• Hotline: (+62) 819.2469.325
Kategori Buku
Darul Haq Kajian Lengkap Shalat Jamaah Penulis : Syaikh Prof Dr Shalih Bin Ghanim As Sadlaan, Penerbit : Darul Haq .. Product #: DHQ-0031 Regular price: Rp 50.000 Rp 50.000

Kajian Lengkap Shalat Jamaah

Harga: Rp 50.000  Rp 40.000

- +

Tidak samar lagi bagi setiap orang yang berakal bahwa ibadah dalam agama ibarat asas sebuah bangunan, bahkan dapat diibaratkan laksana ruh bagi jasad. Sampai-sampai peletak syariat yakni Alloh Subhanahu Wa Ta'ala menyertakannya dalam dasar-dasar aqidah. Rasulullah -Sholallahu Alaihi Wassalam- bersabda:
"Sesungguhnya pemisah antara seseorang dengan syirik dan kekufuran adalah meninggalkan shalat.” [ HR Muslim I/82].
Dasarnya juga disebutkan dalam Al-Qur'an:
Jika mereka bertaubat, mendirikan sholat dan menuaikan zakat, maka (mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagama. (QS. 9:11)
Allah mengaitkan persaudaraan seagama dengan menegakkan shalat dan menunaikan zakat, bukan hanya sekedar mengucapkan dua kalimat syahadah dan tidak menyerang kaum muslimin.
Memang benar, ibadah merupakan syiar aqidah dan perwujudan dari aqidah itu sendiri.Ibadah sangat dibutuhkan dalam agama, karena ibadah itu sebagai bagian dari agama. Semakin tampak aqidah dalam diri seseorang dan semakin hidup keimanan dalam hatinya maka ia akan semakin istiqamah menjalankan perintah Allah.
Pilar ibadah yang paling utama adalah shalat. Shalat merupakan salah satu kewajiban agama dan salah satu rukun Islam serta salah satu ajaran Islam. Shalat merupakan peringkat ke dua dalam rukun Islam sebagai realisasi rukun pertama yakni syahadat Asyhadu allaa ilaaha illallaah wa asyhadu anna Muhammadar rasulullah baik secara lahir maupun batin, Sedangkan ajaran-ajaran Islam yang lain merupakan dampak dari kedua rukun ini.
Oleh sebab itulah sebaik-baik ibadah yang diamalkan oleh se-orang muslim dalam mendekatkan diri kepada Allah adalah ibadah shalat.
Rasulullah bersabda:
"Tetaplah istiqamah dalam segala sesuatu sebab sesungguhnya kalian sekali-kali tidak akan mampu terus menerus beramal. Kctahuilah bahwa amal yang paling baik adalah shalat. Dan hanya orang mukmin sajalah yang mampu memelihara wudhu” [ MUsnad Ahmad V/276-277]
Mencintai ibadah shalat, bersegera mengerjakannya dengan sebaik-baiknya lahir dan batin merupakan tanda seberapa besar ra¬sa cinta dan rindunya untuk bertemu dengan Allah.
Berpaling dari shalat, malas mengerjakannya, tidak segera menyambut panggilan muadzdzin, merasa berat mengerjakannya atau melaksanakannya sendirian di rumah bukan, di masjid secara berjama'ah tanpa udzur, merupakan tanda kekosongan hati dari rasa cinta kepada Allah dan merasa cukup dari karunia yang ada di sisi-Nya.
Berkenaan dengan firman Alloh Subhanahu Wa Ta'ala
"Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka kelak mereka akan menemui kcsesatan." [QS. 19:59]
Al hasan Al-Bashri -rahimahulloh- berkata: "Mereka mengosongkan masjid dan rnenyibukkan diri dengan usaha dan pekerjaan serta condong kepada berbagai kelezatan dan maksiat. Na'udzubillah min dzalik [ lihat : al jami li ahkamil quran, al qurthubi XI/123]
Jika demikianlah keadaannya orang yang melalaikan shalat jama'ah lalu bagaimana pula nasib orang yang sengaja meninggalkannya!?
Abu Darda' -Rodliallahu Anhu- berkata: "Abul Qasim (yakni Rasulullah) telah berpesan kepadaku agar jangan sekali-kali meninggalkan shalat dengan sengaja. Sebab barangsiapa meninggalkannya dengan sengaja maka terlepaslah perlindungan Islam atas dirinya”
Sesungguhnya shalat fardhu dikerjakan berulang kali lima waktu dalam sehari semalam menurut waktu yang telah ditetapkan, Dari waktu shalat ke waktu shalat lainnya ibarat satu rangkaian sambutan seorang hamba terhadap panggilan Ilahi sebagai ucapan rasa syukur dan terima kasih atas nikmat yang terus dicurahkan Allah atasnya. Allah berfirman:
Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepakepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu mengingkari nikmat-Ku. (QS. 2:152)
Allah Yang Maha Lembut lagi Maha Mengetahui telah mempermudah pelaksana ibadah shalat dengan mewajibkan mengerjanya secara berjama'ah. Sebab mengerjakan ibadah secara berjamaah lebih mudah dan lebih menumbuhkan semangat. Allah menjadikan amalan ini sebagai amal yang paling baik dalam agama Islam, menjadikannya sebagai penyempurna iman dan pahala bagi bagi seorang mukmin, sehingga tidak layak ditinggalkan.
Allah telah memuji orang-orang yang mengerjakannya dengan berjama'ah, Alloh Subhanahu Wa Ta'ala berfirman :
“ hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Alloh ialah orang-orang yang beriman kepada Alloh dan hari kemudian, serta tetap mendirikan sholat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepda siapapun) selain kepada Alloh, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapatkan petunjuk. [QS9 : 18]
Shalat memiliki kedudukan yang sangat penting bila dibanding-kan dengan ibadah-ibadah lain. Bahkan shalat memiliki kedudukan yang tertinggi dalam Islam yang tidak dapat tertandingi oleh ibadah lain. Shalat adalah tiang agama, tidak akan tegak agama kecuali dengan shalat. Alloh Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
Sesungguhnya shalat adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman. (QS. 4:103)
Shalat merupakan pilar bagi seluruh agama. Shalat juga termasuk ibadah yang terdahulu karena merupakan konsekuensi dari keimanan. Setiap agama samawi tidak terlepas dari syariat shalat. Anjuran shalat dan dorongan untuk mengerjakannya telah diserukan oleh segenap nabi dan rasul. Sebab shalat sangat besar pengaruhnya dalam pembentukan jiwa dan dalam mendekatkan diri kepada Allah. Tidak ada satu pun ibadah selain shalat yang terbukti ampuh mem-benahi diri, meluruskan serta melatih mengerjakan amalan-amalan yang utama dan berakhlak yang mulia.
Nabi Ibrahim telah berdo'a kepada Allah:
"Ya Rabbku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Rabb kami, perkenankan do'aku." (QS. 14:40)
Allah berfirman tentang Nabi Ismail, yang artinya;
"Dan ia menyuruh ahlinya untuk shalat dan menunaikan zakat, dan ia adalah seorang yang di ridhoi di sisi Rabbnya." (QS. 19:55)
Allah juga telali berfirman kepada Nabi Musa, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an:
"Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada illah (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku." (QS. 20:14)
Para malaikat juga telah menyeru ibunda Nabi Isa, yakni Maryam, agar mengerjakan shalat. Sebagaimana diceritakan kepada kita dalam Al-Qur'an:
"Hai Maryam, ta'atlah kepada Rabbmu, sujud dan ruku'lah bersama orang-orang yang ruku'." (QS. 3:43)
Coba simak pula ketika Nabi Isa menceritakan nikmat Allah kepadanya dalam Al-Qur'an:
Dia menjadikan aku seorang yang berbakti di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (me¬nunaikan) zakat selama aku hidup." (QS. 19:31)
Memang benar! Sesungguhnya shalat merupakan pokok agama, tiang agama sekaligus penghubung antara seorang hamba (yang arif dalam penghambaan diri dan tulus terhadap dirinya) dengan Rabb-nya (yang telah memeliharanya dan memelihara seluruh alam semesta dengan nikmat dan karunia-Nya). Shalat merupakan bukti kecintaan seorang hamba kepada Rabbnya, bukti rasa terima kasihnya terhadap nikmat-nikmat Allah serta bukti rasa syukurnya terhadap karunia dan anugrah-Nya.
Shalat merupakan pembeda hakiki antara seorang hamba mukmin dan seorang hamba kafir.
Sabda Rasulullah -Sholallahu Alaihi Wassalam-
"Perjanjian antara Kami dengan mereka adalah shalat, barangsiapa meninggalkannya berarti ia telah kafir.” [Mustadrak AI-Hakim dan dishahihkan olehnya (1/6,7) dan disepakati oleh Adz-Dzahabi]
Memang benar! Barangsiapa yang menyia-nyiakan shalat maka ia pasti lebih menyia-nyiakan amal ibadah yang lain. Terputuslah seluruh jalur hubungannya kepada Allah, sebagaimana telah dikatakan oleh Al-Imam Ar-Rasyid Khalifah Rasulullah Abu Bakar Ash-Shiddiq -Rodliallahu Anhu- dalam sebuah surat yang dikirimkan kepada salah seorang pegawainya:
"Ketahuilah bahwa urusan kalian yang paling penting bagiku adalah shalat. Barangsiapa menyia-nyiakannya maka ia pasti lebih menyia-nyiakan amal ibadah yang lain. Ketahuilah bahwa ada beberapa kewajiban yang harus dikerjakan pada malam hari bila dikerjakan siang hari tidak diterima olehnya dan ada pula kewajiban yang harus dikerjakan pada siang hari bila dikerjakan pada malam hari tidak diterimanya.” [Majmu'Fatawa Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah XXII/halaman40]
Inilah buku yang memberikan tuntunan ilmu supaya muslimin memperhatikan kewajiban sholat berjamaah, hukum, manfaat dan rincian permasalahan fikih, disertai koreksi terhadap kesalahan dan bidah didalamnya. Ditulis oleh Prof .Dr Shalih bin Ghanim As Sadlan, seorang guru besar di Universitas Imam Muhammad bin Su’ud, Riyadh ,Saudi.

Detail Info Buku
Bahasa Indonesia
Format Cover softcover
ISBN 9789791254526
Judul Asli Sholatul jamaah hukmuha wa ahkamuha wa tanbih ‘alaa maa yaqa’u fiiha min bida’ wa Akhtaa’
Judul Buku Kajian Lengkap Shalat Jamaah
Jumlah Halaman 260 hlm
Penerbit / Publisher Darul Haq
Penulis Syaikh Prof Dr Shalih Bin Ghanim As Sadlaan
Ukuran Fisik Buku Buku Ukuran Sedang 15.5 x 24 cm