat banyak.
      Dengan beriti'kaf seorang muslim dapat menghidupkan hatinya, mensucikan jiwanya, menghadapkan dirinya kepada setiap kebaikan, serta dapat mengingatkannya kepada dosa-dosa yang pernah dia lakukan sehingga i'tikafnya itu menjadi sarana muhasabah (instrospeksi) terhadap amal-amal yang telah dikerjakannya dan kewajiban-kewajiban yang telah dilalaikannya.
Selain itu, i'tikaf memiliki pengaruh yang sangat mengagumkan dalam memperbaiki pribadi dan masyarakat.
Inilah buku yg membahas fiqih ibadah I'tikaf berdasarkan Al qur'an dan As Sunnah yang Shahih

Detail Info Buku
Bahasa indonesia
Format Cover Softcover
Judul Buku itikaf Berdasarkan Al-Quran dan As Sunnah
Penerbit / Publisher pustaka at taqwa
Penulis ust. yazid bin abdul qodir jawas
Ukuran Fisik Buku Buku ukuran sedang